Pulang dari perjalanan panjang umroh dan keliling Eropa, Naira seharusnya merasa tenang dan damai. Suaminya, lelaki yang sabar dan penuh kasih, menyambutnya dengan senyum lembut yang sama seperti dulu. Rumah mereka bersih, wangi, dan tenang—semuanya tampak sempurna dari luar. Tapi jauh di dalam dada Naira, ada ruang yang masih kosong. Ruang yang tak bisa diisi doa, pun tak bisa dijelaskan dengan kata.
Ia duduk di kamar malam itu, suaminya sudah tertidur lebih dulu. Lampu temaram menciptakan bayangan lembut di dinding, mengingatkannya pada malam-malam di hotel selama perjalanan. Malam di mana tubuhnya disentuh dengan kasih, tapi tanpa getar yang dalam. Naira tahu suaminya berusaha, selalu lembut dan tulus. Tapi entah mengapa, tubuhnya seperti tak lagi bisa menyambut dengan rasa yang sama.
Ia tidak sedang ingin mengeluh, hanya… rindu. Rindu akan sensasi yang pernah membuatnya gemetar, seperti dulu saat bersama Rizal—lelaki yang beberapa hari ini hanya hidup di ingatannya dan mimpinya. Setiap kali mengingatnya, Naira selalu menegur dirinya sendiri, beristighfar, lalu mencoba menutup mata. Tapi saat terlelap, tubuhnya justru menyalin kembali bayangan itu: genggaman, desahan, irama yang membuatnya merasa terpuaskan.
Keesokan paginya, Naira mencoba mengusir semua bayangan itu dengan rutinitas: membuat sarapan, merapikan kasur, menyiapkan pakaian kerja suaminya. Tapi ketika suaminya memeluknya sebelum berangkat, tubuhnya hanya membalas setengah hati. Ia tersenyum, tapi pikirannya entah mengembara ke mana. Dalam peluk yang seharusnya menenangkan, ia justru merasakan sepi.
Di waktu-waktu sunyi, ia sering memandangi HPnya. Ada dorongan halus untuk menghubungi seseorang — Rizal. Sekadar bercerita tentang perjalanannya, tentang betapa tenangnya hatinya di tanah suci, atau mungkin… hanya mendengar suaranya lagi. Tapi setiap kali jarinya hampir menekan tombol, nuraninya menegur: “Kau baru pulang dari rumah Allah, Naira. Jangan ulangi dosa lama.”
Namun godaan tak selalu datang dalam wujud dosa besar. Kadang hanya berupa rasa ingin tahu yang lembut, seperti keinginan untuk tahu kabar seseorang yang dulu pernah mengisi celah tubuh dan pikirannya. Naira tahu, itulah bentuk rindu yang paling berbahaya: bukan karena cinta, tapi karena tubuhnya masih mengingat.
Suaminya tak tahu apa-apa. Mereka masih beribadah bersama, masih tertawa di meja makan, masih berjalan berdampingan setiap sore. Tapi setiap kali malam turun dan pelukan itu hadir, Naira diam-diam memejamkan mata lebih cepat. Ia takut jika tubuhnya merespons tanpa perasaan. Ia takut, di tengah ibadah dan cinta yang tampak utuh, ada bagian dirinya yang sudah jauh tersesat.
Malam-malam itu, ia sering menatap bayangan wajahnya di cermin. Seorang perempuan berhijab yang tampak tenang, tapi matanya memantulkan kerinduan yang tak pernah terucap. Ia mencoba bicara pada dirinya sendiri dalam hati: “Aku sudah bersih, aku sudah berjanji…” Tapi setiap kali mengucapkannya, ada bisikan lembut yang menjawab, “Tapi apakah kau sudah puas apa kamu tidak ingin kembali merasakan orgasme yang membuat tubuhmu bergetar?”
Di titik itu, Naira sadar—perjuangan terbesarnya bukan lagi menahan diri dari orang lain, tapi melawan kenangan dalam dirinya sendiri. Kenangan yang melekat bukan karena dosa, melainkan karena pernah membuatnya merasa sempurna seutuhnya sebagai perempuan.
Beberapa malam setelah kepulangannya, rasa rindu yang samar itu makin menekan dada Naira. Ia sudah mencoba menulis di buku harian, menyalurkan resah dengan doa panjang, tapi ada hal yang belum sempat ia keluarkan: cerita tentang perjalanan umroh dan mimpi aneh yang menyertainya. Ia ingin Rizal mendengarnya. Entah mengapa, hanya lelaki itu yang terasa mampu mengerti sisi dirinya yang tak bisa ia ceritakan pada siapa pun.
Malam itu ia duduk di balkon rumah, udara lembap setelah hujan. HP di tangannya berulang kali membuka kontak bernama Rizal. Lama ia menatap layar, sebelum akhirnya menekan tombol panggilan. Nada sambung terdengar… satu, dua, tiga kali. Tak ada jawaban. Ia ulangi lagi. Masih sama—hening panjang, lalu sambungan terputus.
Ada rasa janggal, seperti berdiri di depan pintu yang dulu terbuka lebar kini terkunci rapat. Ia mengetik pesan:
“Assalamu’alaikum, Zal. Aku baru pulang dari umroh dan keliling Eropa. Ada hal yang ingin aku ceritain…”
Lalu dihapus sebelum sempat dikirim. Ia takut pada dirinya sendiri, pada arti sebenarnya dari “hal yang ingin kuceritakan” itu.
Dalam diam, Naira menatap langit gelap. Angin membawa aroma tanah basah, menuntunnya pada kenangan samar di Eropa—malam dingin, cahaya lampu kota, dan sensasi hangat yang pernah membuat tubuhnya bergetar. Ia menggigit bibir, lalu beristighfar pelan. “Astaghfirullah… aku hanya ingin bercerita, bukan kembali,” katanya meyakinkan diri.
Namun ketika mencoba menelepon lagi keesokan harinya, nomor itu sudah tidak aktif. Seolah Rizal benar-benar menghilang. Naira menatap layar HP lama sekali, menunggu keajaiban berupa notifikasi balasan yang tak kunjung datang.
Sejak malam itu, setiap kali terbangun di tengah malam, ia kerap menatap HPnya dengan harapan kecil yang sama. Rasa bersalah dan rindu bercampur menjadi satu, seperti doa yang terkatung di udara. Ia tahu, mungkin lebih baik begini—mungkin Tuhan sengaja menutup jalan yang berbahaya itu.
Tetapi di balik doa dan istighfar yang ia ucapkan, masih ada ruang kosong yang belum tertutup sepenuhnya. Ruang tempat nama Rizal bergaung pelan, seperti gema masa lalu yang enggan benar-benar padam.
Sudah hampir dua minggu sejak ia pulang, tapi pikiran Naira belum juga tenang. Setiap kali hendak berdoa, nama Rizal selalu terselip di antara ayat-ayat yang ia baca. Ia ingin tahu keadaannya, ingin memastikan bahwa lelaki itu masih ada di dunia yang sama, tidak sekadar bayangan dalam mimpi. Namun setiap upaya menghubungi berakhir dengan hampa. Lalu satu nama lain muncul di pikirannya: Angga.
Ia masih ingat betul — beberapa hari sebelum berangkat umroh, tanpa sengaja Angga memergokinya keluar dari hotel transit. Waktu itu Naira hanya bilang ia sedang menunggu seseorang, tapi sorot mata Angga seperti tahu lebih dari yang ia ucapkan. Dari obrolan singkat hari itu, ia baru tahu bahwa Angga dan Rizal tergabung dalam satu klub motor yang sama. Saat itu Naira hanya diam; kini, ingatan itu menjadi jembatan yang menimbulkan dilema.
Jika ingin tahu kabar Rizal, ia bisa saja menghubungi Angga. Tapi hati kecilnya menolak. Ada sesuatu yang menakutkan dari kemungkinan bertemu lelaki itu lagi — bukan karena dosa, tapi karena kenangan yang pernah ia kubur bersama. Kenangan tentang malam-malam gila saat masa kuliah S2 dulu, tawa yang terlalu dekat, sentuhan yang terlalu berani, dan hal-hal yang seharusnya tak pernah terjadi.
Lebih dari itu, ada kekhawatiran lain yang diam-diam menyesakkan dada Naira. Beberapa waktu lalu, Angga sempat mempergokinya keluar dari sebuah hotel transit. Tatapan laki-laki itu waktu itu sulit ia lupakan—tajam, curiga, dan seolah membaca semua yang berusaha ia sembunyikan. Naira tahu, sejak saat itu, Angga mungkin menaruh dugaan yang tak benar, atau justru terlalu benar.
Ia takut Angga salah mengartikan semuanya—mengira bahwa dirinya masih seperti dulu, masih mudah terbuka, masih menyisakan celah bagi laki-laki lain masuk dalam hidupnya. Dan justru karena itu, Naira semakin menjaga jarak. Ia tak ingin lagi ada lelaki dari masa lalu yang menguji rapuhnya pertahanannya sendiri. Karena dia sangat rawan jika digoda oleh Angga, orang yang begitu tau kelemahan dari Naira, Angga tau pasti cara membuat naira luluh, tau pasti cara memancing gairah naira.
Naira mencoba menenangkan hati dengan wudhu. Air dingin menyentuh kulitnya, menenangkan namun juga membangkitkan sensasi lain yang tak bisa ia jelaskan. Setiap tetes air seperti mengingatkan tubuhnya akan sesuatu yang pernah membuatnya hidup—bukan secara spiritual, tapi secara fisik. Ia menunduk dalam-dalam di sajadah, berharap rasa itu hanyut bersama sujudnya.
Tapi malam itu, saat semua sudah tidur, pikirannya kembali berkelana. Ia membayangkan kemungkinan sederhana: bertemu Angga di kafe, hanya untuk bertanya kabar Rizal. Tak lebih. Tapi imajinasi itu cepat berubah arah — bayangan Angga yang dulu, tatapannya, caranya menatap lehernya saat bicara, caranya menahan napas di dekatnya. Ia menggigit bibir, lalu menegakkan kepala dengan cepat. “Astaghfirullah… aku baru pulang dari rumah Allah,” bisiknya.
Namun doa tak selalu cukup memadamkan rasa yang tumbuh dari ingatan. Di dalam dada, kerinduan yang ia benci justru terasa semakin nyata. Ia tidak menginginkan dosa, hanya kepenuhan rasa yang dulu pernah membuatnya utuh sebagai perempuan. Tapi ia tahu, itu jalan yang sama menuju jurang yang dulu hampir menelannya.
Pagi datang dengan langit cerah, tapi hati Naira justru makin keruh. Di HPnya, nama Angga tampak seperti ujian yang menunggu dijawab. Ia menatap lama, jemarinya ragu di atas layar, lalu meletakkannya perlahan di meja. Mungkin nanti, pikirnya. Mungkin setelah ia yakin bahwa ini bukan rindu yang salah arah, hanya keinginan untuk menutup cerita yang belum selesai.
Namun di dasar hati yang paling sunyi, Naira tahu — kadang manusia mencari alasan suci untuk menutupi panggilan yang lebih duniawi. Dan mungkin, ia sedang melakukan hal yang sama.
Suasana sore itu agak mendung. Naira memarkir mobilnya di pojok area parkir kafe yang sudah mulai sepi. Ia baru saja selesai bertemu klien, tapi pikirannya sudah sejak pagi dipenuhi nama Angga. Entah dorongan apa yang membuatnya mengirim pesan duluan—hanya ingin “menanyakan kabar Rizal” katanya. Tapi jauh di dalam hatinya, Naira tahu ada sesuatu yang lain di balik itu.
Angga datang beberapa menit kemudian. Ia masih sama seperti dulu—kasual, wangi, dan punya senyum yang tenang tapi entah kenapa terasa berbahaya. Ia langsung masuk ke mobil Naira, duduk di kursi penumpang depan. Udara di dalam mobil seketika berubah. Sunyi, tapi padat. Seperti ada sesuatu yang menggantung di antara napas mereka.
“Mau tanya kabar Rizal?” suara Angga memecah keheningan.
Naira mengangguk pelan. “Iya… aku udah coba hubungin, tapi nomornya nggak aktif.”
Angga menghela napas, lalu membuka HPnya. Ia tampak ragu sejenak sebelum memperlihatkan layar ke Naira. “Aku nggak tahu kamu udah tahu atau belum. Tapi Rizal udah nikah, Say. Dua minggu lalu.”
Naira terdiam. Lama. Matanya menatap layar HP yang memperlihatkan foto Rizal bersanding dengan perempuan berhijab sederhana, tampak bahagia. Ada senyum yang dulu pernah membuatnya lemah—kini tersungging untuk orang lain.
“Serius…” hanya itu yang keluar dari mulut Naira. Suaranya nyaris bergetar.
“Iya. Aku juga kaget,” jawab Angga pelan. “Kupikir kamu masih sering kontak dia.”
Naira menggeleng. Ada rasa aneh menyelimuti dadanya. Campur aduk. Sebagian dirinya merasa lega—seolah Allah memang menjauhkan godaan yang sempat membuatnya hampir tersesat lagi. Tapi di sisi lain, ada perih halus yang menusuk.
Ia merasa… dibohongi. Dikhianati. Rizal yang dulu bilang masih sendiri, ternyata sudah menyiapkan hidup baru tanpa sepatah kata pun.
“Harusnya aku nggak kaget, ya,” gumam Naira pelan, menatap kosong ke luar jendela. “Tapi tetap aja… rasanya kayak ditampar kenyataan.”
Angga menatapnya lekat. “Kamu masih sayang sama dia?”
Naira tertawa singkat—pahit, tapi berusaha terlihat tenang. “Sayang? Nggak, Angga. Aku nggak pernah jatuh cinta sama dia. Aku cuma… sempat butuh dia, mungkin. Tapi bukan buat hati. Lebih ke… ya, semacam pelarian dari sepi aja.”
Ia menghela napas panjang, menatap jemarinya sendiri. “Yang bikin aku kesal itu bukan karena dia pergi. Tapi karena dia bohong. Ngaku jomblo, padahal ternyata diam-diam nikah pas aku umroh. Gila, kan? Seolah semua yang dia bilang ke aku cuma omong kosong.”
Angga tak segera membalas. Naira melanjutkan dengan nada lebih datar, tapi matanya menyimpan amarah halus.
“Aku nggak kehilangan dia, Angga. Aku cuma kecewa karena pernah percaya sama orang setengil itu.”
Keheningan kembali melingkupi kabin, hanya suara hujan yang jatuh di kaca depan, seperti mengetuk-ngetuk hati mereka berdua. Naira menatap keluar jendela, matanya menerawang, sementara Angga melirik sekilas—ada rasa iba, tapi juga sesuatu yang lebih samar… lebih berbahaya.
“Aku cuma pengen tenang, Ga,” ucap Naira akhirnya. “Aku udah janji sama diri sendiri mau berubah, tapi kenapa ya, setiap kali aku pikir udah beres, malah muncul lagi bayangannya.”
Angga tersenyum kecil, tapi bukan senyum simpati—lebih ke arah ledekan yang lembut. “Jangan-jangan kamu bukan kangen orangnya, tapi kangen itunya?”
Naira menoleh cepat. “Kamu tuh ngomong apa sih?”
“Ya, siapa tahu aja,” jawab Angga santai, bahunya terangkat sedikit. “Kadang yang kita cari bukan orangnya, tapi rasa yang dia tinggalin. Kayak… adrenalin, atau orgasme yang nggak bisa kamu dapet dari misua.”
Naira terdiam. Ia ingin membantah, tapi napasnya justru tertahan. Ada bagian dari dirinya yang tahu Angga benar.
“Kamu tuh selalu aja bikin segalanya mesum,” ucapnya akhirnya, separuh malu, separuh kesal.
Angga tertawa kecil, tapi suaranya berat dan hangat. “Atau kamu aja yang takut ngaku, Say.”
Pandangan mereka bertemu. Hening, lama. Hanya suara wiper yang bergerak perlahan di antara mereka.
Naira menunduk, berusaha memecah keheningan. “Udah deh, Ga. Aku nggak mau bahas yang aneh-aneh lagi.”
“Tapi kamu nggak ngeles, kan?” goda Angga, mencondongkan tubuh sedikit. “Biasanya kalau kamu mulai ngeles, kamu langsung pura-pura ngantuk.”
Naira menatapnya sekilas, lalu tersenyum tipis. “Aku nggak ngantuk, cuma capek.”
Angga mengangguk pelan. “Capek nahan, atau capek ngelupain?”
Naira tak menjawab. Tapi dari cara ia menarik napas dan menggenggam rok di pangkuannya, Angga tahu—ia baru saja menyentuh sesuatu yang masih berdenyut di dalam diri perempuan itu.
Naira menatap ke luar jendela, tapi pikirannya mulai melayang. Hujan di luar seperti mengulang malam-malam yang pernah ia lalui bertahun lalu — saat mereka masih sama-sama kuliah, masih pura-pura sibuk dengan tugas, padahal yang mereka kejar bukan cuma nilai.
Angga tersenyum samar, seolah tahu ke mana arah pikirannya. “Kamu inget nggak, dulu kita juga pernah begini? Hujan, malam, laptop, dan kamu sibuk ngoreksi kalimatku yang katanya terlalu kaku.”
Naira menoleh pelan. “Iya… tapi kamu sengaja waktu itu. Biar aku lama di situ.”
Angga terkekeh pelan. “Mungkin. Tapi malam itu kayaknya kamu juga nggak buru-buru pulang.”
Ada jeda di antara mereka. Hening, tapi penuh sesuatu yang tak terucap.
Naira menggigit bibir bawahnya sekilas, bukan karena marah—lebih karena gugup oleh ingatan yang tiba-tiba terasa begitu dekat.
“Aku inget aroma kopi di meja kamu,” ucapnya pelan. “Dan cara kamu selalu nyetel lagu jazz supaya suasananya santai. Tapi malah bikin suasana aneh, romantis yang dipaksakan.”
Angga menatapnya dengan senyum kecil. “Tapi kamu nggak protes, kan?”
Naira tertawa kecil, tapi suaranya mengandung napas panjang. “Kamu masih aja kayak dulu, suka nggodain.”
“Bukan godaan,” jawab Angga tenang. “Cuma… nostalgia yang kebetulan masih hidup.”
Naira mengumam pelan. “Ujung-ujungnya sange kamu kan.”
Angga menatapnya dengan senyum kecil. “Kamu yang mulai sepongin aku.”
Naira menoleh sambil mencubit pinggang Angga. “Kan mau kasih tau kalu janda lebih nikmat dari gadis perawan, terbukti kaan?”
Dan untuk sesaat, kabin mobil itu terasa seperti ruangan lama yang dulu mereka tempati—hangat, sempit, dan berisi banyak hal yang tak perlu dijelaskan lagi dengan kata-kata.
Suasana di mobil perlahan mereda. Hujan tinggal gerimis, wiper bergerak pelan. Udara di dalam kabin mulai terasa lebih hangat, entah karena heater mobil, atau karena tawa kecil yang mulai kembali terdengar.
“Masih inget nggak,” ujar Angga pelan sambil melirik Naira, “malam ulang tahun Dewi dulu?”
Naira tersenyum tipis. “Yang di club itu? Yang kamu malah jadi korban ciuman gratis?”
Angga tertawa pelan, menggeleng. “Bukan salahku kalo dia mabuk berat, Na. Aku cuma nolongin biar nggak jatuh.”
“Ya tapi nggak harus ditampung di dada kamu juga, kan?” sindir Naira sambil menahan tawa.
Angga meliriknya dengan ekspresi geli. “Eh, kamu yang panik waktu itu. Kamu yang malah langsung narik dia, bukan aku.”
Naira pura-pura cemberut, tapi pipinya hangat. “Aku cuma nggak mau ada yang salah paham aja.”
“Hm,” Angga mengangguk pelan, suaranya merendah. “Atau jangan-jangan kamu yang cemburu waktu itu?”
Tatapan mereka bertemu sejenak. Ada tawa, tapi juga sesuatu yang lain—sesuatu yang lebih lembut, lebih berbahaya.
Naira tertawa kecil, mencoba memecah suasana. “Yang aku inget cuma kamu repot nganter Dewi ke hotel, terus aku bantu jaga dia sampe pagi.”
“Dan kamu yang sibuk ngelap mukanya pake tisu sambil ngomel, bekas muntahan dia” tambah Angga, senyumnya makin lebar. “Aku masih kamu bersihin beks muntah dia di bajunya, kamu buka dressnya tinggal sisa cd sama bra doang.”
Naira meliriknya, senyumnya samar. “Trus aku godein kamu suruh kenyotin putingnya, eeh… beneran lo kenyotin lagih.”
“Kamu malah colmekin mekinya, orang lagi kobam ga sadar gitu padahal” Sahut angga.
“Lagi ga sadar tapi mekinya bisa becek juga ya, Lo jilmekin kan??” gumam Naira pelan/
“Iye, gw lg jilmekin tau-tau kontol gue uda lo emut, Hahahaa…”jawab Angga
Naira meliriknya nakal. “Tapi kontol lo tetep pilih memek gue kan.”
Angga, tersenyum lebar. “Iye lo kaya kesetanan, ampe gue bilang mau crot lo masih goyang terus. Tau duh dewi sadar ga kita ngewe di sebelahnya ya?” Sambil meraba paha naira Angga melanjutkan kalimatnya. “Gue kan balik duluan tuh, kalian masih bugil berdua”
Naira menatap keluar jendela, menahan senyum yang pelan-pelan muncul di sudut bibirnya. “Waktu itu… aku bahkan nggak tahu harus marah atau malu. Dewi tidur di sebelah, kamu anggurin aja, aku suru kamu pake dia sekalian kamu terus aja pilih ngentotin memek aku, tapi aku bisa ngerasa suasana liar banget, seru banget, Ngewe tapi di sebelah ada orang lain.”
Angga ikut menatap ke depan, suaranya turun setingkat. “Aku juga inget…pas uda keluar kamu sempet duduk di tepi kasur, rambutmu acak-acakan, eeh lelehan sperma aku dari memek kamu malah kamu usapin ke bibir Dewi. Trus kamu ngelap memek pake tank top ewi kan. Aku sempet pengen bilang itu dewi gimana, tapi… ya, kamu cuma bilang ‘tidur aja, nanti pagi baru di pakein baju bersih’.”
Naira tertawa kecil, tapi matanya sedikit sayu. “Kamu masih inget detailnya, ya.”
Angga menghela napas pelan, menatap jalan yang basah di depan. “Terus… besok paginya, waktu Dewi sadar, gimana reaksinya?”
Naira menoleh pelan, seolah kembali menembus waktu. “Dia kaget banget. Matanya langsung kebuka lebar, terus buru-buru narik selimut.” Ia tersenyum, tapi wajahnya sedikit memanas. “Dia panik waktu sadar bajunya nggak ada. Dan… aku juga masih bugil waktu itu kan.”
Angga menatapnya dari sudut mata, senyum tipis muncul di bibirnya. “Terus dia bilang apa?”
“Awalnya dia pikir aku yang… ya, kamu tahu lah. Dia sempet nuduh aku aneh-aneh, mikir aku ngewe sama kamu trus aku suruh kamu juga ewein dia, padahal emang iyaa.” Naira menunduk, jari-jarinya memainkan tali seatbelt. “Dia ngamuk ngamuk, langsung ngcek memeknya ada pejuh apa engga.”
“Dan dia sempet mikir aku entotin dia?” Angga tak melanjutkan kalimatnya, tapi Naira mengangguk pelan.
“Ya. Tapi akhirnya aku jelasin kalau kamu cuma jilmekin dia doang. Aku pastiin sendiri… kamu crotnya di memek aku bukan memek dia.”
Suara Naira mulai pelan, tapi sarat nada ganda. “Aku cuma bilang ke dia … ga tau kontol lo sempet lo masukin ke memek dia apa engga.”
Hening kembali menyelimuti mobil.
Angga menatap ke depan, sementara Naira tetap menunduk, senyum samar tak benar-benar hilang dari bibirnya.
“Lucu ya,” bisik Naira akhirnya. “Satu malam itu gila banget, ngewe di samping dewi.”
Angga tertawa pendek, suaranya serak. “Dan sampai sekarang, masih terasa serunya.”
Naira bersandar di jok, menatap ke luar jendela yang mulai berembun. “Aku masih inget banget ekspresi Dewi pagi itu. Antara malu, takut, dan… sange.”
Angga menatapnya sekilas. “Aneh gimana?”
Naira menelan napas pelan, matanya tetap tertuju ke luar. “Kayak… Dewi tahu sesuatu udah berubah. Dia suka sama kamu tapi aku sahabatnya malah ngewe sama kamu di sebelah dia.”
Suasana di kabin menegang halus. Tidak ada yang bicara untuk beberapa detik, tapi udara terasa berat, penuh kenangan yang mengambang di antara mereka.
“Aku juga ngerasa gitu,” sahut Angga akhirnya, suaranya rendah, nyaris berbisik. “Bukan cuma malam itu, tapi sejak kejadian hari itu. Dewi sepertinya jadi canggung klau ketemu aku ada kamu”
Naira menoleh pelan, pandangannya bertemu dengan Angga. Ada sesuatu yang bergetar di antara mereka — bukan sekadar nostalgia, tapi perasaan yang tak pernah benar-benar padam.
“Kalau waktu bisa diulang,” ujar Naira lirih, “kamu bakal ngelakuin hal yang sama?”
Angga terdiam lama. Senyum samar muncul di bibirnya, tapi matanya tak lagi setenang tadi. “Kalau waktu diulang, mungkin aku bakal berani ngelakuin yang dulu cuma bisa aku tahan, ga Cuma ngentotin kamu tapi juga ngentotin Dewi.”
Naira menahan napas, jantungnya berdetak lebih cepat. “Dan kamu pikir aku bakal biarin?”
Angga tersenyum kecil, tapi suaranya tetap lembut. “Kamu nggak akan bisa cegah, Say. Kan kamu yang mulai2in juga itu, kamu pengen sensasi 3some kan.”
Keduanya terdiam. Hanya bunyi hujan yang kembali menetes pelan di kaca depan, seperti irama dari sesuatu yang tak semestinya terulang — tapi sulit benar-benar dihindari.
Angga menatap jam di dasbor, lalu menarik napas panjang. “Kayaknya aku harus cabut, Na. Udah malam banget.”
Naira mengangguk pelan, tapi matanya masih enggan beralih darinya. “Iya… hati-hati ya. Jangan ngebut, jalan masih licin.”
Angga sempat diam beberapa detik sebelum akhirnya membuka pintu mobil. Udara dingin malam masuk bersama aroma hujan yang masih tertinggal. Ia menunduk sedikit, mengintip ke arah Naira yang tetap duduk di kursinya, memeluk jaket tipis.
“Say…” panggilnya pelan.
Naira menoleh, senyum lembut muncul di bibirnya. “Hm?”
“Seneng bisa ngobrol kayak gini lagi. Rasanya… kayak balik ke sesuatu yang lama, tapi masih angat.”
Naira menatapnya lama. “Aku juga. Kadang, yang lama itu nggak selalu harus dilupain, ya.”
Angga tersenyum, matanya menatap dalam. Ia membungkuk sedikit, mendekat di sisi jendela Naira yang separuh terbuka. Gerakannya pelan, penuh keraguan tapi juga keinginan yang tak diucapkan.
Udara di antara mereka terasa berbeda—hangat, rapat, dan bergetar oleh sesuatu yang tidak perlu dijelaskan.
Angga mencondongkan diri sedikit, memberi jarak sekecil mungkin. “Makasih… buat malam ini,” bisiknya sambil mengecup kening Naira.
Naira hanya mengangguk, tapi di matanya ada sesuatu yang sulit disembunyikan. Dalam jeda itu, waktu seperti berhenti.
Naira membalas dengan mengecup pipi Angga, hanya kecupan kecil tapi cukup membuat dada mereka bergetar. Sebuah pamit yang terasa lebih dalam dari kata apa pun.
“Jangan ilang, ya,” ucap Naira pelan.
Angga tersenyum tipis, matanya menatapnya seolah mengucapkan sesuatu yang tak bisa diungkapkan. “Nggak akan. Kita masih punya banyak cerita… yang belum selesai.”
Ia melangkah mundur perlahan, kembali ke mobilnya sendiri. Naira menatap sosoknya di bawah lampu parkir yang redup, sementara hatinya berdenyut aneh—antara lega, rindu, dan rasa yang tak ingin dia akui.
Saat mobil Angga mulai menjauh, Naira menyentuh pipinya yang masih hangat. Entah karena udara di dalam mobil, atau karena sentuhan yang tadi terlalu singkat untuk disebut perpisahan.