Jejak Rahasia Naira – Part 18

Naira baru selesai mengoleskan lotion di lengannya, kulitnya masih terasa lembap dan harum segar. Handuk putih yang hanya dililitkan seadanya di tubuhnya membuat lekuknya samar-samar terbuka. Tepat saat itu, pintu kamar terdengar terbuka.

Suaminya masuk, lalu terdiam sejenak melihat pemandangan itu.

“Masya Allah… kamu sengaja bikin Mas pengen ya?” suaranya parau, separuh bercanda, separuh terpesona.

Naira tersenyum kecil, menunduk pura-pura malu. “Baru mandi, Mas… belum sempat pakai baju.”

Tapi senyum itu justru mengundang.

Tanpa menunggu jawaban, suaminya mendekat dan langsung meraih pinggang Naira, mencium pundaknya, lalu turun ke leher. Naira mendesah pelan, tubuhnya kaget tapi tidak menolak. Lotion yang masih licin membuat kulitnya makin mudah dielus.

“Hmm… wangi banget,” gumam suaminya, sambil menyeret Naira ke pelukan lebih erat. Tangan besarnya meremas lembut pinggang istrinya, sementara ciuman mulai turun ke dada.

Naira pun tak tinggal diam. Sambil masih berbalut handuk, ia mengusap tubuh suaminya, lalu meraih bagian paling pria dari tubuh itu. Gerakannya spontan, seolah ingin menunjukkan betapa ia juga merindukan kehangatan ini. Suaminya terhenti sesaat, terengah, lalu tersenyum penuh gairah.

Dalam satu gerakan, ia mengangkat tubuh Naira yang mungil, membaringkannya ke kasur. Handuk terlepas dengan sendirinya, meninggalkan kilau kulit yang masih lembap. Tatapan suaminya berubah semakin lapar.

Keduanya berciuman lagi, lebih dalam, lebih intens. Nafas saling berpacu, tangan saling mencari. Hingga akhirnya suaminya menunduk, menelusuri tubuh Naira dengan bibir dan lidahnya. Naira menggeliat, jemari meremas seprai, desahannya tak bisa ia tahan lagi.

Suasana kamar pun perlahan dipenuhi ritme yang intim—hangat, menggoda, dan penuh gairah.

Suaminya menelusuri tubuh Naira dengan sabar, setiap ciuman seolah ditata untuk membuat istrinya menyerah pada rasa. Dari perut yang masih lembap karena lotion, turun perlahan ke pangkal paha yang sudah bergetar menahan sensasi.

Naira menggigit bibir, menutup mata rapat. “Mas…” suaranya parau, hampir bergetar.

Ketika lidah suaminya menyentuh vaginanya, tubuh Naira terangkat refleks. Rasa geli bercampur nikmat membuatnya mendesah lebih keras. Lidah itu bergerak teratur, terkadang lambat, terkadang cepat, membuat tubuhnya tak bisa menebak dan semakin terjebak dalam pusaran kenikmatan.

Tangan Naira meraih rambut suaminya, menekan lembut, seakan ingin mengatakan “jangan berhenti.” Kakinya pun mulai merapat, lalu membuka lagi tanpa sadar, memberi jalan bagi setiap gerakan penuh kasih itu.

“Ya Allah… Mas…” desahnya lirih, napasnya semakin tersengal.

Ritme itu makin intens. Lidah, bibir, dan desahan suaminya berpadu seperti melodi yang membakar seluruh syaraf Naira. Punggungnya melengkung, dada naik turun cepat, keringat halus muncul di pelipisnya.

Hingga akhirnya, gelombang itu tak bisa lagi ditahan. Tubuh Naira bergetar hebat, suara tertahannya pecah jadi lenguhan panjang. Ia meremas rambut suaminya kuat-kuat, lalu melepaskannya dengan napas terengah-engah.

Suaminya tersenyum di antara paha istrinya, menatap penuh kemenangan. “Kamu luar biasa, Sayang…” bisiknya, sebelum kembali mengecup lembut perut Naira, seolah memberi penutup manis setelah badai.

Naira masih terkulai, jantungnya berdetak liar, namun matanya berbinar. Bukan hanya tubuhnya yang puas, tapi hatinya pun hangat karena cinta yang terasa begitu nyata dalam setiap sentuhan itu.

Naira masih terkulai di kasur, napasnya belum juga teratur setelah ledakan klimaks barusan. Tubuhnya masih gemetar halus ketika tiba-tiba ia merasakan beban hangat menindihnya.

Suaminya, tanpa banyak kata, menempelkan bibirnya sebentar ke leher Naira, lalu dengan satu dorongan penuh kejantanannya menembus masuk.

“Ahh… Mas…” Naira terperanjat, setengah terkejut setengah kembali tersulut. Rasa penuh yang tiba-tiba itu membuat kewanitaannya berdenyut lagi, seakan siap menerima babak baru.

Ia mulai merespon, pinggulnya pelan ikut menggesek, desahannya kembali terdengar, matanya setengah terpejam. Nafsu yang sempat reda kini kembali naik, tubuhnya siap menyambut permainan panjang.

Namun, baru beberapa gerakan, ritme yang masih singkat, Naira tiba-tiba merasakan sesuatu memancar deras di dalam dirinya. Semburan hangat, kental, memenuhi dinding kewanitaannya.

“Mas… udah?” Naira mendesah kaget, matanya terbuka lebar, menatap suaminya yang terengah.

Suaminya terdiam sesaat di atas tubuhnya, wajahnya lelah namun puas, lalu menunduk mencium bibir istrinya singkat. “Maaf, Yang… Gak bisa nahan lagi. Terlalu enak barusan…, memek kamu ngeremes2 tytyd aku”

Naira membeku, tubuhnya masih menjerit ingin dilanjutkan, tapi kenyataannya orgasme keduanya belum tercapai. Ia menggigit bibir, mencoba menahan kekecewaan itu, sembari menatap suaminya yang sudah rebah di sampingnya, terlelap dalam kepuasan singkatnya.

Naira menarik napas panjang, pandangannya kosong menatap langit-langit. “Kenapa selalu begini… aku yang ditinggal separuh jalan…” bisiknya dalam hati, antara geli, kesal, tapi juga sadar dirinya baru saja menjalani malam yang penuh rahasia dalam batinnya.

Naira berbaring miring, punggungnya membelakangi suaminya yang sudah tertidur pulas. Matanya terbuka lebar, menatap gelap kamar, tubuhnya masih hangat namun tidak lagi bergetar oleh gairah—melainkan oleh pikirannya sendiri.

“Mamas selalu begini… tapi aku sayang dia, cinta dia, aku nggak bisa tanpa dia, tapi kenapa rasanya selalu nanggung…” Naira menggigit bibirnya sendiri, menahan perasaan kentang yang berulang kali muncul.

Pikirannya melayang pada Dika. Wajah polos anak muda itu, ciuman kaku yang terasa seperti pengalaman pertama. “Dika… polos, naif, tapi ada sesuatu yang bikin aku geli sekaligus penasaran. Tadi aja sempat bikin aku hampir kebobolan lagi…tapi terlalu grusa grusu” Ia mendesah pelan, merasa aneh karena justru senyum tipis muncul di wajahnya.

Lalu, bayangan Rizal datang begitu saja. Nafas Naira makin berat. “Kalau Rizal… dia terlalu perkasa, terlalu tahu cara memainkan tubuhku. Dia yang bikin aku liar. Kadang aku bahkan kepikiran hal-hal gila… kayak kalau aja aku bareng Rizal dan Dika sekaligus… apa jadinya tubuhku?”

Naira menutup wajah dengan bantal, tubuhnya bergetar kecil antara malu dan terangsang dengan fantasi sendiri.

“Astaga, Na… kamu gila. Suami sendiri aja nggak bisa bikin puas, malah mikir yang aneh-aneh sama lelaki lain…” bisiknya dalam hati, tapi denyut halus di kewanitaannya masih terasa hidup.

Ia meraih tangan suaminya yang tergeletak lemas di sampingnya, menggenggamnya erat seolah mencoba meneguhkan hati. Namun di balik genggaman itu, pikirannya masih berputar-putar antara polosnya Dika, cintanya pada sang suami, dan liarnya Rizal.

Senyum tipis terbit lagi di bibir Naira. “Mungkin aku memang diciptakan untuk diuji lewat lelaki…”

Pagi itu Naira bangun dengan mata berat. Tubuhnya masih sedikit pegal, tapi bukan karena puas—lebih karena pikirannya yang semalaman berputar tak berhenti. Ia duduk di tepi ranjang, merapikan rambutnya yang kusut, lalu memandang sisi ranjang yang sudah kosong. Suaminya sudah berangkat kerja lebih dulu.

Hening kamar justru membuat Naira semakin sibuk dengan dirinya sendiri. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menatap cermin. Senyum tipis muncul. “Astaga… apa aku masih waras? Kok sampai kebayang-bayang fantasi bertiga begitu…”

Semburat merah muncul di pipinya. Bukan malu, tapi karena dalam hati, tubuhnya kembali bereaksi setiap kali ingat bayangan Rizal menindihnya… lalu tiba-tiba muncul wajah Dika yang polos, canggung, seolah menunggu giliran.

Ia menggigit bibir bawah. Geli, penasaran, dan berdosa bercampur jadi satu.

Dengan cepat, Naira bangkit. Ia mandi, lalu mengenakan busana kerja yang rapi. Blus putih dan rok span yang selalu jadi andalannya. Namun, di balik itu semua, pikirannya tetap gelisah.

Sebelum berangkat ke kantor, ia meraih HPnya. Jari-jarinya sempat ragu, tapi akhirnya membuka chat dengan Rizal. Ia tidak menulis gamblang, hanya satu kalimat pendek dengan emotikon samar:

“Kayaknya aku butuh kopi siang ini… ”

Naira menaruh HPnya, mencoba terlihat biasa saja. Namun, detak jantungnya meningkat menunggu balasan. Dalam hati ia tahu, Rizal cukup paham maksud kode halusnya.

“Aku memang gila… tapi cuma sama Rizal aku bisa lepas jadi liar.” gumamnya sambil tersenyum nakal pada bayangan cermin, sebelum akhirnya melangkah keluar rumah menuju mobil.

Pesan balasan dari Rizal datang tak lama setelah kode samar Naira terkirim.

“Aku siang ini bebas. Ngopi sambil rebahan kayamya enak, siapin waktu siang ini, aku yang atur tempat. Kita ketemu mall biasa. Aku jemput di mall dekat kantorku.”

Membaca balasan itu, jantung Naira berdebar lebih cepat. Ada rasa bersalah, tapi justru diiringi sensasi liar yang membuatnya tak bisa berhenti tersenyum tipis.

Di kamar, ia membuka lemari pakaian. Matanya menyapu deretan pakaian dalam. Jemarinya berhenti pada sepasang lingerie tipis berwarna hitam—bra renda dengan potongan rendah dan celana dalam yang senada. Ia mengangkatnya pelan, menghela napas.

“Ini terlalu berani untuk dipakai di balik baju kerja… tapi justru itu yang bikin deg-degan.”

Setelah mengenakan pakaian dalam itu, ia memilih blus putih yang longgar tapi tetap membentuk lekuk tubuh, dipadukan dengan rok span hitam panjang dengan belahan sampai belakang lutut. Penampilannya tetap sopan, berhijab rapi, namun setiap gerakan kecil tubuhnya menampilkan siluet yang mampu membuat lelaki terpaku.

Sambil berdiri di depan cermin, Naira merapikan hijabnya. Senyumnya nakal. “Kalau ada yang lihat sekilas, cuma lihat ibu-ibu kerja berhijab. Tapi kalau Rizal… dia pasti suka.”

Sebelum berangkat, ia menelepon suaminya.

“Mas, aku ada meeting di kota sebelah siang ini, jadi mungkin agak sore pulangnya ya…” ucapnya datar, seolah hal biasa. Suaminya hanya mengiyakan tanpa curiga.

Kemudian ia menghubungi atasannya di kantor.

“Pak, saya izin keluar dulu. Ada keperluan koordinasi di luar kota.”

Jawaban singkat “Ya, silakan” sudah cukup untuk memberinya alibi sempurna.

Perjalanan terasa panjang. Naira mengemudi dengan tenang, namun pikirannya terus melayang pada apa yang akan terjadi nanti. Begitu sampai di kota sebelah, ia memarkirkan mobilnya di sebuah mall besar yang tak jauh dari kantor Rizal.

HPnya bergetar. Rizal memberi tahu sudah tiba di parkiran. Naira menarik napas panjang, lalu turun dari mobilnya. Ia segera melangkah menuju mobil Rizal, menyembunyikan debaran di dadanya di balik senyum kecil.

 

Begitu pintu mobil Rizal terbuka, ia masuk cepat. Mereka saling bertukar tatap, senyum nakal yang penuh arti. Rizal menggenggam tangannya erat, tanpa banyak kata langsung mengemudi ke arah hotel transit yang mereka sepakati.

Saat pintu garasi hotel tertutup rapat, Naira bisa merasakan atmosfer berubah. Udara di ruang sempit itu terasa semakin panas, bahkan sebelum mereka benar-benar masuk kamar.

Begitu mobil meluncur keluar dari parkiran mall, Rizal sempat melirik Naira yang duduk manis di jok samping. Tangannya santai di setir, tapi senyum nakalnya jelas terlihat.

“Pantesan tadi aku ngerasa ada yang beda,” katanya pelan. “Dari cara kamu duduk aja, aku udah kebayang kamu lagi pengen, udah siap buat nakal ya?”

Naira melirik cepat, pura-pura jutek. “Apaan sih, Zal… aku cuma mau ngopi sambil ngobrol, nggak ada yang aneh-aneh.”

Rizal terkekeh. Tangannya sempat menyentuh lutut Naira, lalu naik pelan ke pahanya. “Ngobrol? Sambil rebahan ya? Pasti nyaman deh.”

 

Naira menepis tangannya, tapi matanya berkilat geli. “Yaudah, jangan pegang-pegang dulu. Belum tentu aku nurutin kamu nanti.”

Rizal mendekat sedikit, suaranya rendah. “Kalau nggak nurutin, kenapa pake rok yang belhannya tinggi banget padahal atasannya hijab, dalemannya lingery ya? Hm..?”

Pipi Naira merona. Ia cepat-cepat menoleh ke luar jendela, menutupi degup jantungnya. “Kamu sok tau, siapa bilang aku pake lingerie…”

Rizal tertawa kecil. “Aku udah hapal kamu, Na. Dari cara kamu jalan aja keluar mobil tadi, aku tau ada sesuatu yang beda.”

Sepanjang jalan menuju hotel, Rizal tak henti melempar godaan. Kadang tangannya kembali nakal menyentuh pahanya, kadang hanya dengan tatapan mata tajam yang membuat Naira salah tingkah.

Begitu sampai di hotel transit, mobil masuk ke garasi pribadi. Pintu garasi tertutup otomatis, dan suasana langsung terasa lebih sunyi dan intens.

Rizal mematikan mesin mobil, lalu menoleh penuh ke arah Naira. “Dari tadi aku tahan diri, Na. Begitu pintu kamar nutup nanti… jangan salahin aku kalau aku nggak bisa sabar.”

Naira menelan ludah, tapi senyum nakal tipisnya muncul juga. “Coba aja kalau berani. Jangan cuma ngomong doang.”

Mereka turun dari mobil. Rizal meraih tangan Naira, menggenggam erat sambil berjalan menaiki tangga masuk menuju kamar.

Begitu pintu kamar tertutup rapat, Rizal langsung mendorong Naira pelan ke arah dinding. Bibirnya menempel cepat, panas, penuh hasrat yang ia pendam sepanjang perjalanan tadi.

Naira sempat mendorong dada Rizal, tapi hanya sebentar. Detik berikutnya, ia membalas ciuman itu, napasnya tercekat, tubuhnya merespons tanpa bisa dikendalikan.

Suasana kamar mendadak penuh dengan energi liar, seolah ruang sempit itu hanya milik mereka berdua.

Begitu punggungnya menyentuh dinding kamar, Naira mendesah pelan di sela ciuman Rizal. Bibir lelaki itu rakus, seolah sudah lama menahan diri. Tangannya tak tinggal diam—menyusuri sisi pinggang Naira, lalu perlahan naik ke lekuk dadanya, meremasnya dan mulai melepas hijab yang dipake Naira.

“Zal… pelan, jangan buru-buru,” bisik Naira, setengah menahan, setengah menantang.

Rizal menatapnya, senyum nakal tersungging. “Kamu yang bikin aku nggak bisa sabar, Na.”

Tangannya dengan cekatan mulai membuka kancing blus putih Naira satu per satu. Naira sempat menahan pergelangan tangannya, pura-pura keras kepala. “Eh, jangan di sini dulu, buru-buru amat sih.”

 

Tapi Rizal hanya mendekatkan bibirnya ke telinga Naira, membisik panas, “Dari tadi kamu udah siap. Aku bisa ngerasain dari cara kamu cium aku.”

Kancing terakhir terlepas, dan blus putih itu melorot dari bahu Naira, menyingkap bra renda hitam yang dipilihnya pagi tadi. Rizal mendesah panjang, matanya menajam.

“Gila, kamu beneran pake ini…” Tangannya menyentuh renda tipis itu, menekan lembut puting yang sudah mengeras.

Naira tersenyum miring, pura-pura cuek. “Yaudah, puas liat doang kan?”

Rizal menjawab dengan menunduk, mulutnya menempel di belahan dadanya, ciuman panas bergantian dengan jilatan. Naira menggigit bibir, menahan desah tapi tubuhnya merespons. Tangannya naik, meraih tengkuk Rizal, seolah memberi izin untuk lebih dalam.

Sambil terus mencumbu dadanya, Rizal menurunkan tangannya ke pinggang rok span Naira. Resleting kecil terbuka, lalu rok itu meluncur turun, menyisakan celana dalam renda hitam yang serasi dengan bra.

Naira melangkah mundur setengah, menatap Rizal dengan senyum genit. “Kamu kebangetan. Baru masuk kamar, aku udah hampir telanjang.”

Rizal meraih wajahnya, mengecup bibirnya lagi. “Biar aku yang telanjang juga, biar adil.” Ia menarik kaosnya sendiri, memperlihatkan dada bidangnya, lalu cepat melepaskan celananya.

Kini keduanya hanya terbalut pakaian dalam, tubuh saling menempel, napas panas beradu.

Naira menyusupkan jemarinya ke pinggang Rizal, pura-pura menggoda. “Yakin mau terusin? Aku bisa kabur kapan aja kalau aku bosan, loh.”

Rizal terkekeh pendek, tangannya sudah kembali meremas pinggul Naira. “Coba aja kalau bisa kabur. Hari ini aku pastikan kamu nggak bakal kuat jalan pulang sendiri.”

Naira mendesah, separuh menolak, separuh menikmati, tubuhnya sudah mulai kalah meski mulutnya masih mencoba mengulur.

Pintu kamar sudah tertutup rapat. Rizal langsung menekan tubuh Naira ke dinding, tangannya nakal menelusuri pinggang ramping di balik gamisnya.

Naira mengerjapkan mata, senyum tipis muncul di balik hijabnya. “Jangan buru-buru gitu dong, Zal… baru juga masuk kamar,” bisiknya genit, meski tubuhnya sudah bergetar.

Rizal mendekatkan bibir ke telinganya, berbisik panas. “Aku udah nggak tahan dari tadi liat kamu jalan di sampingku. Kamu sengaja kan pilih kemeja ketat?”

Naira terkekeh pelan, pura-pura menahan, “Heh, kamu sotoy banget. Aku ini sopan loh, hijab panjang segala…” Tapi di balik kemejanya, Rizal bisa merasakan lingerie tipis yang tadi Naira pilih dengan cermat.

Tangan Rizal menyibak perlahan, mencium leher Naira meski hijab masih menutupinya sebagian. “Hmm… wangi banget. Aku pengen buka satu-satu, biar lama, biar aku puas nikmatin tiap inci badan kamu.”

Naira menghela napas, tubuhnya merespons meski mulutnya masih mencoba main-main. “Dasar rakus… kamu kira aku gampang dilepasin gitu aja? Coba kalau berani, sabar sama aku.”

Rizal tersenyum miring, menggigit lembut dagu Naira sebelum menurunkan ciuman ke lehernya. Tangannya sudah masuk ke balik gamis, mengusap paha Naira yang halus.

Naira refleks menggigit bibir, menahan erangan. “Jangan di situ dulu… bikin aku lebih panas dulu,” bisiknya manja.

 

Rizal tertawa rendah. “Kamu makin liar tiap kali pura-pura nahan gini. Aku suka banget.” Ia lalu menelusuri tubuh Naira perlahan, membuka kancing bra nya, sambil mencumbu area yang terbuka sedikit demi sedikit.

Naira menutup mata, tubuhnya mendesah. Tapi tangannya nakal menahan jemari Rizal di dadanya. “Nggak boleh langsung ke situ… bikin aku minta dulu.”

Rizal menatapnya dalam-dalam, nafasnya berat. “Aku bakal bikin kamu sendiri yang nggak tahan, Na.”

Ia menunduk, mencium perut Naira yang sudah terbuka, jemarinya menggoda di pinggir lingerie renda. Naira tersentak kecil, tangannya meremas rambut Rizal. “Astagfirullah… kamu jahat banget, Zal…” katanya bergetar, meski senyumnya jelas menantang.

Foreplay itu makin panjang, makin panas—sebuah tarikan dan dorongan antara Naira yang pura-pura menahan diri dan Rizal yang sengaja mengulur, membuat setiap detik terasa mendidih.

Rizal menuntun tubuh Naira perlahan ke tepi ranjang, mendudukannya dengan gamis setengah terbuka, hijab masih menempel berantakan di kepalanya. Lampu kamar yang redup membuat bayangan tubuh Naira tampak samar, menambah suasana seperti rahasia yang hanya boleh mereka berdua nikmati.

Rizal berlutut di hadapan Naira, kedua tangannya menyingkap kain yang masih menutupi pahanya. Nafasnya hangat menyapu kulit halus itu, membuat Naira refleks menggigit bibir.

“Zal…” suara Naira lirih, setengah protes, setengah undangan.

Rizal hanya menatap ke atas, matanya gelap penuh hasrat. “Diam, biar aku yang manjain kamu.”

Ia menunduk, bibirnya mulai menyentuh paha bagian dalam, ciuman pelan yang seperti sengaja memancing kegelisahan. Lidahnya berputar, menelusuri garis halus kulit Naira. Naira meremas sprei, kepalanya terhempas ke belakang.

“Ya Allah… jangan lama-lama godain aku kayak gini…” desahnya gemetar.

Rizal tersenyum kecil, lalu semakin mendekat, ciumannya kini bergeser ke pusat kewanitaan Naira yang sudah berdenyut. Dengan sabar ia membuka lapisan terakhir lingerie tipis yang menutupi, dan saat aroma keintiman Naira merebak, Rizal menenggelamkan dirinya di sana.

Lidahnya menyapu lembut, bermain dengan ritme lambat tapi memabukkan. Naira tersentak, tubuhnya melengkung, suara tertahan di tenggorokannya. “Zal… ahh… pelan-pelan ah…”

Rizal bergumam di sela tindakannya, suara beratnya bergetar di kulit sensitif Naira. “Manis banget… kamu bikin aku pengen terus, Na.”

Setiap gerakan lidahnya bukan sekadar sentuhan fisik, tapi seperti bisikan rahasia yang langsung mengirim getaran ke pusat syaraf Naira. Tubuhnya bergetar, tangannya tak sadar menekan kepala Rizal lebih dalam.

Naira menutup wajah dengan satu tangan, tapi desahan dan rintihannya tak bisa lagi ia sembunyikan. “Aku… aku nggak kuat… Zal…”

Rizal justru memperlambat ritmenya, menikmati setiap reaksi Naira yang semakin liar. Suara sprei berkeresek bercampur dengan desahan panjang yang pecah-pecah.

“Aaarrghhhh……Zaaal…..” Akhirnya tubuh Naira menegang, napasnya terhenti sesaat sebelum terlepas dalam erangan panjang yang penuh kelegaan. Seluruh tubuhnya jatuh terkulai, dadanya naik turun cepat, keringat bercampur dengan hawa panas kamar.

Rizal baru mengangkat wajahnya, bibirnya basah, senyum puas tergambar jelas. Ia menatap Naira yang masih gemetar, lalu naik perlahan ke atas tubuhnya, membisikkan di telinga.

“Aku bisa bikin kamu keluar lagi… dan lagi… sampai kamu lupa dunia.”

Tubuh Rizal yang masih basah oleh keringat langsung merunduk menindih Naira, mendekapnya rapat seakan tak ingin ada celah di antara mereka. Bibirnya kembali mencari bibir Naira, ciuman dalam yang basah dan penuh desakan, sementara kejantanannya sudah mengeras, menggesek-gesek di permukaan kewanitaan Naira yang masih berdenyut setelah puncak tadi.

Naira menggeliat, tubuhnya tersentak tiap kali gesekan itu menyapu bibir vaginanya. Ia merintih tertahan, tangannya meraih punggung Rizal, kukunya menekan kulit lelaki itu.

Rizal turun, bibirnya berpindah ke leher, dada, lalu ke payudara Naira yang sudah menegang. Ia menyedot lembut salah satu puting, lalu menjilatinya dengan ritme yang menggila. Tangan satunya menyusup ke selangkangan Naira, jari-jarinya lincah menyapu, menusuk masuk, membuat tubuh Naira melengkung liar.

“Zal… aku nggak tahan…” suara Naira bergetar, setengah merintih, setengah menuntut.

Alih-alih menuruti, Rizal mempermainkannya lebih jauh. “Sabar… aku pengen kamu minta lebih kenceng lagi.”

Tapi Naira sudah hilang kendali. Dengan tenaga yang tersisa, ia mendorong bahu Rizal hingga terbaring di kasur. Napasnya masih terengah, rambutnya berantakan, tapi matanya menyala penuh nafsu.

“Aaaah rese, sekarang giliran aku,” ucapnya dengan nada setengah mengancam, setengah menggoda.

Ia naik ke atas Rizal, menindihnya, tubuhnya bergerak menggeliat di atas kejantanannya, menggesek penuh kendali. Rizal mendesah panjang, tangannya mencengkeram pinggul Naira kuat-kuat, tapi membiarkannya mendominasi.

Naira menggoyangkan tubuhnya, memainkan ritme, membiarkan kepala Rizal terhempas ke bantal. “Rasain, Zal… kali ini aku yang atur,” bisiknya nakal, sebelum menunduk menciumi bibir dan leher Rizal dengan gairah yang tak terbendung.

Naira menunduk, bibirnya mencari leher Rizal. Ia mencumbu dengan gigitan kecil, disusul jilatan panjang yang membuat Rizal mendesah berat. Tubuh lelaki itu bergetar tipis setiap kali gigi Naira menyentuh kulitnya.

Belum puas, Naira menurunkan ciumannya ke dada Rizal. Ia mengulum puting keras itu, menyedot sambil sesekali menjepit dengan giginya, membuat Rizal terlonjak kecil dan mengerang. “Ah… Naira… jangan gila gitu…” suaranya nyaris patah.

Dengan nakal, Naira hanya tersenyum samar, lalu meluncurkan bibirnya lebih ke bawah. Tangannya menggenggam kejantanan Rizal yang tegang, panas, dan berdenyut penuh. Ia menjilat pangkalnya pelan, kemudian mengulum bagian ujungnya, memainkan lidah sampai Rizal menegangkan tubuhnya tak karuan.

“Gila… aku nggak kuat kalau kamu terusin…” Rizal terengah, tangannya menahan rambut Naira seolah minta ampun.

Naira mengangkat wajahnya, bibirnya basah, matanya berkilat penuh api. “Rasain aja, Zal…nikmati aja, jangan berisik kamu.”

Ia perlahan menuntun kejantanan Rizal ke arah vaginanya sendiri yang sudah lembap menggila. Dengan gerakan menggoda, ia menurunkannya, merasakan gesekan itu di pintu masuk tubuhnya. Rizal mendengus, pinggulnya refleks terangkat.

Dan akhirnya, “Aaaaarrghhhhhh…..ufffthhhh” Naira melepaskan kendali penuh—membiarkan kejantanan itu masuk, menembus, mengisi dirinya. Ia mendesah panjang, tubuhnya melengkung. Rizal menggeram keras, tangannya otomatis mencengkeram pinggang Naira.

Tanpa menunggu, Naira mulai bergerak, lambat dulu, ritme teratur yang membuat Rizal mendesis setiap kali ia turun habis. Lalu semakin lama semakin liar, pinggulnya berputar, menghantam, mengguncang tempat tidur dengan suara gemuruh bercampur desah panas mereka.

“Na… enak banget kamu…” Rizal hampir kehilangan akal, tubuhnya terguncang mengikuti permainan buas Naira.

Pinggul Naira terus menghantam, gerakannya makin cepat, makin berani. Suara tubuh mereka beradu jadi irama panas yang memenuhi kamar. Napasnya tersengal, keringat menetes di antara belahan dadanya, tapi tatapannya justru liar, penuh kendali.

Rizal di bawahnya menggeliat tak karuan. Tangannya mencengkeram kedua payudara Naira, meremas habis-habisan seakan tak mau melepas. Bibirnya sesekali meneguk puting yang bergoyang di depannya, tapi tubuhnya sudah tak sanggup melawan ritme gila Naira.

“Na… aku… aku udah gak kuat…” Rizal menggertakkan gigi, suaranya parau. Tubuhnya tegang, pinggulnya berusaha mengikuti, tapi jelas kendali sudah ada di tangan Naira.

Naira justru menunduk, membisik di telinganya dengan suara bergetar, “Tahan dulu, Zal… jangan keluar dulu. Aku belum selesai.” Pinggulnya menghentak makin liar, gerakan berputar, menghajar titik-titik sensitifnya sendiri. Desahannya jadi lebih keras, matanya terpejam, tubuhnya mendekati ambang klimaks.

Rizal menggeliat, wajahnya meringis menahan gelombang yang sudah di ujung. “Sumpah… aku bisa gila kalau kamu terusin gini, Na…”

Naira hanya mendorong pinggulnya lebih dalam, menekan penuh, lalu menggoyang liar sampai tubuhnya sendiri bergetar hebat, nyaris mencapai puncak.

Tubuh Naira menegang, punggungnya melengkung tinggi, lalu desah panjang lolos dari bibirnya. Pinggulnya bergetar, ritmenya kacau, dan akhirnya tubuhnya jatuh lemas di atas Rizal. Gelombang klimaks itu membuatnya bergetar hebat, keringat bercampur dengan sensasi panas yang belum sepenuhnya reda.

Rizal merasakan tubuh Naira bergetar di atasnya, dan itu justru makin membakar. Dengan tenaga tersisa, ia menggenggam pinggang Naira, lalu membalikkan posisi. Dalam satu gerakan, Naira yang tadi di atas kini sudah telentang di bawah, rambutnya berantakan di bantal, dadanya naik-turun cepat, wajahnya masih merah padam karena puncak yang barusan ia rasakan.

“Belum selesai, Na…” Rizal menunduk, menciumi lehernya yang basah keringat, menjilat turun ke belahan dadanya. Tangannya meremas pinggul Naira, menahan agar tetap terbuka.

Naira, yang masih terkulai lemas, hanya bisa mendesah kecil. “Zal… aku… baru keluar…” Tapi tatapannya berbinar, seolah menantang apa yang akan Rizal lakukan berikutnya.

Pinggul Rizal mulai bergerak, menggesekkan lagi dirinya pada vagina Naira yang masih hangat basah. Nafasnya berat, gerakannya kali ini jauh lebih liar, penuh tenaga, seolah ingin menenggelamkan Naira ke dalam ronde berikutnya tanpa memberi waktu bernapas.

Keringat sudah membasahi tubuh keduanya ketika Rizal kembali menguasai permainan. Nafasnya berat, ritmenya semakin cepat. Ia meraih kedua kaki Naira, mengangkatnya tinggi hingga menempel ke pundaknya. Tubuh Naira yang masih lelah dibuat pasrah, tapi sensasi yang datang justru mengguncang lagi kewanitaannya. Setiap dorongan terasa dalam, menekan titik yang membuatnya mendesah panjang meski ada sedikit rasa nyeri sisa dari klimaks sebelumnya.

“Zal… pelan… ahh—” Naira mencoba mengatur napas, tapi dorongan Rizal makin beringas.

Rizal hanya menunduk, menciumi wajah dan lehernya, seolah tak ingin memberi ruang untuk menolak. Tangan besarnya meremas dada Naira, keras, membuat tubuh Naira bergetar di antara rasa sakit kecil dan kenikmatan yang memabukkan.

Saat Naira mulai kehilangan tenaga, Rizal memiringkan tubuhnya. Ia menarik Naira ke posisi menyamping, memeluknya dari belakang. Pinggulnya menempel rapat, genjotannya kini datang dari belakang, penuh tenaga tapi juga intim. Naira terpekuk dalam pelukan Rizal, tubuhnya seperti terkunci.

“Na… aku… nggak tahan lagi…” bisik Rizal di telinganya, diiringi kecupan panas di tengkuk.

Naira hanya bisa menggigit bibir, merasakan setiap hentakan memenuhi kewanitaannya. Nikmat bercampur perih halus, tubuhnya kembali diguncang meski baru saja ia lepas kendali sebelumnya.

Dengan satu geraman berat, Rizal akhirnya menancap dalam dan melepas semua. Cairan hangat menyembur deras, membuat Naira terkejut dengan rasa penuh yang mendesak ke dalam. Rizal merangkul erat dari belakang, menciumi lehernya, sementara satu tangannya meremas kasar payudara Naira, membuatnya mendesah panjang meski tubuhnya sudah tak sanggup lagi melawan arus kenikmatan yang menenggelamkan.

Tubuh Naira bergetar, setengah nyeri, setengah nikmat, hingga akhirnya ia benar-benar lemas dalam pelukan Rizal.

Keringat masih menempel di kulit, selimut kusut melilit sebagian tubuh mereka. Nafas Rizal masih berat, tapi genggamannya di pinggang Naira tidak lepas, seakan takut kalau wanita itu menghilang begitu saja.

“Gila, Na…” Rizal berbisik di telinga, suaranya serak tapi penuh kepuasan. “Nggak pernah aku ngerasain kayak tadi. Kamu… bikin aku ketergantungan.”

Naira yang masih terkulai, menutup wajahnya dengan lengannya. Nafasnya tersengal, tubuhnya masih gemetar pelan. “Kamu kebangetan, Zal…” ucapnya lirih, separuh bercanda separuh menegur. “Aku punya suami. Aku cinta sama dia. Tapi ga tau kenapa… aku bisa segoblok ini.”

Rizal memutar tubuh Naira menghadapnya, menatap dengan sorot mata penuh gairah yang belum padam. Tangannya mengelus pipi Naira, kemudian turun menyusuri lekuk tubuhnya. “Karena kamu butuh kontol Na. Karena kamu pengen ngerasain sesuatu yang nggak dia kasih. Dan aku… bisa ngasih itu.”

Naira menutup matanya erat, perasaan bersalah menghantam, tapi tubuhnya masih berdenyut sisa permainan tadi. “Astaghfirullah… ya Allah, ampunin aku…” gumamnya lirih, sambil memeluk selimut menutupi dada.

Rizal terkekeh pendek, lalu membisikkan nakal, “Kamu sendiri yang ngijinin aku, Na. Kamu yang pasrah kontolku main di dalam memekmu. Kamu yang biarin spermaku keluar di situ… di dalam memek kamu.”

Naira menggigit bibir, wajahnya panas bukan hanya karena gairah, tapi juga rasa bersalah yang menusuk. “Aku… aku tau ini dosa besar, Zal. Tapi waktu kamu di atas aku tadi, aku nggak bisa mikir apa-apa. Aku cuma bisa ngerasain. Dan itu… ngebuat aku gila, nagih tau.”

Suasana kamar jadi hening, hanya suara napas yang masih tak beraturan. Rizal meraih tangan Naira, menciumnya pelan. “Aku nggak peduli dosa atau nggak. Yang jelas, aku bahagia bisa ada di kamu. Bisa ngerasain kamu sepenuhnya. Kamu bikin aku gila, Na.”

Naira menoleh, menatap Rizal lama-lama. Ada tatapan marah, ada penyesalan, tapi ada juga api kecil yang masih menyala. “Kamu jahat, Zal. Kamu berhasil bikin aku nagih… dan aku takut nggak bisa lepas.”

 

Naira masih berbaring di samping Rizal, selimut setengah menutupi tubuhnya. Matanya menatap ke langit-langit, pikirannya melayang. Nafasnya mulai teratur, tapi jantungnya tetap berdebar cepat. Ia menarik napas dalam, lalu pelan berkata,

“Suamiku ngajak umroh bulan depan, Zal…” suaranya lirih, agak bergetar. “Aku… jujur ada takutnya. Katanya di sana orang bisa ‘ketahuan’ semua dosanya. Aku… aku ngeri, Zal. Aku takut di sana Allah nunjukin semua dosa aku.”

Rizal, yang masih menyandarkan punggung di headboard, menoleh dan tersenyum miring. Tangannya mengusap pelan lengan Naira. “Heh… jangan mikir yang aneh-aneh. Lagian, dosa mah udah ada sejak dulu. Cuma ya… kayaknya aku nggak nyesel kalau dosanya sama kamu,” katanya dengan nada menggoda.

Rizal menoleh, senyum nakalnya muncul lagi. Tangannya meraih dagu Naira, memiringkannya hingga wajah mereka sejajar. “Kamu mikirin dosa kita barusan?”

Naira menggigit bibir, menunduk, wajahnya memerah entah karena malu atau penyesalan. “Iya… aku… aku khawatir banget. Aku sholat, aku istighfar, tapi nyatanya barusan aku…” suaranya tercekat.

Rizal tertawa pendek, tapi bukan meremehkan, melainkan menggoda. “Na, kalau semua orang ketahuan dosanya di sana, udah penuh tuh Ka’bah sama aib manusia. Kamu nggak sendirian. Lagi pula…” Rizal menempelkan bibirnya ke telinga Naira, berbisik nakal, “…dosa yang satu ini enak banget, kan?”

Naira menutup wajah dengan telapak tangan, desahan pelan lolos dari bibirnya. “Zal… jangan ngeledek deh. Aku lagi serius.”

“Tapi aku juga serius,” Rizal membalas, jarinya menelusuri perut Naira yang masih hangat, turun pelan ke pinggangnya. “Kamu bisa umroh, minta ampun, bersih lagi. Tapi sekarang? Sekarang aku masih pengen kamu.”

Naira menoleh, matanya campur aduk: marah, malu, tapi juga tersulut api yang belum padam. “Kamu tuh…” desisnya, tapi tubuhnya sudah bereaksi pada sentuhan Rizal.

Rizal mencium keningnya, lalu turun ke pipi, ke bibir. “Na, dosa kita nggak akan hilang cuma dengan takut. Hilangin dengan tobat nanti. Tapi sekarang…” tangannya meremas lembut paha Naira, “kasih aku satu ronde lagi sebelum kamu jadi ‘bersih’ bulan depan.”

Naira memejamkan mata, menahan gejolak di dadanya. Antara rasa takut yang menghantui dan nafsu yang kembali bangkit karena godaan Rizal.

Naira spontan mencubit pinggang Rizal, tapi wajahnya merah. “Jangan ngomong gitu… aku serius, Zal,” bisiknya, matanya berkaca-kaca antara takut dan lelah.

Rizal mencondongkan badan, mencium pelipisnya dengan lembut. “Aku tau kamu serius. Tapi aku juga tau badan kamu nggak bisa bohong. Liat deh…” tangan Rizal merayap perlahan ke pinggul, lalu menyusuri paha dalam Naira yang hanya ditutupi selimut tipis. Ia bisa merasakan kehangatan lembab mulai merembes.

Naira menggeliat, memegang tangan Rizal agar berhenti. “Jangan dulu… aku masih pengen cooling down, Jal. Badan aku masih capek.”

Tapi Rizal justru terkekeh pelan, suaranya rendah dan nakal. “Capek tapi udah basah lagi? Heh… kamu itu kalau ditantang malah tambah panas.” Ia menunduk, mencium bahu Naira, lalu lehernya, pelan-pelan membuat Naira meringis kecil.

“Rizal… jangan, aku serius,” ucap Naira dengan suara bergetar. Tapi justru desahannya semakin tipis saat Rizal tahu persis titik-titik mana yang bikin tubuhnya merespons.

Rizal menahan wajahnya di dekat telinga Naira, berbisik nakal, “Kamu bisa bilang ‘jangan’, tapi memek kamu udah becek lagi.”

Naira menggigit bibirnya kuat-kuat, hatinya masih bergulat dengan rasa bersalah, tapi tubuhnya jelas mulai kalah oleh cara Rizal mempermainkan ritme dan kelembutan sentuhan itu.

Naira masih menggenggam tangan Rizal, mencoba menahan gerakannya. “Aku serius, Jal… jangan terus-terusan kayak gini. Aku takut.” Suaranya lirih, hampir memelas, tapi tubuhnya justru bergetar halus, napasnya mulai tersengal.

Rizal menatap wajahnya lekat-lekat, lalu dengan lembut menyingkirkan rambut yang menempel di pipi Naira. “Takut tapi basah segini? Kamu pikir aku nggak tau?” bisiknya, tangannya dengan sabar menelusuri pahanya, makin lama makin dekat ke pusat basah itu.

Naira menggeliat, kedua pahanya refleks menutup, tapi Rizal sudah lebih dulu menyelip masuk. Sentuhan itu membuat Naira mendesah tertahan. “Ahh… Rizal… aku nggak bisa… jangan…” katanya, tapi genggamannya di lengan Rizal justru mengencang, bukan untuk menolak, melainkan seolah meminta pegangan.

Rizal makin dekat, mencium bibirnya pelan tapi penuh penekanan. Ciuman itu panjang, lembut, tapi sedikit demi sedikit menyalakan lagi api yang tadi baru saja reda. Naira sempat menggumam istighfar di sela ciuman, namun suaranya pecah oleh desahan.

“Lihat kan… kamu selalu becek kalau udah kayak gini,” Rizal berbisik di antara kecupan di lehernya. Jemarinya kini tanpa ragu membelai kelembaban yang sudah tergenang.

Tubuh Naira melengkung, selimut tersibak. “Ya Allah… Rizal… bajingan kamu…” bisiknya, setengah protes, setengah menyerah.

Rizal tersenyum miring, menatap matanya yang basah dan penuh dilema. “Kalau gitu biar aku yang bikin kamu keluar lagi…”

Naira akhirnya melepaskan genggaman menahannya, dadanya naik-turun cepat. Tubuhnya jelas sudah menyerah meski lidahnya masih menyebut nama Tuhan. Ia menarik Rizal lebih dekat, dan detik itu pula semua pertahanan runtuh—ia pasrah kembali menerima tubuh Rizal menenggelamkan dirinya sekali lagi.

Naira menggenggam wajah Rizal, matanya basah menatap penuh campuran galau dan hasrat. Napasnya berat, dada naik-turun cepat. “Rizal… aku… udah ah buruan… masukin aja… please…” suaranya pecah, setengah memohon, setengah menantang dirinya sendiri.

Rizal menatapnya lama, senyum tipis muncul di bibirnya. “Akhirnya keluar juga kata-kata itu,” bisiknya, lalu menunduk kembali mencium bibir Naira dengan rakus.

Kedua kaki Naira refleks membuka, merenggang memberi ruang, tubuhnya bergidik ketika kejantanan Rizal menggesek lembut permukaan kewanitaannya yang sudah basah berkilat. Naira menggeliat, tangannya mencengkeram lengan Rizal erat-erat.

“Ya Allah…” ia beristighfar pelan, tapi sekaligus mendorong pinggulnya ke atas, menyambut.

Rizal hanya terkekeh rendah, lalu dengan satu dorongan mantap, dirinya masuk menembus dalam. Naira terpekik, tubuhnya menegang sesaat, lalu luluh terbenam dalam sensasi penuh yang membuatnya hampir pingsan nikmat.

“Ahhh… Rizal… ya ampun… enak banget…” Naira menjerit lirih, kepalanya menengadah, rambutnya berantakan di bantal.

Rizal menunduk, menciumi lehernya, menyesap kulitnya yang basah oleh keringat. Pinggulnya mulai bergerak perlahan, dalam, menggoda, membuat Naira menggeliat tak karuan.

Setiap dorongan membuatnya meringis sekaligus mendesah panjang. “Pelan… pelan dulu, Jal… aku masih… sensitif…” Tapi tubuhnya justru melengkung ke arah Rizal, kakinya melingkar erat di pinggangnya.

Rizal makin terpancing, jemarinya meremas kasar gunung kembar yang berguncang di bawah tubuhnya. “Kamu suka kan, Nay? Katanya mau cooling down… tapi sekarang malah mintanya lebih…” godanya sambil menggenjot lebih dalam.

Naira hanya bisa menjawab dengan erangan panjang, matanya terpejam, bibirnya menggigit-gigit sendiri, menikmati gelombang kenikmatan yang makin menelan akal sehatnya.

“Ya Allah… aku beneran bisa keluar terus sama kamu, Zal… terusin… pelan-pelan aja…” katanya parau, penuh kepasrahan, tubuhnya kini tak lagi menolak sedikit pun.

Dan Rizal pun menghajarnya habis-habisan, setiap dorongan makin keras, makin dalam, membuat ranjang berderit tak karuan, hingga suara desahan Naira memenuhi kamar hotel itu lagi.

Rizal menarik tubuh Naira, membalik posisinya. Dengan satu tarikan halus tapi tegas, ia menelungkupkan Naira, membuat tubuh molek itu bertumpu di ranjang. Pinggul Naira diangkat, wajahnya menempel pada bantal, bokongnya menonjol sempurna.

“Dari belakang… kamu pasti suka posisi ini,” desis Rizal sambil menepuk pelan pantat Naira.

Naira menoleh sedikit, pipinya merah padam, matanya setengah terpejam, antara malu dan terangsang. “Zal… jangan… aku… aku nggak kuat lagi…” suaranya parau, tapi tubuhnya justru semakin merunduk patuh, menyodorkan dirinya.

Rizal menahan pinggul Naira dengan kedua tangannya, lalu masuk lagi—keras, dalam. Naira berteriak pendek, tangannya mencengkeram seprai kencang. “Ahhh… Rizal! Dalam banget… Ya Allah…”

Gerakan Rizal makin cepat, makin menghajar. Setiap hentakan membuat bokong Naira bergetar, payudaranya berguncang bebas di bawah tubuhnya. Nafasnya memburu, desahannya panjang dan basah.

“Ya ampun… aku… aku mau keluar, Jal… aku nggak kuat…” teriak Naira, tubuhnya gemetar hebat. Gelombang klimaksnya menghantam, membuatnya hampir roboh, lututnya bergetar, vaginanya mencengkram ketat batang Rizal yang terus menghajar tanpa ampun.

Rizal semakin mendesah berat, menahan ledakan. Ia menarik keluar batangnya yang berdenyut keras, menuntun kepala Naira agar menoleh ke belakang.

“Liat aku, Na…” perintahnya rendah.

Dan tepat saat Naira mendongak, Rizal meledak—semburan hangat, kental, liar memuncrat di wajah cantik yang biasa tertutup hijab itu. Naira terkejut, terengah, tapi pasrah menerima, cairan itu membasahi pipi, bibir, hingga dagunya. Simbol telak penaklukan seorang istri soleha yang jatuh dalam pelukan haram.

Rizal menahan nafas, masih mengelus pipi Naira yang belepotan cairannya. Naira menatapnya dengan mata setengah kosong, separuh malu, separuh nikmat.

Lalu, dengan lirih dan patuh, ia menjulur lidahnya, mencumbu batang Rizal yang masih berdenyut, menjilat sisa-sisa cairan hingga bersih, penuh pasrah. Bibirnya menghisap ujungnya lembut, seakan merawatnya, sementara tangannya mengusap perlahan paha Rizal.

“Good girl…” gumam Rizal dengan senyum puas, membelai rambutnya.

Naira menutup mata, masih menjilat pelan, membiarkan sisa-sisa bukti dosa itu hilang di lidahnya, tubuhnya terkulai lemas, pikirannya bercampur aduk antara penyesalan, nikmat, dan candu yang tak bisa ia tolak lagi.

Naira terkulai di dada Rizal, napasnya masih tersengal. Keringat melekat di kulitnya, bercampur dengan aroma ranjang hotel. Rizal menatapnya lama, jemarinya sibuk menggurat lembut di sepanjang lengan dan pinggang Naira, seperti menenangkan sekaligus menegaskan kepemilikannya.

“Kalau tiap kali kita ketemu selalu kayak gini, aku bisa gila sama kamu, Nay…” bisik Rizal di telinganya, sambil mengecup pelan leher yang masih berbekas merah karena gigitan tadi.

Naira hanya memejamkan mata, setengah menahan rasa bersalah, setengah tenggelam dalam hangatnya pelukan. “Aku juga gila, Jal… tapi aku takut. Suamiku ngajak umroh dalam waktu dekat ini. Aku… aku ngeri kalau dosa-dosaku ditunjukin di sana.”

Rizal terkekeh kecil, mengecup dahinya. “Malah di sana doa kamu bisa lebih kenceng. Lagipula…” jari Rizal menyusuri garis rahang Naira, “…dosa ini cuma kamu sama aku yang tahu. Allah Maha Rahman, Maha Pengampun, kan?”

Belum sempat Naira menjawab, HPnya yang tergeletak di nakas berbunyi. Nada dering khas suaminya.

Naira refleks menegakkan tubuh, jantungnya berdegup. Rizal menahan pinggangnya agar tetap di pelukannya. “Angkat aja. Aku diem kok,” ucap Rizal pelan, meski tangannya tetap membelai paha Naira dengan lembut, nakal.

Dengan tangan bergetar, Naira meraih HPnya dan menekan tombol hijau.

“Iya, Mas…” suaranya berubah total—lembut, santun, penuh kasih.

Dari seberang, suara suaminya terdengar hangat. “Sayang, barusan ada pengumuman dari travel. Kita harus suntik meningitis besok pagi, jangan lupa, ya. Biar aman sebelum umroh.”

“Oh, iya, Mas. Insya Allah besok Naira siapin. Makasih udah ingetin,” jawabnya dengan nada penuh bakti.

Rizal di belakangnya tersenyum geli, tangannya masih menyusuri perut bawah Naira. Sesekali dia mencium bahu Naira yang terbuka, seolah sengaja menguji konsentrasinya.

“Yang… jangan lupa juga bawa paspor, katanya diminta waktu mau suntik…” lanjut suaminya.

“Iya, Mas. Nanti Naira siapin semua. Insya Allah beres.” Naira menahan desah ketika Rizal tiba-tiba mengusap halus selangkangannya, tepat saat ia mengucapkan kalimat penuh ketaatan itu.

Dari seberang telepon terdengar senyum suaminya. “Pinter istriku. Ya udah, Mas lanjut kerja dulu, ya. Take care Sayang.”

“Iya, Mas… hati-hati juga. Assalamu’alaikum…” jawab Naira lembut.

“Wa’alaikumussalam.”

Telepon terputus. Naira langsung menutup wajahnya dengan telapak tangan, setengah malu, setengah bergetar. Rizal terkekeh, menarik tangannya.

“Kamu hebat banget, Na. Di telpon ngomongnya kayak istri soleha… padahal di sini terima telepon sambil telanjang dipeluk brondong,” godanya sambil mencium bibir Naira lagi, kali ini lembut, seperti aftercare penuh rasa.

Naira terdiam, hanya bisa memeluk Rizal erat, tubuhnya kembali bergetar bukan karena dosa, tapi karena candu yang tak bisa ia tolak, kemudian dia beranjak bersih-bersih ke kamar mandi.

Naira berdiri di depan wastafel kamar mandi hotel, tubuhnya masih basah oleh air hangat yang baru saja ia guyurkan. Butiran air menetes di sepanjang paha hingga ke ubun-ubunnya yang terbungkus rambut kusut. Tangannya meraih handuk, menutupi tubuh yang baru saja berkali-kali ditaklukkan Rizal.

Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Wajah yang terlihat letih, bibir yang masih bengkak karena ciuman, dan leher yang berbekas merah gigitan. Nafasnya panjang, terdengar lirih istighfar keluar dari bibirnya.

“Ya Allah… apa yang aku lakuin ini…” bisiknya pada diri sendiri, matanya berkaca-kaca.

Pintu kamar mandi tiba-tiba berderit. Rizal masuk dengan hanya berbalut handuk di pinggang, tubuh atletisnya masih berkeringat. Ia tersenyum kecil, seolah tak ada rasa bersalah, hanya ada kelembutan bercampur nafsu yang belum padam.

“Na…” suaranya pelan, hangat, namun tetap mengandung bara. Rizal mendekat perlahan, meraih tangan Naira yang masih gemetar. “Lama amat…? Aku masih pengen lagi.”

Naira mencoba mundur, tapi punggungnya membentur wastafel. Rizal berdiri di hadapannya, menatapnya dalam-dalam. Tangan Rizal meraih handuk Naira yang menutupi tubuhnya, menariknya sedikit hingga bahunya kembali terbuka.

“Jangan… aku lagi bersih bersih,” suara Naira lirih, bergetar antara menolak dan berharap.

Rizal mendekatkan wajahnya, mencium pelipisnya pelan. “Kamu udah bersih, Nay. Justru sekarang aku pengen kamu lebih bersih lagi… tapi di pelukan aku.”

Dengan satu tarikan halus, handuk Naira melorot, jatuh ke lantai marmer. Tubuhnya kembali telanjang, berkilau basah. Rizal menempelkan bibirnya di pundak Naira, lalu turun perlahan ke lehernya. Tangannya melingkari pinggang Naira dari belakang, membawanya ke pelukan yang panas dan mendominasi.

Naira menutup mata rapat, desahan lirih lolos begitu saja. Ia tahu dirinya goyah lagi, tubuhnya bereaksi meskipun hatinya ingin menjauh. Dan ketika Rizal meraba pinggangnya lebih erat, menempelkan kejantanan di punggungnya, Naira akhirnya berbisik dengan suara hampir tak terdengar:

“Jangan lama-lama, Zal… aku takut ga bisa lepas dari kamu.”

Rizal terkekeh kecil, menggigit lembut daun telinganya. “Aku malah pengen bikin kamu ketagihan, Na.”

Uap hangat dari shower memenuhi ruangan kecil itu, membuat kaca cermin berembun. Rizal menekan tubuh Naira ke dinding kamar mandi, dinginnya keramik kontras dengan panas tubuh mereka. Bibir Rizal menempel rakus di bibir Naira, ciumannya dalam, basah, bercampur dengan desahan Naira yang tercekik.

Air mengalir deras dari shower, membasahi rambut dan tubuh mereka. Rambut Naira menempel di pipinya, tetesan air berkilauan di payudara montoknya yang kini diraba, diremas, dan dielus Rizal tanpa henti. Rizal membungkuk, mulutnya langsung menyedot puting Naira, membuatnya melengkungkan punggung menahan sensasi nikmat yang begitu cepat menguasai tubuhnya.

“Rizal… ahh… jangan…udah ah… udah siang ini…” suara Naira terputus oleh desahannya sendiri.

Rizal tidak menjawab, hanya mengulum putingnya lebih keras, lidahnya berputar liar. Tangan kirinya menahan pinggang Naira, sementara tangan kanannya turun, menyusup di antara paha basah itu. Jari-jari Rizal menyentuh kewanitaan Naira, lembut tapi mantap, menggosok dengan ritme yang membuat Naira menggigit bibirnya sendiri.

Tubuh Naira bergetar. Air hangat bercampur dengan cairan kenikmatan yang semakin deras dari dalam dirinya. Ia menggenggam bahu Rizal erat, seakan mencari pegangan agar tidak rubuh.

“Kamuu… tau banget bikin aku nafsu…” lirihnya, matanya setengah terpejam.

Rizal mengangkat wajahnya, menatap Naira dengan tatapan yang membakar. “Biar aku buktiin, Na. Kamu memang buat aku, nggak ada yang lain.”

Dengan satu gerakan cepat, Rizal mengangkat paha Naira, menempelkannya ke pinggangnya. Kejantanan Rizal yang keras menekan kewanitaan Naira, menggesek pelan, membuat Naira mengerang. Tubuhnya sudah basah, bukan hanya karena shower, tapi karena hasrat yang tak terbendung.

Naira menggigit bibir bawahnya, wajahnya merah. “Kamu gila, Zal… kita di kamar mandi, basah semua…”

Rizal menyeringai nakal, menempelkan bibirnya ke telinga Naira sambil berbisik kasar namun mesra:

“Justru itu yang bikin makin panas, Na.”

Dan tanpa memberi kesempatan, Rizal mendorong pinggulnya, menekan kejantanan itu masuk perlahan, membuat Naira melengkungkan tubuh ke dinding, mulutnya terbuka melepaskan desahan panjang bercampur aliran air shower yang masih terus jatuh deras di atas mereka.

Air shower jatuh deras membasahi tubuh mereka, menciptakan irama alami yang bercampur dengan desahan panjang Naira. Tubuhnya menempel ke dinding, sementara Rizal menahan pinggulnya dengan kedua tangan, mendorong dan menarik dengan ritme semakin cepat.

“Rizal… ahh… keras banget… pelan dulu…,” suara Naira lirih, namun tubuhnya justru melingkar erat di pinggang Rizal, kedua kakinya terangkat, membuat keduanya semakin lengket dalam irama liar.

Tubuh Rizal basah kuyup, otot-ototnya menegang setiap kali ia menghentakkan pinggul. Desahannya berat, napasnya panas bercampur uap kamar mandi. “Memek kamu… sempit banget, Nay… bikin aku pengen lagi dan lagi.”

Naira menggeliat, kepalanya menengadah ke belakang, air mengalir deras di wajah dan lehernya, bercampur dengan peluh dan ciuman liar Rizal yang sesekali turun ke dadanya. Putingnya digigit lembut, membuatnya menjerit kecil. “Ahhh… Rizal… jangan gigit… ohh… iya… terusin…”

Rizal makin beringas, hentakan pinggulnya memantul di dinding, menimbulkan bunyi berulang yang menggema. “Kamu suka, kan? Kamu suka aku habisin kamu di sini?”

Naira hanya bisa menjawab dengan erangan panjang, tubuhnya bergetar hebat menahan gelombang kenikmatan. Tangannya mencengkeram rambut Rizal, menariknya ke ciuman panas, lidah mereka saling melilit, ludah bercampur dengan air yang mengalir deras.

Rizal lalu memutar tubuh Naira, menekannya dengan posisi berdiri membelakangi dinding. Dari belakang ia menindih, kedua tangannya meremas payudara Naira kasar namun tetap menggoda, sementara pinggulnya terus menghantam tanpa jeda.

“Ya Allah… gila… gila kamu, Zal… aarrhhhhhh!” teriak Naira, suaranya menggema di ruang sempit itu.

Air yang jatuh dari shower semakin membuat setiap gesekan licin, intens, dan tak tertahankan. Desahan Rizal semakin berat, hentakannya semakin dalam. Naira hampir tak sanggup berdiri, tubuhnya hanya ditopang oleh Rizal yang semakin kuat menekannya dari belakang.

Sampai akhirnya, dengan hentakan keras terakhir, Naira menjerit panjang, tubuhnya bergetar, mencapai puncak kenikmatan di bawah guyuran air. Rizal menyusul sesaat kemudian, mendorong lebih dalam sambil mendesah kasar, lalu melepaskan ledakan gairahnya yang hangat, menyatu di dalam tubuh Naira.

Mereka berdua terkulai lemas, masih berdiri saling berpelukan di bawah shower, napas terengah, desahan mereka bergema bercampur suara air yang terus jatuh deras.

Air shower terus mengguyur tubuh mereka, membuat setiap sentuhan terasa lebih panas. Naira menempel ke dinding keramik yang dingin, kontras dengan panas tubuh Rizal yang mendesaknya dari belakang. Suara cipratan air bercampur dengan desahan mereka, menggema dan memantul di ruangan sempit itu.

Rizal mencengkeram pinggang Naira erat, menuntunnya semakin dalam pada setiap hentakan. Rambut Naira basah menempel di wajahnya, sementara bibirnya tak henti-henti mengeluarkan desahan panjang yang lirih namun menggoda. Sesekali Rizal menarik kepalanya ke belakang, menindih leher Naira dengan kecupan basah yang membuat tubuhnya bergetar.

Naira mencoba menahan, tapi tubuhnya berkhianat—lututnya goyah, tangannya menempel ke dinding kamar mandi, jari-jarinya mencakar licin keramik setiap kali gelombang kenikmatan menghantam. “Zaal…enaak… mentook…” desahnya setengah merintih.

Air terus mengalir deras, seakan menutupi suara mereka, tapi gema desahan tetap jelas, liar, dan penuh gairah. Rizal menunduk, bibirnya menggigit pundak Naira, sementara hentakan makin tak terkendali. Naira hampir tak sanggup berdiri, tubuhnya sepenuhnya menyerah pada ritme Rizal yang menggila.

Saat klimaks mendekat, Naira mendesah panjang, menggigit bibirnya, tubuhnya bergetar hebat, basah oleh air dan keringat bercampur. Rizal menghentak lebih cepat, lebih keras, sampai akhirnya melepaskan diri dalam desahan tertahan, mencengkeram pinggang Naira seolah tak ingin melepaskan.

Mereka terkulai di bawah guyuran shower, napas saling bertabrakan. Tubuh Naira melekat pada Rizal, dadanya naik turun cepat, sementara Rizal merapatkan pelukannya, menahan agar tubuh Naira yang lemas tidak jatuh.

Air terus mengalir, menutupi jejak, tapi tidak bisa menghapus panas dan jejak dosa yang baru saja mereka ulangi dengan liar.

Naira bersandar lemah di dada Rizal, masih di bawah shower. Air yang terus mengalir menenangkan, tapi juga membuat mereka tersadar—waktu terus berjalan. Rizal mengusap lembut wajah Naira yang basah, lalu mengecup keningnya.

“Capek banget ya?” bisiknya sambil tersenyum.

Naira mengangguk, matanya setengah terpejam. “Kamu kebangetan, Zal…” ucapnya lirih, namun terselip senyum malu yang justru menunjukkan ia menikmati semuanya.

Rizal terkekeh pelan, “Tapi kamu nggak nolak, malah makin nakal.”

Naira mendorong dada Rizal sedikit, pura-pura cemberut. Mereka kemudian membersihkan diri bersama, menyabuni tubuh masing-masing, namun kali ini tanpa gairah—lebih ke belaian mesra yang membuat Naira merasa seakan dilindungi.

Beberapa menit kemudian, mereka keluar kamar mandi.

Setelahnya mereka saling bantu mengenakan pakaian. Naira menarik rok panjangnya, mengancingkan blus satu per satu, sementara Rizal sibuk merapikan kemejanya yang sempat kusut.

Naira mengenakan kembali kemejanya dengan rapi, jilbabnya ia rapikan pelan di depan cermin. Rizal membantu menata sedikit, bahkan merapikan kerudungnya sambil menatapnya penuh rasa memiliki.

“Udah rapi lagi, kayak nggak ada apa-apa barusan,” gumam Rizal sambil tersenyum nakal.

“Ya emang harus gitu. Kalau sampai ketahuan? Bahaya banget, Zal.” jawab Naira, sedikit menatap tajam tapi matanya jelas menyimpan rasa puas.

Setelah memastikan tidak ada yang mencurigakan, mereka meninggalkan kamar hotel. Rizal menuntun Naira masuk ke mobilnya terlebih dahulu. Mesin dinyalakan, garasi otomatis terbuka, dan mobil perlahan meluncur keluar.

Tanpa sepengetahuan Naira, di perjalanan Rizal sempat mengirim pesan singkat ke Angga. “Bro, coba tebak gue lagi sama siapa di hotel transit? Naira..” Pesan itu disertai emoji nakal.

Naira tidak tahu apa-apa. Ia hanya sibuk menata kembali hijabnya lewat kaca spion sambil memastikan riasannya tidak terlalu kacau.

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *