Jejak Rahasia Naira – Part 17

Dika tersenyum gugup, lalu menyelipkan jemarinya ke karet tipis celana dalam Naira. Dengan hati-hati ia menurunkannya, hingga vagina Naira terekspos. Matanya sempat terbelalak, jelas ini pertama kali ia melihat begitu dekat.

“Mbak… cantik banget…” bisiknya lirih, penuh kagum.

Naira menggigit bibir, berusaha menjaga wibawa. “Udah, jangan bikin malu aku, Dika.” Tapi tubuhnya merespons lain—pahanya tak lagi menutup rapat, justru perlahan membuka memberi ruang.

Dika menunduk lagi, kali ini lebih berani. Lidahnya menyapu lembut lipatan kewanitaan itu. Sentuhan pertama begitu gugup, tidak terarah, tapi justru itu membuat Naira menegang hebat. “Ahh… Dika… jangan…” katanya serak, tapi desahannya lebih jujur daripada penolakannya.

Dika semakin bersemangat, mencoba mencari irama. Tangannya meremas paha Naira lembut, sementara lidahnya menjelajah makin dalam, menyentuh titik-titik yang membuat pinggul Naira terangkat refleks.

Naira mendesah keras, tangannya spontan meraih rambut Dika, menariknya. “Ya Allah… Dik… kamu… ahhh…” Napasnya memburu, tubuhnya mulai kehilangan kendali.

Di kepalanya, ia masih berusaha menegaskan diri: ini salah, aku harus berhenti. Tapi tubuhnya sudah jauh lebih jujur. Basahnya kewanitaan itu kini bercampur dengan gigil nikmat yang tak terbendung.

Naira menggeliat, tubuhnya bergetar hebat. Nafasnya tersengal, keringat membasahi pelipisnya. Jemarinya menekan rambut Dika makin keras, mendorong wajahnya agar tidak berhenti.

“Dik… jangan … ya Allah…” desahnya parau.

Dika semakin berani, lidahnya kini bergerak lebih luwes, menemukan titik yang membuat pinggul Naira terangkat berulang. Tubuh wanita itu melengkung indah di ranjang sempit, desahannya memenuhi kamar.

“Ahhh… Dik… aku… aku nggak kuat…” Naira terengah, wajahnya memerah penuh gairah. Rasa nikmat sudah hampir meledak, membuatnya tak sadar kata-kata yang keluar dari mulutnya sendiri. “Masukin aja, Dik… please… aku dimasukin aja…”

Dika langsung berhenti, menatap Naira dengan mata membara. “Mbak… beneran? Aku boleh?”

Naira hanya mengangguk cepat, wajahnya masih diliputi gelora. “Cepet… jangan berisik. Masukin sekarang…”

Dika dengan tangan gemetar meraih kondom baru, buru-buru merobek bungkusnya. Tapi Naira yang sudah tak sabar menahan tangannya.

“Udah, jangan pake lama. Aku pengen dimasukin sekarang juga.” suaranya rendah, berat, tapi penuh perintah.

“Mb… Mbak, tapi—”

“Udah, Dik!” Naira menekan tubuh Dika ke arahnya, pahanya terangkat, membuka jalan. “Buruan masukin sekarang! Jangan sampe ku berubah fikiran”

Nafas Dika memburu, batang mudanya sudah menegang keras, panas berdenyut. Ia memposisikan diri di antara paha Naira, lalu menekan perlahan. Ujungnya menyentuh hangatnya kewanitaan itu.

Naira menahan napas, tubuhnya tegang. Begitu batang Dika menembus masuk sedikit demi sedikit, ia mendesah panjang. “Ahhh… ya Allah, Dik… gede banget… pelan-pelan…”

Dika menggertakkan gigi, tubuhnya bergetar karena sensasi yang begitu nyata dan menyesakkan. “Mbak… rasanya… ohh…”

Dengan sekali dorongan dalam, akhirnya Dika sepenuhnya masuk, tertelan hangat basah yang membuat keduanya sama-sama mendesah keras.

