Jejak Rahasia Naira – Part 25

Pagi Setelah Badai: Profesionalisme dan Kenangan Liar​

Pagi hari di ballroom hotel terasa kontras dengan kekacauan yang terjadi di kamar Angga semalam. Udara pagi terasa sejuk, dan aroma kopi yang disajikan menyebar di antara para peserta seminar penutupan.

Naira memasuki ballroom dengan citra profesional yang kembali sempurna. Ia mengenakan atasan batik tulis berwarna gelap dengan potongan panjang di atas lutut, dipadukan dengan rok pensil ketat berwarna senada yang panjang hingga mata kaki, menampilkan siluet tubuhnya yang indah. Belahan tinggi di belakang roknya, yang hanya terangkat sedikit saat berjalan, memberikan sentuhan sensual tersembunyi. Jilbab segiempatnya tertata rapi, menutupi dada, seolah menghapus setiap jejak kenakalan yang terjadi semalam.

Ia memilih duduk di barisan tengah, jauh dari pandangan utama, mencoba berbaur. Secara fisik, ia tampak anggun dan tenang. Namun, di balik sikap profesionalnya, ia merasakan sedikit nyeri di paha dalam dan ada kelelahan yang luar biasa. Setiap langkahnya mengingatkannya pada hentakan keras dan putaran pinggul liar yang ia lakukan semalam di atas pangkuan Angga.

Tak lama kemudian, Angga memasuki ruangan. Ia juga tampil sleek dan profesional dengan kemeja batik modern berwarna cerah dan celana bahan yang rapi. Ia melirik sekilas ke seluruh ruangan, dan matanya langsung menemukan Naira.

Naira pura-pura tidak melihat, segera mengeluarkan buku catatan dan pena, berpura-pura sangat fokus pada acara.

Angga berjalan lurus, dan alih-alih duduk di barisan depan bersama rekan-rekan direksi lainnya, ia justru memilih kursi kosong, dua baris di belakang Naira.

Sebuah pesan singkat masuk ke HPnya yang ia letakkan di meja.

Naira melirik HPnya dengan hati-hati.

From: Angga

Pagi, Sayang. Rok kamu belahannya tinggi banget. Aku masih bisa bayangin pantat kamu yang semalem aku elus itu.
Wajah Naira langsung memanas. Ia menahan napas, berusaha keras untuk tidak bereaksi. Ia mengetik balasan dengan cepat, sambil sesekali melirik ke belakang. Angga sedang menunduk, pura-pura fokus pada ponselnya.

To: Angga

Jaga sopan santun kamu! Kita di acara resmi! Kamu enggak lihat? Aku udah pakai jilbab rapi. Hargai Hijabku!
Tak sampai satu menit, ponsel Naira kembali bergetar.

From: Angga

Jilbab kamu emang rapi, Say. Tapi aku lihat ekspresi kamu pas jalan tadi, muka kamu keliatan agak meringis. Memek kamu masih perih ya sisa semalem? Atau karena kamu kelamaan nyepong aku sampai crot di muka kamu?
Naira hampir tersedak kopi yang baru saja ia minum. Ia mendesis pelan, lalu mengetik balasan dengan jari gemetar. Ia tidak boleh kalah.

To: Angga

Memekku perih karena goyanganku terlalu ganas di atas kamu, Ga. Kamu jangan sok tahu! Kamu tuh yang masih lemes karena udah ku bikin crot dua kali berturut-turut. Sekarang, fokus. Aku enggak mau ngomong sama kontol lemes!
Angga tertawa kecil, suara tawa yang hanya didengar oleh dirinya sendiri.

From: Angga

Say, aku jamin kontol aku sekarang lagi ngaceng cuma gara-gara bayangin kamu ngomel dengan rok ketat begitu. Mau aku fotoin?
Naira terkesiap. Ia menoleh sedikit ke belakang, hanya untuk melihat Angga kini menyandarkan diri, memamerkan senyum penuh kemenangan.

Naira memejamkan mata sejenak, mengambil napas, dan menenangkan gejolak di bawah sana yang ikut bereaksi mendengar kata-kata Angga. Ia memutuskan untuk tidak membalas lagi, demi menjaga akal sehatnya.

Tiba-tiba, ia merasakan sentuhan lain di punggungnya, kali ini disertai dengan bisikan yang sangat pelan, hampir tidak terdengar.

“Nanti sebelum pulang, kamu mampir ke kamar aku lagi ya. Jangan langsung pulang. Ronde ketiga belum selesai, Say.”

Naira tidak berani menoleh, tetapi ia tahu Angga berpura pura keluar ballroom ke toilet mungkin, tapi naira tau itu cuma trik angga buat bisa menyentuh dan membisik di telinga naira. Ia hanya bisa menelan ludah, membenamkan jari-jarinya di pinggiran meja, dan berusaha keras mempertahankan citra istri salehah dan profesionalnya di tengah ballroom yang ramai.

Acara penutupan seminar berakhir pada pukul 11.30 WIB. Para peserta mulai beranjak menuju pintu keluar ballroom, saling bersalaman dan bertukar kartu nama.
Naira dengan cepat membereskan catatannya dan bergegas menuju pintu, berharap bisa menghindari Angga. Namun, suara bariton itu sudah berada di belakangnya.

“Say,” panggil Angga, nadanya santai.

Naira berbalik, memasang senyum profesional. “Oh, Angga. Selamat ya, seminarnya sukses besar.”

Angga membalas senyum itu, tapi matanya memancarkan keintiman yang tersembunyi. “Sama-sama. Ngomong-ngomong, kamu pulang Bogor naik apa? Mau bareng?”

Naira menggeleng sopan. “Enggak usah, Ga. Makasih banyak tawarannya. Aku udah pesan tiket kereta sore ini.”

“Kereta? Sama siapa? Aku bisa anter kamu sampe ke pintu rumah padahal,” desak Angga, mendekat sedikit.

“Jangan, Ga. Kamu kan bawa mobil Novita, kan? Enggak enak, nanti dia cemburu,” kata Naira, sambil melirik sekeliling. “Lagipula, aku enggak langsung pulang. Habis dari sini, aku mau ke kantor BKD Provinsi dulu. Urus kepindahan status kepegawaianku dari Pemprov ke Pemkot.”

Angga mengangguk mengerti. “Oh, jadi mau pindah tugas? Pantesan kamu kelihatan ambisius banget.”

“Ya begitulah,” jawab Naira singkat. Ia teringat koper besarnya yang ia tinggalkan di kamar. “Nah, ini dia masalahnya. Aku bawa koper besar. Repot kalau harus ke BKD sambil bawa koper mondar-mandir.”

Naira menatap Angga dengan tatapan memohon yang pura-pura tidak bersalah.

“Ga, kamu enggak keberatan kan… kalau aku titipin koperku ke kamu? Nanti tolong drop aja ke OB kantor aku. Jadi aku bisa langsung ke BKD ga perlu bawa-bawa koper gede.”

Angga menyeringai kecil, menyadari adanya modus tersembunyi dalam permintaan ini. Sebuah koper di tangannya akan menjadi pengingat yang sangat pribadi sepanjang perjalanan pulangnya.

“Wah, kenapa harus aku yang repot-repot bawain koper besar kamu, Say? Aku kan harus packing barangku juga,” ledek Angga, sengaja menekankan kata ‘Sayang’ dengan nada rendah.

Naira memutar bola mata, tapi tersenyum genit. “Ya kan cuma kamu yang nawarin tumpangan, jadi sekalian aja. Gimana? Setuju, Mamas Ganteng?”

Angga menghela napas dramatis, padahal di dalam hati ia senang. “Oke, oke. Sebagai teman lama, aku setuju. Tapi nanti sore kamu ambil sendiri di mobil aku di kantor ya, buat pastiin kopermu aman, ya.”

Naira tahu Angga akan menggunakan ini sebagai alasan untuk dirty talk lagi, tapi ia tidak peduli. “Oke, sip! Deal!”

“Aku beres-beres di kamar dulu. Kopernya nanti aku antar ke kamar kamu, ya. Kamu tunggu di sana aja, biar enggak repot,” kata Naira.

“Lho, enggak usah diantar,” Angga tersenyum nakal. “Aku aja yang ambil. Sekalian mau bantuin kamu packing di kamar.”

Naira tertawa, tawa yang penuh rahasia. “Hati-hati, Ga. Nanti kamu malah beresin yang lain lagi kalau masuk kamarku. Lagian ada Bu Rini juga di kamar, ga bisa ngapain kamu, udah ya, aku duluan. Bye!”

Naira langsung berbalik, meninggalkan Angga berdiri sendiri dengan senyum puas. Angga mengawasi punggung Naira yang tertutup batik rapi dan rok ketat, kemudian ia segera melangkah menuju kamarnya, jantungnya sudah berdebar memikirkan rencana Naira untuk kembali masuk ke kamar Angga demi menyerahkan koper.

Naira kembali ke kamarnya, merasa lega karena terhindar dari perpisahan yang canggung dengan Angga di depan umum. Ia segera meraih HPnya.

To: Angga

Ga, kamu udah siap aku’titipin’ koper? Aku baru mau beres-beres sekarang. Barusan bantu Bu Rini, dia udah check out duluan. Jadi sekarang aku sendirian.
Tak lama, balasan dari Angga datang.

From: Angga

Aku udah siap dari tadi. Aku udah di kamar. Jangan lama-lama, Say. Aku kangen.
Naira tersenyum kecil, meletakkan ponselnya, dan mulai membuka koper besarnya. Ia baru saja akan melipat jilbabnya, ketika bel pintu kamar berbunyi.

Ting Tong.

Naira terperanjat. Ia yakin itu Angga. Ia segera meraih jilbabnya, tapi sudah terlambat.

Naira membuka pintu, dan benar saja, Angga berdiri di sana. Ia sudah berganti pakaian menjadi kaos polos dan celana jeans, terlihat jauh lebih santai.

“Ngapain kamu ke sini?” bisik Naira, pura-pura kesal.

“Aku lihat chat kamu, kayaknya kamu bakalan lama kalau packing sendiri. Jadi aku ke sini. Mau bantu kamu. Biar cepat kelar,” jawab Angga enteng, matanya langsung tertuju pada penampilan Naira.

Naira sudah melepas jilbabnya, membiarkan rambut hitam panjangnya terurai. Kancing teratas pada kerah baju batiknya sudah terbuka, menciptakan celah kecil di dada yang memungkinkan belahan payudara montok Naira sedikit mengintip.

“Angga! Jangan macem-macem, aku belum mandi!” tegur Naira, tapi ia membiarkan Angga masuk.

Angga langsung duduk di tepi ranjang, tepat di sebelah koper Naira yang terbuka. “Enggak apa-apa, kamu juga wangi kok. Sini, aku bantuin.”

Mereka mulai packing. Angga mengambil beberapa helai pakaian formal Naira.

“Lihat ini. Pakaian dinas kamu rapi banget. Enggak nyangka di baliknya ‘liar’ yang suka ngenjot di atas aku,” ledek Angga sambil melipat kemeja Naira.

Naira mencibir. “Aku kan profesional. Beda sama kamu, di balik kaos polos gini aja kontol-nya udah sange lagi, kan?”

Naira lalu meraih rok pensil ketat yang ia kenakan pagi tadi. Ia menatap Angga.

“Ya udah, packing aja. Jangan banyak omong. Nih, rok yang aku pakai sekarang. Tolong lipetin, Ga.”

Dengan gerakan cepat yang mengejutkan, Naira menarik zip rok pensilnya ke bawah, lalu melepaskan rok ketat itu dari pinggulnya. Rok itu meluncur ke lantai.

Naira kini hanya mengenakan atasan batik panjangnya yang mencapai pertengahan paha dan celana dalam yang ia kenakan di baliknya. Atasan batik itu kini terlihat seperti mini dress seksi, dengan kancing atasnya yang sudah terbuka dan kancing bawahnya yang tidak dikancing, memperlihatkan paha dan belahan dadanya secara bersamaan.

Angga menelan ludah, tatapannya terpaku pada Naira yang telanjang di bagian bawah.

“Aku ke kamar mandi sebentar, pipis!” seru Naira, lalu ia berlari kecil menuju kamar mandi, meninggalkan Angga sendirian di kamar dengan rok pensilnya yang tergeletak.

Angga hanya bisa menggelengkan kepala, tertawa kecil, menikmati permainan wanita itu.

Setelah beberapa saat, Naira keluar dari kamar mandi. Angga sudah selesai melipat roknya.

“Sini,” kata Naira, ia mengambil beberapa barang pribadinya dan langsung berjongkok di depan koper besarnya.

Ia menunduk, mencari celana panjang yang akan ia kenakan untuk perjalanan. Posisi Naira yang berjongkok dengan atasan batik yang longgar membuat bokongnya sedikit terangkat. Pandangan Angga langsung tertuju ke sana. Celana dalam satin Naira terlihat jelas, membentuk cekungan sempurna di bawah atasan batiknya yang tersingkap.

Angga hanya bisa menahan napas, melihat tubuh Naira yang nungging di hadapannya.

Naira sengaja memperlambat gerakannya, tahu betul apa yang Angga lihat. Atasan batik yang ia kenakan kini terlihat sangat seksi: kancing teratasnya terbuka, memperlihatkan belahan dadanya yang berlimpah, dan bagian bawahnya yang tersingkap menampilkan paha dan pantatnya.

Angga tidak bisa menahan diri. Ia merangkak sedikit dari tepi ranjang, mendekat di belakang Naira. Tangannya terangkat, mengelus lembut paha belakang Naira yang tegang.

“Say…” desah Angga, suaranya serak.

Naira tersentak, tapi tidak bergerak dari posisi nungging-nya.

“Apa, Ga? Aku lagi nyari celana nih,” bisik Naira, suaranya dibuat-buat lugu, namun ia semakin memajukan bokongnya sedikit ke arah Angga.

Angga mendekat, menempelkan penis-nya yang kembali tegak di pantat Naira.

“Aku enggak bisa bantuin packing kalau pemandangannya kayak gini, Sayang. Kamu sengaja ya, bikin aku sange lagi?”

Naira tertawa pelan, tawa yang penuh kemenangan. Ia memutar kepalanya sedikit, menatap Angga yang sudah gelap mata.

“Say…” desah Angga, suaranya serak. Ia merangkak dari ranjang.

“Apa, Beb?” Naira menoleh, matanya genit. “Aku lagi cari celana. Kalau kamu sange, itu urusan kamu,” goda Naira, tapi sengaja menggeser bokongnya sedikit lebih dekat ke Angga.

Angga tidak menjawab lagi. Ia segera meraih pinggang Naira, menariknya kasar hingga Naira terhuyung, lalu Angga mengangkat Naira ke pangkuannya. Naira kini duduk menghadapnya, dengan paha telanjang bergesekan.

Angga mencium Naira dengan gairah yang terpendam. Ciuman itu mesra, menuntut, dan Angga segera melancarkan serangan. Ia menundukkan kepala mencium leher Naira, sementara tangannya merayap ke bawah, mencoba menyingkap atasan batik itu.

Naira tersentak, mengunci tangan Angga. “Stop, Angga! Enggak bisa!”

“Kenapa? Kamu mau, kan?” bisik Angga, tangannya sudah mencoba meraba selangkangan Naira, menembus lapisan tipis cd yang sudah lembap.

“Enggak bisa! Aku harus check out sekarang! Lima belas menit lagi telat, Ga! Aku harus ke BKD!” tolak Naira, napasnya memburu.

Angga menyeringai. Ia tahu Naira tidak akan menyerah, kecuali ia menemukan tombol rahasia Naira. Angga menghentikan tangannya di selangkangan, lalu ia mendorong Naira perlahan hingga terlentang di ranjang.

“Aku telepon Misua dulu ya,” kata Naira, tiba-tiba.

Ia meraih HPnya, memasang ekspresi letih. “Diem! Jangan bersuara,” perintah Naira tegas.

Naira segera melakukan panggilan video ke suaminya, Rizal. Saat panggilan terhubung, Naira mengatur angle ponselnya agar hanya wajahnya yang memerah yang terlihat.

“Halo, Mas Sayang,” sapa Naira manja, suaranya dibuat letih. “Iya, aku blum selesai packing. Capek banget, jadi rebahan sebentar.”

Saat Naira berbicara, Angga yang berada di bawah, memanfaatkan momen ini. Ia melepaskan pakaian yang dia kenakan sampai bugil, kemudian menarik atasan batik Naira ke atas, membiarkan tubuh bagian bawah Naira terbuka sepenuhnya. Lalu Angga mencium paha dalam Naira, lidahnya bermain di kulit halus wanita itu.

Naira menggigit bibir, menahan desahan. “Iya, Mas. Sebentar lagi aku pakai jilbab terus check out. Mau langsung ke BKD, urus surat-surat. Habis itu baru ke stasiun.”

Suaminya meminta Naira menunjukkan kamarnya. “Itu koper kamu kok kebuka gitu, Yang? Belum rapi?”

“Eh, udah! Ini tinggal yang kecil-kecil aja, Mas! Udah mau beres,” jawab Naira panik, ia segera mencondongkan badan, menutupi tubuh bagian bawahnya yang sedang dicumbu Angga dengan tangan.

Saat Naira lengah menutupi paha, Angga bertindak cepat. Ia menarik cd Naira ke bawah, melepaskannya sepenuhnya, dan melemparkannya ke lantai.

Naira terperanjat, matanya melotot ke Angga, tapi ia tidak bisa bersuara. Ia hanya bisa tersenyum kaku ke HPnya.

“Udah dulu ya, Mas. Aku enggak mau telat. Love you!” Naira buru-buru mematikan telepon.

Begitu telepon mati, Angga segera naik, menindih Naira.

“Kamu gila, Ga!!” desis Naira.

Angga tidak peduli. Ia menatap atasan batik yang menghalangi. Dengan tarikan kasar dan sekali sentakan, Angga menarik paksa kancing jepret atasan batik Naira, membuat pakaian itu terbuka lebar. Payudara montok Naira langsung menyambutnya.

Tanpa basa-basi, Angga langsung mengulum puting Naira. Hisapan kasar dan dalam itu langsung menghancurkan pertahanan Naira yang sudah rapuh.

“Aaaahhh! Angga! Jangan… Nghhh!”

Angga terus menyesap, ia merasakan tubuh Naira kejang, dan vagina Naira di bawahnya mendadak basah karena luapan cairan birahi.

Angga mengangkat wajah, ia menyeringai. Ia tahu Naira sudah siap.

Ia menggesekkan penisnya yang keras ke bibir vagina Naira yang sudah becek. Gesekan itu menimbulkan sensasi panas dan desiran yang luar biasa. Naira membenamkan tangannya di rambut Angga.

“Nghh! beby… Sialan! Fuck! Nghhh!” desah Naira, suaranya sudah serak, matanya sayu.

Angga terus menggesek, menguji batas kesabaran Naira. “Kamu mau aku masukin, Say? Bilang dulu.”

“Aku… aku enggak kuat, Say! Jangan, nanti keterusan! Aku harus check out!” tolak Naira dengan mulut, tapi pinggulnya sudah terangkat, menyambut gesekan penis Angga.

Angga tidak memberinya pilihan lagi. Ia menahan pinggul Naira, dan dengan satu dorongan kasar, penisnya melesak masuk.

Jleeb! Aaaarrghh!

Teriakan panjang Naira lolos. Angga segera memompa, menggenjot brutal. Payudara Naira bergoyang liar ke kanan dan ke kiri seiring sodokan penis Angga yang dalam dan kuat.

“Aku suka yang ini, Ga!” erang Naira.

Saat mereka sedang berada di puncak gairah, di tengah suara genjotan yang brutal, telepon kamar berdering.

Tring! Tring!

Angga dan Naira mengabaikannya. Angga terus menggenjot. Tapi telepon terus berdering, membuat Naira jengkel.

“Sialan! Berisik!” Naira mendorong Angga yang menindihnya hingga penis Angga terlepas dengan suara “Plopp!” yang keras.

Naira merangkak ke arah telepon, napasnya memburu. Saat ia meraih gagang telepon, Angga memanfaatkan momen ini. Ia langsung menusukkan penisnya lagi dari belakang, dalam posisi doggy style.

Jleeb!

Naira terperanjat, ia mengangkat telepon sambil nungging. “Halo… Nghhh!” desah Naira.

“Mohon maaf, Bu. Sudah waktunya check out ya sudah lewat 5 menit, apa ibu membutuhkan perpanjangan?” ujar Front Office.

Angga mencengkeram payudara Naira yang kini menggantung dan bergoyang liar di bawah tubuhnya. Ia meremas kasar puting Naira dari belakang, sambil menggenjot dengan kecepatan penuh.

“Iya, Mas… aku… aku lagi packing… Aah! Sebentar lagi. Nghhh!” Suara Naira kini penuh desahan yang tak bisa disembunyikan.

Petugas FO di seberang telepon terdiam sejenak. “B-baik, Bu. Mohon maaf mengganggu. Terima kasih.” Panggilan terputus.

Naira melempar gagang telepon. Angga menggenjot liar, ia mencengkeram payudara Naira dengan brutal, memerasnya hingga terasa sakit. Naira mendongak, merasakan lehernya disedot kasar oleh Angga dari belakang.

“Angga! Crot di luar! Jangan di dalem! Aku enggak mau bau sperma!” raung Naira.

Angga sudah tidak mendengar. Kenikmatan yang luar biasa itu, ditambah dirty talk liar Naira, membuatnya lepas kendali.

“Aku crot! Aku keluar….!” teriak Angga, dan ia menyemburkan seluruh cairannya ke dalam vagina Naira.

Naira berteriak histeris, tubuhnya kejang, ia merasakan ejakulasi Angga.

“Bangsat! Aku bilang jangan di dalem! Aku udah mau pulang, nanti memek aku bau sperma kamu, dasar bego!” umpat Naira, tapi ia terkulai lemas, lelah, dan penuh kepuasan.

Angga ambruk di sebelah tubuhnya, napasnya tersengal-sengal. “Enggak akan bau, Sayang. Aku jamin,” bisik Angga.

Mereka berdua segera bangkit, wajah mereka panik.

“Mati! Kita telat! Cepat mandi..!” seru Naira.

Mereka berlarian ke kamar mandi, membersihkan cairan dan keringat. Naira membersihkan vaginanya dengan cermat, takut benar-benar ada bau yang tertinggal. Mereka kembali berpakaian secepat kilat.

Lima menit kemudian, mereka berdua berdiri di depan pintu, tampil rapi dan profesional. Naira mengenakan celana panjang dan kemeja blouse yang sudah disiapkan, sementara Angga memegang koper besar Naira.

Mereka keluar kamar, dan di lorong, seorang petugas housekeeping wanita sedang bertugas.

Petugas itu tersenyum ramah melihat pasangan yang baru saja check out terlambat itu. “Permisi, Bapak, Ibu. Sudah chek out. Terima kasih atas kunjungannya.”

Petugas itu melihat Angga membawa koper besar dan berjalan beriringan dengan Naira.

“Suaminya baik sekali ya, Bu, mau membantu bawa koper,” ujar petugas housekeeping itu sambil tersenyum ke Naira.

Naira hanya tersenyum kaku dan sedikit memerah. “Iya, Mbak. Memang baik.”

Angga hanya menyeringai puas, mengangkat koper Naira, dan mengikuti Naira menuju lift, siap melanjutkan sandiwara perpisahan mereka.

Naira dan Angga berjalan berdampingan menuju lobi utama, Angga membawa koper besar Naira. Mereka tampak seperti pasangan suami istri yang hendak berpisah setelah perjalanan bisnis.

Angga meletakkan koper di samping pintu putar lobi. Tepat pada saat itu, sebuah taksi yang sudah dipesan Naira tiba dan berhenti di depan pintu masuk.

Naira menoleh ke Angga. Ekspresinya segera berubah menjadi lembut, persis seperti saat ia berpamitan dengan suaminya, Rizal.

Naira berjinjit sedikit, dan mendaratkan satu kecupan ringan di bibir Angga. Kecupan yang sangat singkat, namun penuh makna bagi mereka berdua.

“Hati-hati, Sayang,” bisik Angga, membalas kecupan itu dengan sentuhan ibu jari di pipi Naira.

Naira kemudian mengambil tangan Angga, menundukkan kepala, dan mencium punggung tangan Angga—sebuah gestur hormat yang biasa dilakukan seorang istri kepada suaminya.

“Aku pergi dulu ya, Mas. Kamu langsung ke kantor dan drop koperku. Makasih banyak,” kata Naira dengan nada tulus, suaranya sedikit serak karena kelelahan pasca-klimaks.

Angga mengangguk, sorot matanya yang penuh arti beradu dengan mata Naira. “Siap, Sayang. Hati-hati di jalan.”

Seorang petugas bellboy membantu memasukkan koper Naira ke bagasi taksi. Naira segera masuk ke kursi belakang.

Supir taksi, seorang pria paruh baya yang ramah, menoleh ke belakang saat Naira duduk.

“Suaminya enggak ikut pulang, Bu?” tanya supir taksi itu, melihat Angga masih berdiri di samping mobil, menatap Naira dengan intens.

Naira tersenyum manis. “Enggak, Pak. Beliau ada urusan mendadak di sini dan harus balik duluan ke Bogor. Jadi aku duluan.”

Supir taksi itu mengangguk. Ia menatap ke kaca spion, melihat Angga yang melambaikan tangan ke Naira.

“Waduh, Bu. Salut saya lihat suami Ibu. Dari tadi mandangin Ibu terus. Kayaknya sayang dan cinta banget sama Ibu,” komentar supir taksi itu dengan tulus.

Wajah Naira langsung memerah, perpaduan antara tersipu malu dan rasa bersalah yang menusuk. Ia merasakan blushing hebat di pipinya, karena pujian itu didasarkan pada sandiwara paling brutal yang pernah ia mainkan.

“Ah, Bapak bisa aja,” jawab Naira, sambil menata jilbabnya, mencoba menutupi kegugupannya.

“Beneran, Bu! Tatapan beliau itu beda. Matanya penuh banget. Apalagi Ibu cantik sekali, auranya bersinar. Beneran, Bu, wajah Ibu itu bersinar, kayak habis dapat rezeki besar. Pasti suami Ibu bangga banget punya istri secantik dan seanggun Ibu,” puji supir taksi itu lagi, tanpa jeda.

Naira tidak bisa menahan senyumnya yang mengembang lebar. Pujian itu, meskipun berasal dari kebohongan, terasa memabukkan. Ia meraih tasnya, berusaha tetap tenang.

“Terima kasih banyak ya, Pak. Bapak juga baik sekali.”

“Sama-sama, Bu. Ibu terlihat seperti wanita yang sangat beruntung. Ayo, kita jalan, Bu. Ke Kantor BKD ya, Bu?”

“Iya, Pak, ke kantor BKD Provinsi dulu ya trus baru saya nanti ke stasiun, Pak,” jawab Naira, membalas senyum supir taksi.

Saat taksi mulai melaju, Naira menoleh ke belakang, melihat Angga masih berdiri di tempatnya, menatap ke arah taksi. Senyum Angga adalah senyum kemenangan, senyum yang menjanjikan lebih banyak bahaya.

Naira tersenyum tipis, lalu memejamkan mata. Ia tahu, meskipun ia sudah dalam perjalanan pulang, ikatan liarnya dengan Angga baru saja dimulai kembali.

 

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *