Rizky mematikan mesin mobil. Mereka turun bersamaan. Dari garasi kecil itu, sebuah pintu langsung terhubung ke kamar.
Begitu pintu terbuka, kamar mungil dengan ranjang besar itu menyambut mereka—lebih rapi, lebih sunyi, dan terasa jauh lebih intim dibanding tempat mereka sebelumnya.
Rizky menutup pintu dan menguncinya.
“Nah, Teteh,” katanya ringan, nyaris puas. “Di sini aman. Kita bisa makan dengan tenang, ngobrol ber dua… tanpa drama.”
Begitu pintu kamar tertutup, Naira tidak langsung bergerak. Ia berdiri tegak di tengah ruangan, satu alis terangkat, sikapnya dingin tapi justru terasa menantang.
“Aa Rizky,” katanya tajam, suaranya rendah namun jelas. “Sebelum Aa mulai macem-macem, Teteh mau lurusin satu hal.”
Rizky berhenti selangkah di depannya.
“Kemarin itu Aa sudah keterlaluan,” lanjut Naira, nada galaknya muncul tanpa ragu. “Aa maksa masukin padahal Teteh sudah bilang Teteh lagi mens.” Ia mendengus pelan, lalu menyunggingkan senyum tipis yang justru menggoda. “Jangan kira Teteh lupa, ya.”
Tangannya bersedekap, tapi bahunya sedikit condong ke depan—bahasa tubuh yang berlawanan dengan kata-katanya.
“Hari ini Teteh ke sini buat makan dan urusan SK,” lanjutnya tegas. “Bukan buat dipegang-pegang seenaknya.”
Namun ketika Rizky mendekat, Naira tidak mundur. Tatapannya justru naik, menantang.
“Tapi Aa…jangan salah,” katanya pelan, suaranya melembut namun berisi peringatan manis. “Bukan berarti Teteh nggak pengin. Teteh cuma tahu waktu dan tempat.”
Rizky tersenyum miring. “Jadi sekarang aku harus nurut?”
Naira mengangguk kecil, bibirnya melengkung genit. “Harus.” Ia melangkah satu langkah mendekat, cukup dekat untuk membuat napas mereka saling terasa. “Kalau Aa pintar jaga sikap hari ini… setelah SK itu benar-benar keluar, Teteh bakal bikin aa ga bisa lupa sama teteh.”
Ia berbalik perlahan, berjalan menuju meja kecil di sudut kamar, seolah memberi jarak—namun setiap langkahnya justru menyalakan api.
“Sekarang,” katanya tanpa menoleh, “pesan makan. Jangan sampai Teteh makin lapar… dan makin susah nahan diri.”
Rizky berjalan mendekati Naira. Ia tidak meraih telepon kamar untuk memesan makanan. Ia sudah memiliki prioritas lain. Ia berdiri tepat di hadapan Naira, menjulang di atasnya.
“Teteh,” bisik Rizky, suaranya kini kembali mendominasi dan penuh hasrat. “Kita punya waktu luang penuh sampai sore. Aku sudah menahan diri seminggu ini. Aku sudah berhasil membuat SK Teteh hampir clear. Dan sekarang, Teteh datang jauh-jauh ke Bandung buat aku.”
Rizky mengulurkan tangannya, dan kali ini ia tidak membelai pipi Naira. Ia menarik simpul hijab Naira dengan lembut, namun pasti.
“Aa,” katanya tegas, suaranya datar tapi berkilat. “Ingat ya. Jangan macam-macam. Teteh ke sini cuma buat makan dan bahas urusan SK. Suami Teteh ada di Bandung. Itu bikin Teteh nggak berani aneh-aneh.”
Ia melirik ranjang sekilas—sengaja, lalu kembali menatap Rizky. Senyum tipis muncul, centil tapi terkendali.
“Kalau Aa bikin Teteh khilaf, urusan kita bisa berantakan.”
Rizky tersenyum, santai tapi nakal. “Tenang, Teteh,” katanya pelan. “Aku cuma mau bikin Teteh nyaman.”
Ia mendekat satu langkah—cukup dekat untuk terasa, cukup jauh untuk tidak melanggar. “Kita aman di sini. Makan, ngobrol, santai… Itu aja.”
“Teteh,” kata Rizky rendah, nyaris berbisik. “Setelah kejadian minggu lalu Aku jadi ketagihan sama memek Teteh. Aku udah nahan diri seminggu. Dan aku tahu Teteh juga.”
Naira menghela napas, lalu tersenyum miring. Ada ketegasan, ada godaan—keduanya bercampur rapi.
“Jangan bikin Teteh lupa diri sekarang,” katanya, setengah memperingatkan, setengah menantang. “Kalo kamu begitu , Teteh bisa kebablasan.”
Naira merasakan napasnya tertahan. Ia ingin menolak, ia ingin mempertahankan image istri baik-baiknya, namun hasratnya yang sudah bangkit sejak Rizky berbohong tadi pagi, kini menuntut untuk dipenuhi.
“Aa… Jangan…” desah Naira, sebuah penolakan lemah yang justru terdengar seperti izin.
Rizky tidak memberi banyak waktu bagi suasana untuk kembali netral. Ia melangkah mendekat, jaraknya kini terlalu dekat untuk diabaikan. Tangannya terangkat perlahan, ragu sepersekian detik seolah masih memberi kesempatan Naira mundur—namun ketika Naira tidak bergerak, ia melanjutkan.
Hijab Naira dilepasnya dengan gerakan hati-hati, tidak tergesa, tidak kasar. Kain itu meluncur turun, dan rambut Naira terurai begitu saja, jatuh di bahunya. Naira menarik napas pendek, matanya terpejam sesaat, bukan karena terkejut, tapi karena berusaha menguatkan diri.
“Aa…” ucapnya lirih, setengah protes, setengah peringatan—namun suaranya kehilangan ketegasan.
Rizky tidak langsung mencium. Ia berhenti tepat di depan Naira, menatap wajahnya dari jarak dekat, seolah memastikan apa yang sedang ia lakukan. Ketika Naira membuka mata dan pandangan mereka bertemu, tidak ada lagi kata-kata yang terasa perlu.
Ciuman itu datang pelan di awal, tidak terburu-buru, namun segera berubah menjadi lebih dalam dan menekan. Bukan ciuman manis, melainkan ciuman yang penuh kendali, seolah Rizky sengaja ingin membuat Naira kehilangan pijakan. Tangan Rizky menahan tengkuknya ringan, cukup kuat untuk menahan, cukup lembut untuk tidak menyakiti.
Naira sempat menegang, lalu perlahan melemah. Protes yang sedari tadi ia simpan tak pernah benar-benar keluar. Ia tahu batasan yang ingin ia jaga, tahu ketakutan yang mengikutinya sejak pagi—namun di momen itu, semua terasa kabur.
Ruangan itu tetap sunyi. Tidak ada kata, tidak ada janji yang diucapkan. Hanya napas yang saling bertabrakan, dan kesadaran bahwa permainan ini sudah melangkah lebih jauh dari yang semula ingin ia akui.
Ciuman Rizky memang berubah semakin intens, ritmenya lebih mendesak, seolah ia ingin menarik Naira lebih jauh ke dalam suasana yang sejak tadi mereka tahan. Naira membalasnya sesaat—bukan pasif, bukan juga sepenuhnya menyerah—hingga napas mereka sama-sama mulai tidak teratur.
Namun ketika Rizky mencoba mengarahkan tubuhnya ke arah ranjang, Naira segera bereaksi. Tangannya terangkat, menahan dada Rizky dengan tekanan lembut tapi jelas, membuat gerak mereka terhenti. Ia menggeleng pelan, jarak di antara wajah mereka masih sangat dekat.
“Jangan,” katanya rendah, tegas tapi tidak marah.
Rizky sempat berhenti, namun dorongan itu belum sepenuhnya surut. Tangannya bergerak, mencoba menarik Naira lebih dekat, lalu meluncur ke area yang membuat Naira langsung siaga, tangan Rizky membelai lembut kemudian meremas pantat Naira dari luar Roknya. Kali ini Naira menepisnya dengan cepat, tetap halus, seolah ingin menegaskan batas tanpa memutus suasana sepenuhnya.
Ia mundur setengah langkah, merapikan posisinya, napasnya ditarik dalam-dalam untuk menenangkan diri. Tatapannya tajam sesaat—peringatan yang jelas—lalu melunak kembali, menyisakan senyum tipis yang ambigu.
“Bukan sekarang,” ucapnya pelan, suaranya lebih terkendali. “Teteh sudah bilang. Jangan dibawa ke arah sana hari ini, sabar dong nanti kalu waktunya enak juga Teteh kasih.”
Rizky menatapnya beberapa detik, membaca ketegasan sekaligus godaan yang masih tertinggal di wajah Naira. Ia menghela napas, menahan diri, menyadari bahwa Naira memang sedang bermain di garis tipis—memberi cukup sinyal untuk membuatnya terus ingin, tapi tetap menjaga kendali di tangannya sendiri.
Bibirnya sudah mendarat di bibir Naira dengan ciuman yang mendalam dan memburu, menutup semua ruang untuk protes.
Ciuman Rizky di bibir Naira semakin panas dan memburu. Naira merespons liar, namun ketika Rizky mulai merebahkan tubuhnya ke ranjang, Bibir Rizky menelusuri leher Naira, tapi Naira segera menepisnya dengan lembut.
Begitu pula saat tangan Rizky mencoba meraba dada dan payudaranya dari balik kemeja, dan ketika tangan itu turun meraba paha dari dalam rok, Naira membiarkannya hingga jemari itu menyentuh paha dalam dan selangannya, membuat Naira tersentak dan kembali menolak halus.
“Aa… please… Jangan disitu,” desah Naira, napasnya memburu. “Teteh bisa kebablasan kalu di situ.”
Rizky mengabaikannya. Hasratnya terlalu besar, dan janji reward sudah di depan mata. Ia tahu penolakan Naira hanyalah basa-basi. Rizky bergerak cepat. Ia melepaskan seluruh kancing kemeja Naira dan melepas branya.
Payudara Naira yang terbuka dicumbu dengan ganas oleh Rizky. Naira menikmati cumbuan itu, desahan lolos dari bibirnya, mengakui kenikmatan yang ia rasakan.
Namun, ketika Rizky mulai kembali menarik turun rok Naira dan berusaha melepaskan celana dalamnya, Naira kembali menolak dengan lebih keras.
“Aa Rizky, jangan!” kata Naira, menahan tangan Rizky. “Aku ini istri orang! Aku nggak mau kebablasan lagi!”
Rizky menahan diri, menatap Naira dengan mata menusuk. Ia ingat betul batasan yang sudah mereka lewati.
“Teteh jangan sok jaim lagi,” tukas Rizky, suaranya tegas dan meremehkan. “Aku sadar Teteh istri orang, tapi kontolku juga sudah pernah masuk memek Teteh. Jadi nggak perlu sok jaim lagi sekarang, kita uda bukan orang lain teh, kita uda pernah Ngewe.”
Pengakuan brutal itu membungkam Naira. Rizky tidak memberi kesempatan Naira membalas. Ia mencium dada Naira, turun ke perut, meraba pahanya, dan dengan gerakan cepat melepas CD Naira.
Naira sempat marah. “Aku nggak suka dipaksa, Aa! Aku akan teriak kalau Aa maksa!”
Rizky tersenyum dingin. “Silahkan saja Teteh berteriak kalau nggak malu. Kalau sampai ketahuan orang, Teteh yang akan malu. Lagipula,” bisik Rizky, mencium lembut vagina Naira yang sudah basah, “Aku yakin kalau kontolku masuk, Teteh juga akan mendesah keenakan lagi kaya minggu lalu.”
Ancaman dan godaan Rizky itu berhasil menundukkan Naira.
Rizky mulai menciumi paha Naira, menjilati paha dalamnya hingga akhirnya berhenti di selangkangan Naira.
Bibir vagina Naira mulai merekah karena lidah Rizky, jilatan lembutnya dan sesekali sedotan pada bibir vaginanya membuat Naira tidak berdaya.
Jilatan lidah Rizky membuat bibir vagina Naira merekah, jilatannya mengarah ke benjolan kecil di bagian atas vaginanya, focus di sana memainkan clitoris naira hingga clitoris itu semakin membesar dan menegang.
Permainan lidah Rizky yang intens dan fokus membuat Naira lepas kendali. Ia memejamkan mata, merasakan tubuhnya berdenyut.
Saat Rizky merasakan vagina Naira sudah sangat basah, ia bangkit,
Stimulus yang berhenti tiba-tiba membuat naira membuka matanya, memandang sendu wajah Pria di depannya, sengan beringas Naira menarik wajah Rizky dan menariknya mendekat, bibir naira dengan liar mengulum bibir Lelaki muda itu, lidah naira menyeruak masuk ke dalam mulut Rizky.
Dengan tidak kalah liar, Rizky meladeni permainan lidah Naira sambil melepaskan celana yang masih melekat bersama CD yang melindungi penisnya yang sudah tegang maksimal dan mulai menggesekkan penisnya yang sudah tegang di vagina Naira, siap untuk masuk.
Sekejab Naira menikmati itu desahan keras keluar dari mulutnya ketika penis itu mulai menyelinap dalam belahan vaginanya, tiba-tiba….
“Aa! Tunggu!” desah Naira, ia berhasil menguasai diri. Rasa bersalahnya memaksanya mengambil langkah pencegahan.
“Kalau Aa mau dimasukin, pake condom!” pinta Naira, nadanya menuntut.
Rizky terkejut, namun bersyukur Naira memintanya.
Naira tidak menunggu Rizky bergerak. Ia meraih tasnya, mengeluarkan kondom yang sudah ia siapkan sebelumnya—bukti bahwa ia sudah merencanakan persetubuhan ini—dan dengan gerakan sensual, Naira memakaikan condom ke penis Rizky dan dengan mulutnya dia mendorong condom itu hingga sempurna menyarungi penis yang sangat keras itu.
Rizky terpukau oleh aksi Naira yang luar biasa seksi dan berani.
Setelah condom terpasang sempurna, Naira berbicara kepada Rizky “Aa bener mau dimasukin?”
Naira segera naik ke atas tubuh Rizky. Ia memosisikan dirinya, dan dengan desahan pelan, ia memasukkan penis Rizky yang dilapisi condom itu ke dalam vaginanya, badannya begidik karena sensai penis yang mulai memenuhi vaginanya.
Naira mengambil kendali. Ia mulai menggenjot Rizky dengan irama yang sensual dan kuat, didorong oleh gairah yang telah lama ia tahan.
Gerakan pinggul naira terasa lembut tetapi mantap dan tanpa ragu, sesekali pinggul Naira bergerak memutar, membuat penis Rizky seperti di blender, dan kemudian pinggul wanita itu bergerak keras maju mundur dan sesekali diangkat ke atas tinggi0tinggi hingga ujung kepala penis Rizky hampir terlepas dari vaginanya dan tiba-tiba dia menghujamkan pantatnya ke bawah dengan keras.
Persetubuhan itu panas dan menggairahkan. Rizky membalikkan tubuh Naira, lalu kembali ke atas, memompa tubuh Naira tanpa henti.
Rizal merentangkan paha Naira lebar lebar membuat vagina wanita itu merekah terbuka lebar karena bekas batang besar yang memompanya seolah meminta kembali digenjot. Alih-alih menggenjot dengan keras, Rizky kembali mencium bibir naira dan dengan lembut memasukan penisnya ke vagina Naira lagi, Desahan keras naira kembali terdengar saat penis itu kembali masuk dan berherak perlahan di dalam vaginanya.
Setelah beberapa saat Genjotan Rizky semakin kencang, penisnya menghujam semakin keras.
Waktu berlalu tanpa terasa. Foreplay yang panjang dan persetubuhan yang intens membuat pelumas condom itu perlahan mengering. Naira mulai merasakan perih di vaginanya.
“Aa… Ah… pelan… perih…” rintih Naira.
Persetubuhan yang intens namun menyakitkan karena gesekan yang kering membuat Naira harus menghentikannya sejenak.
“Aa… Stop… Stop sebentar…” rintih Naira, merasakan perih di vaginanya.
Rizky menarik penisnya, napasnya terengah-engah, gairahnya masih membakar hebat. Naira segera duduk, wajahnya memerah karena hasrat dan rasa sakit. Ia meraih kondom yang baru saja dipakai, mengumpat pelan karena kondom itu mengganggu, dan membuang kondom itu ke lantai.
Rizky, melihat kondom itu terbuang, segera bertanya. “Mau aku carikan lagi? Tadi ada sisa kondom yang belum kepakai kan?”
Naira menggeleng. Ia segera naik ke pangkuan Rizky yang masih terdengar memburu napasnya. Wajahnya yang genit kini kembali muncul.
“Nggak usah, Aa,” bisik Naira, suaranya mengandung janji liar. “Ternyata memang nggak enak pakai kondom.”
Ia memajukan tubuhnya. “Kita lanjutin tanpa kondom. Tapi jangan crot di dalam memek, ya, Aa.”
Rizky tidak perlu berpikir dua kali. Risiko kehamilan jauh lebih kecil dibanding risiko terlewatkan kenikmatan dari seks tanpa kondom.
Naira mengambil kendali. Ia memosisikan penis tanpa kondom itu dan memasukkannya kembali ke dalam vaginanya yang kini terasa lebih nikmat dan intim.
Kontol itu kembali masuk, dan Naira mulai menggoyangnya. Rizky segera meraih pinggul Naira, membantu irama genjotan. Gerakan mereka semakin keras, payudara Naira bergerak liar sesuai ritme pompaan penis di vaginanya. Sesekali Rizky mencium dan menyedot puting Naira yang bergerak di pangkuannya.
Gesekan langsung penis tanpa kondom di dinding vagina membuat sensasi kenikmatan Naira meledak. Ia mencapai klimaks dan orgasme dahsyat. Badannya gemetar, memeknya banjir cairan nikmat, dan Rizky terus menggenjotnya tanpa henti. Vagina yang berdenyut itu menjadi sangat sensitif, membuat Naira berteriak keras saat gelombang orgasme melandanya.
Naira terkulai di atas pangkuan Rizky, tenaganya habis.
Rizky, yang masih dikuasai gairah, segera membalikkan posisi. Kini Rizky kembali di atas, dan Naira terlentang di bawahnya, kedua kaki mengangkang lebar.
Rizky kembali menggenjot Naira dengan brutal, dengan gerakan yang cepat dan penuh dominasi. Sambil menggenjot, Rizky meremas kasar payudara Naira yang bulat membusung hingga terdengar suara plak, plak, plok, plok di kamar yang sepi itu.
Rizky sudah di ambang pelepasan. Ia sudah tidak kuat menahan lagi. Ia merasakan penisnya akan menembak hebat.
Rizky menunduk, mencium bibir Naira yang menganga untuk mengambil napas. Kemudian, dengan dorongan terakhir, ia mencabut penisnya dari vagina Naira.
Rizky segera mengocok penisnya dengan jepitan payudara Naira, membiarkan payudara Naira menjadi targetnya.
Dengan erangan keras, penis itu menembakkan sperma dengan keras. Sperma itu membanjiri wajah dan dada Naira, sebagian bahkan mengenai hijabnya yang terlempar di samping ranjang.
Naira hanya bisa meringis dan matanya terpejam rapat-rapat, menahan sensasi basah dan panas yang tiba-tiba menimpa wajahnya.
Ejakulasi di muka istri orang yang berhijab itu terasa bagaikan penguasaan penuh Rizky atas Naira, menjadikan momen itu adalah kebanggaan dan kepuasan tersendiri bagi Rizky. Ia telah melewati semua batasan, dan wanita itu kini sepenuhnya berada dalam genggamannya.
Rizky ambruk di samping Naira, napasnya terengah-engah, puas luar biasa. Ia menatap karya seninya di wajah dan dada Naira.
Naira membuka matanya perlahan. Wajahnya yang berlumuran sperma Rizky menunjukkan ekspresi antara syok dan puas.
“Aa Rizky!” seru Naira, suaranya kini terdolisip rasa kesal yang dibuat-buat, pura-pura ngambek. Ia segera menyeka sperma yang terkena mata, bulu mata, dan rambut di jidatnya dengan punggung tangannya.
“Aku kan bilang jangan crot di dalam, tapi ga begin ijuga kali! Kenapa Aa malah crot di muka aku! Aa ini nakal banget!” omel Naira, sambil menyikut Rizky pelan. “Kita kan harus lagi nanti, gimana kalau bekasnya nggak hilang! Aku nanti dijemput misua loh, berabe kalu dia sampe curiga”
“Aduh, maaf, Teteh,” balas Rizky, sambil tertawa kecil, menikmati omelan manja itu. Ia tahu Naira tidak benar-benar marah. “Aku nggak tahan, Teteh! Teteh enak banget, kedutan memek Teteh bikin aku gila! Aku janji nanti aku bersihkan sampai bersih, ya.”
Naira menggeser tubuhnya, memungut handuk yang teronggok di lantai. Ia membersihkan wajahnya, namun matanya tak lepas dari penis Rizky yang kini terkulai di antara paha pemuda itu.
Dengan gerakan mendadak, Naira mencubit penis Rizky yang lemas itu dengan gemas.
“Dasar kamu, Si Nakal!” kata Naira, ia berbicara langsung ke penis Rizky, nadanya penuh gemas dan godaan, lucu, menggelitik, tetapi tetap panas menggairahkan.
“Berani-beraninya kamu masuk tanpa izin, dan sekarang kamu crot sembarangan di muka Teteh! Minggu lalu Teteh sudah bilang jangan, eh, kamu datang lagi! Kamu nggak kapok, ya? Kamu pengen Teteh terus enak dengan kamu, hah?” omel Naira, ia kembali mencubit ringan penis Rizky.
Rizky tertawa terbahak-bahak mendengar monolog Naira. Ia memeluk Naira, mencium bahunya.
“Dia nggak bisa ngomong, Teteh,” bisik Rizky. “Tapi dia bilang, dia suka banget masuk ke punya Teteh.”
Naira menatap Rizky, senyumnya kini kembali tulus.
“Cepat sana, Aa! Bersihkan diri! Nanti Teteh bantu bersihkan ranjang. Kita harus segera keluar dari sini sebelum suami Teteh selesai rapat.”
Naira segera bangkit dan meraih tissue basah. Rizky menciumnya kilas sebelum bangkit menuju kamar mandi.
Setelah mereka berdua bersih dan berpakaian lengkap, Rizky memeluk Naira sekali lagi, mencium dahi Naira dengan lembut.
“Teteh,” kata Rizky. “SK Teteh akan aku urus besok pagi. Besok lusa, Teteh sudah bisa ambil. Teteh janji, setelah itu Teteh kembali ke Bandung, hanya untuk aku?”
Naira membalas pelukan itu erat. “Teteh janji, Aa Rizky. Setelah SK keluar, Teteh akan atur izin, datang ke Bandung, dan reward itu Teteh berikan seharian di hotel dan suasana yang jauh lebih nyaman dari ini.”
“Deal,” bisik Rizky. “Sekarang, ayo kita makan siang betulan, biar suami Teteh nggak curiga kalau Teteh kelaparan di jalan.”
Setelah membersihkan kekacauan di ranjang dan menyingkirkan handuk kotor ke sudut, Naira dan Rizky bergegas ke kamar mandi. Mereka membersihkan diri, bergantian di bawah shower seadanya.
Naira keluar lebih dulu, hanya berbalut handuk yang melilit longgar di atas dada hingga pertengahan paha. Ia berdiri di depan cermin kecil di kamar, fokus merapikan make-up yang luntur karena keringat dan sperma. Ia harus memastikan wajahnya terlihat segar dan normal sebelum bertemu suaminya.
Setelah suasana di kamar kembali agak tenang, Naira dan Rizky bergantian masuk ke kamar mandi. Tidak banyak kata di antara mereka—hanya suara air dari shower yang singkat dan terburu-buru, seolah waktu benar-benar mengejar.
Naira keluar lebih dulu. Sebuah handuk melilit tubuhnya seadanya, cukup menutup dada hingga paha. Ia langsung berdiri di depan cermin kecil, fokus pada wajahnya yang tampak lelah tapi masih terjaga rapi. Ia mengambil bedak, merapikan riasan yang sempat berantakan, memastikan ekspresinya kembali tenang. Yang ada di pikirannya satu: ia harus terlihat biasa saja ketika nanti bertemu suaminya.
Beberapa saat kemudian, Rizky keluar dari kamar mandi. Saat melihat Naira berdiri di depan cermin dengan balutan handuk, rambutnya masih sedikit lembap, ia berhenti sejenak. Pemandangan itu kembali memantik sesuatu di dadanya—campuran keinginan dan rasa enggan untuk benar-benar melepas.
Ia mendekat perlahan dari belakang, merangkul Naira tanpa tergesa. Dagunya bertumpu di bahu wanita itu, napasnya menyentuh lehernya.
“Teteh wangi,” katanya pelan. “Aku nggak pengin Teteh buru-buru pergi.”
Naira menangkap bayangan mereka di cermin. Ia tersenyum kecil, mencoba tetap rasional meski tubuhnya masih sensitif dengan sentuhan itu.
“Aa, masih pengen lagi ya? jangan sekarang ya A,” ujarnya sambil menahan tangan Rizky agar tidak terlalu jauh. “Kita harus cepat. Teteh harus kelihatan normal. Jangan sampai kelihatan aneh di depan suami.”
Namun ketika Rizky tetap memeluknya, Naira menghela napas pendek. Sentuhan hangat itu membuat tubuhnya bereaksi tanpa ia minta—refleks yang sulit dikendalikan meski pikirannya sudah memberi peringatan. Ia menunduk sedikit, menenangkan diri, seolah berusaha menarik kembali batas yang sejak tadi mudah bergeser.
“Sebentar aja sekali lagi,” katanya lebih lembut, seolah membujuk dirinya sendiri sekaligus Rizky. “Habis ini, kita benar-benar langsung jalan.”
Rizky mengabaikannya. Tangan Rizky mulai menjelajahi. Ia meraba tubuh Naira dari balik handuk yang melilit. Tangan kanannya turun ke perut Naira, sementara tangan kirinya naik, menyingkirkan rambut Naira dari leher, dan mencium pundak Naira.
Naira mendesah, merasakan sentuhan Rizky yang panas di kulitnya yang baru saja bersih. Tubuhnya merespons secara naluriah, meskipun otaknya tahu mereka harus segera pergi.
Tangan Rizky bergerak cepat. Ia melepaskan lilitan handuk Naira yang longgar. Handuk itu melorot ke lantai, dan tubuh telanjang Naira terekspos sepenuhnya di depan Rizky dan cermin kamar.
Rizky membalikkan tubuh Naira, ia mencium wanita itu dengan ganas. Ia membopong Naira, mengangkatnya dengan mudah.
“Kita nggak akan lama, Teteh,” bisik Rizky, sebelum membopong Naira ke kasur yang spreinya masih sedikit berantakan—menghiraukan sisa kekacauan yang ada.
Rizky merebahkan Naira, dan sekali lagi, mereka memulai ronde yang tak terhindarkan, dorongan hasrat yang harus dituntaskan sebelum mereka kembali ke dunia nyata.
Begitu Naira terbaring di ranjang kotor itu, ronde kedua mereka segera dimulai dengan lebih liar dan brutal. Kali ini, tidak ada romansa atau kata-kata manis. Mereka bergerak seperti hewan buas yang saling menerkam, didorong oleh kebutuhan mendesak untuk menuntaskan hasrat.
Rizky tidak berlama-lama. Ia menusukkan penisnya yang sudah kembali tegak ke vagina Naira dengan kasar, menghasilkan suara basah plop! yang disusul erangan terkejut dari Naira.
Gerakan Rizky kini benar-benar dominan. Ia menggenjot Naira dengan tempo yang cepat, keras, dan tanpa jeda. Suara basah plap-plap-plap dari gesekan tubuh mereka dan deritan ranjang hotel beriringan dengan desahan Naira yang menggeram dan rintihan Rizky yang tertahan.
Rizky mencumbu payudara Naira dengan brutal, menghisap dan menggigit puting Naira dengan kasar. Cumbuan Rizky pada payudara Naira menimbulkan bekas sedikit merah di beberapa bagian dadanya, membuat Naira yang terbaring telanjang terlihat semakin binal, bak seorang pelacur yang sedang dipakai oleh pria hidung belang yang menyewanya.
Naira sudah mencapai titik tanpa kembali. Ia memeluk punggung Rizky, kuku-kuku jarinya mencengkeram erat.
Saat Rizky terus menggenjotnya, Naira merasakan gelombang orgasme mendekat. Memeknya mulai berkedut liar, mencengkeram penis Rizky dengan kuat.
“Aaah… Rizky… aku… nggak kuat!” teriak Naira, suaranya parau karena kenikmatan.
Naira mencapai klimaks dan orgasme dahsyat. Memeknya berkedut tak terkendali, meremas kontol Rizky dengan ritme kejang yang intens.
Sensasi kedutan itu terlalu kuat. Rizky, yang sudah di ambang batas, jebol tanpa sempat menarik penisnya. Ia ejakulasi di dalam memek Naira.
Pada puncak klimaks, tanpa sadar Naira menggigit dan menyedot pundak Rizky dengan kuat. Ia melepas gigitannya, meninggalkan bekas merah yang nyata di pundak dan pangkal leher Rizky—bukti fisik dan menyakitkan dari pertemuan liar mereka.
Naira terkulai lemas. Setelah beberapa saat, ia menarik napas dalam, dan pura-pura marah untuk mempertahankan gengsinya sebagai binor berhijab.
“Aa Rizky!” omel Naira, suaranya lemah. “Kenapa Aa keluarin di dalam memek Teteh?! Teteh kan sudah bilang jangan di dalem! Kalu suami teteh curiga bisa berabe Aa”
Rizky mengangkat tubuhnya sedikit, membiarkan penisnya keluar dari vagina Naira yang banjir. Ia melihat bekas gigitan Naira di pundaknya, lalu menyeringai penuh kemenangan.
“Maaf, Teteh,” balas Rizky, nadanya penuh kepuasan. “Teteh terlalu enak. Aku janji nanti main selanjutnya aku akan lebih ati-ati. Tapi sekarang, ayo kita bersih-bersih. Teteh sudah harus pulang sebelum suami Teteh curiga.”
Setelah ronde liar yang brutal, urgensi waktu kembali mendominasi. Keduanya segera bangkit. Mereka membersihkan sisa-sisa savagery di ranjang dengan cepat, Rizky membersihkan bekas sperma ejakulasi yang meleleh keluar dari vagina naira di pangkal paha Naira, sementara Naira mengambil tissue basah untuk membersihkan tanda merah di dadanya.
Naira mengecup pipi Rizky dan melihat bekas gigitannya di pangkal leher rizky saat dia klimaks tadi.
“Bekas gigitan Teteh lumayan nih, A,” bisik Naira, sambil ia mengusap pundak Rizky.
“Nggak apa-apa,” jawab Rizky, ia menatap bekas merah di dekat puting Naira, “Bekas Teteh di sini juga jelas. Kita sama-sama punya kenang-kenangan.”
Mereka mandi kilat, membuang semua bukti kejahatan mereka, dan mengenakan kembali pakaian dinas yang kini terasa menertawakan. Naira harus berhati-hati merapikan hijabnya untuk menutupi rambutnya yang kusut dan make-upnya yang harus diperbaiki total.
Di dalam mobil, Rizky sempat memeluk Naira erat untuk terakhir kalinya sebelum keluar dari garasi hotel.
“Aku nggak sabar nunggu SK itu keluar, Teteh,” bisik Rizky. “Sampai ketemu lagi.”
“Halah, Aa Rizky ga sabar nunggu SK Teteh apa ga sabar pengen ewita lagi? Pastikan SK besok lancar, ya,” balas Naira, ia memberikan kecupan singkat dan sensual di pipi Rizky, janji itu kini terasa nyata.
Rizky mengantar Naira kembali ke pusat kota, lalu menurunkannya di depan sebuah kafe yang ramai—tempat yang masuk akal buat orang yang sedang menunggu. Naira duduk di sana hampir dua puluh menit, menyesap kopi pelan-pelan, berusaha kelihatan santai dan profesional. Ia merapikan pikirannya, menyiapkan diri untuk bertemu suaminya, sambil menutup rapat kejadian barusan agar tak terbaca di wajahnya. Tepat pukul dua siang, ponselnya bergetar—nama suaminya muncul di layar HPnya.
“Sayang, aku sudah selesai rapat. Kamu di mana? Urusan di BKD-nya sudah beres?” suara suaminya terdengar hangat di seberang telepon.
“Udah, Mas. Alhamdulillah lancar,” jawab Naira cepat, nadanya dibuat ringan dan ceria, seolah hari ini benar-benar cuma soal administrasi. “Aku lagi di kafe dekat BKD. Jemput aku ya.”
Tak sampai lima belas menit, mobil suaminya sudah berhenti di depan kafe. Begitu Naira masuk, suaminya langsung tersenyum lega. Tangannya reflek meraih pinggang Naira, mencium keningnya dengan penuh perhatian—gestur yang biasanya membuat Naira tenang, tapi kali ini justru membuat jantungnya berdegup lebih cepat.
“Capek nggak? Dari tadi kelihatan serius banget urus berkas,” tanya suaminya sambil menatap wajahnya.
Naira tersenyum manis, sedikit memiringkan kepala, gaya yang sudah sangat ia hafal untuk terlihat menggemaskan. “Capek dikit sih, Mas. Tapi lega. Urusannya ternyata nggak serumit yang aku bayangin.”
Ia lalu mulai bercerita panjang, dengan nada antusias yang terdengar alami. “Aku nggak jadi ketemu Kepala BKD. Kata Rizky, berkasnya sudah hampir final. Aku cuma diminta masuk ke ruangannya buat briefing sebentar. Dia ngasih tips biar tanda tangan besok lancar. Profesional banget, sih.”
“Oh ya? Syukurlah kalau begitu,” sahut suaminya, jelas merasa tenang. “Berarti tinggal nunggu final ya?”
“Iya. Katanya besok pagi sudah diberesin. Lusa bisa ke BKD lagi buat ambil SK.” Naira sengaja menekankan kalimat itu, lalu menyelipkan genggaman di tangan suaminya. “Kalau Mas bisa nemenin lagi, aku senang banget, tapi kalu Mamas sibuk ga papa aku naik kereta aja, yang penting restu dan doa dari sumamik ganteng ini.”
Suaminya tersenyum bangga. “Ya jelas. Aku usahain ya sayang, semoga kantor aku ga lagi ada kerjaan yang urgent.”
Naira bersandar manja di bahunya, memainkan ujung jari di lengan suaminya, tertawa kecil. Dari luar, ia terlihat seperti istri yang penuh syukur dan dimanja. Tak ada yang tahu bahwa kurang dari satu jam lalu, tubuhnya masih gemetar karena cumbuan Rizky, rahasia yang kini ia kubur rapat-rapat di balik senyum.
Mereka lalu mampir ke pusat oleh-oleh. Naira ikut memilih kue, mencicipi sampel, sesekali menggoda suaminya agar membeli lebih banyak. Ia tampak ceria, bahkan sedikit genit—tertawa kecil, pura-pura protes saat suaminya menggoda harga mahal, semuanya terasa sangat normal.
Saat adzan ashar berkumandang dari masjid kecil di dekat toko, suaminya menoleh.
“Yang, kita sholat dulu yuk. Di situ ada mushola.”
Langkah Naira sedikit melambat. Detik itu juga, kepalanya bekerja cepat. Ia tersenyum tipis, lalu menggeleng pelan.
“Mas duluan aja. Aku tadi sudah jamak sama dzuhur. Badanku juga lagi nggak enak.”
Suaminya menatapnya sebentar, lalu mengangguk. “Oh, Ya sudah kalu begitu. Tunggu di sini ya.”
Naira menghela napas pelan saat suaminya pergi. Tangannya tanpa sadar merapikan rok, ada rasa tidak nyaman yang belum sepenuhnya hilang, masih terasa lengket bekas sperma rizky yang tumpah dalam vaginanya, sisa dari kekacauan yang baru saja terjadi dan belum sempat ia bereskan sepenuhnya. Ia meneguk air mineral, menenangkan diri, memastikan wajahnya tetap terlihat biasa saja ketika suaminya kembali.
Tak lama kemudian, suaminya muncul lagi, wajahnya tenang. “Sudah. Kita lanjut cari oleh-oleh, habis itu langsung pulang ke Bogor.”
“Iya, Mas,” jawab Naira lembut.
Di dalam hatinya, ada debar yang sulit dijelaskan. Satu urusan besar hampir selesai, satu rahasia besar berhasil ia tutupi hari ini. Sisanya tinggal soal janji dan waktu—sesuatu yang, entah kenapa, membuatnya justru semakin berani.
SK Mutasi Keluar
Satu Minggu Kemudian – Rizky di Bandung
Seminggu setelah pertemuan terakhir mereka, HP Naira bergetar di tengah jam kerja. Nama Rizky muncul di layar. Jantungnya langsung berdegup sedikit lebih cepat.
Rizky:
Selamat pagi, Teteh. Aku Rizky. Kabar paling ditunggu akhirnya datang—SK pindah ke Kota Bogor Teteh sudah keluar dan beres! 🎉
Naira refleks tersenyum lebar, sampai rekan di sebelahnya melirik heran.
Naira:
Aa Rizky! Ya Allah, Alhamdulillah banget! Teteh senang sekali. Terima kasih ya, Aa. Beneran… Aa luar biasa.
Rizky:
Sama-sama, Teh. Semua juga karena koordinasi kita lancar. Hehe. SK-nya sudah siap diambil.
Naira:
Syukurlah. Gini ya, Aa—kalau bisa, SK-nya tolong dikirim saja ke kantor Teteh di Bogor. Biar Teteh langsung urus administrasi di sini.
Ada jeda beberapa detik sebelum balasan muncul. Naira langsung merasa ada yang janggal.
Rizky:
Ehm… sebentar ya, Teh. Ada sedikit kendala teknis.
Naira menghela napas pelan. Mulai lagi, batinnya.
Naira:
Kendala apa lagi, Aa? Bukannya tadi bilang sudah beres?
Rizky:
Begini, Teh. Kepala BKD kelihatannya pengin ketemu langsung sama Teteh. Beliau lihat berkas Teteh bolak-balik, terus tahu aku yang ngawal. Katanya, Teteh diminta datang sebentar ke Bandung buat terima arahan langsung sebelum SK diserahkan. Formalitas sih… tapi penting buat kesan baik.
Naira membaca pelan-pelan. Ia tahu persis alasan itu terlalu dibuat-buat. Senyum kecil muncul di sudut bibirnya.
Naira:
Aa ini kreatif banget ya. Teteh jadi curiga, jangan-jangan Aa yang nyari alasan. 🤭
Balasan Rizky datang cepat.
Rizky:
Hehe… ketahuan ya. Teteh emang jago baca aku.
Nada chatnya berubah lebih personal, lebih jujur.
Rizky:
Sejujurnya, Teh… sejak terakhir kita koordinasi, aku kepikiran terus. Aku cuma pengin ketemu Teteh lagi. Ingat kan, janji Teteh?
Naira mengetuk layar agak lama sebelum membalas. Gengsinya sebagai istri yang baik menuntut nada yang tertata, meski hatinya tahu ia tak sepenuhnya menolak.
Naira:
Aa Rizky… Teteh kan sudah bilang. Waktu itu Teteh khilaf. Yang kemarin itu sudah kelewatan, dan Teteh benar-benar merasa bersalah. Tolong jangan diungkit lagi ya, Aa.
Rizky paham betul—penyesalan itu hanya batas tipis yang dibuat Naira untuk menjaga diri.
Rizky:
Aku ngerti, Teh. Maaf kalau bikin Teteh nggak nyaman. Tapi setidaknya datanglah sebentar. Anggap saja pamitan baik-baik. Setelah SK ini, aku janji nggak akan ganggu lagi.
Naira menutup mata sejenak. Ia sadar, langkahnya sudah terlalu jauh untuk benar-benar mundur.
Naira:
Baiklah, Aa. Teteh akan atur izin dinas satu hari. Lusa Teteh ke Bandung. Tapi Teteh nggak janji nginep ya. Urus SK, habis itu langsung pulang.
Di seberang sana, Rizky pasti tersenyum puas. Membuat Naira datang lagi adalah kemenangan kecil yang ia incar.
Rizky:
Terima kasih, Teteh. Aku urus semua formalitasnya. Dua hari lagi aku jemput di stasiun ya. Sampai ketemu.
Naira menatap layar HPnya lama setelah chat itu berakhir. Ia tahu, perjalanan ke Bandung nanti bukan sekadar urusan administrasi—dan kesadaran itu membuat dadanya berdebar, antara waspada dan pasrah.
Izin ke Bandung sudah diamankan sejak malam sebelumnya. Naira menyampaikannya santai—harus menghadap BKD Provinsi, urusan berkas terakhir pindah. Suaminya mengangguk, tampak lega. Baginya, ini kabar baik. Tak ada alasan untuk curiga.
Yang tidak ia tahu, bagi Naira perjalanan ini adalah soal kendali.
Di balik wajah tenang dan senyum istri yang patuh, Naira sangat sadar satu hal: ia tidak ingin terlihat mudah, tidak di hadapan siapa pun. Termasuk Rizky. Godaan boleh terjadi, ketegangan boleh dipelihara, tapi keputusan tetap harus ada di tangannya. Gengsi itu penting—bukan untuk pamer, tapi untuk memastikan ia selalu punya posisi tawar.
Karena itulah persiapannya selalu berlapis.
Ia memang menggunakan KB IUD. Tapi ia juga menyelipkan kondom di tas, sekadar antisipasi jika situasi nanti melenceng dari rencana. Bahkan postinor pil kontrasepsi darurat sudah lebih dulu ia simpan rapi. Bukan karena niat sembrono—justru sebaliknya. Semua itu soal kontrol. Soal memastikan tidak ada kejadian yang membuatnya kehilangan kendali atau terlihat ceroboh. Ia ingin menikmati permainan, bukan jadi korbannya.
Pagi itu, selesai mandi, Naira keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk. Ia membuka laci, mengambil lingerie pilihannya—bra merah marun dengan cup setengah yang memeluk tubuhnya pas membuat bongkahan payudaranya terlihat menonjol, cukup menggoda tanpa harus berteriak. Bawahannya thong senada, bertali di samping pinggul, ringan dan nyaris tak terasa. Saat memakainya, ia tersenyum kecil di depan cermin.
Tenang. Semua masih di bawah kendali.
Pintu kamar terbuka.
“Kamu sudah siap bel—um?” suara suaminya terhenti. “Eh… kamu ngapain?”
Naira menoleh santai. “Kenapa?”
“Itu daleman kamu kenapa niat banget?” katanya sambil mendekat, refleks protektifnya langsung muncul.
Naira tertawa kecil. “Mas, ini cuma dalaman. Nggak kelihatan dari luar kalau nggak dibuka.”
“Justru itu masalahnya,” gumamnya sambil menghela napas, “kenapa harus begitu, seseksi itu?”
Naira terkekeh, pura-pura merapikan tali bra. “Ah, lebay. Dalaman doang.”
“Daleman doang katanya,” suaminya menggeleng, lalu menunjuk dada Naira.
“Itu… kamu mau dinas apa mau bikin Mamas nggak fokus seharian?” katanya, matanya jelas tak bisa lepas dari belahan dada Istrinya.
Naira melangkah mendekat, sengaja mempersempit jarak. “Biar semangat, biar Pede, Mas. Siapa tahu auranya bantu urusan kerjaan juga,” katanya ringan, matanya usil.
Suaminya mendesah pelan. “Pede ke siapa?”
“Ke diri sendiri,” jawab Naira cepat, lalu menyeringai. “Sama ke Mamas, dong.”
Tangannya sudah mendarat di pinggang Naira, protektif refleks. “Aku nggak suka kamu tampil kaya gini terus ke luar kota.”
Naira mengangkat dagu. “Kenapa? Takut ada yang ngelirik?”
“Bukan takut,” katanya cepat. “Aku tahu pasti ada yang ngelirik.”
Naira tertawa kecil. “Ya biarin. Mereka cuma bisa nebak-nebak, paling abanter ngebayangin.”
Suaminya menunduk, suaranya lebih rendah. “Yang aku nggak rela itu kalau kamu sengaja bikin mereka penasaran.”
Naira menyentuh dada suaminya pelan. “Tenang aja. Yang tahu ‘rasa’nya cuma Mas.”
Kalimat itu jelas membuat pertahanan terakhirnya runtuh. Ia menarik Naira mendekat, masih dengan nada setengah menggerutu. “Dasar. Kamu tuh bikin cemburu.”
“Kan Mas suka,” balas Naira ringan.
“Ngaku aja,” katanya, kini kalah. “Kalau kamu pergi kaya gini, Mamas bawaannya pengin ngunci kamu di rumah.”
Naira tertawa, lalu berbisik, “Udah ah, tar aku telat.”
Naira tersenyum, ekspresinya nakal tapi percaya diri. Ia membiarkan dirinya berada sedekat itu, sadar betul reaksi suaminya.
Sambil melirik seksi narira kembali berkata setengah berbisik. “Biar orang-orang BKD Provinsi itu lihat kalau istri Mas ini nggak cuma pintar, tapi juga seksi. Siapa tahu urusan pindah Aku jadi lebih gampang. Aura begini kadang lebih manjur dari berkas lengkap.”
Perkataan itu membuat suaminya terdiam sesaat. Ada rasa cemburu yang menyentil, tapi bersamaan dengan itu, dadanya mengembang oleh rasa bangga.
“Oh, jadi kamu niat pamer ke orang kantor?” katanya setengah bercanda, setengah serius. Tangannya refleks melingkar di pinggang Naira, menariknya lebih dekat.
Naira tersenyum dengan ekspresi usil. Pakaian dalam yang ia kenakan jelas memancing reaksi. Suaminya refleks meraih pinggangnya dan menariknya ke pelukan, napasnya terasa lebih berat dari biasanya—tanda gairahnya bangkit begitu saja.
“Boleh aja mereka lihat dari luar baju kamu,” ujar sang suami dengan suara yang mulai berat, sambil menyusupkan jarinya ke balik Bra tipis itu sambil berbisik “Tapi yang ini, cuma Mamas yang punya.”
Ia memeluk Naira lebih erat, membawanya ke arah ranjang. Tidak ada kata lagi yang diucapkan—hanya napas yang saling bersinggungan dan ketegangan yang perlahan berubah menjadi keintiman.
suaminya sudah mencumbunya dengan ganas. Ia segera meraba vagina Naira, tangannya menelusup di balik thong merah marun yang tipis itu, sekejab dia menarik tali di pinggul Naira, membuat kain itu meluncur ke pergelangan kaki Naira.
Hasrat yang mendadak itu membuat terjadi quickie pagi itu. Suaminya membopong Naira ke ranjang, merebahkannya dengan kaki terbuka lebar. Suaminya merangkak diantara paha Naira, mulai mengecup paha naira dari atas lututnya mengarah ke paha dalamnya dan berakhir di selangkangan Naira, Sontak naira mendesah. Setelah beberapa saat lidahnya bermain di bibir bawah Naira, suami Naira beranjak mengulum bibir Naira yang disambut dengan liar oleh lidah Naira, bibirnya bertaut, lidahnya saling bersilat sambil dengan cekatan melepas sendiri celana yang dia kenakan.
“Aaarrggghhh…….” Desahan lolos dari mulut naira Ketika penis suaminya menyeruak masuk ke vaginanya yang mulai basah.
Bibir suaminya menciumi dengan brutal meninggalkan bekas merah di leher dan payudaranya.
Suaminya menggenjot Naira dengan cepat, entotan yang penuh emosi. Hanya sebentar, tetapi cukup memuaskan. Gesekan cepat penis suaminya di vagina naira membuat suara becek terdengar, Slurp clep clep. Setelah beberapa dorongan cepat, suaminya mengerang…”Eeeegggghhhhhh”, Naira yang sedang menuju puncak merasakan semburan cairan hangat di vaginanya, suaminya ejakulasi dan crot di dalam vagina Naira yang baru mulai menuju puncak, ledakan itu membuat gairah naira terasa menggantung.
“Puas, Mas?” tanya Naira, suaranya sangat lembut.
Suaminya mencium puncak kepala Naira. “Puas, Sayang. Kamu selalu tahu cara bikin Mamas hilang kendali.”
Naira tersenyum dalam pelukan. “Aku kan harus bikin Mas puas. Biar Mas nggak curiga Aku pergi dinas sendirian ke Bandung.”
Suaminya tertawa kecil, suara tawanya terdengar knowing.
“Mamas tahu birahi kamu besar, Sayang,” kata suaminya, mengelus punggung Naira. “Mamas tahu kamu gamoang kepancing, gampang. Itu yang bikin Mamas nafsu terus sama kamu, tapi juga bikin Mamas khawatir.”
Naira mendongak, menatap mata suaminya dengan tatapan nakal yang penuh rahasia.
“Memang kenapa, Mas? Mas takut Aku nakal?” goda Naira, membiarkan rahasia itu mengambang.
Suaminya mengangguk, namun dengan senyum pasrah. “Mamas tahu, yang. Dulu, waktu kamu masih janda, Mamas tahu kamu bandel.”
Pengakuan itu membuat Naira terdiam. Suaminya melanjutkan, menunjukkan bahwa ia mengetahui sisi binal Naira yang tersembunyi.
“Mamas tahu, waktu sebelum nikah sama Mamas, kamu beberapa kali tidur dengan beberapa cowo lain selain Mamas. Itu masa lalu kamu. Dan Mamas terima itu.”
Suaminya menatap Naira, tatapannya kini berubah menjadi kepemilikan. “Tapi sekarang, kamu sudah jadi milik Mamas. Mamas ngajak main ini buat reset kamu, biar kamu ingat kontol mana yang layak masuk memek kamu.”
Naira tersenyum, tidak merasa bersalah atas masa lalunya, dan ia malah merasa tersanjung dengan dominasi dan penerimaan suaminya. Ia membalas dengan godaan nakal yang menggarisbawahi sisi binalnya yang pura-pura setia.
“Oh, jadi Mas mau bilang kalau Mas adalah kontol terbaik yang pernah masuk ke memek Aku?” tanya Naira, nadanya menantang dan genit.
“Mamas nggak perlu bilang, yang. Kamu yang harus buktiin itu,” jawab suaminya, menepuk pantat Naira. “Sekarang cepat mandi. Puas-puasin kamu seksi-seksi di depan orang kantor, biar mereka penasaran. Tapi ingat, Mamas punya kamu yang sebenarnya.”
Naira mengangguk, ia mencium suaminya sekilas. Quickie dan obrolan penuh rahasia ini memberi Naira amunisi mental yang dibutuhkan untuk menghadapi Rizky. Gengsinya di depan Rizky kini akan lebih kuat, karena ia baru saja melayani suaminya dengan baik.
Waktu mendesak. Naira melihat jam, tiket keretanya sudah hampir tiba jadwalnya. Setelah quickie yang brutal, Naira tidak sempat mandi lagi. Ia hanya membersihkan vaginanya menggunakan tissue basah, untuk membersihkan lelehan sperma di vaginanya.
Merapikan kembali bra seksi dan thong merah marunnya,
Setelah itu ia terburu buru mengenakan kemeja dinasnya—tanpa tank top di dalam
Alis suaminya naik. “Nggak pakai daleman tank top?”
“Kan sudah ada bra,” jawab Naira ringan. “Tipis tapi cukup lah, ga nyeplak ko.”
Ia lalu menarik rok span-nya, rapi, pas di badan.
“Lho? Ga pake Short?” suaminya refleks menahan. “Nanti kelihatan.”
Naira terkekeh. “Thong nggak akan nyeplak. Justru ini paling aman.”
Suaminya menghela napas panjang. “Kamu tuh bikin Mamas waswas.”
“Wawas atau cemburu?” goda Naira sambil mendekat.
“Dua-duanya,” jawabnya jujur.
Naira tersenyum nakal. “Kan bagus. Berarti Mas masih pengin.”
Tatapan suaminya berubah. “Kamu sengaja, ya.”
“Iya,” jawab Naira ringan. “Biar Mas mikirin aku seharian, trus nanti malam minta lagi.”
Ia meraih pinggang Naira, setengah menggerutu tapi senyumnya bocor. “Nafsu Mamas diuji terus.”
“Dan selalu kalah,” balas Naira manis.
“Sebentar,” katanya akhirnya, nada tegas tapi lembut. “Kamu bikin begini, terus mau langsung pergi? Ga bersih bersih dulu?”
Naira tertawa kecil. Naira mencium bibir suaminya. “Sekarang, ayo buruan siap-siap Jangan sampai terlambat ketinggalan kereta ke Bandung.”
Beberapa saat kemudian, Naira kembali berdiri di depan cermin. Seragam dinasnya rapi, hijab terpasang sempurna. Dari luar, tak ada yang mencurigakan—tenang, sopan, profesional.
“Mas, ayo cepet! keburu telat!” seru Naira.
Suaminya tersenyum, menarik Naira ke dalam pelukan. “Maaf, yang. Kontol Mamas emang nggak tahu waktu kalau sudah lihat kamu seksi begitu.”
Naira membalas pelukan itu. Ia mencubit gemas pinggang suaminya dari balik kemeja.
“Mas ini yang terbaik,” bisik Naira, tatapannya tulus. “Aku menikahi Mas karena Mas adalah lelaki terbaik yang pernah ada. Aku tidak akan menyia-nyiakan itu. Percaya sama Aku.”
Ucapan itu adalah pengakuan tulus, sekaligus alibi sempurna untuk menenangkan hati suaminya.
Mereka bergegas keluar rumah dan masuk ke mobil. Suaminya mengemudi dengan cepat menuju stasiun.
Pagi itu berjalan terlalu cepat.
Naira dan suaminya hampir terlambat keluar rumah. Tas kerja Naira disampirkan seadanya di bahu, sepatu haknya baru benar-benar terpasang setelah pintu rumah dikunci. Suaminya sudah lebih dulu duduk di balik kemudi, mesin mobil menyala, wajahnya tegang mengejar waktu.
“Buru, Yang. Nanti kamu bisa ketinggalan kereta,” katanya sambil melirik jam.
“Iya, iya,” sahut Naira, terengah kecil, lalu menutup pintu mobil dengan cepat.
Begitu mobil melaju meninggalkan halaman, Naira menghela napas panjang. Baru sekarang ia merasa benar-benar duduk. Tangannya meraih kaca rias kecil dari tas, mengecek wajahnya di bawah cahaya pagi yang masuk dari kaca depan. Foundation dirapikan, lipstik ditegaskan ulang. Ia menepuk pipinya pelan, memastikan semuanya tampak rapi—kontras dengan rahasia yang berdenyut di dadanya.
Di jalan tol yang mulai padat, suasana di dalam mobil justru terasa semakin intim. Musik radio dipelankan, hanya suara mesin dan klakson jauh yang terdengar. Suaminya fokus menyetir, tapi Naira tahu betul ketegangan itu masih ada sejak pagi tadi.
Dengan gerakan seolah tak disengaja, Naira menggeser tubuhnya sedikit.
Naira mengulurkan tangan kananya, menelusup ke sela-sela paha suaminya. Tangannya meremas lembut penis suaminya yang belum lama ejakulasi dalam vaginanya. Sentuhan itu ringan, tapi cukup untuk membuat suaminya tersentak.
“Heh—Yang…” desahnya tertahan. “Mau lagi? Ini di mobil? Kamu ini…”
Naira meliriknya dengan senyum genit yang sudah sangat ia kuasai. “Tenang aja,” bisiknya, suaranya rendah. “Biar nggak tegang, tadi belum tuntas kan. Biar Mas tetap ingat sama Aku.”
Ia meraba penis suaminya yang mulai menegang lagi dari luar celana, dengan cekatan naira membuka resleting celana suaminya, mengeluarkan penis itu dan mengocok penis suaminya secara perlahan.
Tangannya bergerak pelan, penuh kendali. Suaminya menarik napas dalam-dalam, rahangnya mengeras menahan reaksi, matanya tetap ke jalan meski jelas konsentrasinya buyar.
Tak lama, melihat penis suaminya semakin menegang, naira menundukkan badannya, bibrnya menyentuh penis suaminya, dikecupnya pelan, kemudian lidahnya menyapu kepala penis yang semakin membesar bak topi baja, kemudian dilumatnya batang itu hingga seluruhnya masuk ke dalam mulut naira.
lidah naira terus bermain di dalam mulutnya membuat Suaminya mengerang dan muncrat dalam mulut naira.
“Kamu benar-benar gila,” gumamnya, antara protes dan pasrah.
“Ssstt… Biar lega,” bisik Naira, matanya genit. “Aku masih gemes sama kontol ini. Kontol ini nakal banget hari ini.”
Naira tersenyum puas. Baginya, ini bukan sekadar godaan. Ini penegasan. Cara nakalnya berpamitan. Cara memastikan bahwa sebelum ia pergi, suaminya tetap merasa dimiliki—meski hanya sebentar, di sela kemacetan dan deru kendaraan.
Beberapa menit kemudian, Naira menarik tangannya kembali seolah tak pernah terjadi apa-apa. Ia merapikan rok dan kembali ke kaca rias, menyapukan bedak tipis sambil bersenandung kecil. Suaminya menghembuskan napas panjang, mencoba menormalkan diri.
Mereka tiba di stasiun tepat waktu.
Naira turun lebih dulu, mengambil tasnya dari jok belakang. Keramaian pagi langsung menyambut: langkah kaki tergesa, pengumuman keberangkatan, aroma kopi dari kios kecil di sudut.
Sebelum Naira melangkah lebih jauh, suaminya meraih tangannya. Genggamannya hangat, sedikit lebih erat dari biasanya.
“Aku,” katanya serius, menatap mata Naira. “Baik ya Mas selama aku di Bandung.”
Naira berhenti, menoleh penuh perhatian—atau setidaknya tampak begitu.
“Jangan aneh-aneh,” lanjut suaminya. “Jangan genit. Jangan sembarangan bercanda sama coeo-cowo, apalagi di kantor. Mas nggak mau ada yang salah paham jadi baper.”
Naira mendengarkan, lalu tersenyum kecil. Senyum yang sulit dibaca: antara patuh dan sengaja menantang.
Ia mendekat, mengecup bibir suaminya singkat, cepat, sebelum orang lain sempat memperhatikan. “Kalau Aku genit sedikit, kenapa?” bisiknya menggoda. “Mas takut ada yang masukin kontol ke memek Aku, puasin aku? Tenang mas di dalem memek aku aja masih ada sperma kamu tadi.”
Suaminya menghela napas panjang, campuran cemburu dan pasrah. “Udah. Cepet naik. Telepon Mas kalau sudah sampai. Nanti malam Mas jemput. Jam berapa?”
Naira memeluknya erat, sebentar tapi penuh makna. “Belum tahu, Mas. Nanti Aku kabari. Bisa jadi nginap saja, biar besok nggak capek bolak-balik.”
Ia melepas pelukan itu, melambaikan tangan sambil berjalan mundur beberapa langkah. Suaminya berdiri diam, menatap punggung Naira yang menjauh, membawa serta rasa sayang, curiga, dan pertanyaan yang tak sempat terucap.
Naira berbalik dan melangkah ke peron. Wajahnya kembali tenang, rapi, profesional.
Di balik langkah pastinya, ada agenda lain yang berdenyut pelan—misi dinas yang sesungguhnya, dan janji yang menunggu untuk dituntaskan.