Jejak Rahasia Naira – Part 11

Naira menghela napas lega begitu mobilnya masuk ke gerbang kantor. Parkiran masih belum menunjukkan tanda-tanda kehadiran mobil suaminya. Alhamdulillah… belum datang, batinnya.

Ia mematikan musik, menurunkan kaca sedikit untuk menarik napas, lalu meraih cermin kecil dari tas. Lipstik ia poleskan tipis kembali, pipinya ditepuk ringan agar tampak segar, hijabnya ia rapikan perlahan. Saat jarinya baru saja merapikan garis eyeliner, suara deru mesin mobil lain terdengar mendekat.

Deg.

Sebuah mobil familiar berhenti tepat di sebelahnya. Suaminya.

Jantung Naira mencelos. Ya Allah… kok pas banget sekarang…

Suaminya menoleh sebentar, keningnya berkerut, lalu turun dari mobil. Ia berjalan menghampiri jendela Naira dan mengetuk kaca. “Sayang? Kok di dalem mobil? Ngapaiin? uda dari tadi?” tanyanya, nada heran tapi belum penuh curiga.

Dalam sepersekian detik, kepala Naira berpacu mencari alasan. Ia segera mematikan mesin, membuka kaca, lalu tersenyum dengan gaya genit yang dibuat-buat. “Hehe… aku nungguin kamu di sini, Mas. Biar enak ngobrol dulu berdua… nggak ada yang gangguin.” Suaranya dibuat manja, matanya sedikit berbinar seolah memang sedang menantikan suaminya dengan penuh rindu.

Suaminya terdiam sebentar, tatapannya mencair, lalu tersenyum kecil. “Ah, kamu ini… kirain kenapa.”

Naira menghela napas lega dalam hati, meski wajahnya tetap ia mainkan dengan senyum menggoda. Ia merapikan hijab sekali lagi, mencondongkan tubuh ke arah kaca, lalu menepuk jok sebelahnya. “Sini deh sebentar…, kita bisa mesra dulu sebentar di mobil.”

Suaminya menatap dengan ekspresi antara geli dan terkejut. “Ih, kamu ada-ada aja.”

Naira hanya terkekeh kecil, berusaha menutup kepanikan dalam dadanya. Padahal tubuhnya masih menyimpan bayangan siang tadi bersama Rizal. Tapi kini ia harus memainkan peran sempurna: istri manja, istri yang tampak tulus menunggu.

Suasana di dalam mobil berubah hangat. Senyum suaminya mengendur, matanya lembut menatap Naira. Dan di balik semua itu, hati Naira tetap berdegup kencang—setengah lega berhasil menutupi jejaknya, setengah lagi masih berperang dengan rahasia yang ia simpan rapat.

Suaminya duduk di kursi sebelah Naira, membawa sebuah cup plastik dengan embun dingin menempel di dindingnya. “Aku ada meeting dekat kantor kamu, makanya mampir dulu. Eh, sekalian bawain ini… es kopi latte kesukaanmu,” katanya sambil menyodorkan minuman.

Naira tersenyum, menerima dengan kedua tangan seolah hadiah paling berharga. “Ih… tau aja aku lagi butuh yang seger-seger,” ujarnya manja, menatap suaminya dengan mata berbinar.

Suaminya mengangguk, lalu menambahkan dengan nada serius, “Mungkin nanti aku pulang agak telat, Sayang. Meetingnya bisa molor.”

Naira berpura-pura manyun, bibirnya dimajukan sedikit. “Hmm… telat terus. Untungnya sekarang bisa nyolong waktu bentar sama aku.” Ia mengucapkannya dengan nada genit, membuat suaminya tertawa kecil.

“Yaudah, mumpung ada waktu…” suaminya mendekat, meraih tangan Naira dan meremasnya lembut. Naira menoleh, senyum tipis menghias bibirnya, lalu tubuhnya ikut condong mendekat.

Bibir mereka bertemu dalam ciuman singkat yang manis, lalu semakin lama semakin dalam. Suaminya menangkup wajah Naira dengan kedua telapak tangan, sementara Naira merespons penuh, matanya terpejam, tubuhnya melembut di dekatnya.

Ciuman itu berkembang. Awalnya lembut, lalu makin panas. Nafas mereka mulai berpacu. Suaminya menurunkan ciuman ke leher Naira, membuatnya mendesah pelan sambil jemarinya mencengkeram bahu sang suami.

“Sayang…” Naira berbisik di sela debar, matanya separuh terpejam, “Jangan bikin pengen deh, inget kita di mobil ini.”

Suaminya tertawa kecil, lalu kembali merebut bibirnya. Mobil yang tadinya hening kini terisi desahan samar, napas memburu, dan percumbuan yang semakin larut.

Bagi Naira, ini momen berbahaya sekaligus menyelamatkan. Ia harus terlihat total larut, menunjukkan betapa ia benar-benar rindu dan ingin bersama suaminya. Dan ia berhasil—ia memainkan perannya dengan sempurna.

Namun jauh di dalam batinnya, ada pergulatan lain: perasaan bersalah bercampur dengan bayangan gairah yang baru saja ia alami bersama pria lain. Semua itu membuat ciuman dengan suaminya terasa aneh—antara kewajiban, cinta, dan upaya menutupi jejak rahasia.

Ciuman mereka makin panas. Suaminya merengkuh pinggang Naira, menarik tubuh istrinya lebih dekat hingga dada mereka saling beradu. Naira sempat terhanyut, tapi tiba-tiba kesadarannya menyentak: ia tak mengenakan lapisan dalam. Seketika wajahnya memanas, jantungnya berdegup tak karuan. Kalau Mamas sadar… habis aku. Bahkan kalau… sampai tercium bekas sperma Rizal…

Panik halus menyelinap di sela gairahnya. Dengan cepat Naira menahan tangan suaminya yang mulai turun lebih jauh. Ia tersenyum genit, meski dalam hati bergejolak, lalu berbisik manja, “Sayang… jangan dibuka. Bahaya. Bisa keliatan orang kantor.”

Suaminya mengernyit, masih terengah, tapi Naira tahu persis cara mengalihkan. Ia menunduk sedikit, tangannya bergerak penuh keberanian. “Aku ‘SP’ aja ya, bisa bikin kamu lega sebentar…Mau?” bisiknya menggoda, tatapannya penuh janji.

Suaminya menatap heran sekaligus tak kuasa menolak.
Naira menatap suaminya yang tampak masih menyisakan hasrat. Ia tahu betul di mana letak kelemahannya. Dengan senyum genit, ia mendekat, tangannya segera meraih kejantanan suaminya yang mulai kembali menegang.

Tangannya bergerak nakal, meraba bagian tengah celana suaminya yang mulai mengeras. Ia tersenyum kecil, lalu dengan gerakan lembut membuka resleting celananya.

Keperkasaan itu pun bebas dari balik kain, membuat Naira menatapnya dengan tatapan penuh arti. Jemarinya menyusuri perlahan, mengelus naik turun dengan ritme menggoda, seakan sedang membangkitkan bara yang sudah siap menyala. Suaminya hanya bisa mendesah pelan, tubuhnya merespons setiap sentuhan itu dengan pasrah dan menikmati.

Setelah merasa cukup, Naira menunduk, bibirnya merapat, lidahnya menari di sepanjang permukaan yang menegang. Gerakan lembut bercampur dengan hisapan yang teratur membuat desahan suaminya kian berat. Naira memainkan tempo, kadang lambat menggoda, kadang cepat penuh hasrat, hingga tubuh suaminya menegang hebat dalam hitungan menit.

Gerakan mulut Naira semakin cepat, lidahnya terus bermain nakal, membuat tubuh suaminya menegang hebat. Jemarinya menggenggam erat sprei, napasnya memburu, dan desahannya kian berat.

Dalam sekejap, gelombang terakhir itu datang menghantam. Suaminya mendesah panjang, lalu melepas seluruh gairahnya ke dalam mulut Naira. Hangat dan deras, memenuhi rongga mulutnya, sementara Naira menahannya dengan penuh penguasaan.

Ia tidak panik, justru menerima semuanya dengan tatapan nakal dari balik kelopak mata yang setengah terpejam. Setelah reda, setelah penis suaminya berhenti berkedut, ia perlahan mengangkat kepalanya, lalu meraih tisu di belkang jok mobilnya. Dengan gerakan sensual, ia mengelap bibirnya, sambil melepehkan sisa cairan itu dengan gaya yang membuat suaminya terkulai puas dan tak berdaya.
Suaminya hanya bisa terkulai, menatap dengan puas, napasnya masih memburu. Bagi sang suami, itu adalah klimaks sempurna—nikmat yang membuatnya benar-benar pasrah di bawah kendali istrinya.

Batinya justru terusik, karena yang muncul dalam ingatannya bukanlah momen singkat barusan—melainkan bayangan Rizal, dengan keperkasaan yang membuatnya dulu benar-benar tak mampu melawan.

Naira menyandarkan diri ke jok, menutup mata sejenak, tersenyum samar. Bibirnya tersenyum tipis, tapi hatinya justru penuh campuran rasa.

Suaminya tampak bahagia di sampingnya, puas, bahkan mengucap syukur singkat. Sedangkan Naira… hanya bisa menahan gejolak rahasia yang tak mungkin ia bagi pada siapa pun.

“Semudah ini…” batinnya bergumam. Dengan sedikit sentuhan, beberapa menit permainan bibir, suaminya langsung runtuh—terkulai, puas, tapi tanpa memberi ruang lebih bagi dirinya untuk benar-benar tenggelam dalam kenikmatan.

Bayangan Rizal kembali hadir, begitu jelas seakan nyata. Ingatannya berputar pada bagaimana pria itu tidak sekadar menuntaskan hasratnya, tetapi memaksa tubuhnya mengikuti ritme yang jauh lebih liar. Bersama Rizal, ia bukan lagi pengendali, melainkan perempuan yang diperas habis-habisan hingga tak kuasa menolak.

Degup jantungnya meningkat, pipinya memanas. Perbandingan itu membuat tubuhnya sendiri merespons, ada gejolak rindu akan sensasi yang ia tahu tak akan pernah didapatkan dari suaminya. Bersama suami, ia selalu jadi pemenang. Bersama Rizal, ia justru takluk, kalah, dan anehnya—itu yang paling membuatnya candu.

Naira menutup mata, mencoba menenangkan pikirannya. Tapi semakin ia menahan, semakin kuat bayangan itu kembali hadir. Lidah Rizal, desahannya, tatapan penuh kuasa yang membuatnya merasa kecil namun di saat yang sama begitu diinginkan.

Ia menggigit bibir bawahnya, lalu menarik napas panjang. Dalam diam, tubuhnya merespons memori itu, dan senyum tipis tersungging di wajahnya.

Begitu selesai, suaminya merapikan kemeja seadanya lalu keluar dari mobil Naira tanpa banyak kata. Ia langsung masuk ke mobilnya sendiri yang terparkir beberapa meter di belakang, mesin meraung pelan, lalu pergi meninggalkan Naira sendirian di parkiran itu.
Naira hanya bisa menghela napas panjang, merapikan rambut sambil menatap kaca spion, lalu melangkah masuk ke gedung.

Begitu masuk, ia langsung menuju toilet wanita di lantai kantornya. Gerakan tangannya refleks membuka tas, mengambil tisu basah, lalu mengunci pintu bilik. Ia mengangkat rok kerjanya, dan seketika wajahnya memerah—masih ada bekas cairan yang menempel di paha dalam. Tergesa-gesa, ia membersihkan semuanya dengan gerakan cepat tapi penuh rasa bersalah yang anehnya bercampur dengan kenikmatan sisa tadi.

“Astaga… gila sih tadi…” gumamnya lirih, seperti menegur diri sendiri.

Baru setelah benar-benar bersih, ia mengeluarkan celana dalam cadangan dari tas—celana dalam tipis berwarna nude yang ia selalu simpan untuk jaga-jaga. Ia kenakan pelan, seolah menutup kembali rahasia yang tadi ia bawa pulang dari hotel. Satu tarikan napas panjang keluar dari bibirnya sebelum ia keluar dari bilik, wajah sudah kembali dipoles dengan senyum profesional.

Di koridor, beberapa rekan kerja menatapnya.

“Naira, baru balik ya? Dari rapat luar?” tanya Rina, temannya di bagian lain.

Naira tersenyum singkat, “Iya, tadi agak lama. Banyak bahasan di luar. Kamu udah makan?”

“Udah. Kamu keliatan capek banget,” sahut Rina sambil melirik penuh selidik.

Naira terkekeh kecil, menepuk lengan Rina, “Ya begitulah… kerjaan kan nggak pernah habis.” Ia lalu melangkah cepat menuju ruangannya, berharap tak ada yang lebih banyak bertanya.

Di meja kerjanya, ia menaruh tas, mencoba fokus pada tumpukan berkas. Namun tatapannya jatuh pada selembar kertas kecil yang ia keluarkan diam-diam dari saku—kertas yang tadi diselipkan oleh waiters hotel di atas nampan minuman. Nomor ponsel dengan tulisan tangan rapi.

Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Tangannya ragu, tapi jemarinya akhirnya mengetik pesan lewat WhatsApp.

Naira:
Dika…, saya Naira. Saya tamu kamar 1014 tadi siang. Saya hanya ingin minta tolong… apa yang Anda lihat, mohon dirahasiakan.

Beberapa detik kemudian, balasan masuk.

Waiters:
Tentu, Mbak Naira. Rahasia Mbak aman sama saya. Tapi jujur, saya jadi penasaran… bolehkah saya ketemu Mbak? Cuma ngobrol kok.

Naira menelan ludah, matanya menatap layar ponsel agak lama. Ada sesuatu dalam nada pesan itu—antara godaan samar dan rasa ingin tahu yang berbahaya. Ia mengetik cepat.

Naira:
Kamu jangan macam-macam ya. Ini serius.

Balasan datang lagi, lebih cepat dari dugaan.

Waiters:
Tenang aja… saya janji nggak macam-macam. Tapi saya nggak bisa bohong, bayangan tadi di kamar masih ada di kepala saya.

Wajah Naira terasa panas. Ia menggigit bibir bawahnya, tangannya refleks meremas rok di pahanya. Sensasi terlarang itu kembali muncul, seperti bara kecil yang disulut lagi.

Ia menutup chat sejenak, mencoba kembali ke berkas di meja. Tapi otaknya justru sibuk membayangkan bagaimana tatapan waiters itu saat melihat sekilas dirinya di kamar hotel.

Dan entah kenapa, bagian dari dirinya yang liar malah merasa… tertantang.
Like

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *