Urusan Pindah yang Menghangatkan
Naira menarik napas panjang, merapikan sedikit lipatan kemeja putih yang ia kenakan. Aroma parfumnya, campuran sandalwood dan vanilla yang lembut, mengisi ruang tunggu yang sepi di lantai tiga Kantor Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Provinsi.
Ini adalah kunjungan kedua. Bulan lalu, ia datang dengan hati penuh harap untuk memasukkan berkas permohonan pindah instansi dari dinas induk provinsi ke Pemerintah Kota tempat suaminya bekerja. Kali ini, ia datang untuk menanyakan perkembangan.
Sebuah suara memanggil namanya dari balik meja kerja yang rapi.
“Ibu Naira, silakan masuk. Berkasnya sudah saya siapkan,” kata suara itu, dalam nada yang ramah namun berwibawa.
Naira beranjak, jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.
Di balik meja itu, duduklah Rizky. Pemuda itu.
Ia masih ingat betul pertemuan pertamanya. Rizky, seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) muda lulusan STPDN—sekolah kedinasan yang terkenal mencetak kader birokrasi yang cerdas dan berpenampilan menarik. Usianya, kalau dikira-kira, sekitar 7 atau 8 tahun di bawahnya, mungkin baru menginjak 25-an.
Rizky memang ganteng. Wajahnya bersih, dengan potongan rambut klimis yang trendi. Ia mengenakan kemeja batik lengan panjang yang terlihat mahal, dibalut celana bahan hitam yang pas, membuatnya tampak perlente dan necis, jauh dari kesan kaku PNS kebanyakan. Sorot matanya yang cerdas memancarkan aura percaya diri yang tinggi.
“Permisi, Aa Rizky,” sapa Naira lembut, menggunakan panggilan yang terasa akrab, seperti pertemuan mereka sebelumnya.
Rizky berdiri, mempersilakan Naira duduk di kursi depannya dengan gestur sopan. Matanya tidak luput memindai siluet Naira yang duduk anggun. Jelas, wanita matang di depannya ini memiliki daya tarik yang kuat—bentuk tubuhnya terawat, dengan kulit seputih susu yang terlihat sebagian di leher jenjangnya.
“Begini, Bu Naira,” Rizky memulai, suaranya pelan dan fokus, “Berkas permohonan Ibu sudah saya pelajari lagi. Ada kabar baik dan kurang baik.”
Naira mencondongkan tubuh sedikit, memajukan dadanya tanpa sadar. “Baik. Silakan, Aa Rizky.”
“Kabar baiknya, secara regulasi, perpindahan Ibu sangat mungkin. Tapi, kabar kurang baiknya, prosesnya akan panjang. Ibu harus berkoordinasi langsung dengan Dinas Induk Provinsi tempat Ibu bekerja saat ini untuk mendapatkan rekomendasi pelepasan. Setelah itu, berkas harus menghadap beberapa Pejabat Tinggi di Pemprov—terutama Kepala BKD dan mungkin Sekda—untuk persetujuan pindah instansi ke Pemda Kota.”
Naira menghela napas, wajahnya sedikit muram. “Saya kira akan lebih mudah, Aa Rizky bantuin Teteh lah.”
Rizky tersenyum, senyum penuh janji yang menawan. “Siap Ibu. Di sinilah peran saya. Saya bisa membantu Ibu untuk mengurus rekomendasi dari bagian internal BKD agar alurnya lancar. Saya juga bisa memberi tahu Ibu timing yang tepat untuk menghadap para petinggi itu.”
Ia lalu memajukan tubuhnya, menatap lurus ke mata Naira, jarak pandang mereka terasa begitu dekat.
“Tapi, Bu Naira, untuk memudahkan koordinasi, ada baiknya saya punya nomor telepon Ibu. Proses ini sering mendadak, terutama saat atur jadwal dengan para pejabat. Saya tidak mau Ibu harus bolak-balik datang ke kantor hanya karena miskomunikasi.”
Permintaan itu dilontarkan dengan dalih profesional, namun sorot mata Rizky menyampaikan pesan yang lebih dalam. Ada ketertarikan yang tidak ia sembunyikan. Matanya menatap bibir penuh Naira sesaat, sebelum kembali ke matanya.
Naira merasakan pipinya sedikit menghangat. Ia tahu, permintaan itu adalah isyarat. Namun, demi kelancaran urusannya, dan juga karena ia sendiri tertarik dengan pesona pemuda itu, Naira mengangguk.
“Tentu aja boleh doong, Aa Rizky. Itu ide yang sangat bagus,” jawab Naira, tangannya meraih tas kecilnya dan mengeluarkan selembar kertas. Dengan gerakan perlahan dan sensual, ia menuliskan sepuluh digit nomor ponselnya.
“Ini, Aa Rizky,” kata Naira, menyerahkan kertas itu dengan ujung jarinya menyentuh punggung tangan Rizky sesaat. Sentuhan singkat itu terasa seperti sengatan listrik halus.
Rizky menerima kertas itu, jemarinya yang panjang menggenggamnya erat. Ia menyeringai tipis, seolah telah memenangkan babak pertama.
“Terima kasih banyak, Bu Naira. Saya janji, saya akan bantu seoptimal mungkin. Saya akan jaga agar berkas Ibu tidak mandek,” janji Rizky, suaranya kini terdengar lebih personal. “Namun, Ibu tetap harus siap untuk datang ke Ibu Kota Provinsi jika diperlukan. Beberapa tahap—seperti bertemu langsung dengan Kepala Dinas atau menerima surat persetujuan—menuntut Ibu hadir secara fisik. Saya akan menghubungi Ibu secepatnya, dan kita akan atur semuanya.”
Naira mengangguk, hatinya kini dipenuhi campuran antara lega karena janji bantuan dan gejolak antisipasi dari janji pertemuan berikutnya. Ia tahu, urusan pindahnya ini akan menjadi urusan yang sangat, sangat menarik.
Rizky segera memasukkan nomor Naira ke ponsel pintarnya begitu Naira selesai menulis. Ia sengaja tidak langsung menghubunginya, melainkan mengunci pandangan lagi pada wanita itu.
“Baik, Bu Naira. Berkas Ibu sudah aman di laci saya,” kata Rizky, menyandarkan punggungnya ke kursi. Wajahnya kini menampilkan ekspresi yang lebih santai, melepas topeng birokratnya sedikit demi sedikit. “Ngomong-ngomong, ini sudah mau jam makan siang. Apakah Ibu menginap di Bandung malam ini, atau langsung pulang ke Bogor?”
Naira tersenyum, merasa nyaman dengan upaya Rizky untuk mencairkan suasana. “Terima kasih banyak, Aa Rizky. Saya sudah beberapa hari di Bandung, ada seminar di Lembang dari awal minggu. Hari ini saya langsung pulang ke Bogor. Saya sudah pesan tiket kereta Argo Parahyangan untuk jam 5 sore nanti.”
“Oh, Argo Parahyangan,” ulang Rizky, mengangguk penuh pengertian. “Kereta yang paling nyaman. Berarti Ibu masih punya banyak waktu santai. Ga sampai terburu-buru.”
Naira bangkit dari kursinya. “Betul, saya masih punya waktu sekitar tiga jam. Saya akan cari taksi sekarang ke stasiun. Sekali lagi, terima kasih banyak atas bantuannya, Aa Rizky.”
Rizky ikut berdiri, postur tegapnya menjulang. “Sama-sama, Bu Naira. Saya senang bisa membantu. Kabar baiknya, kalau kita sering komunikasi, kita jadi lebih akrab, bukan?” Ia mengucapkan kalimat terakhir dengan nada menggoda yang tipis.
Naira hanya tersenyum tipis, matanya membalas tatapan Rizky sejenak sebelum ia melangkah keluar dari ruangan BKD.
Naira tiba di depan pintu masuk kantor BKD yang besar dan megah. Ia segera membuka aplikasi taksi online, namun beberapa kali pemesanan dibatalkan oleh pengemudi. Jalanan Bandung memang sedang crowded di jam-jam menjelang makan siang dan weekend ini, membuat mencari taksi agak sulit.
Ia berdiri di bawah peneduh, menyilangkan tangan di depan dada, sesekali melihat layar ponselnya dengan ekspresi sedikit kesal. Untungnya, jam keberangkatan keretanya masih sekitar tiga jam lagi, jadi ia tidak terlalu panik.
Tidak lama kemudian, pintu kaca BKD terbuka, dan Rizky keluar sambil membawa sebuah briefcase kulit. Ia tampak terkejut melihat Naira masih berdiri di tempat yang sama.
“Lho, Bu Naira? Kok belum dapat taksi?” tanya Rizky, berjalan mendekat.
“Iya, nih, Aa Rizky. Sudah empat kali dibatalin. Mungkin karena macet, jadi driver malas masuk ke area sini,” keluh Naira.
Rizky berdiri di sampingnya. Mereka kini berdiri berdampingan, aroma cologne Rizky yang segar dan maskulin beradu lembut dengan parfum lembut Naira.
“Bandung memang begini kalau sudah jam sibuk,” kata Rizky, bersimpati. Ia lalu bersandar ke dinding gedung, sengaja berdekatan dengan Naira. “Jadi, kalau seminar, pasti Ibu sibuk sekali ya selama di sini?”
“Lumayan, Aa. Materinya padat, dan banyak networking. Tapi saya senang, karena kalau sudah pulang, saya bisa bertemu suami dan anak-anak lagi,” jawab Naira.
Rizky menatapnya, ada sedikit ekspresi penasaran yang terpancar di matanya. “Suami Ibu bekerja di Pemkot, kan? Berarti, dia pasti senang sekali kalau Ibu akhirnya bisa pindah ke sana. Jadi bisa lebih sering quality time.”
“Iya, itu harapan kami,” ujar Naira, membalas tatapan Rizky dengan tenang.
Rizky tersenyum, senyumnya kali ini sedikit nakal. “Tapi, Ibu Naira, kalau saya lihat Ibu ini, aura Ibu bukan seperti Ibu-ibu yang cuma sibuk mengurus rumah tangga dan kantor, lho. Ibu keliatan… adventurous. Pasti banyak yang terpesona dan naksir sama Ibu di kantor,” ia memberikan kode halus yang terang-terangan menunjukkan ketertarikannya.
Naira terkekeh pelay. “Aa Rizky ini ada-ada saja. Saya hanya ibu-ibu biasa yang mengejar karier, dan berusaha menyeimbangkan semuanya.”
“Saya rasa tidak biasa, Ibu,” sela Rizky cepat, matanya turun sejenak ke lekuk leher Naira yang terlihat. “Saya akui, sejak pertemuan pertama bulan lalu, saya sudah… tertarik. Maksud saya, tertarik dengan cara Ibu membawa diri. Profesional, tapi tetap mempesona. Semoga saja, urusan kepindahan ini membuat kita lebih sering bertemu, ya?”
Pipi Naira memerah lagi. Ia tahu Rizky sedang bermain api, dan anehnya, ia menyukai percikan panas itu.
Naira mencoba sekali lagi memesan taksi online, tapi hasilnya sama: dibatalkan. Ia menghela napas pasrah.
Rizky melihat jam tangannya, lalu menatap Naira dengan ekspresi concern. “Ibu Naira, waktu Teteh berjalan. Kalau begini terus, Teteh bisa telat ke stasiun. Jarak ke sana cukup lumayan kalu sore.”
Ia kemudian mengambil kunci mobil dari sakunya. “Begini saja, daripada Ibu terus nunggu dan dibatalin, biar saya saja yang mengantar Ibu ke stasiun. Saya bawa mobil. Kebetulan ini sudahmendekati jam pulang, dan stasiun tidak terlalu jauh dari jalur pulang saya.”
Naira terkejut, namun ada rasa lega yang besar. Tawaran Rizky ini sungguh menarik dan sangat membantu.
“Ah, bener nih, Aa Rizky? Ga ngerepotin?” tanya Naira, hatinya berdebar tak menentu.
Rizky tersenyum lebar. “Sama sekali engga, Ibu. Justru ini kehormatan bagi saya. Anggap saja ini bagian dari ‘koordinasi’ awal kita. Yuk, mobil saya diparkir di sana.”
Naira akhirnya mengangguk, menerima tawaran yang menggiurkan itu.
Tumpangan Menuju Stasiun
Naira duduk di jok mobil sedan mewah milik Rizky. Meskipun bukan keluaran terbaru, bahkan bisa dibilang keluaran tahun lama interior mobilnya bersih, beraroma kulit dan cologne mahal. Mereka berdua meninggalkan area kantor BKD, berbaur dalam kemacetan sore Kota Kembang.
Rizky menyetel musik jazz lembut, menciptakan atmosfer intim yang sunyi. Ia melirik Naira sekilas, senyumnya semakin lebar.
“Nah, begini kan enak,” ujar Rizky, fokusnya berpindah sebentar dari jalanan ke Naira. “Aku gak perlu khawatir berkas Teteh diurus terburu-buru, dan Teteh gak perlu khawatir ketinggalan kereta.”
Ia lalu menarik napas, seolah baru menyadari sesuatu.
“Teteh Naira,” panggil Rizky, mengganti panggilan ‘Teteh’ dengan nada yang lebih akrab, lebih manja. “Tadi Aku memanggil ‘Ibu’ rasanya kurang pas. Teteh ini look-nya masih sangat muda, tidak pantas dipanggil Teteh. Panggilannya ‘Teteh’ saja ya, biar lebih akrab, dan koordinasi kita makin lancar.”
Naira menoleh, matanya berbinar karena tersanjung. “Terserah Aa Rizky saja,” jawabnya, suaranya terdengar lembut dan sedikit serak.
Rizky menggeser tangannya dari setir sejenak, memuji penampilan Naira dengan mata berbinar. “Teteh hari ini cantik sekali. Kemeja Putih itu benar-benar cocok dengan kulit Teteh. Fresh, anggun, tapi tetap seksi. Aku yakin, Teteh ini selalu menjadi pusat perhatian di mana pun berada. Aku tidak heran, sih, banyak yang terpesona.”
Ia mencoba membangun kedekatan emosional dengan pujian yang tulus, namun tersirat hasrat.
Naira menerima pujian itu dengan senyum genit yang menggoda. Ia sudah sangat berpengalaman menghadapi rayuan pria muda, dan ia tahu ke mana arah obrolan ini. Ia sedikit memiringkan kepala, memainkan rambut panjangnya di bahu.
“Aa Rizky ini pintar ngegombal, ya? Kata-katanya manis banget,” ujar Naira, dengan nada sedikit mendesah. “Tapi, Teteh mau tanya nih, Aa kan ganteng, perlente, lulusan STPDN pula. Pasti punya pacar, kan?”
Naira mendekat sedikit, suara berbisiknya bergetar menggoda.
“Teteh ini jadi khawatir, lho. Nanti pacar Aa Rizky curiga dan marah-marah, melihat Aa berduaan dengan perempuan lain, di dalam mobil, cuma berdua begini. Apalagi kalau tahu Aa sudah dapat nomor telepon Teteh.”
Rizky tertawa kecil, suara tawanya deep dan menawan. Ia menoleh penuh percaya diri.
“Teteh,” balasnya, suaranya tiba-tiba berubah menjadi rendah dan tegas. “Soal itu, Teteh tidak perlu khawatir sama sekali. Jangankan pacar, kalaupun ada cewek yang cemburu lihat Aku berduaan sama Teteh sekarang ini, atau cemburu karena urusan koordinasi kita nanti, Aku tinggal putusin aja. Demi tetap bisa dekat dengan Teteh, dealing dengan cewek cemburu itu bukan masalah besar.”
Rizky kembali menatap jalanan, tapi ia tahu kata-katanya telah menancap dalam pikiran Naira. Itu adalah deklarasi yang berani—ia memprioritaskan Naira di atas hubungan apa pun yang mungkin ia miliki.
Naira merasa excited. Pria ini benar-benar serius mengejarnya. Ia menyandarkan punggungnya, lalu kembali memajukan tubuhnya, kali ini berbisik tepat di telinga Rizky, mendekati wajahnya, sehingga Rizky bisa mencium aroma lembut parfumnya.
“Aa Rizky,” bisik Naira, nada suaranya penuh canda sekaligus peringatan genit yang mengundang, “Hati-hati, lho. Kata-kata manis itu bisa jadi bumerang. Nanti Aa malah baper sendiri karena terlalu sering koordinasi dengan Teteh.”
Bisikan Naira begitu dekat, napas hangatnya menyentuh daun telinga Rizky.
Rizky langsung menahan napas, tangannya sedikit bergetar di setir. Ia memaksakan dirinya untuk fokus pada kemacetan di depan, namun otaknya dipenuhi sensasi sentuhan dan bisikan Naira. Godaan Naira ini adalah sinyal lampu hijau yang tidak terbantahkan.
Ia membalas bisikan itu dengan suara yang nyaris tak terdengar.
“Kalau baper dengan Teteh, itu risiko yang siap Aku ambil. Karena jujur… Teteh ini layak untuk diperjuangkan,” balas Rizky, wajahnya memanas.
Matanya menatap intens, penuh gairah. “Jika harus baper demi kelancaran berkas Teteh, Aku siap! Anggap saja, ini bukan cuma berkas yang pindah instansi, tapi hati Aku juga ikut pindah—pindah ke Teteh!”
Mendengar deklarasi berani itu, jiwa petualang Naira muncul. Ia harus memastikan Rizky benar-benar akan berusaha all out dalam membantu kelancaran berkas pindahnya.
Naira menyandarkan kepalanya ke belakang sandaran kursi, membiarkan Rizky menikmati pemandangan lehernya yang jenjang.
“Ah, Aa Rizky ini,” ujar Naira, dengan nada merendah yang palsu, namun penuh makna. “Memangnya pemuda seganteng, secerdas, dan seperkasa Aa Rizky bisa baper dengan emak-emak beranak dua seperti Teteh? Teteh ini sudah terlalu tua untuk Aa.”
Naira menghela napas, gesturnya dTetehat seolah-olah ia menutup pintu rapat-rapat, namun celah itu ia biarkan terbuka sedikit.
“Lagipula,” lanjutnya, suaranya kembali berbisik manja, “Teteh tidak mungkin kasi lebih ke Aa Rizky. Teteh punya keluarga, punya suami yang mapan, pengertian, dan sangat mencintai Teteh. Teteh juga punya anak-anak. Teteh tidak butuh lelaki lain di luar. Tidak mungkin Aa Rizky akan ‘menikahi’ Teteh, kan? Teteh sudah punya keluarga yang sempurna.”
Ia menekankan batasan itu, namun cara ia mengatakannya justru terdengar seperti undangan. Seolah-olah, hubungan serius memang tidak mungkin, tapi ada kemungkinan lain. Celah yang ia berikan adalah waktu di Bandung, saat ia jauh dari Bogor dan suaminya.
Rizky menangkap kode itu dengan cepat. Pujian setinggi langit ia lontarkan untuk memanjakan ego Naira.
“Teteh,” kata Rizky, nadanya berubah serius. “Teteh tidak terlihat tua sedikit pun. Teteh terlihat seperti wanita yang baru matang sempurna. Aku sadar, Teteh memiliki suami dan keluarga. Dan Aku tidak berharap lebih. Aku sudah senang sekali bisa berdua dengan Teteh seperti ini. Aku sadar, pasti banyak sekali pesaing yang berusaha mendekati wanita sekelas Teteh. Mendapat kesempatan langka di mobil berdua seperti ini, sudah merupakan kehormatan.”
Rizky meletakkan tangan kanannya di armrest tengah, sangat dekat dengan paha Naira, namun ia menahan diri untuk tidak menyentuh.
Naira kemudian bergerak, seolah-olah merapikan kemeja putihnya yang sedikit bergeser. Gerakannya itu membuat Rizky melihat dengan jelas bahwa dadanya terangkat sedikit, membusung, menarik perhatian Rizky sepenuhnya.
Sambil merapikan kemejanya, Naira memajukan tangannya, dan jari-jari lentiknya menyentuh ringan pergelangan tangan Rizky yang ada di armrest—hanya sentuhan sekilas, namun sangat menggoda.
“Kalau begitu,” kata Naira, suara genitnya kini terdengar sangat dekat. “Teteh harap Aa Rizky membuktikan keseriusan ‘baper’ itu dalam mengurus berkas Teteh. Jangan sampai Teteh kecewa. Kalau service Aa Rizky memuaskan… Teteh janji, urusan koordinasi di Bandung akan menjadi yang paling menyenangkan untuk Aa.”
Sentuhan ringan itu sudah cukup untuk membuat Rizky semakin bernafsu. Matanya berkilat, dan ia segera membalas sentuhan Naira.
Tepat saat lampu berubah hijau, Rizky memegang pergelangan tangan Naira yang baru saja menyentuhnya, menggenggamnya singkat dan penuh arti sebelum melepaskannya untuk memegang setir kembali.
“Tentu, Teteh. Teteh pegang janji Aku. Koordinasi kita akan menjadi yang terbaik,” janji Rizky, suaranya sedikit tercekat karena gairah yang membuncah.
Mobil Rizky kini sudah memasuki area Stasiun Kereta Api Bandung. Keramaian mendadak di sekitar mereka memaksa Rizky untuk lebih fokus menyetir, namun pikirannya sepenuhnya tertuju pada wanita di sampingnya. Ia menyadari waktunya hampir habis. Setelah ini, Naira akan naik kereta kembali ke keluarganya di Bogor.
Rizky harus melakukan sesuatu, memberikan kesan yang mendalam dan berani sebelum perpisahan singkat ini.
Ia memarkir mobilnya dengan rapi di area penurunan penumpang, tepat di depan pintu masuk stasiun. Ia mematikan mesin, keheningan di dalam mobil segera terasa pekat, hanya diisi oleh suara bising kendaraan dari luar.
Naira segera meraih tasnya, wajahnya menunjukkan ekspresi terima kasih yang tulus, bercampur dengan gejolak gairah yang baru saja mereka bangun.
“Terima kasih banyak, Aa Rizky,” kata Naira, suaranya sedikit bergetar. “Teteh benar-benar tertolong. Kalau tidak ada Aa, mungkin Teteh masih berkutat dengan taksi online.”
Rizky menoleh penuh, ia mengabaikan tas dan pintu mobil. Matanya mengunci mata Naira, seolah ia sedang mengumpulkan semua keberaniannya.
“Sama-sama, Teteh,” jawab Rizky. Ia menjulurkan tangan kirinnya, bukan untuk meraih pintu atau tas Naira, melainkan untuk menyentuh pelan pipi mulus Naira.
Jemari Rizky yang hangat dan halus membelai lembut rahang Naira, Teteh jarinya menyentuh sudut bibir Naira yang penuh. Sentuhan ini jelas melewati batas profesionalisme, sebuah tindakan yang intim dan berani.
“Aku senang banget, Teteh,” bisik Rizky, suaranya kini sangat rendah dan sarat emosi, mengabaikan keramaian stasiun di luar. “Aku bakalan all out urus berkas Teteh. Dan Aku harap, koordinasi kita ini gak berhenti sampai Teteh resmi pindah.”
Naira memejamkan mata sesaat, menikmati sentuhan mengejutkan namun menyenangkan itu. Ia merasakan debar di dadanya semakin kencang. Ia tidak menolak, justru memiringkan kepalanya sedikit, seolah ingin lebih.
Saat Naira membuka mata, ia mendapati wajah Rizky sudah sangat dekat, aroma cologne Rizky memabukkan. Mereka berdua terdiam, gairah yang membara di mata masing-masing tidak bisa lagi disembunyikan.
Naira berbisik balik, suaranya seperti desahan pelan. “Teteh akan tunggu kabar dari Aa.”
Rizky tahu ia tidak punya banyak waktu. Ia menarik napas dalam-dalam, menahan dorongan untuk melakukan lebih. Sebagai ganti, ia mencondongkan tubuhnya lebih dekat, dan mengecup singkat sudut bibir Naira—sebuah ciuman yang terlalu cepat untuk disadari orang lain, namun cukup untuk menyalakan api.
Setelah ciuman singkat nan nakal itu, Rizky menarik diri sedikit, wajahnya merona.
Naira menyentuh bibirnya, matanya lebar karena terkejut bercampur rasa excited yang liar. Perasaan bersalah terhadap suaminya tiba-tiba lenyap ditelan sensasi sentuhan dan gairah dari pemuda perlente di sebelahnya.
Rizky tersenyum, senyum yang menjanjikan lebih banyak pertemuan intim di masa depan.
“Hati-hati di jalan, Teteh,” kata Rizky, nadanya kembali menjadi profesional, seolah tidak terjadi apa-apa, namun matanya tetap menjanjikan sebuah janji. “Begitu ada perkembangan berkas, terutama yang mengharuskan Teteh kembali ke Bandung, Aku akan segera hubungi. Dan… kita akan koordinasi lebih lanjut.”
Naira mengangguk, ia buru-buru meraih tasnya dan membuka pintu mobil. Ia perlu segera keluar sebelum ia melakukan hal yang lebih gila di dalam mobil ini.
“Teteh tunggu kabar Aa,” balas Naira, suaranya kini terdengar sedikit flirty.
Naira keluar dari mobil, melambaikan tangan singkat, lalu bergegas masuk ke stasiun. Ia berjalan menuju peron, namun yang ia rasakan hanyalah sisa kehangatan sentuhan Rizky di pipi dan sensasi kejutan ciuman singkat itu di sudut bibirnya. Urusan pindahnya di Bandung akan menjadi sebuah petualangan yang sangat, sangat menyenangkan.
Rizky menyalakan kembali mesin mobilnya. Ia melihat ke arah pintu stasiun, memastikan Naira sudah benar-benar masuk. Senyum puas tersungging di bibirnya. Ia baru saja melewati batas yang ia tetapkan, dan reaksi Naira sangatlah menjanjikan.
Ia mengemudikan mobilnya keluar dari area stasiun, menuju jalanan yang mulai padat lagi. Setelah beberapa menit fokus menyetir, Rizky meraih ponselnya dan membuka aplikasi perpesanan.
Ia mencari kontak yang baru saja ia simpan: Naira – Pindah Bogor.
Rizky mengetikkan pesan dengan santai, menjaga agar pesannya tetap terasa hangat dan sopan, namun sedikit personal.
[Rizky]
Teteh Naira, saya sudah sampai kantor lagi.Hati-hati ya di kereta. Semoga perjalanannya lancar sampai Bogor. 🚂Nanti kalau ada update berkas, pasti saya langsung kabari. 🙏
Pesan itu terkirim. Rizky tidak menunggu balasan. Ia tahu Naira mungkin sedang sibuk mencari tempat duduk atau bersiap-siap di peron. Ia ingin memberi jeda, membiarkan Naira memikirkan momen mereka di mobil tadi, dan membiarkan ketegangan itu tumbuh.
Rizky memutuskan untuk disiplin: ia tidak akan menghubungi Naira lagi sampai ia benar-benar memiliki alasan kantor yang kuat—yaitu, ketika berkas Naira siap untuk tahap koordinasi berikutnya, yang menuntut Naira datang lagi ke Bandung.
Dua Hari Kemudian…
Rizky kembali ke meja kerjanya setelah jam makan siang. Tumpukan berkas permohonan pindah instansi milik Naira ada di depannya. Ia tersenyum tipis. Hari ini adalah hari yang tepat untuk membuat “perkembangan”.
Ia mulai membuat catatan, menganalisis alur administrasi. Ia tahu, langkah berikutnya adalah memintakan nota dinas pengantar ke Kepala Bidang, yang harus diserahkan Naira ke dinas induknya.
Rizky mengangkat telepon kantor, menghubungi bagian Sekretariat Kabid. Setelah percakapan singkat, ia mendapat konfirmasi bahwa nota dinas akan disiapkan sore ini.
Sempurna.
Rizky menunggu hingga pukul 16.00 WIB, waktu yang pas di mana sebagian besar kantor sudah mulai bersiap pulang, dan waktu itu adalah waktu yang rawan untuk koordinasi mendadak.
Ia meraih ponsel pribadinya lagi.
[Rizky]
Selamat sore, Teteh Naira. Mohon maaf mengganggu.Ini Rizky dari BKD. Ada update bagus soal berkas pindah Teteh.
Naira membalas hampir instan.
[Naira]
Sore juga, Aa Rizky.Wah, cepat sekali! Ada kabar apa, A?
[Rizky]
Alhamdulillah, notulen pengantar dari Kabid sudah siap, Teh. Ini penting banget karena Teteh harus bawa ini sebagai modal awal koordinasi ke Dinas Induk Provinsi yang lama, terus nanti diminta menghadap Kadis di sana.Nah, saya mau bantu kasih tips, kira-kira gimana enaknya Teteh ketemu para pejabat itu biar mulus.
[Naira]
Oke, A. Saya siap dengar tips dari guide terbaik di BKD, he-he. 😉Jadi, saya harus balik ke Bandung lagi, ya? Kapan?
[Rizky]
Nah, ini dia. Sebenarnya notulen ini sudah bisa diambil besok pagi, Teh. Tapi, kalau Teteh tidak bisa datang secepatnya, saya bisa bantu simpan dulu di ruangan saya.Tapi usul saya, lebih baik Teteh datang minggu depan, sekalian ngobrol detail langkah-langkah strategis menghadap para pejabat.Teteh bisa atur jadwal Teteh datang ke Bandung, misalnya hari Rabu atau Kamis depan. Kita koordinasi lagi.
[Naira]
Baiklah, Aa Rizky. Kalau begitu, saya atur jadwal minggu depan ya. Mungkin hari Kamis. Sekalian cari tiket kereta.By the way, terima kasih banyak lho, Aa. Teteh jadi tenang karena ada Aa yang bantu backup di sana. 🙏
Rizky tersenyum. Koordinasi selanjutnya sudah terencana.
[Rizky]
Siap, Teteh. Sudah tugas Aku. Jangan sungkan, kalau perlu bantuan apa-apa di luar jam kantor, misalnya rekomendasi hotel di Bandung, chat saja ya. 😉 Sampai ketemu minggu depan. Salam hangat dari Bandung!
Naira membaca pesan Rizky, terutama bagian yang menawarkan rekomendasi hotel. Ia tahu Rizky sedang mencari celah untuk menghabiskan waktu lebih lama dengannya di luar jam kantor. Ia harus menjaga citra sebagai istri yang baik, meskipun di dalam hatinya ia menikmati permainan ini.
[Naira]
Wah, Aa Rizky ini baik sekali, sampai mau bantu urusan hotel segala. Terima kasih banyak lho, A. Tapi…
[Rizky]
Tapi kenapa, Teteh? Nanti Teteh kalau perlu istirahat biar gampang, Teh. Biar fresh pas ketemu para pejabat.
[Naira]
He-he, Teteh jadi GR nih, Aa. Apa harus nginep, A? Urusan koordinasi kita ini sampai selama itu ya, A? 🤔 Teteh kan ke Bandung urusan kantor, bukan liburan. Nanti kalau Teteh sampai nginep apalagi pesan-pesan hotel bagus, Misua sama anak bisa-bisa pengen ikut. Lagian ga baik wanita bersuami pake hijab ketemu perjaka di hotel nginep pula sendirian di kota orang, image istri baik-baik Teteh bisa rusak lho kalau ada yang liat 🤭
Naira memberikan penolakan dengan sangat genit, mengaitkannya dengan citranya sebagai istri—sebuah batasan yang ia nikmati untuk dilanggar secara verbal.
Rizky menangkap sinyal itu. Ia tahu Naira hanya jaim, menjaga agar godaan ini tetap terasa eksklusif dan sedikit terlarang.
[Rizky]
Oh, begitu ya, Teteh? Siap-siap, Aku mengerti. Misua Teteh jagain terus ya? Wajar sih sebagai istri salehah harus tetap dijaga, he-he. 😉 Aku cuma khawatir Teteh capek kalau harus bolak-balik dalam satu hari. Tapi kalau Teteh tidak nginap, ya ga masalah, Teh.
[Naira]
Betul, A. Image itu penting. Jadi, Teteh tolak ya tawaran bantuan hotelnya. Lagipula, Teteh sudah atur jadwal di hari Kamis nanti. Teteh akan naik kereta pagi-pagi sekali, jadi Teteh sudah sampai Bandung pas jam kantor buka. Teteh juga tidak akan buru-buru pulang kalau urusan koordinasi kita belum selesai. Kalau perlu, Teteh bisa ambil jadwal kereta paling malem. Jadi, Aa Rizky bisa siapkan waktu sepuasnya untuk koordinasi dengan Teteh di Bandung. Gimana?
Pesan terakhir Naira itu adalah sinyal terkuat. Ia menolak hotel, tetapi menjamin bahwa ia akan punya waktu luang penuh di Bandung, siap untuk ‘koordinasi’ hingga malam hari.
Rizky tersenyum lebar melihat pesan itu. Rencananya berhasil.
[Rizky]
Wah, kalau begitu malah jauh lebih baik, Teteh! Aku senang sekali. Teteh sudah siapkan waktu all-out di Bandung, berarti Aku juga harus siapkan service all-out untuk Teteh. Oke, Teteh atur jadwal dan tiket, nanti kalau sudah pasti, kabari Aku ya. Aku akan siapkan semua berkasnya biar koordinasi kita lancar jaya. Sampai ketemu minggu depan!
Rizky menaruh HPnya. Urusan kantor dan urusan pribadi tampaknya akan berjalan sangat mulus minggu depan.
Pertemuan di Parkiran Kantor Wali Kota
Naira baru saja menyelesaikan acara pertemuan rutin Darma Wanita di lingkungan kantor suaminya, Rizal (yang kini bekerja di Pemkot). Ia tampil anggun dengan seragam Darma Wanita, jilbabnya rapi, dan citra istri PNS yang sempurna. Setelah berpamitan dengan istri-istri pejabat lainnya, Naira berjalan cepat menuju mobilnya yang terparkir di area belakang kantor Wali Kota.
Ia membuka kunci mobil dan baru saja hendak masuk, ketika sebuah suara berat menyapa dari belakangnya.
“Say? Ngapain kamu di sini?”
Naira terkesiap. Ia menoleh dan mendapati Angga berdiri beberapa langkah di belakangnya, mengenakan kemeja batik yang terlihat casual tapi mahal. Angga berjalan mendekat, memasang senyum ramah—senyum yang penuh dengan rahasia mereka berdua.
“Angga! Ya ampun! Kenapa kamu di sini?” tanya Naira, berusaha terdengar terkejut, meskipun jantungnya sudah berdebar. Ia segera menutup pintu mobil sedikit agar tasnya yang berisi barang pribadi tidak terlihat.
“Aku ada meeting sama tim pengadaan di lantai atas, biasa lah. Kamu sendiri, ngapain pakai seragam Darma Wanita segala? Udah jadi Ibu Pejabat Pemkot emang beda dah !” Angga tertawa kecil, melirik seragam Naira dari atas ke bawah.
Naira tersenyum, agak gugup. “Bisa aja kamu. Aku kan ikut acara kantor misua, Ga. Acara rutin. Kamu sendirian ke sini?”
“Iya, sendiri. Ngobrol sebentar di mobil kamu yuk. Panas banget di luar,” ajak Angga, tanpa menunggu persetujuan, ia sudah bergerak ke pintu penumpang depan.
Naira tidak bisa menolak. Ia masuk ke kursi pengemudi, lalu Angga ikut masuk dan menutup pintu. Ruangan di dalam mobil terasa sempit dan segera dipenuhi tension yang tebal.
“Gimana kabarmu, Say?” tanya Angga, suaranya kini melunak, lebih intim. Matanya mengunci mata Naira.
“Baik, Ga. Ya begitulah. Aku baru ngurus pindah kan,” jawab Naira, sambil menyalakan AC mobil. “Aku lagi sibuk urus pindahan semua. Bolak balik Bandung… lumayan pusing.”
“Oh, iya. Soal pindahan,” Angga menyandarkan punggungnya, lengannya diletakkan santai di belakang sandaran kepala Naira. “Jadi, urusan Pemprov ke Pemkot sudah beres semua?”
Naira merasa sedikit terpojok. “Iya, sudah hampir tuntas. Berkas mutasi dari Pemprov sudah keluar, dan aku sudah serahkan ke BKD Pemkot. Mereka lagi proses SK keluar. Paling sebentar lagi resmi.”
“Cepat ya,” Angga berkomentar, nadanya tidak menuduh, tapi penuh makna. “Pasti banyak dibantu teman-teman di BKD, ya?”
Naira menegang. Ia tahu Angga sedang memancing, tapi ia harus bersikap tenang. “Iya, networking itu penting, Ga. Aku harus pastikan semuanya lancar, aku enggak mau ada masalah.”
Angga hanya tersenyum tipis. “Pasti lancar lah. Kamu kan orangnya cantik, pintar bicara, dan tahu cara melobi yang efektif.”
Angga mengulurkan tangan, dan dengan gerakan yang sangat lembut, ia menyentuh bahu Naira yang tertutup seragam Darma Wanita. “Kamu terlihat lebih soleha sekarang say. Tapi solehot… masih sama liar seperti yang aku ingat di hotel.”
Naira merasakan bulu kuduknya merinding. Sentuhan di bahu itu dan bisikan kata-kata itu di ruang sempit mobil sudah cukup untuk memicu ingatan liar mereka.
“Ga, jangan mulai,” bisik Naira, suaranya serak. Ia menahan tangan Angga yang kini perlahan turun dari bahu ke lengannya.
“Aku enggak mulai. Aku cuma penasaran,” Angga melanjutkan, tatapannya semakin tajam. “Aku janji akan datang ke sini. Aku mau tunjukkan ke kamu, Say. Liar yang aku bangkitkan di diri kamu, cuma kontol aku yang bisa puasin.”
“Aku lagi berusaha control, Ga. Jangan bikin susah,” kata Naira, ia menghindari kontak mata, tetapi tangannya tidak benar-alih menepis tangan Angga.
“Control?” Angga tertawa sinis. Ia memajukan wajahnya ke dekat wajah Naira. “Naira, look at me. Aku tahu kamu. Kamu nahan horny dari tadi. Aku lihat dari matamu. Kapan kamu ada waktu? Aku mau kita ketemu. Aku mau kita bersih-bersih lagi. Kali ini lebih lama dari yang kemarin.”
Naira menelan ludah. Ia tahu ia tidak bisa melawan Angga. “Minggu depan. Misua ada perjalanan dinas ke Surabaya,” bisik Naira, menyerah pada godaan itu. “Tapi jangan pernah kamu hubungi aku di kantor. Aku harus jaga image.” Naira menatapnya dengan tatapan memohon. “Angga, kamu harus pergi sekarang. Ada banyak orang lewat di sini.”
“Tentu, Sayang,” Angga tersenyum lebar. Ia menarik tangannya dari lengan Naira, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan, mencium singkat bibir Naira. Kecupan yang terlalu singkat, tapi meninggalkan jejak basah dan janji bahaya.
Naira terkesiap, tapi ia segera membalas ciuman itu, lidah mereka bertarung ganas. Udara di dalam mobil terasa memanas, dipenuhi tension yang tebal.
Angga menarik kepalanya sedikit, menatap Naira dengan mata membara. “Aku enggak bisa nunggu sampai minggu depan, Sayang. Aku mau kamu sekarang.”
Angga segera meraih sabuk pengaman Naira, menariknya lembut ke samping, lalu tangannya bergerak cepat. Ia membuka kancing teratas kemeja seragam Darma Wanita Naira yang rapi. Celah kecil itu langsung memperlihatkan lekuk belahan dada Naira yang berlimpah.
“Angga! Jangan! Kita di parkiran!” bisik Naira, ia berusaha menahan tangan Angga, tapi gerakannya terasa lemah.
“Nggak ada yang liat. Kaca film kamu gelap banget juga,” desah Angga. Jari-jarinya sudah bermain di kulit dada Naira yang terbuka. Ia meraba, membelai, dan menggesek perlahan.
Naira mendesah keras. “Angga! Kita di parkiran kantor Wali Kota! Gila kamu!”
“Aku tahu, makanya cepet! Biar enggak ketahuan!” Angga memotongnya.
Naira mendesah lirih, matanya terpejam. “Mmmhh… Angga… Please… aku enggak bisa. Aku lagi mens!”
Angga menghentikan tangannya sejenak. “Oh ya?”
“Iya! Aku serius! Memek aku banyak darah, kamu mau?” bisik Naira, menahan desahan panjang.
Mendengar pengakuan itu, Angga bukannya mundur, tapi malah semakin terangsang. Ia menyeringai.
Angga segera menundukkan kepala. Ia menarik kemeja Naira ke samping, dan mengulum puting Naira yang sudah menegang di balik bahan pakaian.
Sluuuurp!
Naira menjerit tertahan, tubuhnya melengkung ke belakang. Sensasi isapan di putingnya—titik terlemahnya—langsung menghantamnya, meskipun ia sedang haid.
“Aaaahh! Angga! Fuck! Jangan… Mmmhh…”
Angga mengabaikannya. Ia terus menyesap dan menggigit kecil, lidahnya bermain liar. Tangannya yang bebas meraba paha Naira yang tertutup rok.
Naira benar-benar hampir lepas kendali. Ia mencengkeram bahu Angga, tubuhnya sudah bergetar. Ia ingin Angga berhenti, tapi tubuhnya memohon lebih.
“Cukup, Ga! Aku enggak kuat! Aku bisa pusing sendiri nanti!” desah Naira.
Angga melepaskan isapannya. Ia mengangkat kepala, wajahnya basah. Ia menatap Naira yang sudah tampak frustrasi karena gairah yang memuncak tapi tidak bisa dilampiaskan.
“Aku juga enggak kuat, Say. Kontol aku uda ngaceng. Keras banget,” bisik Angga. Ia membuka ritsleting celana bahannya yang tegang.
Naira menatap penis Angga yang kini menyembul, keras, penuh urat, dan berdenyut di dalam mobil sempit itu.
“Kamu harus tolong aku, Na. Aku enggak bisa nahan ini,” pinta Angga, dengan nada yang penuh perintah.
Naira tahu apa yang harus ia lakukan. Rasa bersalahnya hilang, digantikan oleh kebutuhan untuk melampiaskan gairah Angga dan menenangkan dirinya sendiri.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Naira mengangguk. Ia meraih penis Angga yang sudah berdiri tegak, dan dengan gerakan yang ahli, ia mengarahkannya ke depan.
Naira menundukkan kepala. Ia menjilati ujung kepala penis Angga, lalu perlahan, ia membuka mulutnya dan menelan seluruh penis Angga.
Suara “Sluuuurp!” yang basah terdengar di dalam mobil. Naira mulai bergerak, mengocok penis Angga dengan ritme yang cepat dan dalam. Ia menggunakan lidahnya untuk memutar-mutar kepala penis itu, membuat Angga mendesah keras.
Angga memejamkan mata, kepalanya bersandar di jendela mobil. Ia mencengkeram rambut Naira, membimbing kepala wanita itu.
Naira memulai dengan isapan yang lembut, lalu segera menjadi ganas. Ia menggunakan seluruh keahlian yang ia miliki: bibirnya basah, lidahnya memutar-mutar kepala penis Angga, lalu ia memasukkan penis itu jauh ke tenggorokannya, memberikan deepthroat yang kasar dan mematikan.
Angga menjerit tertahan, menahan suaranya agar tidak terdengar ke luar. Ia mencengkeram rambut Naira, membiarkan wanita itu mengontrol kecepatan dan kedalaman.
“Say…! Kamu emang Fuck girl! Terus Say!” desah Angga.
Naira mengocok penis Angga dengan mulutnya. Gerakannya cepat, ritmis, dan sensual. Ia tahu persis bagaimana membuat Angga gila. Ia menatap mata Angga sambil melakukan sepongan, seolah ia ingin menunjukkan: Lihat, aku bisa membuatmu bertekuk lutut.
Angga bersandar, ia memejamkan mata, merasakan setiap tarikan dan isapan. Tangannya meraih payudara Naira yang tertutup seragam Darma Wanita, meremas dan memilinnya kasar.
“Aku enggak tahan, Sayang! Kamu pinter banget! Aah! Aku mau keluar!” erang Angga pelan.
Naira mempercepat tempo. Ia merasakan penis Angga berdenyut semakin kuat di mulutnya. Ia menarik penis itu sedikit, lalu menyentaknya masuk kembali, memberikannya tusukan yang mematikan.
Sensasi itu terlalu kuat bagi Angga. Ia mencengkeram rambut Naira, dan dengan satu tarikan napas terakhir, ia melepaskan semuanya. Cairan panas Angga menyembur deras, memenuhi mulut Naira.
Cairan panas Angga menyembur deras, memenuhi rongga mulut Naira. Ia menerima setiap semburan sperma itu, merasakan tekstur kental dan hangatnya memenuhi mulut. Ia terus menghisap, memastikan Angga benar-benar kosong, hingga penis Angga melunak dan menarik diri dari mulutnya.
Naira mendongak, wajahnya basah oleh keringat dan cairan Angga. Ia tersenyum puas, memamerkan bibir yang basah kepada Angga.
“Mantap, Ga. Banyak banget,” bisik Naira, suaranya tercekat.
Angga terengah-engah, bersandar lemas di kursi mobil. Matanya terpaku pada wajah Naira yang baru saja menerima semuanya.
Naira tidak langsung membersihkan diri. Dengan gerakan yang sangat lambat dan genit, ia meraih tisu dari kotak yang ada di dashboard. Ia mencondongkan badannya sedikit ke depan, dan dengan pose nakal, ia mengeluarkan perlahan sisa sperma Angga dari mulutnya ke atas tisu.
Naira menatap gumpalan cairan di tisu itu sejenak, lalu ia melirik Angga, tersenyum jahil. Ia kemudian mengelap perlahan sisa cairan di sudut bibirnya. Gerakan itu sensual, seolah ia menikmati sisa rasa itu.
“Dasar jorok! Aku harus buru-buru pulang sekarang!” bisik Naira, marah bercampur puas.
“Ini baru pemanasan. Jangan lupa, minggu depan, kita bersih-bersih di kasur,” bisik Naira, lalu ia melipat tisu yang sudah penuh dan membuangnya ke kantong plastik di mobil.
Angga hanya bisa menatapnya, napasnya masih memburu. Wajah Naira yang berlumur sperma tapi tampil sempurna dengan seragam Darma Wanita, adalah fantasi terliar yang pernah ia lihat.
“Kamu tuh memang setan yang paling aku suka, Say,” desah Angga.
Naira hanya tertawa kecil, ia segera merapikan roknya dan mengancingkan kembali kemeja seragamnya. Mereka duduk dalam keheningan singkat, kelelahan namun dipenuhi kepuasan yang memabukkan.
Naira menarik diri, wajahnya basah oleh sperma Angga. Ia menjilat bibirnya, menatap Angga dengan mata penuh kemenangan.
“Nah, sekarang sudah bersih. Cepat rapihin celana kamu. Kita harus pergi dari sini,” perintah Naira, suaranya tegas.
Angga hanya bisa mengangguk lemas. Ia mengenakan celananya kembali, sementara Naira membersihkan mulutnya dengan tisu dan merapikan rok seragamnya. Mereka berdua duduk diam, kelelahan, tetapi puas.
Naira hanya menatapnya tajam, mengangguk, lalu menghidupkan mesin mobilnya, bergegas meninggalkan Angga di parkiran kantor.