Naira mencengkeram erat punggung Dika, tubuhnya berguncang. “Aaarrrgghhhh, Dikaaa… kamu…punya kamu masuk semua, mentok banget…”

Dika mulai bergerak, awalnya kaku dan gugup, tapi gairah segera mengambil alih. Desah dan erangan mereka berpadu, mengisi kamar kecil itu dengan ritme liar yang makin panas.

Setiap dorongan membuat Naira melengkung, payudaranya bergetar, bibirnya mengeluarkan desahan panjang. “Ya Allah… pelan-pelan, Dika… kalem aja…”

Dika menggenggam pinggulnya erat, dorongannya makin mantap. Meski jelas masih belajar, semangat mudanya membakar, membuat tubuh Naira tak kuasa lagi melawan.

Kamar sederhana itu jadi saksi, bagaimana seorang bujang yang baru pertama kali merasakan wanita, dan seorang istri yang haus kenikmatan terlarang, akhirnya terbakar dalam satu tubuh, satu irama.

Naira hampir mencapai puncaknya ketika tiba-tiba ritme Dika berubah kacau. Gerakannya terlalu cepat, terburu-buru, seperti anak kecil yang panik takut kehilangan kesempatan.

“Pelan, Dik… jangan asal begitu…” Naira mengerang, berusaha mengarahkan. Tubuhnya sudah siap, tinggal sedikit lagi.

Tapi mendadak Dika menarik keluar kejantanannya, napasnya memburu.

“Mbak… aku udah nggak kuat…” suaranya gemetar.

Detik berikutnya, semburan hangat menyambar dada Naira, memercik sampai ke leher bahkan wajahnya. Naira terbelalak, setengah kaget, setengah jengkel karena klimaks yang ditunggu malah buyar begitu saja.

“Ya ampun, Dik…” Naira mendesah, menoleh padanya dengan napas berat. “Kenapa sih dicabut? Aku tinggal dikit lagi…”

Dika terengah-engah, wajahnya merah padam. “Maaf… aku nggak tahan, sumpah.”

Naira mendengus kecil, setengah kecewa, tapi bibirnya tersungging nakal. Cairan kental yang tercecer di dadanya dia ambil dengan ujung jari, lalu dengan sengaja dioleskan ke belahan dadanya. Bahkan sisa yang menempel di pipi pun dia ratakan dengan senyum menggoda.

“Hmm…” Naira menatap Dika sambil mengusap cairan itu ke kulitnya. “Katanya sih sperma perjaka obat awet muda…”

Dika makin salah tingkah melihat adegan itu. Tangannya gemetar, wajahnya bingung antara malu dan semakin terangsang.

Naira justru tertawa kecil, suaranya serak penuh sensualitas. “Ya udah… meski tadi kentang, tapi lumayan lah. Lain kali jangan buru-buru cabut kalau udah mau keluar. Biar aku juga enak.”

Dika cuma bisa mengangguk kaku, sementara pandangannya tak bisa lepas dari Naira yang kini malah terlihat makin liar dengan cairannya sendiri.

Dika masih terengah-engah, keringatnya menetes, sementara Naira berbaring dengan dada dan wajah masih belepotan sisa ledakannya. Hening sebentar, hanya terdengar napas keduanya yang belum teratur.

“Maaf, Mbak…” suara Dika lirih, matanya menunduk. “Aku… keburu keluar. Aku tau kamu belum…”

Naira langsung memotong dengan nada ketus, “Iya jelas lah aku belum. Kamu asal gitu. Belajar dulu lah kendaliin diri. Masa baru main sebentar udah nyerah.”

Dika makin salah tingkah, wajahnya memerah menahan malu. “Aku bener-bener minta maaf…”

Naira malah bangkit pelan, mengambil tisu, membersihkan dirinya dengan gerakan santai seolah tak ada beban. Setelah cukup rapi, dia menoleh dengan senyum miring, mata setengah menyipit menggoda.

“Dik… kalau kamu pengen ketemu aku lagi, kamu harus bisa lebih enak. Kalau nggak, buat apa aku repot-repot main sama kamu?” suaranya genit, tapi tajam, seperti menguji.

Dika menatapnya gugup, “Aku… aku bakal belajar, Mbak.”

Naira mendekat, menepuk pipinya ringan. “Bagus. Nanti kalo udah jago, kabarin. Jangan keburu ngajak bini orang kalau belum bisa tahan lama.” Ia terkekeh nakal, lalu berdiri, merapikan bajunya dengan gaya santai penuh percaya diri.

Sebelum melangkah keluar, Naira sempat menoleh, melempar senyum genit yang menusuk.. “Ingat, Dik. Jangan pernah ancam aku lagi. Kalau kamu pinter, mungkin aku kasih kesempatan. Tapi kalau kamu masih lugu dan buru-buru gitu… yang ada aku cuma puas ngerjain kamu.”

Dengan langkah ringan, Naira meninggalkan rumah Dika. Bukan kepuasan seksual yang ia bawa pulang, tapi kepuasan batin—karena berhasil membalik keadaan, rasa puas berhasil mempermainkan perjaka lugu yang sempat mengancamnya.

Dika hanya bisa melongo, menatap punggung Naira yang meninggalkan rumahnya dengan langkah ringan.

Di dalam mobilnya, Naira bersandar lemas di kursi. Tangannya masih gemetar sedikit, entah karena sisa adrenalin atau karena tubuhnya yang belum benar-benar lega. Ia menutup mata sebentar, menghela napas panjang.

“Ya ampun, aku ngapain barusan…” gumamnya lirih. Sudut bibirnya tersungging, antara geli, puas, tapi juga terasa kentang.

Puas karena berhasil mengerjai Dika. Geli karena ternyata ada pria dewasa masih perjaka dan begitu kikuk. Tapi kentang, karena nafsunya tadi sudah hampir meledak, namun diputus di tengah jalan.

Sambil menyalakan mesin mobil, Naira meraih HPnya. Jemarinya mengetik pelan, lalu berhenti sejenak. Ia menggigit bibir, seolah menimbang. Akhirnya, ia menekan nama yang sudah sangat familiar: Rizal.

Tak lama, suara berat Rizal terdengar dari seberang. “Halo, sayang. Kamu habis dari mana?”

Naira tersenyum miring. “Hmm… kalau aku cerita, kamu jangan marah, ya.”

Nada Rizal langsung berubah penasaran. “Apa lagi, Teh? Kamu kok nadanya gitu.”

Naira menahan tawa kecil. “Aku tadi ketemu si Dika itu. Yang pernah lihat kita di hotel.”

Rizal langsung terdiam, kemudian terdengar tarikan napas panjang. “Si waiters? Terus? Kamu ketemu lagi…?”

Naira sengaja berlama-lama, membuat Rizal semakin gelisah. “Awalnya aku niat cuma ngobrol, ngasih dia peringatan biar nggak ganggu. Tapi… kamu tau sendiri, cowok kayak gitu kalau sudah penasaran…”

Rizal berdeham. “Jangan muter-muter, Teh. Bilang aja.”

Naira menatap dirinya di kaca spion, senyum nakalnya mengembang. “Kontolnya… sempat masuk ke aku.”

Rizal terperanjat, napasnya terdengar lebih cepat. “Apa?”

“Cuma sebentar, Zal.” Nada Naira pelan, setengah mendesah. “Dia nggak tahan lama. Baru aku mulai nikmatin, eh dia cabut dan keluar begitu aja. Kayak… nyolong start.”

Rizal membeku, tapi Naira bisa mendengar dari getar suaranya kalau dia terangsang.

“Gila kamu, Teh…” suara Rizal serak.

Naira tersenyum makin lebar, menikmatinya. “Aku bahkan belum sempet dapet. Rasanya masih kentang. Tapi… aku jadi kepikiran, ternyata anak polos itu punya kontol lumayan gede. Sayang banget, nggak bisa lama.”

Rizal menarik napas kasar dari seberang. “Kamu beneran cerita gitu ke aku sekarang?”

“Kenapa? Kamu kan suka kalau aku jujur.” Naira mencondongkan tubuh ke kemudi, membisik manja pada HPnya. “Lagipula… bayangin aku disentuh cowok lain aja udah bikin kamu panas, kan? Apalagi kalau aku jelasin detailnya.”

Suasana di antara mereka mengental, percakapan berubah jadi permainan berbahaya—antara pengakuan, rangsangan, dan rasa ingin tahu yang semakin liar.

Suara napas Rizal di seberang makin berat. Naira tahu betul, laki-laki itu sedang terangsang. Ia menggigit bibir bawahnya, menikmati kendali penuh di tangannya.

“Zal…” suara Naira melunak, sedikit serak. “Tadi… waktu dia pegang aku… aku sempet mikir kamu yang ada di situ.”

“Hmmh… jangan ngomong gitu, Teh. Aku jadi bayangin…” Rizal terdengar menahan desah.

Naira menyandarkan tubuh ke jok, jemarinya menggambar-gambar nakal di pahanya sendiri. “Dia kikuk banget. Ciumannya kaku. Tapi waktu aku arahkan, dia jadi makin berani. Sampai… bra aku berhasil dia lepas.”

Rizal tercekat. “Terus?”

Naira tersenyum tipis, menutup mata. “Putingku dia isap rakus, Zal. Aku desah keras banget… kayak waktu kamu di hotel itu. Bedanya, dia masih polos. Aku malah jadi kayak ngajarin.”

Suara Rizal bergetar. “Sial, Na… kamu bikin aku panas banget.”

Naira menekan HP lebih dekat ke bibirnya, berbisik nakal. “Pas dia mulai goyang, aku udah basah banget. Cuma… dia buru-buru cabut. Langsung muncrat di toketku, banyak banget ampe muka kena juga. Aku sampai kesel, karena udah tinggal dikit lagi mau keluar.”

Rizal terdiam sesaat, lalu terdengar helaan napas kasar. “Gila kamu… cerita kayak gini…”

“Ngaku aja, Zal. Kamu sekarang lagi ngaceng, kan?” Naira menekan nada suaranya, menggoda, penuh kepastian.

Rizal berdeham, jelas suaranya makin serak. “Iya, Teh… aku lagi tegang parah. Bayangin kamu ditelanjangi cowok lain itu bikin aku gila.”

Naira tertawa kecil, sensual. “Hmm… kalau gitu, bayangin aku lagi pegang punya kamu sekarang. Kayak waktu di mobil. Ingat kan? Aku mainin pelan-pelan sampai kamu crot dalem di mulutku.”

Rizal menggeram lirih, seolah tak tahan. “Jangan berhenti Teh… terusin…”

Naira menutup mata rapat, larut dalam permainan kata-katanya sendiri. “Bayangin, Zal… kalau tadi bukan Dika yang cepat keluar, tapi kamu yang ada di atas aku. Kamu pasti bisa bikin aku teriak sampai tetangga denger. Kamu kan tau, aku paling suka kalau kamu nahan lama…”

Suara Rizal makin berat, jelas sekali ia sedang melakukan sesuatu di seberang sana.

Naira tersenyum penuh kemenangan. Ia sendiri masih berdenyut karena “kentang” tadi, tapi setidaknya sekarang ia bisa menyalurkan rasa itu dengan membuat Rizal terbakar habis lewat suara dan kata-katanya.

Napas Rizal di seberang makin berat, tersengal cepat, seperti sedang berlari. Sesekali terdengar erangan tertahan.

“Teh…… gila… aku udah nggak kuat,” desahnya.

Naira tersenyum nakal, membiarkan suaranya menurun jadi bisikan serak. “Bayangin aku lagi nungging di depanmu, Zal. Rokku sudah melorot, aku nungguin kamu masuk dari belakang. Kamu tau aku paling suka gaya itu…”

Rizal menggeram keras, hampir seperti binatang. “Ahh… jangan ngomong gitu, Na… aku—”

Naira menutup matanya rapat, memainkan nada suaranya makin menggoda. “Masukin pelan-pelan… terus dalamin… jangan cabut sampai aku teriak. Aku mau kamu bikin aku keluar bareng kamu…”

Erangan Rizal pecah, keras, napasnya makin tak beraturan. “Teh… aku keluar… ahhh, gila!”

Hening beberapa detik, hanya suara desahan panjang yang memenuhi telinga Naira. Ia bisa membayangkan jelas Rizal sedang klimaks di seberang sana.

Naira tersenyum puas, menggigit bibirnya. “Hmm… akhirnya kamu juga keluar ya. Untung bukan aku yang kentang lagi.”

Rizal masih terengah, suaranya parau. “Kamu bener-bener Teh, Na. Cerita kayak gitu bikin aku cepet crot.”

Naira terkekeh pelan, penuh kemenangan. “Yaudah, simpen tenagamu. Lain kali, aku maunya kamu buktiin langsung, bukan cuma di telepon.”

Dengan senyum nakal, ia mengakhiri panggilan, lalu merebahkan kepala ke sandaran kursi mobil. Tubuhnya masih panas, masih berdenyut, tapi hatinya puas—karena dalam satu hari ia berhasil mengendalikan dua lelaki sekaligus: seorang perjaka lugu yang ia permainkan, dan seorang kekasih yang ia bakar habis hanya dengan kata-kata.

Begitu sampai rumah, Naira langsung memarkir mobilnya di garasi. Ia menarik napas panjang, masih terasa samar aroma keringat dan tubuh Dika yang menempel di kulitnya. Ada campuran geli dan berdebar, seolah tubuhnya belum benar-benar selesai bermain. Tapi begitu ia menoleh pada jam dinding, ingatannya langsung kembali ke realitas: sebentar lagi suaminya akan tiba.

Tanpa buang waktu, ia masuk kamar, menaruh tas kerja di kursi, lalu buru-buru menuju kamar mandi. Keran air ia buka lebar, suara derasnya menenggelamkan detak jantungnya yang masih cepat. Naira menatap bayangan dirinya di cermin sebelum masuk ke shower—rambut kusut, pipi masih merah, bibir sedikit bengkak bekas ciuman Dika.

“Harus cepat bersih…” gumamnya. Ia melepas satu per satu pakaian, merasakan sedikit basah yang masih tersisa di celana dalamnya. Begitu air dingin menyentuh kulit, ia mengusap tubuhnya kuat-kuat dengan sabun, seolah ingin menghapus setiap jejak tangan dan mulut Dika yang tadi berkeliaran. Ia bilas berkali-kali, memastikan tak ada aroma asing yang bisa terbawa saat bersentuhan dengan suaminya nanti.

Naira juga menyalakan shower dengan air panas, membiarkan uapnya memenuhi ruang, berharap keringat bercampur gairah tadi lenyap bersama uap yang menguap. Ia membersihkan rambut, bahkan berkumur lebih lama dari biasanya.

Setelah yakin benar-benar bersih, ia berdiri sejenak di bawah guyuran air, menutup mata. Ada rasa puas karena berhasil “mengajari” perjaka lugu itu, tapi juga geli karena dirinya sendiri yang akhirnya harus puas lewat telepon dengan Rizal.

Dengan handuk melilit tubuh, ia keluar dari kamar mandi. Kamar sudah beraroma segar, berganti dengan wangi sabun dan parfum yang ia semprotkan ringan. Saat ia melirik HP, ada notifikasi chat masuk dari Rizal—tapi ia hanya tersenyum tipis, menaruhnya di meja rias, dan segera bersiap menyambut kepulangan suaminya seolah tak ada apa-apa yang terjadi hari ini.

 

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *