Jejak Rahasia Naira – Part 24

Ciuman Nostalgia​

Naira hanya bisa menahan napas. Pengakuan tentang malam ulang tahun Dewi itu telah membuka semua pintu bendungan yang selama 15 tahun ia kunci rapat. Memori itu, bercampur dengan keintiman ritual salat beberapa menit lalu, menciptakan kontras yang membakar.

Angga tidak menunggu jawaban. Ia merasakan tubuh Naira yang sudah menyerah dalam pelukannya. Tangan Angga yang melingkari pinggang Naira mengerat, dan ia membalikkan posisi Naira, agar wajah mereka berhadapan.

Cahaya temaram dari lampu tidur menciptakan bayangan lembut di kamar itu. Angga menatap Naira dalam-dalam, pandangan itu memohon sekaligus menuntut.

“Aku tahu kamu mau, Say,” bisik Angga, suaranya tercekat karena gairah yang memuncak. “Kamu gak akan dateng ke kamar aku pake dress sexy dan biarin aku peluk kalau kamu enggak mau.”

Naira tidak bisa menyangkalnya. Ia membiarkan cardigan dan pashmina-nya teronggok di kursi. Ia duduk terlalu lama di pelukan Angga. Ia telah membicarakan Rizal, ia telah membuka rahasia tentang klimaksnya yang berkali-kali—semua itu adalah undangan terselubung.

Angga menangkup kedua pipi Naira, ibu jarinya membelai lembut rahang Naira. Ia mendekatkan wajahnya perlahan, memberi Naira waktu untuk menolak.

Naira menutup matanya. Ia tidak menolak. Ia justru sedikit memiringkan kepalanya, seolah menyambut apa yang akan datang.

Maka, Angga mendaratkan bibirnya di bibir Naira.

Ciuman itu dimulai dengan lembut, seperti ciuman seorang teman yang sudah lama absen. Rasa yang familiar, aroma yang sudah mereka kenal. Namun, kelembutan itu tak bertahan lama. Semua kerinduan, kecemburuan, dan kenangan liar yang baru saja mereka bahas tumpah ruah dalam hitungan detik.

Angga merubah ciumannya menjadi mendesak, menuntut. Ia membuka bibirnya, dan lidahnya menyusup masuk, disambut oleh lidah Naira yang juga sudah haus. Ciuman itu cepat berubah menjadi eksplorasi yang dalam dan panas, napas mereka berburu, suara kecipak bibir mereka memecah kesunyian kamar.

Tangan Angga yang tadinya di pinggang kini bergerak cepat. Salah satu tangannya menarik dress tipis di punggung Naira, menarik tubuh Naira hingga berdempetan sepenuhnya dengan tubuhnya.

Naira balas memeluk leher Angga, mencengkeram rambut belakang Angga, dan mengerang pelan di sela ciuman. Perutnya terasa bergejolak. Rasa ciuman ini berbeda dari ciuman Rizal yang liar dan terburu-buru; ciuman Angga adalah ciuman penuh perasaan yang intim, ciuman seorang pria yang tahu persis bagaimana membuat Naira meleleh tanpa harus menjadi kasar.

Sambil terus berciuman, Angga mengangkat Naira, memindahkannya agar duduk miring di pangkuannya. Posisi itu membuat pinggul mereka semakin menempel erat. Angga merasakan gairah Naira yang membuncah, yang tercetak jelas di balik kain dress tipis itu.

Angga memutus ciuman, hanya untuk menatap wajah Naira yang memerah, bibirnya basah dan sedikit bengkak.

“Lima belas tahun, Say,” Angga berbisik serak, menciumi leher Naira, tepat di bawah telinganya. “Lima belas tahun aku kangen rasanya kamu.”

Naira hanya bisa mendesah, lehernya menggelinjang saat Angga meninggalkan jejak basah di kulitnya. Rasa bersalah terhadap suami dan Novita seperti hilang ditelan gejolak nostalgia yang memabukkan.

“Gombal..,” jawab Naira, suaranya sangat kecil. Ia melingkarkan kakinya di pinggul Angga, mengunci posisi mereka. “Jangan banyak omong, ngerusak momen aja.”

Angga tersenyum puas, senyum yang tak menyisakan keraguan. Ia tahu malam itu, batas di antara mereka telah runtuh sepenuhnya.

Angga tidak membuang waktu. Perkataan Naira , “Jangan banyak omong, ngerusak momen aja.” adalah izin mutlak yang ia butuhkan. Ia menyudahi ciuman panas itu hanya untuk menggendong Naira.

“Pegangan ya , Say,” bisik Angga, nadanya berkuasa namun lembut.

Naira dengan patuh melingkarkan kakinya lebih erat di pinggul Angga dan memeluk lehernya. Angga bangkit dari sofa, menggendong Naira lurus menuju kasur king size di kamar itu. Ia menjatuhkan Naira dengan sangat perlahan di atas seprai putih bersih, lalu segera menindihnya, memastikan tubuh mereka tetap menempel erat.

Tanpa melepaskan kontak mata, Angga mencium Naira lagi, kali ini lebih lambat, lebih dalam, seolah mengukir kembali memori di mulutnya.

Sambil berciuman, tangan Angga mulai berpetualang. Jari-jarinya yang besar dan hangat bergerak lincah, menyusuri paha Naira yang tertutup dress flowy yang tipis. Sentuhan dari balik kain itu terasa elektrik. Angga meraba lekuk paha Naira, perlahan naik ke sisi dalam, hingga jari-jarinya menyentuh area pangkal paha yang semakin sensitif.

Naira mengerang pelan, tubuhnya melengkung refleks ke arah sentuhan Angga. Ia merasakan panas yang sudah lama ia rindukan, jauh lebih intim dari sekadar dorongan naluri seperti yang ia rasakan bersama Rizal.

Tangan Angga yang satunya mulai naik ke atas. Ia tahu, meskipun Naira sudah menyerah, ada batasan yang harus ia lewati.

Angga memutus ciuman, dan fokusnya beralih ke bagian atas. Ia meraba payudara Naira yang padat di balik kain dress tipis itu.

Naira menahan napas. Ia merasakan sedikit dorongan untuk menolak, sebuah sinyal pertahanan diri terakhirnya. Ia berusaha menahan tangan Angga dengan gerakan kecil.

“Ga…” Naira mencoba bicara, tapi suara yang keluar hanya berupa desahan tertahan.

Angga mengabaikan kata-kata Naira yang nyaris tak terdengar. Ia tahu bahwa Naira menolak secara verbal, tetapi tubuhnya tidak.

Sambil terus menciumi leher dan bahu Naira yang terbuka, tangan Angga yang berada di punggung Naira bergerak dengan lincah. Jari-jarinya yang berpengalaman mencari kaitan bra yang tersembunyi. Hanya dalam hitungan detik, klik! Kaitan bra itu terlepas.

Angga menarik napas dalam. Tanpa meminta izin, dan tanpa memberikan Naira kesempatan untuk menarik diri, Angga menyelipkan tangannya di balik dress dan menarik bra Naira ke depan, melepaskannya sepenuhnya. Ia melemparkan bra berwarna kulit itu ke belakang kepala Naira, di suatu tempat di seprai.

Naira terkesiap. Ia tidak sempat memprotes. Payudaranya yang terasa lega kini hanya terhalang oleh dress cream yang tipis.

Angga menyingkirkan dress dari bahu Naira, membiarkan V-neck rendah itu melorot. Ia menundukkan kepalanya, menciumi leher Naira, lalu turun ke bagian atas dadanya. Dengan lembut, Angga menjilat cekungan belahan dada Naira, membuat Naira menggeliat di bawahnya.

Cumbuan Angga semakin fokus. Ia menemukan celah di antara kerah V yang rendak itu, di mana ia bisa mengakses payudara Naira. Angga menggunakan lidahnya, membasahi kain dress yang tipis, membuat kain itu menempel erat di kulit Naira.

Kemudian, Angga menarik sedikit kain itu, dan ia mulai menjilat puting Naira yang kini sudah mengeras. Kelembapan dan kehangatan lidah Angga yang menembus kain tipis itu memicu reaksi instan. Angga menghisap lembut puting yang sensitif itu, membuat suara kecapan basah terdengar pelan di kamar.

Sensasi yang mendadak dan intens itu membuat Naira tidak mampu lagi menahan diri. Ia menutup mata, punggungnya melengkung ke atas, dan ia mengerang keras.

“Ah! Angga!”

Desahan itu adalah tanda penyerahan total. Angga tersenyum puas di balik ciumannya. Ia tahu, Naira sudah sepenuhnya miliknya, malam ini.

Batasan yang Hancur​

Desahan keras Naira adalah konfirmasi yang Angga butuhkan. Ia terus menyesap dan menjilat puting Naira yang mengeras, menimbulkan sensasi nikmat yang sudah lama tak dirasakan Naira. Sambil bibirnya sibuk di bagian atas, tangan Angga kini bergerak semakin berani di bagian bawah.

Tangan Angga merayap dari paha Naira, kini berfokus pada area selangkangan. Jari-jarinya menekan dan mengusap area sensitif itu, menembus lapisan tipis celana dalam satin yang dikenakan Naira di balik dress flowy-nya. Angga merasakan kelembapan yang sudah merembes di kain satin itu. Sentuhan itu sangat lembut tapi tepat sasaran, sangat tahu persis bagaimana memancing birahi.

Meskipun tubuhnya merespons liar, pikiran Naira, yang sudah terprogram untuk menjaga citra istri salehah dan profesional, berusaha mengambil alih. Ia harus menghentikan ini sebelum benar-benar kebablasan, meskipun jauh di lubuk hatinya ia tidak ingin berhenti.

Naira mengerang lagi, tetapi kali ini ia menyertakan kata-kata.

“Astagfirullah Angga! Stop sebentar,” kata Naira, suaranya terengah-engah.

Ia menggunakan sisa-sisa kekuatannya, mendorong bahu Angga sedikit menjauh. Angga terdorong ke belakang, namun matanya tetap terfokus pada lekuk tubuh Naira yang setengah telanjang di bawah dress itu.

Naira segera duduk, menarik napas dalam-dalam, berusaha menutupi dadanya yang masih terasa berdenyut-denyut. Ia mencoba bersikap tenang.

“Ga, please. Kita harus cooling down,” kata Naira, wajahnya masih merah padam. “Aku ini udah jadi istri orang, Ga. Kamu juga sudah punya Novita. Kita enggak boleh kebablasan. Kita harus… harus kembali ke ballroom.”

Angga menatapnya tajam. Ia tahu ini hanyalah basa-basi, upaya terakhir Naira untuk menjaga image dan rasa bersalahnya. Gairah di mata Angga terlalu besar untuk dihentikan oleh kata-kata.

Angga yang terdorong duduk di pinggir kasur, tepat di depan Naira. Alih-alih menurut, Angga meraih ujung dress Naira yang sudah tersingkap ke atas, dan ia dengan cepat menyentuh celana dalam satin yang lembap di selangkangan Naira.

Naira tersentak. Ia menahan napas.

Dengan gerakan yang cepat dan spontan, Angga menarik celana dalam satin itu ke bawah, ke arah lutut Naira. Naira terperanjat, berusaha menahan gerakan Angga, tetapi sudah terlambat.

Celana dalam satin itu terlepas dari pinggul Naira, tersangkut di lututnya.

Angga tidak memberinya waktu untuk bereaksi. Ia segera menarik celana dalam itu hingga terlepas sepenuhnya, melemparkannya ke lantai kamar, bergabung dengan bra Naira sebelumnya.

Angga kemudian berlutut di antara kedua kaki Naira, di pinggir kasur. Ia menangkup paha Naira, lalu dengan sorot mata yang penuh dominasi, ia melebarkan paha Naira.

Naira kini duduk tanpa penutup di bagian bawah, hanya terbungkus dress yang tersingkap di pinggangnya. Ia merasa malu, terkejut, namun sekaligus tak berdaya dan terangsang.

Angga tidak melihat wajah Naira. Ia hanya melihat pada area kewanitaan Naira yang kini sepenuhnya terbuka di hadapannya.

Angga menundukkan kepalanya, dan tanpa basa-basi lagi, ia mulai mencium bagian inti kewanitaan Naira yang baru saja terbuka itu.

Naira menjerit tertahan. Ciuman mendadak itu, yang datang saat ia mencoba mengendalikan diri, menghancurkan sisa-sisa pertahanannya.

“Angga! Ya Allah! Astagfirullah” Naira membenamkan jari-jarinya di seprai, punggungnya melengkung, dan ia tahu, setelah ini, tidak akan ada kata kembali. Batasan profesional dan moral yang ia bangun selama bertahun-tahun telah runtuh sepenuhnya di kamar itu.

Ciuman mendadak yang mendarat di vagina Naira menciptakan lonjakan listrik yang tak tertahankan di sekujur tubuhnya. Naira tidak lagi peduli dengan image atau rasa bersalah. Yang tersisa hanyalah kebutuhan mendesak yang ditimbulkan oleh lidah Angga yang sangat terampil.

Angga memulai dengan ciuman lembut, menghormati, namun dalam hitungan detik, ia berubah menjadi fokus dan agresif. Lidahnya bergerak cepat dan tepat di titik paling sensitif, memainkan klitoris Naira dengan ritme yang membuat Naira tak bisa berpikir jernih.

“A-Angga… Oh Fuck…”

Naira hanya bisa menjerit pelan, membenamkan jari-jarinya di seprai kasur. Tubuhnya bergetar hebat. Angga adalah maestro yang tahu persis melodi yang harus dimainkan pada tubuh Naira, bahkan setelah 15 tahun berlalu.

Rasa gairah yang dibangun Angga terasa lebih intens dari kenangan liarnya bersama Rizal. Angga tidak hanya menggunakan naluri, ia menggunakan memori dan ikatan emosional untuk menguasai sensasi Naira.

Naira mengangkat kedua tangannya, mencari pegangan. Dalam keputusasaan yang nikmat, ia mencengkeram rambut Angga yang sedang sibuk merawatnya. Jambakan itu bukan tanda penolakan, melainkan permohonan agar Angga terus melanjutkan.

“Ga! Please! Masukin! Aku enggak kuat, Angga! Please, masukin aja kontol kamu!” Naira memohon dengan suara serak, nafsu menguasai dirinya sepenuhnya.

Namun Angga, yang kini memiliki kontrol penuh, mengabaikan permohonan itu. Ia ingin Naira mencapai titik ledak yang paling tinggi, titik di mana ia tak lagi mengingat siapa pun kecuali Angga. Ia semakin menekan, menghisap, dan menjilati dengan ritme yang dipercepat.

“Tar dulu, sabar Sayang,” bisik Angga dari bawah, suaranya teredam. “Aku mau kamu nikmatin dulu, jangan buru buru masukin.”

Angga memasukkan satu jari ke dalam vagina Naira, yang sudah sangat basah, menggesek dinding dalamnya sementara lidahnya tetap fokus pada klitoris. Kombinasi rangsangan itu terlalu dahsyat.

Naira merasa seluruh tubuhnya menegang. Sensasi itu memuncak, memuncak, dan tiba-tiba, ia merasakan gelombang kejut yang kuat dari dalam dirinya.

Tubuh Naira bergetar hebat. Ia menjerit nama Angga, dan dalam sekejap, vaginanya berkontraksi kuat, menyemburkan cairan nikmat dalam jumlah banyak ke wajah Angga yang masih menempel erat di sana.

Angga tidak terkejut. Ia terus menghisap, memastikan Naira menikmati setiap tetes klimaksnya. Sensasi pelepasan yang kuat membuat Naira lemas tak berdaya di seprai.

Angga mendongak, wajahnya basah oleh cairan yang disemburkan Naira. Ia menyeka sisa cairan itu dengan lidahnya, lalu tersenyum puas, memamerkan wajah yang basah dan liar itu kepada Naira.

“Nah, sekarang kamu bisa rasain, jilatan aku ga kalah sama Rizal” bisik Angga, suaranya penuh kemenangan, matanya berkilat-kilat.

Naira hanya bisa menatapnya, napasnya memburu, tubuhnya lemas. Wajahnya yang memerah, matanya yang sayu, adalah tanda penyerahan mutlak. Ia benar-benar telah melupakan segalanya.

Kontrol Penuh dan Balas Dendam yang Manis

Naira terbaring lemas. Pandangannya kosong, menatap langit-langit kamar yang mewah. Sesaat, ia mencoba memproses apa yang baru saja terjadi: klimaks yang begitu dahsyat, yang dicapai di bawah “jilatan” Angga, dan pengakuan kemenangan yang baru saja diucapkan pria itu.

Tiba-tiba, mata Naira menyala. Rasa malu, bersalah, dan gairah yang tersisa, kini melebur menjadi amarah. Sebuah amarah yang panas dan tepat sasaran.

“Bangsat!” desis Naira, suaranya parau. Ia segera bangkit, menyentak pinggangnya menjauh dari wajah Angga yang masih menyeringai puas.

Angga terkejut.

“Kamu tuh enggak tahu diri banget ya, Ga!” Naira meraih bantal dan melemparkannya ke wajah Angga. Gaunnya masih tersingkap berantakan di pinggang. “Aku baru pulang Umroh lho, Ga! Baru aja aku bersihin diri, nyuci dosa-dosa, dan kamu seenak jidatnya bikin aku kayak gini lagi! Kamu ini apa-apaan sih?!”

Angga tertawa kecil, meski sorot matanya tetap membara. “Oh ya? Terus kenapa kamu tadi ngedesah pas sampai, Sayang? Kenapa kamu bilang, ‘masukin aja kontol kamu’?”

Mendengar kata-kata itu diulang, Naira terdiam, wajahnya semakin memerah karena tak bisa menyangkal. Tapi dia tidak akan membiarkan Angga menang.

“Diem kamu!” Naira segera memajukan badannya. Dengan satu gerakan kuat, ia mendorong bahu Angga hingga pria itu terhuyung, lalu terbaring telentang di kasur.

Naira kini berlutut, menindih perut Angga. Posisi mereka terbalik. Kini Angga yang terperangkap di bawah dominasi Naira.

Mata Naira tajam, bibirnya menyunggingkan senyum predator. “Oke. Kamu mau memek Binor? Kita ngewe, Ga. Kamu mau aku lepas control? Aku bikin kamu lebih parah. Aku akan buat kamu lupa kalau di rumah kamu punya Novita.”

Naira tidak buang waktu. Ia menarik dressnya hingga terlepas dari tubuhnya, melemparkannya ke sisi ranjang, membiarkan tubuhnya yang telanjang sepenuhnya terekspos.

Angga hanya bisa menelan ludah, matanya terfokus pada lekuk tubuh Naira yang indah, dadanya yang naik-turun cepat.

Naira kemudian fokus pada Angga. Dengan cepat, ia menarik kaos Angga, menariknya dari bahu hingga terlepas. Lalu ia membuang boxer Angga, membuat penisnya yang sudah mengeras terpampang.

Kini keduanya telanjang bulat.

Naira mencengkeram wajah Angga, memaksa pria itu menatap matanya. Ia mencium Angga dengan liar, sebuah ciuman yang menuntut, jauh lebih agresif dari ciuman Angga sebelumnya. Lidah mereka bertemu, bertarung, saling menjerat dalam pertarungan gairah.

Ciuman itu turun ke leher Angga. Naira menggigit kecil di tulang selangka Angga, lalu turun ke dada bidang pria itu. Bibir dan lidahnya bermain di kedua puting Angga, mengisapnya dengan lembut dan nakal, menimbulkan erangan tertahan dari pria itu.

Saat bibirnya sibuk di bagian atas, tangan Naira bergerak turun. Ia mengelus lembut penis Angga yang sudah sepenuhnya tegak. Ukurannya sama persis dengan yang dia ingat, keras, penuh urat, dan sangat siap.

Jari-jari Naira memilin pangkal penis Angga, lalu perlahan ia membungkuk.

Naira menundukkan kepala, dan memberikan kecupan lembut di ujung kepala Angga.

“Permisi ya, Novita Sayang,” bisik Naira, suaranya serak karena gairah yang menguasai. Ia berbicara seolah-olah berbisik pada Novita yang tidak ada di sana. “Aku pinjem suami kamu sebentar ya. Aku mau pake lagi kontolnya, dia godain gue mulu, lagian udah lama banget enggak ngerasain kontol ini.”

Angga memejamkan mata, napasnya tersengal-sengal.

Naira tidak menunggu. Ia membuka mulutnya, dan menelan penis Angga perlahan. Mulutnya yang basah dan hangat menyelimuti penis Angga yang keras dan berdenyut.

Naira mulai bergerak, mengocok penis itu dengan mulutnya, ritmenya santai namun dalam dan mematikan. Ia menggunakan lidahnya untuk memutar-mutar kepala penis Angga, dan sesekali memasukkan penis Angga jauh ke tenggorokannya.

“Ahh… Say…” Angga mengerang keras.

Keahlian Naira dalam blowjob ternyata tidak memudar. Ia tahu betul bagaimana membuat Angga gila.

Sambil Naira sibuk menghisapnya, tangan Angga tidak tinggal diam. Ia membelai payudara Naira, mengelusnya dengan jempol, lalu turun ke pinggul, pinggang, hingga paha dan pantat Naira.

Gerakan Naira semakin cepat, semakin dalam. Angga menahan napas, kepalanya terangkat. Ia memegang rambut Naira dengan erat, mencengkeramnya, meminta lebih dan lebih lagi. Ia merasakan setiap tekanan, setiap sentuhan lidah Naira di dick-nya, membawanya ke puncak ledakan.

“Aku mau keluar… Say… Ah! Aku crot…” Angga mendesah keras, suaranya sudah seperti rintihan.

Saat Angga akan mencapai klimaks, jari Angga bergerak cepat. Ia menggeser telapak tangannya ke vagina Naira di bawah, yang masih basah. Jari tengahnya menyentuh klitoris Naira yang sudah membengkak.

Sentuhan mendadak di klitoris itu, saat ia sedang sibuk mengoral Angga, membuat Naira menjerit tertahan.

Srett!

Angga segera melepaskan penisnya dari mulut Naira, menariknya paksa, dan menghempaskannya ke udara, nafasnya terengah-engah. Wajahnya merah padam, otot lehernya menegang. Ia telah menarik diri di detik terakhir, napasnya memburu, matanya berkilat liar.

Naira mendongak, wajahnya basah dan memerah, napasnya juga terengah-engah. Ia belum sempat protes karena stimulasi klitoris yang dilakukan Angga membuatnya mendesah keenakan.

“Jangan keluarin dulu, Say” bisik Angga, memamerkan senyum licik yang sama seperti saat ia memenangkan babak pertama. Ia menjilat bibirnya yang kering. “Aku mau ngerasain memek kamu dulu. Memek yang dulu sering minta di ewe sama kontol aku tiap abis bimbingan tesis, apa lagi kalo kamu ga puas sama kontol pacar kamu”

Tatapan Angga yang penuh gairah dan tubuhnya yang sudah meradang, membuat otak naira mati sepenuhnya. Ia hanya terdiam, napasnya memburu, siap menyelesaikan gairahnya.

🔥 Persetubuhan yang Liar​

Angga dengan cepat bertindak, meraih pinggang Naira dan mendorongnya hingga kembali terlentang di tengah kasur. Paha Naira mengangkang lebar, memperlihatkan liangnya yang basah dan memerah.

Angga berlutut di antara kedua kaki Naira, jantungnya berdebar kencang. Gairah yang tertahan setelah oral sex yang intens tadi kini memuncak, meminta pelepasan segera.

“Aduh, Say,” desah Angga, suaranya serak. Ia menatap penisnya yang tegang dan berdenyut, lalu menatap Naira dengan mata berkilat. “Aku lupa… ga punya condom. Lupa nyiapin. Udah enggak usah pake, gapapa ya?”

Naira memutar bola mata sedikit, masih terengah-engah. “Ih, dasar kebiasaan!” keluhnya pelan, terdengar sedikit kesal namun pasrah. “Kenapa sih kamu dari dulu enggak pernah prepare?!”

Namun, kemarahan itu segera lenyap ditelan gairah yang sudah di ambang batas. Naira mengangkat pinggulnya sedikit, memberikan izin tak terucapkan.

Angga tidak menunggu. Ia menangkup kedua pipi Naira, memberinya ciuman ganas yang singkat, lalu ia mulai mengarahkan penisnya yang besar dan keras ke pintu masuk vagina Naira.

Hup!

Karena basah yang luar biasa dari klimaks sebelumnya dan stimulasi yang intens, penis Angga melesak masuk dengan sangat mudah.

“Aaaarrghhh!!!”

Teriakan Naira spontan meledak. Itu bukan jeritan sakit, melainkan seruan nikmat yang tak tertahankan. Penis Angga memang tidak sepanjang milik Rizal, tapi diameternya yang tebal memberikan sensasi penuh yang mendesak dan menghimpit seluruh rongga vaginanya.

Terdengar suara “Plop! Sluuurp!” yang lembap dan dalam, suara pelepasan yang dihasilkan dari gesekan penis yang tebal melesak masuk hingga pangkalnya, membuat perut bagian bawah Naira terasa penuh.

Angga menahan diri sejenak, membiarkan Naira terbiasa dengan sensasi kebesaran itu. Ia melihat wajah Naira yang memerah, matanya yang terpejam rapat, dan bibirnya yang bergetar.

“Gimana? Enak, Say? Kangen, kan, sama gede-nya kontol aku?” bisik Angga, nadanya penuh kemenangan.

Naira tak bisa menjawab. Ia hanya bisa mengangguk, napasnya tersengal.

Angga tersenyum puas, lalu ia mulai bergerak. Awalnya perlahan, menarik keluar setengah, lalu mendorong masuk lagi hingga ke batas maksimal. Setiap dorongan terasa berat, menimbulkan suara “Clop-clop-clop!” yang basah dan ritmis di udara kamar.

Angga kemudian mengubah posisi. Ia meraih kedua kaki Naira, dan mengangkatnya tinggi-tinggi, melingkarkannya ke pundaknya. Posisi ini memaksimalkan kedalaman dan sudut penetrasi.

“Aku masih inget, Say,” gumam Angga sambil terus menggerakkan pinggulnya dengan tempo yang semakin cepat dan intens. “Posisi begini yang bikin kamu cepet keluar, kan?”

Angga menancapkan penisnya dalam-dalam, mengarahkannya tepat ke titik terdalam yang ia tahu selalu menjadi sweet spot Naira.

Naira menggigit bibirnya, menahan desahan yang semakin liar. Tubuhnya melengkung ke atas. Sentuhan mendalam itu, dengan sudut yang presisi, menghantam seluruh saraf sensitifnya.

“Angga! Oh God! Lanjut, Say! Lebih keras! Faster!”

Angga menyambut perintah itu. Ia menghentak dengan kekuatan penuh, setiap dorongan terasa seperti palu yang menumbuk, membenturkan tubuh mereka dengan suara “Plak! Plak! Plak! Plok!” yang brutal namun nikmat.

Setiap hentakan Angga, membuat gunung kembar Naira bergerak memantul-mantul, menjadi pemandangan yang menggairahkan.

Sesekali Angga meremas keras payudara Naira sambil terus menggenjot vagina naira yang semakin becek.

Naira menjerit, desahan-desahannya berubah menjadi rintihan kepuasan yang tidak bisa ia tahan. Angga menggerus, mengaduk, dan menekan hingga seluruh tubuh Naira tegang.

Klimaks kedua datang menghantam.

“Aaaahhhh!!! Angga!!!”

Naira menjerit nama Angga, tubuhnya bergetar liar. Angga merasakan vagina Naira berkedut kuat, mencengkeram dan meremas penisnya dengan kontraksi yang dahsyat. Cengkeraman itu terasa begitu nikmat hingga Angga hampir kehilangan kontrol.

“Sialan! memek kamu ngeremes banget, Say!” desah Angga, matanya memejam menahan ledakan. “Aku… aku juga udah di ujung, Say. Aku mau keluar!”

Angga segera beranjak, menarik pinggulnya sedikit, berniat melepaskan penisnya dari cengkeraman vagina Naira sebelum ia ejakulasi.

Namun, Naira tidak akan membiarkan itu terjadi. Ia adalah singa betina yang baru menemukan kembali mangsa favoritnya.

“Enggak!” pekik Naira, suaranya mendesak dan penuh nafsu.

Dengan sisa kekuatannya, Naira melingkarkan kedua kakinya ke pinggang Angga, mengunci pria itu di tempatnya. Ia menahan Angga agar tidak bisa melepaskan diri.

Lalu, Naira mulai menggerakkan pinggulnya ke atas dan ke bawah, mengocok penis Angga dari dalam vaginanya.

“Terusin, Angga! Jangan dicabut!” desah Naira. Air matanya menetes di pelipis karena gairah yang terlalu hebat. “Tanggung…Keluarin dalem aja! Enggak apa-apa!”

Naira memohon, ia tidak mau sesi panas ini berakhir. Angga melihat wajah Naira, melihat tatapan putus asa yang menuntut.
Angga tidak lagi berpikir jernih. Kontraksi kuat dari vagina Naira yang meremas penisnya, ditambah paksaan lembut dari Naira yang melingkarkan kaki, menghancurkan sisa-sisa pertahanannya.

“Sial! Kamu yang minta, Say!” raung Angga.

Ia mencengkeram pantat Naira, menjadikannya tumpuan untuk menggenjot dengan lebih brutal dan cepat.

“A-Ah! Say! Memek kamu… ngeremas kontol aku… Kenceng banget!” Angga mengerang, wajahnya memerah, ia merasakan dirinya juga sudah di ambang ledakan.

Dalam ritme hentakan yang buas, tubuh Naira terangkat dan jatuh di kasur. Payudaranya yang montok, bergoyang liar mengikuti setiap dorongan Angga. Setiap hentakan Angga, membuat payudara Naira memantul-mantul, menjadi pemandangan paling erotis bagi Angga yang sudah gelap mata.

Angga menundukkan kepala, mencium ganas bibir Naira. Ciuman itu basah dan penuh nafsu, seolah-olah ingin menelan Naira hidup-hidup.

“Angga! Oh God! Aku suka! Aku suka yang ini, Ga! Genjot aku terus! Genjot yang dalem!” desah Naira, suaranya kini benar-benar serak, penuh perintah yang liar. Ia balas mencengkeram punggung Angga, kukunya mencakar kulit pria itu.

“Ini buat kamu, Sayang! Ambil semua!” jawab Angga, ia menancapkan penisnya sejauh mungkin, seolah-olah ia ingin menanamkan dirinya di dalam rahim Naira.

Saat Angga merasakan tekanan yang luar biasa di pangkal penisnya, dan ia tahu detik-detik ledakan itu tak bisa ditahan lagi, ia berseru.

“Aku keluar, Say! Aku ngecrot!”

Angga menggeram, kepalanya menengadah ke langit-langit kamar. Dengan hentakan terakhir yang kuat, gelombang cairan panas Angga menyembur deras di dalam vagina Naira yang sudah basah kuyup. Pluush! Vagina Naira merasakan sensasi penuh dan hangat yang sudah lama ia rindukan.

Pada saat yang bersamaan, Naira merasakan gelombang kontraksi kuat yang tak kalah hebatnya dari sebelumnya. Sensasi penis Angga yang menyemburkan cairan di dalam dirinya, memicu klimaks ketiganya yang sangat mendalam.

“Aaaaaahhhhh!!!”

Naira berteriak histeris, tubuhnya kejang-kejang, seluruh tubuhnya menegang di kasur. Ia mencengkeram erat punggung Angga, kakinya masih melilit, menahan Angga di dalam.

Keduanya ambruk, napas mereka memburu, keringat membasahi tubuh mereka yang bertaut. Angga ambruk menindih Naira, dadanya menempel di payudara Naira yang masih berdenyut.

Angga membiarkan penisnya tetap di dalam, merasakan kehangatan dan kontraksi yang perlahan mereda.

“Gimana, Say?” bisik Angga, suaranya kelelahan namun puas. “Masih mau bilang aku bangsat?”

Naira tertawa kecil, tawa yang penuh kelelahan dan kenikmatan. Ia memeluk kepala Angga erat-erat.

“Iya, kamu memang bangsat!” bisik Naira, suaranya sudah sangat lembut, “Gila! Ga. Kamu jahat banget!”

Angga mengangkat wajahnya sedikit, menatap Naira yang matanya masih sayu dan bibirnya bengkak.

“Aku gak jahat, aku cuma mau memek kamu rasain lagi, Sayang. Rasain kontol yang dulu sering puasin kamu kl ga puas sama pacar kamu,” kata Angga, menyeka keringat di dahi Naira.

Mereka berdua terdiam, menikmati keintiman yang kacau balau itu. Mereka berpelukan erat, merasakan detak jantung satu sama lain, menyatu dalam kehangatan yang lembap dan penuh cairan.

Kehangatan Setelah Badai

Angga perlahan melepaskan diri dari Naira. Ia menarik penisnya yang sudah lembek dari vagina Naira yang masih terasa menghimpit. Suara “Plopp!” basah menemani pelepasan itu. Angga lalu berguling ke samping, terbaring telentang di sebelah Naira, keduanya kelelahan, tubuh mereka berkeringat dan lengket.

Naira berbalik menghadap Angga, menopang kepalanya dengan satu tangan. Ia menyentuh dada Angga, mengusap bekas cupangan yang ia tinggalkan di sekitar puting dada pria itu. Senyum jahil muncul di bibirnya.

“Gimana, Bebeb Angga?” goda Naira, suaranya kembali jernih, penuh kemenangan. “Udah puas, Say?”

Angga terkekeh, napasnya masih terengah-engah. Ia memejamkan mata sejenak, lalu menoleh ke Naira. Matanya penuh kepuasan.

“Puas banget, Say. Puas banget. Aku uda lama banget rasanya ga ngewe seliar tadi,” balas Angga, suaranya berat dan seksi. “Tapi next time jangan ditahan kaya tadi, ya. Deg-degan juga aku, anjir! Emang lo mau punya anak dari gue??”

Naira mencubit pinggang Angga pelan. “Halah, baru crot dalem gitu aja udah panik. Padahal dulu waktu bujangan, tiap di mobil juga crot dalem, enggak pake mikir. Tenang aja Say…aku KB ko, ga setolol itu juga kali ku ngebiarin cowo ngecrot dalem memek kalo ga KB.”

“Ya bedalah, dulu kan kita single,” Angga membalas. Ia meraih tangan Naira, mencium punggung tangan wanita itu. “Tapi wait… kita belum selesai. Kamu yang mulai duluan, Say.”

Naira mengangkat alisnya, genit. “Aku mulai duluan apanya? Aku tadi kan cuma numpang salat. Kamu tuh yang mesum!”

Angga tertawa lebar. “Oh, numpang salat, ya? Aku masih ingat loh, kamu masuk kamar aku itu jam berapa. Dan aku ingat banget ekspresi kamu waktu buka pasmina sama cardigan di depan kaca, sengaja ya.”

“Hah? pede!” sanggah Naira, tapi wajahnya sedikit memerah.

“Enggak ge er. Aku ingat banget, kamu fokus nyari kiblat, padahal matamu ngelirik. Dari siluet mukena kamu yang nerawang, aku bisa lihat samar-samar tokrt montok kamu, Say. Trus ku liat, waktu aku lagi ngomong, mata kamu suka ngelirik ke kontol di balik boxer aku ini kan.” Angga menyeringai.

Naira mencibir. “Dih, pede! Lebih pede kamu! Aku tadi cuma ngelihat mata kamu, dan aku yakin banget kamu tadi lagi ngelirik ke toket aku. Bahkan, waktu aku udah selesai salat, kamu yang sok-sokan manggilin aku buat ngobrol di sofa, terus modus nyenggol dada aku, kan? Aku tahu, Ga, kamu gak tahan, penasaran pengen nyentuh puting aku kaan. Hayoo ngaku aja say”

Naira kembali menyerang, matanya menantang Angga.

Angga menarik napas dalam-dalam, menggelengkan kepala. “Iya, oke, aku ngaku pengin. Tapi kamu juga sange, Sayang. Mulut kamu bilang, ‘Astagfirullah Angga! Stop sebentar! Kita harus cooling down’,” Angga meniru suara Naira dengan nada mengejek.

“Tapi gestur kamu sebaliknya? Cd kamu udah basah sebelum aku apa apain! Terus, apa tadi yang kamu ucapin sambil Nyepong kontol aku? ‘Aku pinjem kontol suami kamu sebentar ya, Novita Sayang!’ Kamu tuh binalnya enggak ketulungan, Say!”

Naira terbahak. Ia menampar dada Angga, tapi dengan lembut. “Ya abis gimana? Kamu tuh pinter banget mancing! Kissing-nya enak, fingering-nya mantap, jilatan kamu juga bikin aku gemeter!”

“Tuh kan, ujung-ujungnya ngaku juga!” Angga langsung mengambil kesempatan. “Dan coba ulangi lagi tadi kamu ngomong apa? ‘Masukin aja kontol kamu Ga! Aku enggak kuat, Angga! Masukin!’ Terus pas mau crot, kamu malah nahan aku biar enggak cabut! Kamu bilang, ‘Keluarin dalem aja Ga, enggak apa-apa!’ Ck ck ck. Kamu tuh emang paling liar, Say. Paling horny! Tiga kali orgasme dalam satu ronde, amazing!”

Angga menatap Naira dengan bangga, seolah-olah ia memenangkan piala.

Naira mengangkat dagunya, tidak mau kalah. “Aku keluar tiga kali itu karena kamu curang, maksa jilmek, uda gitu manin clit lagi. Lagian, kamu tau aku enggak akan nolak kalau yang masuk itu kontol kamu. Udah lama enggak ngerasain yang segede ini.”

Naira mendekatkan wajahnya, memberikan ciuman ringan di bibir Angga. “Terus, sekarang apa? Udah mau balik ke ballroom? Atau mau lanjutin ronde kedua? Aku masih bisa, lho, buat kamu crot lagi. Gimana kalau aku naik di atas kamu? Tapi kontol kamu masih bobo nih”

Ia menggerakkan pinggulnya sedikit ke arah Angga, menimbulkan gesekan lembut di antara mereka. Sebuah undangan yang jelas.

Angga menelan ludah, menatap mata Naira yang penuh godaan. “Gimana kalau kita bersih bersih dulu? Terus baru kita gas ronde dua? Aku enggak mau nanti miss V kamu lecet karena kelamaan digenjot.”

“Ide bagus,” bisik Naira. “Kamu tunggu sini. Aku duluan yang bersih-bersih.”

Naira bangkit dari kasur, membiarkan Angga melihat tubuhnya yang telanjang, sebelum ia melangkah ke kamar mandi.
Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Naira keluar. Rambutnya sedikt basah di bagian jidatnya, terlihat sedikit tetesan air di bahunya. Ia hanya melilitkan handuk putih besar di tubuhnya, menutupi dadanya hingga pertengahan paha. Handuk itu melilit longgar, menonjolkan lekuk tubuhnya yang baru saja dimanjakan.

Angga, yang masih berbaring di kasur, segera bangkit ke posisi duduk, matanya terpaku pada Naira.

“Aih, wangi banget!” goda Angga, suaranya kembali energik. Ia bersandar di kepala kasur.

Naira tersenyum angkuh. “Iya laah. Harus bersih, dong. Jangan sampai bau sperma kamu nempel lama-lama.”

Naira tidak langsung kembali ke kamar mandi. Ia berjalan ke sisi kasur, lalu dengan gerakan sensual, ia duduk tepat di sebelah Angga. Ia duduk menghadap depan, membiarkan paha mulusnya yang terekspos bersentuhan dengan paha Angga.

“Kamu enggak mandi, Ga? Nanti bau,” ledek Naira.

“Aku gak bisa mandi sekarang,” jawab Angga, matanya tak lepas dari belahan dada Naira yang mengintip di balik lilitan handuk. “Aku mau liat pemandangan gunung ini dulu.”

Naira terkekeh. Ia lalu mengulurkan tangannya, dan tanpa ragu, meraih selangkangan Angga yang hanya tertutup selimut.

“Pemandangan apa?” tanya Naira, pura-pura tidak mengerti. Jemari lentiknya mulai memijat lembut tonjolan di balik kain selimut. “Pemandangan ini?”

Sentuhan yang tiba-tiba dan fokus itu membuat Angga tersentak. Angga menahan napas. “Naira…”

“Kenapa, Sayang?” bisik Naira, suaranya sangat dekat, manja, dan menggoda. Ia terus mengelus penis Angga yang perlahan mulai menegang di balik kain tipis itu. “Tadi bilangnya udah capek, udah puas, udah crot dalem juga. Kok sekarang kontolnya bangun lagi?”

Naira semakin berani. Ia menggosok pangkal penis Angga dengan jempolnya, memutarnya perlahan, membangunkan hasrat Angga yang baru saja tertidur pulas.

Dalam hitungan detik, penis Angga kembali mengeras, mendorong kain boxer hingga menegang sempurna.

Naira merasakan perubahan itu. Ia menghentikan tangannya, lalu menatap Angga dengan sorot mata penuh ejekan.

“Lihat tuh,” kata Naira, menunjuk pada penis Angga yang tegak. “Mulut bilang udah capek, tapi kontol-nya bilang, ‘Aku mau lagi, Say! Aku mau masuk memek binor lagi!'”

Naira tertawa puas.

“Kamu tuh…!” desah Angga, ia meraih tangan Naira yang bandel, memaksanya untuk berhenti. “Siapa suruh keluar cuma pake handuk doang, terus duduk di sebelah aku sambil ngelus-ngelus kayak gini? Ya jelas bangunlah!”

“Salah aku? Kamu tuh sangean!” Naira membalas, matanya berbinar-binar. “Gimana coba, kalau Novita tahu, kamu udah crot di aku, tapi baru aku keluar kamar mandi aja udah tegak lagi? Jangan-jangan di rumah kamu enggak dapat jatah ya?”

Angga menyeringai. “Jangan bawa-bawa Novita. Aku udah bilang, di sini, aku cuma ingat kamu. Dan iya, aku sange akut sama kamu. Kamu tahu kan, aku paling enggak bisa kalau kamu lagi genit kayak gini.”

Angga menarik tangan Naira yang tadi bermain-main di selangkangannya, lalu ia mencium telapak tangan itu.

“Jadi… Tuan Angga yang terhormat. Kontolnya sudah berdiri. Mau main yang hardcore lagi? Atau kita mau slow aja?” tantang Naira.

Angga tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mendorong Naira perlahan hingga Naira terlentang di kasur, handuknya tersingkap dan melorot sedikit, memperlihatkan payudara Naira yang kembali naik-turun cepat.

Angga naik ke atas Naira, meletakkan tangannya di kedua sisi kepala Naira. “Bilang aja memek kamu minta di ewe lagi. Aku mau ronde kedua yang lebih hot dari yang tadi.”

Angga menindih Naira yang terlentang, namun Naira membalikkan posisi. Dengan gerakan cepat, ia mendorong Angga hingga kembali duduk bersandar di kepala kasur, lalu Naira segera naik ke pangkuan Angga.

Ia mengatur posisi, handuknya terlepas sepenuhnya, membiarkan tubuhnya yang telanjang bergesekan dengan paha Angga.

“Kamu mau enak di atas terus, Ga?” desis Naira, matanya menyala. “Sekarang, gantian dong aku yang di atas!”

Naira membungkuk, mencium Angga dengan ganas, mengambil alih kendali atas lidah mereka. Angga membalas ciuman itu dengan tak kalah brutal, tangannya mencengkeram erat pinggul telanjang Naira.

Ciuman itu terlepas. Angga segera mencumbu leher jenjang Naira, sambil tangannya mewremas lembut payudara naira, lidahnya bermain di belakang telinga wanita itu.

“Nghhh… Ya Allah, Angga! Geliii…!” desah Naira, sensasi lembut yang tiba-tiba datang saat ia sedang dominan membuatnya kembali melunak.

Angga mengabaikannya. Ia terus menyesap dan menggigit kecil di leher Naira, sementara tangannya merayap ke belakang. Angga meremas pantat berisi Naira, mengarahkan posisi Naira agar tepat di atas penisnya yang sudah berdiri tegak dan menggesekkan vagina naira di penisnya yang sudah sangat keras.

Naira sudah tidak sabar. Dengan napas terengah, ia mencengkeram penis Angga yang keras, mengarahkannya ke liangnya yang sudah kembali basah.

“Masukin sekarang aja,Ga! Aku mau kamu kontol kamu lagi!”

Naira mengatur napas, dan dengan gerakan cepat, ia menjatuhkan dirinya ke bawah. Penis Angga yang tebal melesak masuk ke vaginanya dengan suara “Sluuuurrp!” yang panjang. Sensasi penuh dan klop itu membuat Naira memejamkan mata dan mendesah kuat.

“Ahhh! Fuck!”

Naira membuka mata, lalu tersenyum lebar pada Angga. “Mantep, gede banget! Penuh banget, Sayang. Kontol kamu ga pernah gagal bikin memek ku enak!”

Naira mulai bergerak. Ia tidak hanya menggenjot ke atas dan ke bawah seperti gerakan standar. Pinggulnya berputar-putar perlahan, memberikan gesekan melingkar yang menggoda. Lalu, ia mulai bergerak maju dan mundur, mengocok penis Angga dengan sudut yang berbeda.

“Gini, Say? Suka yang diputer-puter kayak gini?” goda Naira, suaranya kini penuh kepercayaan diri. “Kamu kuat, enggak, aku genjot di atas kamu kayak gini?”

“Terusin, Say! Oh God! Kamu liar banget!” Angga memejamkan mata, kepalanya bersandar di belakang. Cengkeraman dari dalam vagina Naira sangat kuat.

Saat Naira bergerak liar, rambut panjangnya yang basah mulai menutupi wajahnya. Ia berhenti sejenak, mengangkat kedua tangannya untuk merapikan rambut ke belakang. Gerakan ini membuat dadanya terbusung ke depan.

Angga melihat kesempatan itu. Tanpa menunggu, ia mencengkeram kedua payudara Naira dengan kasar. Mulutnya segera menyergap puting Naira. Ia mengisap puting Naira dengan rakus dan brutal, lidahnya berputar-putar dan menarik-narik dengan gigitan-gigitan kecil.

“Aaaahhh! Angga! jangan keras-keras! Tar ngebekas loh!” jerit Naira, punggungnya melengkung.

Naira kembali menggenjot. Sensasi isapan kasar di payudaranya, ditambah dengan tusukan penis Angga yang dalam, membuatnya semakin cepat mencapai puncak. Payudaranya yang besar itu bergoyang hebat, dan Angga melihat bekas merah samar sudah mulai tercetak di sekitar puting Naira.

“Iya, Say! Aku suka kalau kamu liar di atas aku! Memek kamu! Aduk memek kamu ngejepit kontolku! God!” seru Angga, memberikan dirty talk balasan.

“Aku genjot kamu sampai kamu crot lagi, Ga! Sampai kontol kamu lemes!” tantang Naira.

Naira menggenjot semakin brutal, pinggulnya berputar cepat, mengaduk-aduk penis Angga. Sensasi itu terlalu dahsyat.

“AAAAAHHHH!!! AKU KELUAR LAGI! ANGGAAAAA……!!!”

Naira menjerit, suara klimaksnya memekakkan telinga. Ia merasakan ledakan yang memuncak di dalam tubuhnya, dan ia langsung terkulai lemas, menjatuhkan tubuhnya di dada Angga, masih dengan penis Angga tertancap di liangnya.

Nafasnya terengah-engah. Ia sudah benar-benar kelelahan, seluruh tenaganya terkuras habis.

Angga memejamkan mata, memeluk Naira erat, mencoba menahan klimaksnya sendiri. “Tunggu, Sayang! Jangan berhenti! Aku sebentar lagi keluar!”

Naira tidak bisa lagi bergerak. Ia menekan bibirnya ke dada Angga. “Aku capek, Ga. Udah lemes banget.”

Setelah beberapa detik, Naira mengangkat tubuhnya sedikit, melepaskan pelukan Angga. Ia lalu merangkak turun dari pangkuan Angga, dan langsung merebahkan diri telentang, membelakangi Angga.

Penis Angga, yang masih tegak berdiri dan basah oleh cairan Naira, terlepas begitu saja dari vagina Naira.

Angga tercengang. “Say! Jangan tidur dulu! Aku belum ngecrot!” protesnya, suaranya terdengar frustrasi.

Angga tidak menyerah. Ia segera meraih pinggul Naira dari belakang. Ia menarik tubuh Naira ke arahnya, lalu mengarahkan penisnya ke belakang liang Naira.

Hup!

Karena vagina Naira masih sangat basah dan hangat, penis Angga melesak masuk dengan mudah. Angga segera memposisikan dirinya di belakang Naira, menusuknya dari belakang, menggenjot dengan dorongan-dorongan kuat.

“Aahh! Angga! Nghh!” Naira kembali mendesah, merasakan tusukan yang dalam dan kuat.

Angga menggenjot sekuat tenaga, ingin segera mencapai pelepasan. Namun, setelah beberapa menit hentakan brutal, sensasi kelelahan dan rasa perih di vagina Naira yang sudah digenjot dua kali berturut-turut mulai terasa.

“Stop, Ga! Tunggu! Aww! Sakit, Sayang! Pelan-pelan!” keluh Naira.

Angga menghentikan gerakannya, napasnya memburu. Penisnya masih tegak.

Naira membalikkan badan. “Udah, Ga. Memek aku perih. Kamu tuh udah sange dari tadi tapi enggak crot-crot juga. Memekku gak kuat lagi digenjot!”

Naira segera bangkit, lalu ia menarik tangan Angga, memaksanya berdiri menghadapnya di pinggir kasur.

“Sini!” perintah Naira, matanya masih merah karena gairah yang tertunda. “Aku selesaiin!”

Naira berlutut di depan Angga, lalu menundukkan kepalanya. Ia menelan penis Angga yang berdenyut penuh. Ritmenya kali ini sangat cepat, menggebu-gebu, seolah ingin segera menyelesaikan urusan ini.

Angga mencengkeram rambut Naira, membiarkan wanita itu mengontrol sepenuhnya. Ia menatap ke bawah, melihat kepala Naira bergerak naik-turun dengan cepat dan fokus.

Blowjob yang ganas dan tanpa ampun itu segera membawa Angga ke puncak.

“Say! Aku keluar! Aku crot di mulut kamu!” erang Angga.

Naira segera menarik mulutnya, dan di detik itu juga, Angga melepaskan semua cairannya. Sperma Angga menyembur deras, sebagian mengenai mulut Naira, dan sebagian lagi menyembur hingga membasahi pipi dan dahinya.

Naira hanya terdiam, wajahnya basah oleh sperma Angga, menatap Angga dengan napas terengah-engah. Angga terhuyung ke belakang, kelelahan, tapi wajahnya penuh kepuasan.

“Sekarang, kita impas,” bisik Angga, kelelahan namun menyeringai puas.

Naira memejamkan mata, menjilat sisa sperma yang menempel di bibirnya. “Dasar nakal!” omelnya pelan, tapi ia kembali tersenyum puas.

Keintiman liar mereka berakhir di atas karpet kamar. Keduanya bangkit, tubuh mereka lengket dan berkeringat. Naira, tanpa berkata-kata, berjalan gontai ke kamar mandi. Angga mengikutinya. Mereka membersihkan diri bersama di bawah shower air hangat, saling menyabuni punggung dan dada dengan gerakan penuh keakraban yang mereka rindukan selama 15 tahun.

Setelah mandi, mereka keluar, tubuh mereka dibungkus handuk yang berbeda. Angga dengan handuk di pinggang, Naira dengan handuk melilit di dada. Mereka saling mengelap punggung dan rambut hingga kering, senyum kecil tak pernah lepas dari wajah mereka.

Mereka kembali duduk berdampingan di sofa. Angga memperhatikan Naira yang mulai merias wajahnya di depan cermin, mengaplikasikan make up tipis dan rapi, mengembalikan citra PNS stylish yang baru saja hancur berantakan.

Saat Naira sedang memperbaiki lipstik di bibirnya, ponselnya yang tergeletak di meja bergetar keras. Layar menunjukkan nama “Bu Rini (Sekamar)”.

Naira menghela napas. “Nah, kan. Dicariin,” katanya sambil berbisik.

Naira mengangkat telepon itu, menjawab dengan suara yang dibuat santai, “Ya, Bu Rini. Maaf, saya tadi ketiduran sebentar di musala hotel setelah Isya. Ini lagi siap-siap mau ke kamar.”

Setelah menutup telepon, Naira buru-buru mengambil pakaiannya.

“Aku harus cepat, Ga. Dia bisa curiga,” kata Naira.

Saat ia sedang mengenakan dress dan outer-nya, ia tiba-tiba berhenti. Ia merasakan ketidaknyamanan. Celana dalam satin yang ia kenakan tadi sudah lembap dan kusut karena pertempuran liar mereka.

Naira menatap Angga, lalu tanpa ragu, ia menunduk sedikit, menyentuh bagian dalam dress-nya. Dengan gerakan cepat dan seksi, Naira melepas celana dalam satin yang lembap itu dari tubuhnya, menurunkannya melalui satu kaki hingga terlepas.

Angga hanya mematung, menatap pemandangan nakal itu.

Naira melirik ke arah Angga, mengedipkan mata, lalu mengambil celana dalam lembap itu dan melipatnya rapi. Ia memasukkannya ke dalam saku kecil di dalam tas tangannya.

“Lebih nyaman,” bisik Naira. “Gak enak, basah…lembab.”

Angga hanya menggelengkan kepala, terkesan dengan tingkat kenakalan Naira.

Naira kini sudah siap, tampak rapi seperti semula, kecuali ada kilatan rahasia di matanya. Ia berdiri di depan Angga, yang masih duduk di sofa.

“Aku pamit ya, My Love,” kata Naira.

Angga bangkit, menarik Naira ke dalam pelukannya untuk ciuman perpisahan. Ciuman itu cepat berubah menjadi ganas. Angga mencium bibir Naira dengan penuh hasrat, seolah ia bisa menyerap semua kenikmatan malam itu dalam satu kecupan.

Saat berciuman, Naira membalas dengan intens. Tangan Naira yang bebas meraba celana Angga, mencari penisnya yang masih keras. Ia meremasnya lembut namun penuh janji.

Angga mengerang, memutus ciuman. “Jangan, Say. Aku bisa pengen lagi.”

Naira mendekat ke telinga Angga, menjilat daun telinga Angga sekilas, lalu berbisik dengan suara rendah dan serak, “Ingat baik-baik, Ga. Selangkangan kamu itu milikku. Selama seminar ini, jangan sampai crot lagi tanpa aku.”

Godaan itu menghantam Angga. Ia memejamkan mata, memproses ancaman manis itu.

Naira kemudian mundur, meraih tasnya. Sebelum melangkah pergi, ia sempat menoleh ke belakang, menaikkan pinggulnya sedikit.

“Say,” panggil Naira, nadanya genit. “Aku kelihatan gak pakai cd enggak, sih? Enggak nyeplak apa-apa kan?” sambil meraba belakang pantat dan pahanya

Angga mendekat, berdiri tepat di belakang Naira. Ia mengulurkan tangan dan mengelus, lalu meremas lembut pantat Naira yang padat di balik dress tipis itu.

“Sama sekali enggak kelihatan, Say. Malah jauh lebih aman begini,” jawab Angga, suaranya dalam. “Justru tadi, pas pakai cd, garisnya malah kelihatan nyeplak banget. Sekarang, mulus.”

Naira tertawa puas. Ia melangkah genit menuju pintu kamar, memberikan satu lambaian menggoda.

Tepat saat Naira membuka pintu, Angga berseru dengan suara yang lebih lantang, penuh ledekan.

“Hati-hati, Ustadzah! Ingat, kamu enggak pakai sempak! Jaga baik-baik supaya enggak ada ‘sesuatu’ yang masuk tanpa izin sebelum ketemu aku lagi!”

Naira membeku sebentar, tawa tak tertahankan keluar dari bibirnya. Ia menggelengkan kepala, memberikan tatapan membara terakhir, lalu melangkah keluar, kembali menjadi PNS anggun yang berhijab, menyembunyikan semua rahasia liar yang baru saja terjadi di kamar Angga.

 

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *