Jejak Rahasia Naira – Part 19

Begitu sampai di pelataran parkir kecil tak jauh dari tempatnya meninggalkan mobil, Rizal memberhentikan kendaraan.

“Thanks ya, aku turun sini aja.” Naira membuka pintu dengan cepat, ingin segera berganti suasana.

Rizal menoleh, menatap Naira dalam-dalam. “Kalau aku kangen lagi… kamu mau ketemu aku lagi, kan?” tanyanya setengah serius.

Naira sempat terdiam, lalu menunduk. “Jangan sering-sering, Zal. Aku takut…” suaranya lirih, tapi tangannya masih menggenggam erat tangan Rizal.

Dengan berat hati, Naira membuka pintu dan turun dari mobil. Baru saja ia hendak melangkah menuju mobilnya,
Tapi langkahnya langsung tercekat.

Di depan mobilnya, Angga berdiri bersandar di kap mobilnya dengan wajah yang jelas menyimpan tawa sinis, seakan sudah menunggu momen itu.

“Naira?” suaranya berat, setengah mengejek.

Naira tercekat melihat Angga berdiri di depan mobilnya. Ia buru-buru menegakkan badan, menahan napas, lalu memaksakan senyum seolah tak terjadi apa-apa.

“Eh… Angga? Kok bisa di sini?” tanyanya dengan suara yang sedikit bergetar, meski ia berusaha terdengar santai.

Angga melangkah pelan mendekat, senyum sinis tak lepas dari wajahnya. “Aku juga pengen nanya hal yang sama, Say. Kamu barusan turun dari mobil siapa tuh?” Pandangannya jelas tertuju pada mobil Rizal yang baru saja melaju pergi.

Naira cepat-cepat membuka pintu mobilnya, mencoba mengalihkan. “Udah sore, aku mau pulang. Kita ngobrol lain kali aja ya.”

Tapi sebelum ia sempat masuk dan menutup pintu, Angga sudah lebih dulu menyelinap masuk ke kursi penumpang.

“Bentar, jangan buru-buru gitu,” katanya sambil menutup pintu dengan tenang.

Naira menoleh dengan wajah tegang. “Angga, please… jangan bikin ribet. Aku capek, mau pulang.”

Angga menatap lurus ke arahnya, nadanya pelan tapi menusuk.
“Aku nggak sengaja tadi lihat mobil Rizal keluar dari hotel transit itu. Aku penasaran, jadi aku ikutin… dan ternyata aku malah lihat kamu turun dari mobilnya.”

Jantung Naira berdegup kencang, tangannya yang memegang setir terasa dingin. Ia mencoba menahan ekspresi panik, menarik napas panjang sebelum menjawab.

“Kamu salah lihat, Angga. Jangan suudzon. Aku cuma… numpang nebeng. Kebetulan aja.” Suaranya berusaha tenang, tapi jelas terdengar dipaksakan.

Angga tersenyum miring, mendekat sedikit ke arahnya. “Nebeng? Dari hotel transit?”

Naira terdiam. Lidahnya kelu, wajahnya memanas.

Naira menggertakkan giginya, mencoba tegar meski jelas wajahnya memanas.
“Aku udah bilang, jangan suudzon, Angga. Jangan bikin cerita yang aneh-aneh!”

Angga malah terkekeh kecil, menatapnya tajam dari samping.
“Ah, Say… kamu pikir aku nggak kenal kamu? Dulu waktu kuliah S2… aku tahu banget liarnya kamu. Kita sering main bareng kan, dan aku tahu betul gimana gampangnya kamu ke-trigger. Sedikit aja digrepe, udah sange. Kamu tuh ibarat api, nggak gampang padam sebelum… ya, kamu tau lah.”

Wajah Naira makin pucat, matanya membelalak.
“Angga! Jangan ngomong ngawur—”

Tapi Angga langsung memotong dengan nada lebih dingin.
“Dan aku juga tahu Rizal. Bujangan penuh pesona, penakluk wanita. Percaya deh, nggak ada cewek yang deket sama dia yang nggak ditiduri. Jadi wajar kalau aku langsung kepikiran… ternyata kamu masih sama aja, Say. Masih liar.”

Naira tercekat, jantungnya serasa mau pecah. Angga tersenyum puas, lalu menepuk pelan pahanya sendiri sebelum membuka pintu mobil.
“Udah ah, aku nggak mau ganggu lagi. Kamu hati-hati aja… jangan sampe kebongkar ke orang lain.”

Ia keluar santai, meninggalkan Naira yang duduk kaku dengan wajah panas campur malu.

Tapi sebelum Angga sempat menutup pintu sepenuhnya, Naira buru-buru menahan dengan nada tinggi.
“Eh tunggu, Say! Kalau kamu bisa ada di situ… jangan-jangan kamu juga lagi cek in di hotel itu kan?”

Angga berhenti, menoleh sambil menaikkan sebelah alis.
“Gimana maksudnya?”

Naira menatapnya tajam, mencoba balik menyerang meski suaranya masih sedikit bergetar.
“Ya iyalah. Kamu bilang kebetulan liat mobil Rizal keluar. Tapi kok bisa pas banget, ngikutin sampai sini? Jangan-jangan kamu juga lagi transit di situ. Coba jujur, Say. Siapa cewek yang kamu bawa ke hotel sore-sore gitu?”

Angga sempat terdiam sepersekian detik, lalu tersenyum tipis—tapi matanya jelas berkilat.
“Hmm… pinter juga kamu muter balik tuduhan.”

Naira bersedekap, mencoba menunjukkan sikap tegas walau detak jantungnya masih kacau.
“Aku tanya serius, Angga. Jangan sok-sok nuduh aku doang. Kamu sendiri ngapain di hotel itu?”

Suasana di antara mereka mendadak tegang, seperti dua orang yang saling mengunci rahasia mas

Angga menutup pintu mobil lagi, kali ini tidak jadi keluar. Ia malah kembali duduk, mencondongkan badan ke arah Naira dengan senyum miring yang bikin darah Naira makin panas.

“Hmm… kamu balik nuduh aku ya,” ucapnya pelan sambil menatap lekat. “Tapi jujur aja, Na… aku malah penasaran satu hal.”

Naira menelan ludah, wajahnya memerah. “Apa lagi sih?”

Angga menurunkan suaranya, nyaris seperti bisikan.
“Kamu sama Rizal… tadi main berapa rit? Trus udah berapa kali main sama dia? Baru sekali? Atau sering?”

Naira langsung membelalak. “Angga! Ngacoo…..!”

Tapi Angga bukannya berhenti, malah makin menjadi-jadi. Ia tertawa pendek, lalu menatapnya nakal.
“Ya aku penasaran lah. Aku tahu Rizal itu jago bikin cewek klepek-klepek. Katanya sih mainnya enak banget. Jadi aku kepikiran… kamu ngerasain juga nggak? Enak nggak dia bikin kamu desah-desah?”

“Udaah, Say..!” Naira mencoba menghardik, tapi suaranya gemetar, terdengar lebih seperti orang yang defensif ketimbang berani.

Angga makin mendekat, wajahnya hanya beberapa jengkal dari Naira. “Say… aku masih inget banget dulu kamu gampang sange kalau digrepe. Sekarang aku lihat tatapanmu, sama aja kayak dulu. Jangan bohong. Pasti tadi kamu puas banget sama Rizal, kan?”

Naira menoleh ke arah jendela, mencoba menutupi wajah yang panas dan napas yang mulai tak teratur. Tangannya menggenggam erat setir, berusaha keras menahan diri.

Angga terkekeh lagi, lalu bersandar santai. “Heh… ternyata kamu nggak berubah. Masih gampang dibaca. Masih liar.”

Naira memejamkan mata, giginya bergemeletuk menahan emosi.
“Udah sore, Say. Keluar gih, ku mau pulang!”

Tapi Angga justru diam sebentar, lalu tersenyum lebar, seolah menikmati bagaimana Naira panik tapi juga goyah.

“Angga, aku serius. Turun sekarang!” suara Naira terdengar setengah bergetar, matanya menatap tajam tapi jelas ada kegugupan di baliknya.

Angga bukannya bergerak turun, malah makin condong ke arahnya. Tangannya sengaja menyentuh ringan lengan Naira, hanya sekelebat tapi cukup bikin Naira kaget.

“Heh, Say…” bisiknya rendah. “Aku jadi kepikiran. Kalau Rizal bisa make kamu, kenapa aku nggak lagi? Dulu kita sering, kan. Aku kangen ngerasain memew kamu.”

Naira menoleh cepat, pipinya panas, tapi bibirnya melengkung nakal. “Ih… pede amat. Emang kamu masih kuat? Bukannya baru aja cek in sama cewek lain?”

Angga tertawa kecil, tatapannya penuh tantangan. “Masih lah. Kamu lupa dulu aku yang paling bisa ngimbangin liarnya kamu?”

Naira mendengus, pura-pura merapikan hijabnya. “Hmm… sombong. Lagian, siapa juga yang bilang aku mau lagi sama kamu.” Tapi matanya melirik sekilas, dengan tatapan centil penuh kode.

Suasana di dalam mobil jadi panas, tapi juga absurd—ada ketegangan bercampur kenangan lama, ditambah gaya Naira yang berusaha jaim padahal jelas goyah.

Akhirnya Angga menarik napas panjang, seolah menahan diri. Ia meraih handle pintu. “Ya udah, aku cabut dulu. Tapi inget, Say… aku masih penasaran.”

Sebelum turun, Angga mencondongkan wajah, berniat mengecup pipi Naira sekilas. Naira refleks menoleh hendak protes, tapi justru bibir mereka saling bertemu. Kecupan singkat itu membuat keduanya sama-sama terdiam sepersekian detik.

Naira buru-buru menjauh, wajahnya merah padam, tapi bibirnya tersenyum genit. “Ih… dasar bandel! Sok-sokan, tau!”

Angga hanya terkekeh, lalu benar-benar turun sambil menutup pintu. “Hehe… hati-hati pulang, Say. Jangan nakal banget.”

Naira menggeleng, menepuk pipinya sendiri, separuh kesal tapi juga geli. “Ya Allah, gila tuh orang…” gumamnya, tapi di sudut bibirnya senyum nakal masih menggantung.

Siang itu Naira menekan nomor Rizal. Suaranya terdengar agak ragu, tapi tetap lembut.
“Zal… aku bisa ketemu bentar? Aku mau pamit, lusa aku berangkat umroh,” ucapnya.

Rizal terdiam sebentar sebelum menjawab, “Serius Teh? Ya ampun… tentu aja. Kamu di mana sekarang?”

Mereka sepakat bertemu di sebuah mall dekat kantor Rizal. Saat berhadapan, tatapan Naira terasa dalam. Wajahnya bercampur senyum, rindu, dan ada sisa-sisa kegelisahan.

“Aku cuma pengen minta doa, Zal. Siapa tahu… ini terakhir kita ketemu,” kata Naira sambil memainkan ujung hijabnya.

Rizal menatapnya lekat, lalu meraih tangannya di atas meja. “Teh… jangan ngomong gitu. Kamu tau, aku nggak siap kalau terakhir kali harus kayak gini.”

Naira menggigit bibir, lalu menunduk. Ia menambahkan, “Kemarin… ada yang liat mobil kamu keluar hotel. Trus dia ikutin sampe aku keluar dari mobil. Dia kaget banget liat aku sama kamu. Namanya Angga. Dia teman S2 aku dulu, sempat deket juga sebelum aku nikah.”

Rizal menyipitkan mata. “Angga? Yang di club motor itu? Aku kenal… tapi nggak terlalu deket. Emang dia ngomong apa ke kamu?”

“Dia cerita… katanya kamu si penakluk wanita,” Naira menghela napas. “Jujur aku agak cemburu. Apa bener, Zal?”

Rizal terkekeh, pura-pura santai. “Kamu dulu sama dia? Atau jangan-jangan kamu masih ada rasa?”

Naira cepat menggeleng, “Nggak, Zal. Dulu iya, sebelum aku nikah. Tapi sekarang? Kamu tau jawabannya.”

Rizal mendekat sedikit, suaranya lebih rendah, “Teh… kamu cemburu ya? Jujur aja.”

Naira tersipu, tapi tak menyangkal. Saat itulah tangan Rizal mulai nakal merambat ke pahanya di balik rok, membuat Naira kaget dan refleks menepis pelan, “Zal… jangan di sini. Ini coffee shop, tar diliat orang.”

Tapi Rizal makin berani, tangannya menyelinap naik, sementara kakinya meraba betis Naira dari bawah meja. Ia bahkan sempat meremas lembut bagian dadanya dari samping, membuat Naira berdesir. Bibirnya bergetar, “Zal… plisss, jangan di sini.”

Rizal tersenyum, lalu berbisik, “Kalau gitu… ayo kita pindah. Di sebelah ada karaoke.”


Begitu pintu ruangan karaoke tertutup, Rizal langsung menarik tubuh Naira ke pelukannya. Bibir mereka bertemu panas, tanpa ada basa-basi. Naira meringis manja, suaranya terputus-putus di sela kecupan, “Zal… aku cuma mau pamit… kenapa jadi kayak gini…”

“Karena aku nggak bisa lepasin kamu, Teh…” Rizal menjawab, lalu bibirnya turun ke leher Naira, menggigit kecil di balik hijabnya.

Naira mendesah, “Hhh… sayang…” tanpa sadar panggilannya berubah. Tangan Rizal sudah melucuti hijabnya perlahan, membuka kancing bajunya satu per satu. Di saat yang sama, Naira menurunkan ritsleting celana Rizal, lalu mengeluarkan batangnya yang sudah tegang keras.

“Na… kamu bikin aku gila,” desah Rizal.

Naira tersenyum nakal, lalu berlutut di depan Rizal. “Aku pengen kasih kamu kenangan terakhir…” katanya lirih. Lalu bibirnya menyambut ujung kepala itu, lidahnya menjilat pelan, membuat Rizal mendengus panjang.

“Ya Allah, Beb… hh…” Rizal meremas rambutnya, matanya nyaris terpejam.

Naira tidak berhenti. Ia memainkan bibirnya, mengisap kuat, lidahnya melingkari ujung kepala itu, lalu menelan makin dalam, membuat Rizal menegang. Suara slurp lembut terdengar, menambah panas suasana.

Sambil Naira asyik, Rizal menunduk, tangannya melucuti celana dalam Naira dari balik roknya. Ia menariknya turun hingga terlepas, lalu tangannya langsung menyusup ke kewanitaan yang sudah basah.

“Sayang… jangan… hhh…” Naira merintih di sela isapannya, tapi tubuhnya justru menegang menerima sentuhan itu.

Rizal makin gila, jemarinya mengusap licin di sana, sementara batangnya masih penuh dalam mulut Naira. Tubuh mereka bergetar dalam ritme panas.

Desahan Naira makin jelas terdengar ketika Rizal sudah melucuti celana dalamnya. Tubuhnya bergetar, roknya sudah tersingkap tinggi. Jari Rizal menyusup lembut, mengusap area paling basah yang membuat Naira terlonjak kecil.

“Zal… hh… jangan…,” bisiknya dengan suara parau.

Rizal tersenyum tipis, lalu menunduk menyedot kencang putingnya di balik bra, membuat Naira mendesah lebih keras. “Na… kamu udah sange ya?” godanya.

Belum sempat Naira menjawab, terdengar tok tok tok dari arah pintu. “Permisi, Pak… Bu… kalau butuh minuman tambahannya boleh pencet bel, ya.” Suara waiters karaoke terdengar hati-hati, tapi jelas membuat keduanya terkejut.

Naira spontan menutup mulutnya dengan tangan, wajahnya merah padam. Nafasnya masih memburu, tubuhnya bergetar, dan tatapannya penuh nafsu yang tak tersalurkan. Begitu langkah waiters menjauh, Naira langsung menatap Rizal dengan mata berbinar basah.

“Zal… kita keluar. Aku nggak tahan kalau diganggu lagi… cari tempat yang lebih aman aja ya,” ujarnya setengah memohon, setengah memerintah.

Rizal tersenyum nakal, meraih tangannya. “Na, kamu beneran serius?”

“Aku udah nggak pakai cd, Zal…” bisik Naira, membuat Rizal terdiam sejenak lalu tertawa kecil.

Mereka bergegas keluar dari ruangan karaoke, menahan agar wajah tetap tenang meski jantung berdegup kencang. Di parkiran, mereka sempat mencoba masuk ke mobil Naira. Rizal sudah mencium lehernya lagi, tangannya kembali nakal menyelinap. Tapi baru sebentar, seorang satpam melintas, menyorotkan senter kecil ke arah mobil.

“Anjir…,” Rizal mendesis, buru-buru menyingkirkan tangannya.

Naira menggenggam lengan Rizal, nafasnya panas. “Zal… jangan di sini. Kita ke hotel aja. Yang aman. Aku nggak pedulibiar bebas…”

Mata Rizal membara mendengar pengakuan itu. Tanpa banyak kata, ia langsung mengarahkan mobil ke sebuah hotel transit dengan garasi tertutup di tiap kamarnya.

Begitu garasi menutup rapat, mereka berdua sudah tak sabar lagi. Rizal menarik tubuh Naira, menciumnya rakus di kursi depan. Tangannya kembali menyusup ke bawah roknya, dan kali ini Naira tidak lagi menahan.

“Sayang… aku udah nggak bisa nahan…” desah Naira, sambil meremas bahu Rizal.

Rizal mengangkatnya, membawanya masuk ke kamar. Begitu pintu tertutup, mereka langsung kembali tenggelam dalam percumbuan panas yang jauh lebih liar dari sebelumnya.

Begitu pintu kamar tertutup, Rizal langsung mendorong tubuh Naira ke dinding. Bibir mereka bertemu rakus, saling melumat tanpa jeda. Nafas Naira tersengal, suaranya pecah di sela kecupan, “Zal… aku udah nggak kuat… tolong jangan berhenti.”

Rizal menyingkap hijabnya, melepaskan satu per satu kancing bajunya. Bra Naira terlepas, membuat payudara montok itu langsung menjadi sasaran bibirnya. Rizal menyedot, menggigit kecil, lidahnya berputar di puncak mungil itu.

“Sayanggg… ahhh…,” Naira mendesah, tangannya meremas rambut Rizal, kepalanya terhempas ke dinding.

Jari Rizal sudah menyusup ke celah kewanitaannya yang sejak tadi sudah basah. Ia mengusap pelan lalu menusuk dua jarinya masuk, membuat Naira melengkungkan tubuhnya dengan rintihan panjang.

“Na… licin banget kamu… kamu uda banget dimasukin,” bisiknya.

Naira menggigit bibir, wajahnya memerah. “Bacot kamu ah… masukin sekarang… aku butuh, Zal…”

Rizal menariknya ke ranjang. Naira dibaringkan, roknya disingkap tinggi, ditarik ke atas hingga lepas dari tubuh naira. Rizal membuka celana, batangnya yang tegang keras langsung menekan di antara paha Naira. Dengan satu dorongan, ia masuk penuh.

“Uuggggghhh… aaaaahhh!” Naira menjerit tertahan, tubuhnya bergetar menerima tusukan itu. Rizal menahan sesaat, lalu mulai bergerak dengan ritme lambat tapi dalam.

“Beb… sempit banget… rasanya gila…” Rizal mendesah di telinganya.

Naira melingkarkan kakinya ke pinggang Rizal, menarik tubuhnya lebih rapat. “Hhh… lebih dalam sayang… pentokin sayang…” suaranya pecah penuh nafsu.

Rizal mempercepat gerakannya. Tubuh mereka berbenturan, bunyi basah terdengar jelas dari gesekan kulit dan cairan yang sudah tumpah ruah. Plak…plak…plak….suara paha beradu, Nafas mereka berat, ruangan bergema oleh desahan dan erangan panas.

“Beb… aku nggak tahan lama lagi…” Rizal mendesis.

Naira menggeleng, menggenggam punggungnya erat. “terusin, sayang… aku juga mau sampe…”

Rizal makin menggila. Dorongannya cepat, keras, dalam, hingga akhirnya tubuhnya menegang kuat.

“Aahhh beb… aku keluar…dalemmh yaa!”

“Ya… ya…gpp… aku juga keluar sayaaanghh… hhhnnn!”

Tubuh mereka sama-sama meledak. Rizal menyemburkan benih hangatnya dalam-dalam, sementara Naira melengkung dengan jeritan tertahan, klimaks menghantamnya sampai kakinya bergetar hebat.

Beberapa detik mereka terdiam, hanya suara napas berat yang terdengar. Rizal jatuh menindih Naira, masih di dalamnya, keringat mereka bercampur. Naira memeluknya erat, suaranya bergetar namun penuh kenikmatan.

“Zal… kalau ini terakhir… aku nggak akan pernah lupa rasanya.”

Rizal mengecup bibirnya dalam, menatap matanya penuh emosi. “Na… jangan bilang terakhir. Aku nggak rela kehilangan kamu.”

Tubuh mereka masih terjerembab di ranjang hotel transit itu. Nafas terengah, keringat membasahi, Rizal masih setengah menindih Naira dengan batangnya yang masih setengah tegang tertinggal di dalam. Naira mengusap punggung Rizal pelan, seperti tak rela momen itu berakhir.

“Zal…” suaranya lembut, tapi matanya menyimpan resah. “Aku masih kepikiran omongan Angga. Dia bilang kamu si penakluk wanita. Itu maksudnya apa?”

Rizal terkekeh, menegakkan tubuhnya lalu menatap wajah Naira dengan sorot nakal. “Na… masa kamu percaya omongan dia? Lagian aku malah penasaran… kamu sama Angga dulu deketnya sampai sejauh apa? Temenan aja? Atau lebih?”

Naira memalingkan wajah, pura-pura cemberut. “Cuma temen S2, ya pernah deket dikit, sebelum aku nikah.”

Rizal tidak melepaskan tatapan. Tangannya usil mencubit pinggang Naira. “Angga yang keliatan alim itu? Hhh… jangan-jangan mainnya kuat juga? Kamu pernah nyobain? Atau kamu malah nyesel ninggalin dia?”

Naira menepis dadanya, pura-pura kesal. “Ih, kamu tuh! Ngapain nanyain begituan. Aku beneran marah loh, Zal.” Tapi di matanya jelas terlihat cemburu, terutama karena ia sendiri menyimpan rasa curiga kalau Rizal memang punya banyak pengalaman dengan perempuan lain.

Saat Naira hendak bangun, menarik sprei untuk menutupi tubuhnya, Rizal cepat menarik pinggangnya kembali, mendesah nakal di telinganya. “Beb… mau ke mana? Aku masih pengen kamu.”

Ia langsung turun mencumbu lagi, kali ini ke arah kewanitaan Naira. Jari-jari rizal mengelus vagina naira yang masih terasa lengket dan lembab dan kemudian bibirnya menyapu area sensitif itu tanpa ragu.

“Zal… dasar jorok… di situ masih kotor, masih ada sperma kamu…” Naira menyeringai, menutup wajahnya dengan lengan.

Rizal justru terkekeh, semakin bernafsu. “Justru itu yang bikin aku nafsu, beb…” gumamnya sambil terus mengisap lembut di sana. “Memek binor alim tapi doyan dipejuhi perjaka, enak ya beb…?”

Naira menggeliat, tubuhnya menegang lagi. Ia mencoba menahan, tapi desahannya pecah juga. “Hhh… sayang… kamu yang bikin aku gila…”

Ronde kedua pun tak terelakkan. Kali ini Naira mendorong tubuh Rizal hingga terbaring, lalu naik ke atasnya. Rambutnya terurai, tubuhnya bergerak liar di atas batang Rizal yang kembali keras.

“Sekarang giliranku say…” bisiknya dengan senyum penuh kuasa.

Rizal terpejam, meremas paha Naira erat. “Ya Allah Beb… kamu gila banget… enaknya… ahhh!”

Naira menunggang dengan ritme cepat, tubuhnya bergoyang penuh kontrol. Desahannya makin liar, setiap hentakan membuat tubuh Rizal bergetar di bawahnya.

Mereka berdua terhanyut lagi dalam gelombang hasrat, kali ini dengan Naira sebagai pengendali penuh—mendominasi, menuntun, dan membuat Rizal kehilangan kendali sama sekali.

Nafas Naira terengah saat duduk di samping Rizal yang masih twerbaring habis menjilati vaginanya. Matanya menyapu batang yang mulai kembali mengeras. Dengan senyum nakal, tangannya turun perlahan, menggenggam kejantanan itu.

“Zal… kamu masih keras aja. Gila, kayak nggak ada habisnya,” bisiknya, matanya menatap tajam penuh gairah.

Ia mulai mengelus pelan, lalu mengencangkan genggamannya, naik-turun dengan ritme menggoda. Rizal mengerang, “Beb… hhh… kamu bikin aku sange terus…”

Naira menunduk, lidahnya sesekali menyapu kepala penis itu, lalu kembali bermain dengan tangannya. Rizal memejam, tubuhnya bergetar menahan nikmat.

Setelah puas menggoda, Naira naik ke atasnya, menunggangi dengan gerakan perlahan tapi dalam. “Sayang….kamu nikmati aja ya,” suaranya bergetar penuh kuasa.

Rizal hanya bisa meremas pahanya erat, matanya nyaris terbalik merasakan himpitan hangat yang menelan habis dirinya. “Beb… ketat banget… gila…”

Naira menggoyangkan pinggulnya maju mundur, lalu berputar, tubuhnya melengkung sensual. Desahannya menggema, “Hhh… Zal… aku suka banget kayak gini… lihat kamu pasrah di bawah aku.”

Rizal menggertakkan gigi, tubuhnya makin liar tapi ia benar-benar dalam kendali Naira. “Beb… aku… aku udah mau keluar lagi…”

Naira justru mempercepat ritme, hentakannya keras, basah, bunyinya bergema di kamar. Rambutnya terurai berantakan, peluh menetes di dada, matanya membara menatap Rizal.

“Keluar di dalem lagi… sayang… kasih aku semua…”

Dorongan terakhir membuat tubuh mereka sama-sama menegang. Rizal meledak, menyemburkan benih hangatnya sekali lagi. Naira menjerit tertahan, tubuhnya melengkung hebat, klimaks menghantamnya sampai gemetar.

Mereka jatuh terkulai, Naira masih di atas, tubuhnya menempel basah di dada Rizal. Nafas keduanya berat, jantung berpacu tak beraturan.

Dalam keheningan, Naira membaringkan kepala di dada Rizal, suaranya lirih. “Zal… kalau ini bener-bener terakhir kita ketemu… aku nggak akan pernah lupa. Kamu udah kasih aku sesuatu yang nggak bisa dibandingin sama siapa pun.”

Rizal membelai rambutnya, mencium keningnya lembut. “Na… jangan ngomong terakhir. Aku nggak rela. Kamu bagian dari hidup aku sekarang.”

Mata Naira berkaca-kaca, namun ia tersenyum kecil. “Lusa aku berangkat… aku harus fokus. Tapi bagian ini, bagian kita, aku simpan baik-baik. Doain aku, ya.”

Rizal memeluknya erat, matanya ikut basah. “Aku doain kamu lancar, Na… tapi aku juga doain kita masih bisa ketemu lagi setelah kamu pulang.”

Mereka berdiam lama dalam pelukan, tubuh masih menempel, keringat bercampur, tapi hati mereka bergetar oleh sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar nafsu.

Begitu usai ronde panas mereka yang kedua, tubuh Naira masih menempel di dada Rizal, keringat bercampur aroma tubuh yang masih segar. Nafasnya masih memburu, namun kali ini ada jeda tenang yang terasa lebih emosional daripada sekadar aftercare biasa.

Naira menggeliat pelan, lalu berbalik menatap wajah Rizal sambil mengusap pipinya. Senyumnya tipis, tapi matanya menyimpan banyak rasa.
“Rizal…” suaranya agak serak. “Aku harus pamit. Lusa aku berangkat umroh… setelah itu, ikut suami keliling Eropa hampir sebulan. Jadi… mungkin lama banget baru balik Indonesia.”

Rizal diam sebentar, menatap dalam-dalam seolah tak rela melepasnya.
“Terus… kalau udah pulang?” tanyanya lirih.

Naira menarik napas panjang, jemarinya bermain di dada Rizal. “Kalau aku balik nanti… mungkin aku udah beda, Zal. Bisa jadi aku udah bener-bener insyaf. Udah ninggalin semua ini, ninggalin maksiat. Jadi kalaupun kita ketemu lagi… jangan berharap akan ada hal-hal kayak gini lagi.”

Ia tersenyum getir, lalu menyandarkan dahinya di bahu Rizal.
“Tapi… aku tetep pengen kamu inget aku. Ingat semua detik yang pernah kita lewatin. Jangan nakal selama aku pergi, ya…” suaranya melembut, hampir seperti istri yang menasehati suami.

Rizal terkekeh, mencoba menyembunyikan rasa getirnya. “Nakal gimana maksudnya?”

Naira mencubit pinggangnya manja, lalu berbisik nakal di telinganya.
“Titit kamu itu… dijaga baik-baik. Jangan liar kemana-mana selama aku ga ada. Simpen aja ingatan tentang aku buat nemenin kamu.”

Rizal terdiam, lalu memeluk tubuh Naira erat-erat. “Kamu ini… pamitnya kayak ninggalin pacar.”

Naira menghela napas panjang, lalu menatap Rizal dengan tatapan dalam yang penuh arti. “Lah… kamu anggap selama ini kita ngapain, Zal. Kamu pacarku juga, meski dengan cara yang salah.”

Ia lalu mengecup bibir Rizal pelan, lama, penuh perasaan. Setelah itu Naira bangkit dari ranjang, mengambil pakaiannya satu per satu. Hijabnya yang tadi sempat terlepas dirapikan kembali. Saat mengenakan rok, ia sempat menoleh sambil tersenyum nakal.
“Udah cukup banyak kenangan yang kamu titipin ke dalam tubuhku, Rizal… sekarang simpen baik-baik. Jangan sampe ada yang lain sebelum aku balik.”

Kalimat itu menutup pertemuan mereka malam itu, meninggalkan Rizal terbaring di ranjang hotel dengan dada yang terasa sesak—antara puas, kehilangan, dan takut benar-benar ditinggal oleh perempuan yang kini kian dalam menancapkan jejak di hatinya.

Di garasi hotel itu, setelah semua dirapikan, Naira yang lebih dulu melangkah menuju mobilnya. Rizal ikut di samping, membuka pintu garasi kemudian masuk ke kursi penumpang membawa jaketnya sendiri tapi wajahnya masih tampak berat hati. Begitu mereka masuk ke dalam mobil, suasana langsung hening sejenak. Hanya bunyi mesin yang menyala dan deru pendingin udara yang terdengar.

Naira menarik napas panjang, mencoba menyembunyikan gejolak perasaan. Tangannya mantap menggenggam setir, sementara Rizal bersandar, matanya hanya memandang profil wajah Naira dari samping.

“Zal…” suara Naira memecah hening, lembut tapi tegas, “aku serius tadi. Anggep aja sore ini… ya mungkin sore terakhir kita dengan cara begini.”

Rizal menoleh, alisnya berkerut. “Kenapa harus terakhir, Na? Kamu yakin bisa bener-bener ninggalin aku?”

Naira tersenyum samar tanpa menoleh. “Aku ga bilang ninggalin kamu. Aku cuma bilang… kalaupun kita ketemu nanti, jangan lagi berharap ada pelukan kayak tadi. Apalagi lebih dari itu.” Ia melirik sebentar dengan tatapan nakal yang ditutupi getir. “Aku takut… kalau makin lama makin susah lepas dari kamu.”

Rizal hanya mendesah pendek, lalu tiba-tiba tangannya meraih tangan Naira di atas paha. Naira menoleh cepat, tapi Rizal tetap menatap jalan di depan.
“Aku juga takut, Na. Tapi kamu udah kejauhan ninggalin bekas di aku. Mau sejauh apapun kamu pergi, ga mungkin aku bisa bener-bener lupa.”

Mobil melaju menyusuri jalan malam yang lengang. Naira sesekali mengganti gigi sambil sesekali menggenggam tangan Rizal erat-erat, seolah ga rela melepaskan.

Sampai akhirnya, mobil mendekati kawasan yang tak jauh dari kantor Rizal. Naira menepikan mobilnya, lalu mematikan lampu sein. Suasana hening kembali, kali ini lebih berat.

Rizal menoleh. “Sampai sini aja, Na?”

Naira mengangguk, lalu tersenyum getir. “Iya. Dari sini kamu gampang cari ojek atau jalan kaki. Ga enak kalau orang liat aku anterin kamu terlalu jauh.”

Hening sesaat, lalu Naira mencondongkan tubuhnya, mencium bibir Rizal cepat tapi penuh perasaan. Setelah itu ia berbisik di dekat telinganya, “Jaga diri kamu… jaga hati kamu… sama jaga titit kamu ya, Zal. Jangan liar selama aku pergi.”

Rizal tertawa pendek tapi matanya basah. “Dasar kamu, Na… sampai pamit aja masih aja gitu.”
“Na…” suaranya datar tapi bergetar sedikit. “Aku minta satu hal, buat kenang-kenangan sebelum kamu pergi jauh. Anggap aja… buat nemenin aku kalau kangen.”

Naira menoleh sebentar, lalu terkekeh kecil. “Kenang-kenangan apalagi? Kamu kan udah pake semua tubuh aku barusan.”

Rizal mencondongkan badan, menatapnya lebih serius. “Aku pengen sesuatu yang bisa aku simpen… bener-bener jadi temen selama kamu nggak ada.”

Naira sempat diam, lalu ekor bibirnya terangkat nakal. Dengan tangan kanan tetap mengemudi, tangan kirinya perlahan masuk ke bawah roknya sendiri. Ia mengangkat sedikit pinggul, lalu dengan gerakan hati-hati menarik turun celana dalam yang masih menempel di tubuhnya—kain tipis itu jelas sudah lembap, menyimpan bekas permainan liar mereka tadi.

Rizal membelalak, napasnya sedikit tercekat. “Na… kamu serius?”

Naira tersenyum genit, menyerahkan balutan tipis itu dengan tangan kirinya sambil masih fokus nyetir. “Nih. Buat kamu. Simpen baik-baik. Jangan dipakai yang aneh-aneh ya… meskipun aku tau otak mesum kamu pasti muter kemana-mana.”

Rizal mengambilnya dengan gemetar, lalu mencium sekilas sambil tertawa geli. “Gila… kamu jahat banget. Aku makin susah move on kalo gini.”

Naira meliriknya cepat-cepat sambil menahan senyum. “Biarin. Anggep aja aku ninggalin ‘aku’ buat nemenin kamu. Tapi inget, itu bukan izin buat kamu nyari yang lain, Zal. Tititmu tetep harus setia nunggu aku pulang.”

Mobil pun berhenti di dekat kantor Rizal. Sesaat sebelum turun, Rizal mencium pipi Naira cepat, lalu menatapnya dalam. “Hati-hati ya, Na. Aku tunggu kamu balik.”

Naira hanya mengangguk, tapi tatapan matanya melembut penuh arti. “Inget aku baik-baik, Zal. Jangan liar.”

pahit manis bahwa mungkin inilah perpisahan terakhir mereka dengan cara seperti itu.

Naira tersenyum manis sambil mengibaskan tangannya, menyuruh Rizal turun. Rizal membuka pintu, melangkah keluar, tapi sebelum menutup pintu ia menatap Naira sekali lagi. “Ibadahnya yang khusu yaa, jangan mikirin kontol mulu. Hahahaa…..”

Rizal turun, melangkah menjauh sambil menggenggam erat celana dalam itu seolah benda paling berharga. Sedangkan Naira kembali menekan pedal gas, meninggalkan jalanan malam dengan dada bergetar—antara rasa puas, rasa kehilangan, dan bayangan

Naira hanya mengangguk, pura-pura cuek. “Yaudah, sana. Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.”

Begitu pintu menutup, Naira menahan napas lama. Mobilnya perlahan menjauh, meninggalkan Rizal yang berdiri di pinggir jalan dengan tatapan yang kosong tapi penuh gejolak—antara berat hati melepas dan cemas menunggu.

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *