Jejak Rahasia Naira โ€“ Part 23

๐ŸŒน Pertemuan di Kota Kembang ๐ŸŒน

Hari Pertama Seminar

Lampu kristal di lobi hotel bintang lima ibukota provinsi itu memancarkan cahaya hangat, menyambut para peserta seminar dari berbagai instansi. Naira, dengan rok pensil berwarna dusty pink yang membalut apik kakinya dan atasan tunik satin berpotongan modern, melangkah anggun. Hijab segiempat motif minimalist yang disematkan rapi, alih-alih menutup rapat, justru membingkai wajahnya yang terawat, menonjolkan garis leher dan postur tubuhnya yang tetap langsingโ€”memberikan kesan seksi yang tersembunyi namun memikat.

Ia sedang mengecek nama di meja registrasi saat sebuah suara berat, familiar, menyapa dari belakang.

“Hai, Say. Makin cetar aja kamu.”

Naira menoleh. Jantungnya sempat melonjak, sesaat kemudian ia tersenyum, senyum yang disetel seramah mungkin.

“Angga! Ya ampun, kamu ikutan juga?”

Angga, dengan setelan batik cokelat yang rapi, tampak sedikit lebih berisi, namun sorot mata ituโ€”sorot mata jahil yang selalu tahu persis apa yang ada di benak Nairaโ€”masih sama. Ia menyalami Naira dengan jabat tangan, tanpa canggung sedikit pun.

“Kebetulan, Say. Instansi pusat yang ngadain. Enggak nyangka kamu dari kantor cabang dinas provinsi itu bisa lolos jadi peserta inti. Makin bersinar aja, ya.” Angga menahan senyumnya, matanya menyapu Naira dari ujung kepala hingga ke detail manset tangannya.

“Kamu juga, Say. Makin mapan. Novita gimana kabarnya?” tanya Naira, menyebut istri Angga, yang notabene adalah teman satu kantornya dulu.

“Baik, alhamdulillah. Kirim salam dia buat kamu. Dia tahu kok kita ketemu di sini.” Angga menjawab santai, tapi matanya menyipit sedikit, seolah menyimpan inside joke. “Ga nyangka, ya. Terakhir acara bareng di luar kota waktu aku masih kurus kering enggak karuan, kamu masih liar, yang kalu sange ga peduli di samping temen yang lagi mabok tetep genjot.”

Naira tertawa kecil. “Itu mah 15 tahun lalu, Ga. Aku udah lupa sama cerita itu.”

Angga mendekat, berbisik pelan, suaranya nyaris tak terdengar di tengah keramaian. “Yakin? Aku enggak akan pernah lupa aroma body lotion kamu yang kayak vanila campur rempah itu. Setiap aku cium, aku langsung ingat lorong sepi apartemen aku dulu, Say.”

Wajah Naira sedikit merona. Sentuhan kenangan itu, terlempar begitu saja tanpa basa-basi. Dulu, mereka memang tak pernah berpacaran, tak ada ikatan, namun kamar apartemen Angga sudah menjadi saksi bisu keintiman mereka selama hampir dua tahun masa kuliah S2. Mereka biasa bercinta, hingga intercourse yang membakar habis sisa-sisa kesepian Naira sebagai janda muda beranak satu.

Naira berdeham. “Malam ini kita ketemu lagi di sini. Enggak nyangka. Kamu udah check-in?”

“Udah. Kamar 304. Kamu?”

“706. Lumayan dekat, ya Cuma beda 4 lantai .” Naira mencoba mengalihkan pembicaraan ke topik jokes garing, tapi pikiran liarnya menari-nari membayangkan skenario 15 tahun lalu terulang.

“Nanti malam aku mau ajak kamu ngopi sebentar di kafe hotel. Ada yang mau aku bicarain serius,” kata Angga, suaranya kembali datar.

“Bicara apa? Soal seminar?”

Angga menggeleng perlahan, seringainya kembali muncul, kali ini lebih jelas dan tak tersembunyi. “Bukan. Soal Rizal.”

Naira langsung membeku. Nama itu. Nama pria yang dikirim Angga diam-diam, yang berakhir dengan pertemuan pertama yang liar dan panas beberapa waktu lalu. Pria yang minggu lalu dia cari cari karena tidak bisa dihubungi lagi.

“Rizal kenapa?” Naira berusaha keras menjaga ekspresinya tetap profesional.

“Santai, Say. Aku tahu semuanya. Kamu lupa aku lihat kamu masih keluar dari Hotel A transit jam empat sore, kan? Seminggu sebelum kamu berangkat Umroh?” Angga menatap tepat ke mata Naira, menelanjangi semua rahasianya.

Naira hanya bisa menghela napas pasrah. “Oke. Malam ini kita ngobrol. Aku tunggu di lobi jam 8.”

Malam Pertama Seminar, setelah pembukaan

Udara malam ibukota provinsi terasa lebih dingin di teras kafe hotel. Naira menyesap latte dengan perlahan. Di depannya, Angga memegang gelas air mineralnya, wajahnya santai, tapi pandangannya intens.

“Aku enggak bisa lagi nutupin, Ga. Aku sama Rizal… ya, kamu udah lihat sendiri,” kata Naira, membuka pembicaraan. Ia merasa seperti remaja yang tertangkap basah, padahal usianya sudah matang.

Angga tersenyum tipis. “Aku enggak marah, Say. Enggak juga kecewa. Aku yang nyuruh dia deketin kamu, kok. Waktu itu aku lagi iseng aja mau lihat kamu bakal luluh sama cowok kayak Rizal, yang type kamu banget: muda, enerjik, sangean dan liar di ranjang.”

Naira tersipu malu, menahan diri untuk tidak melempar gelas kopi ke wajah Angga. “Kurang ajar kamu, Ga. Kamu anggap aku apa?”

“Aku anggap kamu teman lama. Teman yang fun buat diajak nakal. Kamu lupa, Say? Dulu aku kan bujangan. Kamu janda beranak satu. Kita match. Enggak perlu komitmen, cukup kebutuhan biologis terpenuhi,” kata Angga, nadanya sangat natural, seperti sedang membahas cuaca.

Angga bersandar ke kursi, matanya menerawang. “Tapi Rizal beda, Say. Dia udah nikah bulan lalu. ”

“Aku tahu. Dia enggak pernah nutupin, tapi ga pernah cerita juga kl mau nikah. Ngakunya jomblo. Itu yang bikin aku kaget. Dia serius, tapi statusnya enggak. Aku sama dia tuh cuma… ga tau ah. Cuma terjebak dalam suasana aneh,” ujar Naira, suaranya mengecil. “Pertemuan pertama… itu gila, Ga. Dia brutal, lebih dari siapa pun yang pernah sama aku. It was… primitive.”

Angga terdiam sejenak. Sorot matanya kembali tajam, kini ada binar cemburu yang tersembunyi. “Aku tahu kamu suka cowok yang bisa ‘memimpin di kasur’. Rizal memang jago soal itu. Tapi kamu ingat enggak, Say? Dulu, kamu selalu bilang tangan aku yang paling pas megang pinggang kamu. Pas aku peluk dari belakang, kamu bisa langsung basah tanpa aku perlu apa-apain.”

Naira terkesiap. Flashback itu datang menusuk. Aroma bantal yang dulu mereka bagi, deru napas Angga di lehernya, sentuhan tangannya yang lembut namun berkuasa. Sensual yang lebih didasari koneksi emosi, bukan sekadar nafsu.

“Udah, Ga. Jangan ungkit-ungkit masa lalu. Itu udah 15 tahun,” Naira berbisik, berusaha mengendalikan gairah yang tiba-tiba berdesir di bawah kulitnya.

Angga tersenyum. Senyum kemenangan. “Aku enggak ungkit, Say. Aku cuma bilang, kadang, yang paling kamu butuhkan itu adalah kenangan yang nyaman dan familiar, bukan sensasi baru yang berbahaya. Rizal itu bahaya.”

Angga meletakkan gelasnya, pandangannya mengunci. “Kita di sini sampai lusa. Enggak ada Rizal. Enggak ada Novita. Cuma aku dan kamu. Pikirin baik-baik, Say. Apakah kamu mau mengulang yang nyaman… atau terus main api dengan yang berbahaya.”

Angga berdiri, meninggalkan Naira yang duduk termangu. Kepalanya berdenyut, tubuhnya terasa panas dingin. Pertemuan ini bukan hanya sekadar seminar, tapi adalah ujian atas semua batas yang selama 15 tahun ia bangun.

Hari Kedua Seminar: Momen Sunyi di Kamar 304

Seminar hari kedua berjalan padat, diisi dengan presentasi data dan diskusi kebijakan. Tepat pukul 15.00, ada sesi coffee break kedua. Naira beranjak dari kursinya, membawa tumbler stainless steel-nya. Ia ingin mengisi ulang dengan air panas untuk teh herbalnya.

Ia berjalan ke sudut ballroom, mencari dispenser air panas, namun yang tersedia hanya pitcher berisi air dingin dan hangat suam-suam kuku. Ia bergumam pelan, “Aduh, malas banget kalau harus balik ke kamar di lantai 7 cuma buat air panas.”

Tiba-tiba, Angga sudah berdiri di sampingnya, seolah mendengar keluhannya.

“Kenapa, Say? Mukanya kayak habis diputusin cowok.”

“Ini, Ga. Cari air panas enggak ada. Harus ke kamar kayaknya. Kamu di lantai berapa?”

“Aku di lantai ini, Say. Kamar 304, deket tangga darurat. Kamar di lantai tiga ini memang buat peserta dari eselon tiga ke atas, makanya sedikit lebih eksklusif.” Angga tersenyum licik. “Daripada kamu capek-capek naik lift ke lantai enam, ke kamarku aja. Aku sendirian, Novita enggak ikut. Rekan sekamar juga enggak ada. Kita bisa sambil ngopi santai.”

Tawaran itu terasa seperti undangan yang terlalu terbuka. Tapi Naira hanya membutuhkan air panas, dan Angga adalah teman lamanya, atau setidaknya, ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri begitu.

“Beneran enggak apa-apa, Ga? Nanti Novita marah lho.”

“Novita? Dia cuma akan marah kalau kamu cerita pernah tidur bareng gue. Udah, santai aja.” Angga mengarahkan Naira dengan tatapan mata yang tak terbantahkan.

Beberapa menit kemudian, Naira sudah berada di kamar 304. Kamar Angga lebih besar dari miliknya, dengan jendela panorama yang langsung memperlihatkan hiruk pikuk ibukota dari ketinggian. Angga menyalakan ketel listrik di meja kecil dekat jendela, lalu mempersilakan Naira duduk di sofa.

“Sini, Say. Sambil nunggu air mendidih. Pemandangan dari sini lumayan oke, lho,” kata Angga.

Naira duduk di sofa empuk dekat jendela, menyesap sedikit air tehnya yang sudah dingin. Angga duduk di seberangnya, jarak mereka tidak terlalu jauh, tapi cukup untuk menjaga formalitas yang tipis.

“Capek juga, ya. Seminar kali ini banyak banget teorinya,” kata Naira, memecah keheningan yang terasa semakin padat.

“Namanya juga PNS eselon. Dikasih teori dan regulasi terus,” jawab Angga sambil mencondongkan tubuhnya. “Ngomong-ngomong soal teori, aku masih penasaran sama teori kamu dan Rizal.”

Naira mendengus. “Kamu ini. Udah dibilang jangan bahas lagi. Kamu yang kirim dia buat godain aku, kan?”

“Aku kan cuma kasi tau sosmed kamu, Say. Enggak ada paksaan. Aku lihat di club motor, dia itu anak baik-baik, anak masjid, kelihatannya perjaka. Makanya aku penasaran, kok bisa kamu yang stylish, yang PNS senior, janda S2, malah kepincut anak muda yang kamu kenal cuma dari Medsos, terus dalam sekali ketemu langsung paket lengkap full service kayak gitu?” Angga menyeringai. “Padahal, kalau mau, banyak kok yang ngantri buat transit sama kamu. Kenapa harus Rizal? Kenapa bisa sedalem itu?”

Angga menekankan kata ‘sedalam’ dengan jeda yang disengaja. Naira tahu Angga sedang memancing, tapi ia merasa terlalu lelah untuk menahan diri. Ia ingin curhat pada seseorang yang memahami sejarah liarnya.

Naira merapikan ujung tuniknya. “Dia memang anak Medsos, Ga. Tapi di balik feed yang religius itu, dia… dia punya cara buat bikin aku ngerasa jadi perempuan paling liar di dunia. Dia tahu cara pegang, tahu cara dorong, tahu cara mendesak. It was different.”

Angga menatapnya lekat. “Oh, jadi aku enggak jago, nih?”

“Kamu nyaman, Ga. Kamu lembut, passionate, dan kamu tahu hatiku. Rizal? Dia enggak pakai hati. Dia cuma pakai naluri, Say.” Naira menghela napas. “Sialnya, nalurinya itu yang bikin aku… adiktif.”

Naira mencondongkan tubuhnya ke depan, kini suaranya sungguh-sungguh pelan, ada nada frustrasi. “Kamu tahu, Ga? Aku baru pulang traveling keliling Eropa sama suamiku. Second honeymoon, lah ceritanya. Tapi setiap aku sama suami, yang ada di pikiranku… selalu Rizal.”

Angga mengangkat alisnya, tak bisa menyembunyikan rasa penasaran bercampur geli.

“Maksudku, saat aku sama misua lagi ewita, dia genjot memek gue tapi dia keburu crot sebelum aku klimaks, aku malah bisa keluar hanya karena mimpi Rizal, Ga.
Rizal itu… dia bisa bikin aku klimaks berkali-kali dalam satu ronde. Aku enggak pernah kayak gitu kan sama siapa pun. Bahkan sama kamu dulu.”

Kini giliran Angga yang merasa panas. Gairah yang tertahan selama 15 tahun tiba-tiba muncul, bercampur rasa cemburu pada bocah ingusan yang ia kirim sendiri.

Angga bangkit, berjalan mendekati ketel yang baru saja berbunyi. Ia menuang air panas ke cangkir Naira. Gerakannya lambat, terkontrol.

“Jadi, dia yang ‘ngajarin’ kamu,” bisik Angga, tanpa menoleh, suaranya terdengar serak.

“Bukan ngajarin, Ga. Kontol kamu lebih gede tapi punya dia lebih panjang, bisa gaya apa aja. Trus dia tuh lebih kayak… mengeluarkan sisi yang aku enggak tahu aku punya, baru sama dia gue sampe squirt, basah semua tuh kasur.”

Angga meletakkan cangkir teh panas itu di meja, terlalu dekat dengan Naira, hampir menyentuh paha Naira. Jarak mereka kini hanya sejengkal.

“Dan sekarang kamu di sini. Di kamar seorang cowo yang dulu kamu bilang sentuhannya paling pas di pinggang kamu. owoyang sudah tahu semua rahasia liar kamu, bahkan yang terbaru sekalipun.” Angga mencondongkan tubuh, bau parfum maskulinnya menusuk indra penciuman Naira.

“Rizal itu cuma permainan baru. Tapi aku, Say, aku adalah rumah di mana kamu belajar jadi perempuan liar yang sekarang ini.” Angga mencondongkan kepalanya, hanya terpisah beberapa inci dari telinga Naira.

“Sekarang, aku kasih kamu pilihan. Kamu bisa ambil air panas ini, balik ke ballroom kaya gak terjadi apa-apa, dan terus bayangin Rizal. Atau… kamu bisa biarin aku tunjukkin lagi, Say, mana yang lebih nikmat: naluri liar yang sebentar, atau kenyamanan yang sudah kamu kenal seumur hidup.”

Angga menarik napas, menunggu. Ketegangan di antara mereka menebal, seberat udara tropis di ibukota. Naira bisa merasakan panas tubuh Angga, mengalahkan uap dari teh panas di depannya. Ia harus memilih, di antara masa lalu yang nyaman, dan sensasi baru yang adiktif.

Naira menelan ludah, detak jantungnya berpacu lebih cepat. Ia menatap Angga, berusaha memasang ekspresi tenang, meskipun seluruh tubuhnya sudah tegang karena desakan memori sensual yang dilontarkan Angga.

“Ga, udah deh. Kita enggak bisa. Kamu tahu kan, kita udah sama-sama punya pasangan. Kamu sama Novita, aku sama suamiku. Kita ini profesional, Ga. Kita di sini untuk seminar,” kata Naira, nadanya terdengar seperti sebuah mantra yang ia ucapkan untuk meyakinkan dirinya sendiri, bukan Angga.

Angga mundur selangkah, seringainya sedikit meredup, namun sorot matanya tetap membara. “Aku tahu, Say. Aku tahu semua aturannya. Aku cuma tawarin kamu kenyamanan nostalgia yang nikmat. Tapi kalau kamu enggak mau, ya sudah. Aku enggak maksa.”

Ia mengangkat bahu, berpura-pura santai. “Ambil teh kamu. Kita balik.”

Naira merasa sedikit lega, namun ada rasa kecewa yang samar. Ia mengambil tumbler-nya yang sudah terisi air panas, lalu berjalan menuju cermin besar di dekat lemari pakaian, pura-pura memeriksa riasannya. Ini adalah caranya untuk mendapatkan waktu dan menenangkan diri.

“Oke, Ga. Makasih ya air panasnya,” kata Naira sambil mematut diri, merapikan sedikit lipatan di hijabnya yang sedikit berantakan.

Saat ia fokus pada pantulannya di cermin, tiba-tiba ia merasakan Angga sudah berada tepat di belakangnya. Kehadirannya begitu dekat, panas tubuhnya menembus kain tunik Naira. Angga tidak mengatakan apa-apa, ia hanya mencondongkan kepalanya dan napas hangatnya berembus di samping telinga Naira.

Kemudian, tanpa peringatan, Angga melingkarkan kedua tangannya di pinggang Naira. Pelukan itu lembut, tapi kuat, memenjarakan Naira di antara tubuhnya dan cermin dingin.

Naira terdiam. Dalam hatinya, ia tahu ia harus menolak. Tapi sentuhan itu… sentuhan yang sudah 15 tahun ia kenal, sentuhan yang pernah memuaskan gairahnya di waktu waktu panas. Tubuhnya bereaksi secara naluriah. Ia tidak berontak, justru membiarkan Angga menariknya sedikit lebih rapat.

Melalui pantulan cermin, mata mereka bertemu. Sorot mata Angga dipenuhi keinginan yang sudah lama terpendam, dan Naira melihat kelemahan dirinya di sana.

Angga berbisik pelan, suaranya parau, “Kamu gak perlu ngomong apa-apa, Say. Cuma lima menit. Aku cuma mau ngerasain ini lagi. ”

Tangan Angga yang melingkari pinggang Naira mulai bergerak, ujung jarinya menyentuh sisi pinggul Naira, sebelah tangan angga bergerak pelan mengelus lembut pantat Naira yang bulat kemudian meremasnya lembut. tangan satu lagi ke depan tubuh naira mengelus lembut selangkangan naira di balik celana kulot longgarnya. Gerakannya perlahan, memetakan kembali lekukan tubuh yang ia hafal. Jari-jari itu kemudian naik lagi, meraba bagian bawah tulang rusuk, tepat di mana lekuk payudaranya yang montok tersembunyi di balik tunik.

Sensasi itu langsung menjalar, membuat Naira merapatkan kakinya. Ia merasakan gejolak gairah yang ia coba kubur sejak pembicaraan soal Rizal tadi. Angga tahu persis titik-titik lemahnya.

Saat tangan Angga mulai berani bergerak ke atas lagi, hampir mencapai dada, Naira tersentak. Ini sudah terlalu jauh.

“Stop, Ga,” bisik Naira, suaranya sedikit bergetar, masih menahan. Ia meraih tangan Angga yang mulai merambat naik, menahannya agar tidak bergerak lebih jauh.

“Angga, cukup. Tolong. Kita harus balik sekarang. Coffee break sudah mau habis. Aku enggak mau ada yang lihat kita,” kata Naira, berusaha melepaskan diri dari pelukan itu, menolak dengan alasan logis alih-alih alasan emosional.

Angga menghela napas panjang, kekalahan kecil tercetak jelas di wajahnya. Ia tahu Naira tidak sepenuhnya menolak, tapi ia menghargai batas yang baru saja ditarik. Ia melepaskan pelukannya, meski enggan.

“Oke, Say. As you wish,” kata Angga, suaranya kembali datar, meski napasnya masih memburu. Ia melangkah mundur dan membalikkan badannya, menyembunyikan gairah yang ia tahu Naira bisa lihat.

Naira berbalik menghadap Angga, wajahnya sedikit merah. Ia berusaha bersikap seolah tidak ada yang terjadi. Ia menepuk pelan lengan Angga.

“Ayo, Ga. Sebelum kita jadi bahan gosip satu kantor. Sampai ketemu besok di sesi penutupan,” kata Naira, lalu segera berjalan cepat menuju pintu, membawa serta tumbler berisi air panas, dan kenangan yang baru saja mereka ciptakan.

๐ŸŒ™ Maghrib di Kamar 304 ๐ŸŒ™

Waktu menunjukkan pukul 17.58. Azan Maghrib mulai terdengar sayup-sayup dari masjid di kejauhan. Naira memegang HPlnya, sesaat kemudian ia menghela napas. Ia berjalan cepat menuju lift. Ia telah mengirim pesan pada Angga, dan Angga merespons singkat: Ada di kamar ko, masuk aja, pintu enggak dikunci.

Setibanya di depan kamar Angga, Naira mengetuk dua kali sebelum langsung masuk.

“Ga, aku numpang salat ya. Kamarku… ya ampun, udah kayak pasar. Anak cucu teman sekamarku pada datang semua,” kata Naira, sambil menampakkan senyum masam.

Naira tampil dengan nuansa lembut. Ia mengenakan outer cardigan panjang berwarna krem muda dengan bahan yang sangat lembut, dipadukan dengan pashmina sewarna yang dililit santai di kepalanya. Di baliknya, ia memakai dress panjang flowy berwarna cream tanpa lengan, berpotongan V-neck yang lumayan rendah, tersembunyi sempurna di balik cardigan longgarnya.

“Iya, Say. Silakan. Sajadahnya udah ku gelar tuh barusan abis sholat juga,” jawab Angga, yang sedang duduk di sofa sambil membaca materi seminar. Begitu melihat Naira masuk, fokusnya langsung teralihkan.

Naira berjalan ke kamar mandi untuk mengambil wudu. Angga, berusaha terlihat biasa saja, diam-diam mengamati setiap gerakan Naira. Setelah berwudu, Naira kembali ke area salat.

Di hadapan Angga, Naira melepaskan pashmina dan cardigan-nya. Angga menahan napas. Seketika, dress cream yang lembut dan tipis itu terlihat tipis jatuh membalut tubuh Naira. Potongan V-neck rendah itu mengekspos tulang selangka dan sedikit cekungan belahan dadanya yang bulat montok, di mana garis bra-nya tercetak jelas di balik kain dress nya yang lembut.

Angga tidak bisa mengalihkan pandangan. Di bawah cahaya lampu kamar yang hangat, dress berbahan lembut itu sangat jujur. Di bagian pinggul belakang, garis celana dalam Naira tercetak samar membayang namun jelas di bagian pangkal paha dekat pantatnya, membentuk kontur yang memikat.

Naira tampak tak menyadari pandangan Angga yang seolah mau menelannya bulat bulat. Ia mengambil mukena putih tulang dengan detail renda halus, menutup tubuhnya dengan sempurna, dan memulai salat Maghrib.

Angga bersandar di sofa, berusaha mengalihkan pandangannya, namun cardigan cream muda yang terlipat di kursi sebelahnya terasa seperti magnet. Ia menyadari, meski dengan pakaian tertutup dan ibadah, Naira selalu tahu cara tampil menggairahkan.

Setelah salat, Angga memperhatikan Naira yang membuka mukenanya dengan gerakan anggun. Ia melipat mukena itu perlahan. Rambut Naira yang sedikit basah karena wudu tergerai, wajahnya yang tanpa polesan makeup berlebihan terlihat teduh. Ia mengambil napas dalam, sebelum akan mengenakan kembali outer atau pashmina-nya.

Namun, alih-alih mengambil cardigan dan pashmina-nya, Naira malah berjalan ke sofa, hanya dengan dress cream tanpa lengan itu. Garis bra yang samar dan cutting V-neck rendah menjadi fokus utama pandangan Angga.

Naira duduk di samping Angga, menyandarkan kepalanya ke bahu Angga dengan sangat natural, seperti yang sering mereka lakukan 15 tahun lalu.

“Nyaman ya, Ga. Di sini enggak berisik,” bisik Naira.

Angga refleks memeluk bahunya, mengusap lembut lengan atas Naira yang terbuka. Sentuhan ini terasa begitu nyaman dan familiar, persis seperti yang Angga katakan kemarin.

“Tentu saja nyaman, Say. Di sini cuma ada kita. Enggak ada Novita, enggak ada suamimu, dan terutama, enggak ada Rizal,” balas Angga, suaranya kembali serak.

Mereka terdiam sejenak, menikmati kehangatan pelukan itu.

“Resek kamu ah….eh Ingat enggak, Ga,” Naira mulai bercerita, suaranya pelan dan geli. “Waktu ulang tahun Dewi? Di Club Mabes?”

Angga tertawa pelan. “Oh, yang kamu bilang Dewi naksir aku. Inget lah pasti aku.”

“Dewi itu kan paling enggak bisa minum. Dia mabok parah, terus dia nyosor kamu terus. Geli banget liat dia ciumin kamu mulai pipi sampai bibir kamu basah. Aku tuh sebel, tapi lucu juga lihat kamu panik,” kenang Naira, geli.

Angga memeluk Naira semakin erat. “Paniklah! Dia kan sahabat kamu. Lagian… yang ada di pikiran aku waktu itu cuma satu, kenapa bukan kamu yang cium aku, Say? Hahahahaa….”

“Terus, kita kan papah dia ke kamar, ya. Aku kan yang harus gatiin dia baju baju, karena dia enggak bisa bangun dan muntah. Pas akuu buka… Ya ampun, Muka lo langsung kwliatan sange banget, padahal masih ada cd sama bra nya, Ga.aku lihat dari mata kamu!” Naira memukul dada Angga pelan.

Angga tertawa keras. “Ya gimana, Say! Dia cakep juga, dia mabok, dan yang kebuka meski masi ada yang ngalangin dikit mah. Namanya juga cowok!”

Suasana menjadi semakin intim. Mereka berdua tenggelam dalam ingatan yang panas itu.

“Aku ingat banget, Ga,” kata Naira lagi, suaranya kini bergetar, “Aku lihat kamu… kamu uda sange banget kayanya. Aku bilang ke kamu, ‘Udah Ga, grepe aja dia sepuas lo. Dia gak akan ingat besok. Anggap aja bonus kamu papah dia dari atas.'”

Angga mengangguk, menarik napas panjang. “Dan kamu tahu enggak, Say? Waktu ku mulai elus perutnya, naik ke dadanya. Aku lihat kamu di sofa, ekspresi muka kamu jutek banget, tapi kamu enggak marah, malah kayak… sange juga.”

Naira membenamkan wajahnya di leher Angga. ” Hahaha Iya, ya! Gak tahu kenapa. Aku tuh awalnya malah pengen ketawa lihat kamu mainin toket dia! Terus, yang bikin aku mulai sange tuh kamu mulai main di bawah. Kamu jilatin memeknya, Say! Aku lihat semuanya bego!”

Angga menangkup dagu Naira, memaksa Naira mendongak menatapnya. Matanya gelap penuh hasrat. “Aku ingat, Say. Momen paling gila. Lagi jilatin memek Dewi, tiba-tiba, tanpa ngomong apa-apa, tiba-tiba lo sepongin kontol gue, Say. Trus kamu bikin aku crot di mulutmu malem itu, di sebelah Dewi yang lagi pingsan karena mabok. Itu yang paling aku inget.”

Wajah Naira memerah sempurna. Rasa malu dan gairah campur aduk.

“Aku jg gak tahu kenapa gue bisa segila itu, Ga. Mungkin… aku cemburu, tapi juga excited liarnya kamu mainin memek dewi. ” bisik Naira, suaranya seperti bisikan pengakuan dosa.

Pelukan Angga kini terasa semakin mencekik. Tangannya mulai bergerak dari bahu Naira, turun ke punggung, lalu melingkari pinggang Naira, menariknya sangat rapat. Ia bisa merasakan pinggul Naira menempel sempurna di pangkuannya.

“Dan sekarang kita di sini, Say. Kamu baru aja salat, tapi barusan bahas kenangan mesum kita. Lo ga bisa ngobrolin beginian sama suami kamu, kan?” Angga berbisik, membelai garis rambut Naira yang basah.

Naira menutup matanya, menikmati kehangatan yang terlalu akrab ini. Ia tahu, di antara salat dan kenangan mesum itu, batas yang ia bangun sejak kemarin sudah runtuh tak bersisa.

 

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *