Jejak Rahasia Naira – Part 31

Gerimis tipis menyambut kedatangan Rizky di Kota Bogor. Sebagai ajudan Kepala BKD Provinsi Jawa Barat, langkahnya selalu terlihat tegap dan berwibawa, namun di balik seragam cokelatnya, ada satu agenda pribadi yang membuatnya tidak sabar menyelesaikan urusan dinas kali ini.

Ia memarkir mobil dinasnya di depan Kantor Dinas Arsip.

Penampilan Naira tak berubah: jilbabnya rapi, kacamata bertengger manis di hidung, sikapnya tenang dan santun seperti biasa. Citra perempuan Solehah, Perempuan baik-baik yang sulit disentuh. Tapi Rizky tahu, di balik semua itu, ada sisi lain yang pernah ia rasakan—dan sulit dilupakan.

“Teteh,” sapa Rizky dengan nada rendah yang bergetar.

Naira mendongak cepat. Matanya membelalak sepersekian detik sebelum kembali terkendali.
“Rizky? Kamu ngapain di sini?” suaranya dibuat datar. “Ke Bogor kok nggak bilang-bilang?”

Rizky masuk dan menutup pintu pelan, lalu meletakkan map biru di atas meja. Gerakannya santai, penuh percaya diri.

Suasana di ruangan itu mendadak terasa pengap, seolah oksigen tersedot habis oleh kehadiran Rizky yang terlalu dominan. Cahaya matahari yang menerobos masuk lewat jendela kantor seakan mengejek Naira; mengingatkannya pada pencahayaan serupa di sebuah kamar hotel di Bandung, saat mereka seharusnya sibuk mengurus berkas mutasi, namun justru berakhir di balik selimut.

Rizky tidak hanya berdiri di sana sebagai rekan kerja. Ia berdiri sebagai laki-laki yang tahu persis titik lemah di balik sikap kaku Naira. Tatapannya tidak lagi formal, melainkan menjelajah dengan cara yang membuat Naira merasa telanjang di balik pakaian dinasnya.

“Ingat nggak, waktu kita harusnya ke BKD siang-siang di Bandung kemarin?” Rizky memulai, suaranya rendah dan serak, seolah sedang menceritakan rahasia paling gelap. “Waktu itu panas banget, persis kayak hari ini. Sambil nunggu ngadep sekdis kita ngadem ke dago… walaupun akhirnya tetap keringetan juga, kan?”

Ia melangkah maju, tangannya sengaja menyapu ujung meja, perlahan mendekati jemari Naira yang mulai gemetar.

Rizky menyeringai, matanya menyisir penampilan Naira dari atas sampai bawah dengan cara yang sangat tidak sopan. Ia menyandarkan pinggulnya di tepi meja kerja Naira, bersikap seolah mereka sedang membicarakan draf laporan, padahal kata-katanya justru menghancurkan konsentrasi.

“Lucu ya, lihat Teteh pakai seragam PDH begini sekarang,” gumam Rizky pelan. “Padahal waktu di Bandung kemarin, Teteh sendiri yang bilang kalau kancing PDH ini cuma bikin ribet karena kita buru-buru ngejar waktu check-out.”

Naira merasakan telinganya memanas. Ia berusaha keras menjaga ekspresi wajahnya agar tetap datar, tidak ingin rekan kerja di luar ruangan curiga jika mereka mengintip lewat kaca pintu. Ia menarik napas dalam, jemarinya yang tersembunyi di balik meja meremas pinggiran kursi untuk menyalurkan rasa gugup.

Rizky justru semakin berani. Ia mencondongkan badan, menatap lurus ke arah pinggang Naira dengan tatapan yang sangat intim.

“Ngomong-ngomong, apa Teteh pakai thong seksi yang sama kayak di hotel kemarin lg ga?” bisiknya, suaranya kini terdengar sangat rendah dan menggoda. “Yang talinya tipis banget sampai bikin aku nggak fokus”

Naira merasa harga dirinya seperti sedang diinjak-injak di tengah ruangan yang seharusnya menjadi tempat profesionalnya. Ia menelan ludah, mencoba membasahi tenggorokannya yang mendadak kering. Dengan gerakan yang dipaksakan tenang, ia membetulkan posisi duduknya, sedikit menegakkan punggung untuk menunjukkan bahwa ia masih memegang kendali.

“Udah selesai, Ky?” tanya Naira dengan nada suara yang diusahakan sedatar mungkin, meski getaran di ujung kalimatnya sulit disembunyikan. Ia meraih sebuah bolpoin, memegangnya kuat-kuat sebagai pegangan agar tangannya tidak terlihat gemetar. “Kalau kamu ke sini cuma mau bahas hal nggak penting yang sudah lewat, mending keluar. Kerjaanku banyak.”

Naira menatap mata Rizky dengan berani, mencoba menutupi fakta bahwa di dalam sana, jantungnya sedang berdegup kencang karena malu sekaligus teringat kembali pada setiap sentuhan pria itu.

Naira berdiri dengan sentakan kecil, kursinya sedikit berderit di atas lantai ruang kantor yang sunyi. Ia berusaha menciptakan jarak, namun Rizky justru melihat gerakan itu sebagai undangan. Jantung Naira berdetak tidak karuan, memorinya mendadak memutar ulang setiap detail di Bandung dua bulan lalu—sesuatu yang mati-matian ia sebut sebagai “khilaf” meski tubuhnya sulit membohongi rasa haus yang sama.

Rizky tidak membiarkan Naira menjauh lebih dari dua langkah. Dengan gerakan yang sangat cepat namun terukur, ia melangkah maju. Satu tangannya bertumpu di meja, mengunci pergerakan Naira, sementara tangan lainnya bergerak dengan keberanian yang lancang.

Awalnya hanya sebuah sentuhan ringan di pinggang, seolah hendak merapikan lipatan seragam PDH Naira. Namun, jemarinya tidak berhenti di sana.

“Teteh makin galak kalau lagi panik,” bisik Rizky, suaranya terasa hangat di dekat daun telinga Naira.

Tiba-tiba, telapak tangan Rizky turun ke bawah. Dengan gerakan yang sangat berani dan posesif, ia meraba lekukan di balik kain kaku seragam dinas itu. Tidak sekadar menyentuh, Rizky meremas pantat Naira dengan tekanan yang kuat, membuat napas Naira tertahan di tenggorokan.

“Masih sama,” gumam Rizky lagi, ibu jarinya sengaja menekan ke arah tengah, mencari tahu apakah spekulasinya soal pakaian dalam Naira benar. “Masih kenceng, dan kayaknya Teteh pakeshort lagi, ya? Emm aku tau, brarti maren di Bandung emang udah persiapan yaaa.”

Naira terpaku. Harga dirinya terhentak, namun sentuhan kasar namun intim itu mengirimkan sengatan yang membuatnya lemas. Ia berusaha memegang pinggiran meja agar tidak jatuh, sementara tangannya yang lain mencoba menepis tangan Rizky, meski gerakannya terasa sangat lemah dan tidak bertenaga.

“Rizky… lepas,” desis Naira, matanya melirik cemas ke arah pintu ruangan yang tertutup rapat, namun tidak terkunci. “Jangan gila, ini kantor.”

Rizky justru memperdalam remasannya, menarik pinggul Naira agar lebih merapat ke tubuhnya, seolah ingin mengingatkan kembali bagaimana rasanya mereka menyatu di sela-sela kesibukan administrasi pindahan tempo hari.

“Justru karena ini kantor, Teh,” bisik Rizky nakal. “Sensasinya beda sama hotel di Bandung kemarin, kan? Lebih… berisiko.”

“Bantu aku pindah dulu ke Bapenda, kaya janji kamu, baru kita ngobrol lagi,” ucap Naira ketus, mencoba mempertahankan harga dirinya yang tinggi. “Aku ga mau sembarangan, Aa. Ini kantor.”

Rizky terkekeh pelan, “Teteh mau main jual mahal lagi?” bisik Rizky tepat di telinga Naira. “Padahal aku masih ingat gimana Teteh memohon di hotel waktu itu. Bibir Teteh bilang jangan, tapi memek Teteh becek.”

“Ada titipan memo dari Pak Kaban Provinsi,” katanya. “Buat Kepala BKD Kota Bogor.” Ia menepuk map itu ringan. “Rekomendasi mutasi. Ke Bapenda.”

Naira menelan ludah. Itu tempat yang ia incar sejak lama.

“Tempat yang Teteh mau, kan?” lanjut Rizky, matanya tak lepas dari wajah Naira.

Naira mencoba mendorong dada Rizky, namun tangannya justru gemetar saat menyentuh seragam pria itu. Rizky tahu titik lemah Naira bukan pada kata-kata, melainkan pada sentuhan yang dominan.

Dengan gerakan cepat namun terkendali, Rizky mengunci posisi Naira di kursinya. Tangan Rizky mulai menelusuri tengkuk Naira di balik kerudungnya, memberikan pijatan lembut yang memicu memori liar di kepala Naira.

“Aa, jangan… ada orang di luar,” rintih Naira. Suaranya mulai serak, benteng pertahanannya mulai retak. Nafasnya mulai tidak beraturan saat Rizky dengan berani mencium aroma lehernya.

“Mereka gak akan tahu, Teh. Kamu suka yang tantangan, kan?”

Naira masih mencoba menggeleng, namun saat Rizky mulai memberikan tekanan yang tepat pada titik-titik sensitif yang hanya ia yang tahu, Naira kehilangan kata-kata. Rasa haus akan sentuhan liar Rizky yang kini memuncak, mengalahkan segala kemunafikan yang ia jaga selama ini.

Naira berusaha mengatur napasnya yang mulai pendek, jemarinya meremas pinggiran meja kayu jati di ruang arsip yang sepi itu. Ia mencoba memperbaiki posisi kacamata dan jilbabnya yang sedikit miring akibat desakan Rizky.

“Rizky, cukup. Ini kantor, bukan hotel” desis Naira dengan nada bicara yang ditekan, mencoba mengembalikan citra jaim-nya. “Soal Bapenda itu janji kamu. Jangan dicampuradukkan. Aku mau pindah dulu, baru kita… kita lihat nanti.”

Rizky tidak mundur. Ia justru menyandarkan pinggulnya di meja, menatap Naira dengan tatapan lapar yang tidak disembunyikan. “Teteh tahu? Sejak terakhir di Bandung, aku merasa kaya orang gila.”

Naira memalingkan wajah, namun telinganya tetap menyimak.
Naira mendengus pelan, sebuah tawa hambar keluar dari bibirnya yang dipoles lipstik natural. Ia mencoba mengatur napasnya yang mulai tidak beraturan, berusaha mencari celah untuk menjatuhkan mental Rizky agar pria itu menjauh.

“Halah, gombal banget,” ledek Naira sambil melirik sinis, meski rona merah di pipinya tak bisa disembunyikan. “Masa laki-laki kayak kamu nggak punya pacar? Nggak mungkin juga kamu puasa selama dua bulan ini. Dilihat dari cara kamu… ‘main’ kemarin di Bandung, kelihatan banget kalau jam terbang kamu itu tinggi. Mana mungkin kamu betah nggak ngapa-ngapain.”

Naira menyilangkan tangan di dada, mencoba membangun benteng pertahanan. “Pasti ada cewe lain yang kamu pakai buat pelampiasan, kan? Jadi nggak usah akting seolah-olah cuma aku yang bisa bikin kamu gila.”

Rizky tidak langsung membantah. Ia justru terdiam sejenak, menatap Naira dengan intensitas yang membuat bulu kuduk wanita itu meremang. Ia menarik napas panjang, lalu menjawab dengan suara yang berat dan jujur.

“Pacarku… dia cantik sih, Teh. Tapi setiap kali kami ML, rasanya hambar. Kosong. Dia hanya diam, tidak punya gairah kaya Teteh,” lanjut Rizky. Tangannya kembali bergerak, kali ini jari-jarinya menyusuri lengan seragam Naira dengan perlahan.

“Skill dia ga ada apa-apanya dibanding cara main Teteh puasi aku. Teteh itu… kaya madu yang mematikan. Sekali ku rasain, aku ga bisa berpaling ke yang lain. Aku sange, Teh. Dan cuma Teteh yang bisa memuasin.”

Rizky kembali memberikan remasan pelan di pinggul Naira, seolah ingin menegaskan bahwa ia benar-benar lapar akan sensasi yang hanya bisa diberikan oleh wanita di depannya ini.

“Pacarku cuma sekadar status,” bisik Rizky lagi, bibirnya hampir menyentuh ujung jilbab Naira. “Tapi memori siang itu di Bandung, cara Teteh mendesah di bawah aku sambil pegang aku… itu yang terus-terusan bikin aku nggak bisa tidur.”

Pujian Rizky barusan benar-benar menghantam ego Naira. Sebagai wanita yang diam-diam bangga dengan “kemampuannya” namun selalu tertutup rapat di balik citra wanita terhormat, mendengar Rizky yang jauh lebih muda darinya sampai kecanduan begitu memberikan kepuasan tersendiri. Pipinya merona panas, tapi ia berusaha tetap pada pendiriannya.

“Itu tuh cuma khilaf, Aa. Aku lagi pusing banget waktu itu gara-gara urusan mutasi, makanya terbawa suasana. Jangan dianggap serius,” sahut Naira, walau suaranya mulai terdengar nggak stabil.

Rizky malah tertawa sinis. Tangannya kembali bergerak, kali ini dengan berani mengelus jemari Naira yang masih mencengkeram pinggiran meja. “Khilaf kok berkali-kali, Teh? Itu mah namanya hobi. Lagian jangan bohongin diri sendiri deh, aku bisa lihat dari mata Teteh kalau Teteh juga kangen aku ‘acak-acak’ lagi, kan?”

“Aa, jangan di sini! Kalau tiba-tiba ada yang masuk gimana?” Naira mulai panik saat tangan Rizky dengan lancang mulai masuk ke celah lengannya, menyentuh payudara dari luar seragamnya.

“Ya sudah kalau takut di sini, ayo cabut. Aku udah sewa tempat yang aman banget, cuma sepuluh menit dari sini,” bisik Rizky dengan nada memerintah. “Teteh ikut aku sekarang, atau memo Bapenda ini aku bawa balik lagi ke Bandung dan aku pastiin Teteh ampe tua di dinas arsip ini selamanya.”

Naira menolak ajakan itu dengan sisa-sisa logikanya. “Nggak mau. Jangan ke tempat aneh-aneh. Kita ke kafe aja yang biasa, lebih aman.”

Rizky menatapnya tajam, tidak menerima bantahan. Ia mengangkat memo biru itu di depan wajah Naira. “Nggak ada kafe-kafean, Teh. Pilihannya cuma satu: ikut aku sekarang atau urusan mutasi Teteh hangus.”

Naira menatap memo itu, lalu beralih ke wajah Rizky yang keras kepala. Ia tahu Rizky nggak main-main. Di satu sisi ia ingin mempertahankan harga dirinya, tapi di sisi lain, gairah yang sudah telanjur dipancing Rizky mulai membakar akal sehatnya.

“Kamu bener-bener licik, Rizky,” ucap Naira pelan. Matanya menyipit, tapi ada kilatan nafsu yang nggak bisa disembunyikan di sana.

“Aku cuma cowo yang lagi nagih janji sama ‘gurunya’ sendiri,” balas Rizky sambil tersenyum puas karena tahu dia menang. “Ayo, Aku jalan duluan ke parkiran. Aku tunggu di mobil.”

Naira buru-buru merapikan pakaiannya yang sedikit kusut akibat remasan Rizky tadi. Ia mengambil tasnya dengan gerakan anggun, seolah baru saja menyelesaikan rapat penting. Dengan wajah datar dan ekspresi sangat sopan, ia berjalan keluar ruangan.

Sambil melewati meja rekan-rekan kantornya, ia melempar senyum tipis yang sangat santun. “Mari, duluan ya semuanya,” pamitnya tenang, seolah tidak ada yang tahu kalau beberapa menit lalu ia baru saja digoda habis-habisan di ruangannya sendiri.

Di dalam mobil, suasana terasa mendadak pengap. Naira terus membuang muka ke arah jendela, mencoba menetralisir gemuruh di dadanya yang makin ga karuan.

“Aa, kita ke kafe saja ya? Kita ngobrol baik-baik di sana soal memo Pak Kaban. Di Pajajaran ada kafe cozy, tempatnya sepi dan nggak mencolok,” pintanya, masih berusaha pakai nada formal meski suaranya agak bergetar.

Namun, Rizky hanya tersenyum tipis tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan Kota Bogor yang mulai basah oleh hujan. Saat mobil mendekati lokasi di Jalan Pajajaran, Naira sudah bersiap memberikan aba-aba.

“Itu di sebelah kiri, A. Pelan-pelan,” tunjuk Naira.

Bukannya menginjak rem, Rizky malah memutar setir dengan tenang, membelokkan mobil masuk ke area parkir sebuah hotel berbintang yang berdiri megah tepat di samping kafe tersebut.

“Rizky! Apa-apaan sih? Aku bilang ke kafe, bukan ke sini!” seru Naira panik saat mobil mulai menuruni tanjakan menuju basement.

“Aku capek, Teh. Aku butuh tempat yang tenang buat jelasin soal memo itu sambil rebahan. Lagian aku sudah check-in di sini buat malam ini, sebelum besok pagi-pagi harus menghadap Kepala BKD,” jawab Rizky santai sambil mematikan mesin.

“Aku nggak mau turun! Ini gila, Rizky!” Naira bersikeras, tangannya mencengkeram tas erat-erat seolah benda itu bisa melindunginya.

Melihat keras kepalanya Naira, Rizky kehilangan kesabaran. Ia menarik napas panjang, lalu tiba-tiba mencondongkan tubuhnya ke arah Naira. Sebelum Naira sempat memprotes, tangan Rizky menarik tengkuk leher Naira, memaksa wajahnya mendekat, mengecup pipinya dan tiba-tiba bibirnya sudah membungkam mulut Naira.

Awalnya Naira mencoba memberontak, tangannya memukul bahu Rizky dengan lemah. Namun, permainan lidah Rizky yang sangat dominan dan menuntut mulai meluluhkan pertahanannya. Perlahan, desahan kecil lolos dari sela bibir Naira, dan ia mulai menyambut kuluman Rizky dengan gairah yang sama besarnya.

Kenekatan Rizky tak berhenti di situ. Sambil terus mencumbu, sebelah tangan Rizky mulai merayap naik, meraba dan meremas dada Naira dari balik seragam PDH-nya yang kaku. Dengan gerakan cepat, sambil berpindah mencumbu leher Naira di balik hijab yang mulai berantakan, jemari Rizky mulai melepas kancing teratas seragam Naira.

“Rizky, jangan… ada orang di luar… nanti kelihatan,” rintih Naira di sela-sela ciuman mereka. Matanya melirik ke luar jendela dengan ketakutan luar biasa, membayangkan ada rekan sejawat atau orang yang mengenalnya melintas di basement.

“Kalau gitu ayo naik. Di atas lebih aman, nggak akan ada yang lihat,” bisik Rizky dengan suara serak, tangannya kini mulai menyentuh puting dadanya yang membuat seluruh persendian Naira terasa lumpuh.

Naira yang sudah terpojok dan mulai terbakar nafsu akhirnya menyerah kalah. “Oke, oke… kita naik. Tapi aku nggak mau jalan bareng kamu. Kalau ada yang kenal, habis aku. Lagian kita pakai seragam, bakal jadi sorotan kalau jalan bareng masuk kamar hotel.”

“Teteh mau ngulur waktu?” Rizky menyeringai, tahu betul ketakutan Naira adalah senjatanya. “Atau Teteh mau kabur?”

Rizky kemudian mengeluarkan kartu akses dari saku seragamnya dan menyerahkannya kepada Naira. “Ini kartu kamarnya. Teteh naik duluan lewat lift basement ini. Aku menyusul lewat lobi setelah Teteh masuk kamar. Jangan coba-coba lari, atau memo Bapenda ini beneran bakal jadi sampah di tangan aku.”

Naira mengambil kartu itu dengan tangan gemetar. Ia merapikan bra nya, mengancingkan kancing bajunya yang terbuka lalu mengenakan masker dari dalam tasnya, sambil menunggu sejenak sampai suasana di basement dirasa aman. Begitu ia keluar dari mobil dan berjalan menuju lift yang hanya beberapa langkah dari tempat parkir, langkahnya mendadak terhenti.

Matanya menangkap sebuah pemandangan yang tak terduga. Tepat di samping pintu lift, terparkir sebuah mobil yang sangat ia kenali plat nomornya. Itu mobil Angga.

Ngapain mobil Angga di sini siang-siang begini? batin Naira berkecamuk.

Rasa penasaran mengalahkan kepanikannya sesaat. Dengan gerakan cepat, Naira mengeluarkan HPnya. Ia memotret mobil Angga yang terparkir di sana sebagai jaminan jika suatu saat rahasianya terancam. Ternyata bukan cuma aku yang siang -siang kesini, ngapain ya angga? sama cewe mana lagi dia? pikirnya getir.

Begitu pintu lift tertutup, Naira menyandarkan tubuhnya ke dinding lift yang dingin, mencoba mengatur napasnya yang memburu. Di satu sisi, ia merasa terhina karena dipaksa seperti ini, namun di sisi lain, bayangan akan permainan liar Rizky membuat bagian bawah perutnya berdenyut kencang. Ia tahu, begitu Rizky mengetuk pintu kamar nanti, topeng “Ibu PNS yang Solehah” itu akan kembali tanggal sepenuhnya.
Lampu indikator lift bergerak naik dengan lambat, seiring dengan detak jantung Naira yang kian kencang. Ia terus menatap pantulan dirinya di dinding lift yang mengkilap; masker menutupi setengah wajahnya, tapi matanya tidak bisa menyembunyikan kegelisahan. Gila, kalau ada teman sekantor atau kenalan yang lihat aku keluar dari lift basement hotel pakai seragam jam segini, tamat riwayatku, batinnya kalut.

Begitu pintu lift terbuka di lantai delapan, Naira melongok keluar dengan waspada. Lorong hotel itu sunyi, hanya ada suara sayup-sayup musik instrumental dari pengeras suara di plafon. Ia berjalan cepat, setengah berlari, mencari nomor kamar yang tertera di kartu akses. Begitu sampai di depan pintu, ia menempelkan kartu dengan tangan gemetar. Klik.

Naira masuk dan langsung mengunci pintu dari dalam. Ia menyandarkan punggungnya di pintu kayu yang kokoh itu, mencoba mengatur napasnya yang putus-putus. Tak lama kemudian, terdengar ketukan pelan. Tok… tok… tok.

Naira membuka pintu sedikit, dan Rizky menyelinap masuk dengan tenang. Naira sudah bersiap untuk disergap atau langsung dipojokkan ke dinding, tapi dugaannya meleset total. Rizky justru meletakkan tasnya di atas meja, membuka kancing manset seragamnya, dan berjalan menuju sudut ruangan yang menyediakan teko listrik.

“Teteh duduk dulu, rileks. Aku buatin kopi ya? Di luar hujan, udara Bogor lagi nggak ramah,” ucap Rizky santai, suaranya terdengar sangat lembut, jauh dari kesan memaksa yang tadi ia tunjukkan di mobil.

Naira terpaku, ia masih berusaha menjaga imejnya. “Nggak usah repot-repot, Rizky. Kita di sini cuma mau bahas memo, kan?” sahutnya jaim, meski ia akhirnya duduk juga di tepi ranjang yang empuk.

Rizky hanya tersenyum tipis. Ia menyeduh kopi, aromanya menyeruak memenuhi kamar yang dingin itu. Ia mengantarkan cangkir putih ke hadapan Naira. “Minum dulu, Teh. Biar rileks.”

Naira menyesap kopi itu perlahan. Perhatian kecil Rizky entah kenapa membuatnya merasa sangat dilayani, sebuah perasaan yang jarang ia dapatkan dari suaminya atau bahkan dari Angga yang cenderung brutal. Ia menatap cermin, melepas hijabnya hingga rambutnya tergerai. “Aku ke kamar mandi sebentar ya,” pamit Naira kemudian.

Di dalam kamar mandi, Naira mengunci pintu. Dengan gerakan cepat, ia melucuti seragam PDH-nya. Ia melepas korset yang selama ini menyesakkan napas demi bentuk tubuh yang sempurna, lalu melepas short pants pelapisnya. Setelah buang air kecil dan membasuh diri dengan sabun sirih yang selalu ia bawa di tas, ia merasa jauh lebih segar.

Naira memutuskan untuk tidak memakai kembali korset dan celana pendek ketatnya. Ia membiarkannya tergeletak di pojok wastafel. Ia hanya mengenakan pakaian dalam dan langsung memakai kembali seragam PDH-nya. Dari luar, ia tampak tetap rapi dan bersahaja, namun ia tahu betul bahwa kini hanya ada satu lapisan tipis yang menghalangi kulitnya dari kain seragam itu.

Saat Naira keluar dari kamar mandi, ia dikejutkan oleh pemandangan yang berbeda. Lampu utama kamar sudah dimatikan, hanya menyisakan lampu tidur yang temaram dengan warna kekuningan yang hangat. Rizky sedang duduk di sofa dekat jendela, menatap rintik hujan di luar.

Begitu melihat Naira, Rizky berdiri. Ia tidak langsung menerjang. Ia mendekat perlahan, aroma parfumnya kini bercampur dengan aroma kopi yang menenangkan. Rizky menyadari ada yang berbeda; lekukan tubuh Naira di balik seragamnya tampak lebih alami, lebih… nyata. Ia tahu Naira sudah “bersiap”, tapi ia memilih untuk bermain elegan.

“Teteh kalau rambutnya digerai begini, cantik banget,” bisik Rizky lembut. Ia mengulurkan tangan, hanya untuk merapikan satu anak rambut yang menempel di pipi Naira. Sentuhannya sangat halus, seperti seorang pacar yang sangat merindukan kekasihnya.

Naira mendengus pelan, mencoba menahan senyum yang hampir terbit karena perlakuan manis Rizky. Ia memutar bola matanya, berpura-pura masih kesal padahal hatinya mulai lumer.

“Halah, alasan kamu aja itu,” sahut Naira dengan nada yang lebih santai, meski masih ada sisa-sisa gengsi di sana. “Bilang aja emang maunya ngumpet di kamar begini supaya bisa bebas berbuat nakal sama aku, kan? Dasar otak mesum. Kebaca tau ga.”

Rizky tertawa lirih, suara tawa yang terdengar sangat rendah dan menggoda di telinga Naira. Ia tidak membantah, justru semakin merapatkan tubuhnya. “Kalau aku nggak mesum, Teteh nggak bakal puas kayak waktu di Bandung itu, kan?” bisiknya tanpa dosa.

Naira yang tadinya ingin tetap jaim, mendadak merasa pertahanannya benar-benar runtuh oleh tatapan manis itu. Ia bisa merasakan jari-jari Rizky mulai turun dari bahu ke arah punggungnya, memberikan pijatan ringan namun presisi. Tanpa adanya korset yang biasanya membungkus tubuhnya dengan ketat, setiap tekanan jari Rizky terasa jauh lebih intim dan langsung menyentuh syarafnya.

Naira sedikit berjengit saat tangan Rizky tanpa sengaja menekan bagian punggungnya yang kini hanya dibatasi selembar kain PDH dan bra tipis. Rizky menyadari sesuatu yang berbeda. Pria itu sedikit mengernyit, tangannya sengaja meluncur lebih bawah ke arah pinggang Naira.

“Kok… lebih empuk?” gumam Rizky dengan nada menyelidik namun geli. Ia menarik pinggang Naira lebih dekat, hingga tubuh mereka benar-benar menempel. “Teteh lepasin korset di kamar mandi ya? Tadi rasanya nggak begini.”

Rizky menyeringai saat menyadari perubahan tekstur pada tubuh Naira. Tangannya yang tadi berada di pinggang kini merosot turun, dengan berani meraba paha hingga ke arah pantat Naira dari luar rok seragam PDH-nya yang ketat. Begitu telapak tangannya menekan dengan mantap, ia tidak lagi merasakan lapisan tebal dari short pant yang tadi sempat ia rasakan di mobil.

“Wah, parah…” gumam Rizky dengan nada suara yang sengaja dibuat kaget tapi terdengar sangat mesum. “Teteh beneran siap-siap ya di kamar mandi tadi? Shortnya udAh di lepas yaa, tadi di mobil ada shortnya sekarang engga? Teteh sengaja ya biar lebih gampang ya?”

Wajah Naira langsung memerah padam sampai ke telinga. Antara malu karena rahasianya terbongkar dan gairah yang makin memuncak, ia refleks mengangkat tangannya dan menoyor kepala Rizky.

“Ih! Mulutnya bener-bener ya!” seru Naira pelan.

Rizky tidak melepaskan remasannya, malah semakin memperdalam tekanan jemarinya di lekukan pantat Naira yang kini hanya dibatasi kain tipis. “Toyor aja terus, Teh. Makin Teteh galak begini, aku makin penasaran mau lihat Teteh bugil lagi kayak siang itu di Bandung. Teteh tahu nggak sih, kalau tanpa pelapis begini, Teteh kelihatan jauh lebih… merangsang?”

Naira hanya bisa mendesah pasrah, membiarkan tubuhnya semakin merapat ke arah Rizky, sementara tangannya yang tadi menoyor kini justru mencengkeram bahu seragam Rizky dengan kuat.

“Kamu tuh… emang bener-bener kurang ajar, Ky,” bisik Naira parau, matanya mulai sayu menatap bibir pria di depannya.

Naira menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, merasakan wajahnya makin panas terbakar. “Jangan banyak tanya deh, Ky. Udah aaah…”

Rizky justru tersenyum menang. Ia tahu persis apa yang sedang terjadi. Tangannya nggak lagi cuma memijat, tapi mulai merayap berani di sepanjang lekukan pinggang Naira yang sekarang terasa sangat nyata tanpa ganjalan korset.

“Belum juga mulai, Teh,” bisik Rizky sambil menunduk, mencari celah di leher Naira yang kini terekspos karena hijabnya sudah tersampir longgar.

Naira masih mencoba mempertahankan sisa-sisa harga dirinya. Ia menyandarkan dagunya di bahu Rizky, membiarkan aroma parfum pria itu menguasai indranya, meski tangannya belum mau membalas pelukan itu sepenuhnya. “Aku cuma mau kita bicara soal mutasi itu, Rizky. Jangan pikir karena aku di sini, kamu bisa seenaknya ya.”

“Aku nggak bakal seenaknya, Teh,” jawab Rizky lembut sambil memberikan kecupan-kecupan kecil di sepanjang garis rahang Naira. “Aku cuma ingin menikmati waktu sama wanita yang udah bikin aku nggak bisa melirik cewek lain. Teteh punya daya pikat yang nggak dipunya gadis-gadis di luar sana.”

Rizky mulai mendekati naira, mengecup pipinya dan kemudian sudut bibir Naira yang disambut naira dengan memagut bibir Rizky, rizky membalas lumatan Naira sambil menggerakkan tangannya, membelai paha Naira dari atas ke bawah. Perlahan, telapak tangannya merosot, menyingkap rok panjangnya dan meraba paha Naira langsung ke balik roknya dari arah lutut hingga ke tengah paha. Di sana, ia makin yakin; tidak ada lagi lapisan celana pendek yang menghalangi. Hanya CD yang tipis.

“Bener kan?” gumam Rizky dengan nada menyelidik tapi geli. Ia menarik pinggang Naira lebih dekat sampai tubuh mereka benar-benar menempel. “Teteh lepasin di kamar mandi ya, ko CDnya ga dilepas sekalian Teh?”

Naira reflek menoyor lagi kepala Rizky karena malu rahasianya terbongkar. “Ih! Mulutnya bener-bener ya! Dasar mesum!” seru Naira pelan. Tapi toyorannya sama sekali nggak terlihat marah; jarinya malah sempat mengelus rambut Rizky sejenak sebelum turun, sebuah gerakan yang lebih didorong oleh nafsu daripada kekesalan.

“Ky… kopinya nanti dingin,” ucap Naira lemah, sebuah usaha terakhir yang sia-sia buat mengalihkan suasana.

“Biarin aja dingin, Teh. Ada susu anget yang pengen aku rasain sekarang,” balas Rizky serak. Ia kemudian menangkup wajah Naira dengan kedua tangannya, memaksa wanita itu menatap matanya yang penuh dengan intensitas lapar.

Di bawah tatapan memuja itu, topeng jaim Naira perlahan runtuh. Ia merasa diinginkan bukan cuma sebagai objek, tapi sebagai wanita yang punya kelebihan luar biasa. Tanpa sadar, tangan Naira yang tadinya kaku sekarang mulai merayap naik, mencengkeram bahu seragam Rizky dan menarik pria itu lebih dekat.

“Janji ya… Bapenda?” bisik Naira manja, nada suara yang cuma dia keluarin kalau pintu sudah terkunci rapat.

Rizky nggak menjawab pakai kata-kata. Dia cuma menyeringai, lalu perlahan mulai membuka satu per satu kancing seragam Naira. Kali ini, Naira nggak melarang. Dia cuma memejamkan mata, membiarkan gairah yang sudah dipancing Rizky sejak di kantor tadi mengambil alih kendali sepenuhnya.

Sentuhan Rizky kian berani, namun Naira masih mencoba memasang barikade terakhirnya. Saat jemari pria itu mulai sibuk dengan kancing kedua seragamnya, Naira menahan tangan Rizky, meski genggamannya sudah tidak ada tenaganya sama sekali.

“Selalu deh begini kalau ketemu kamu,” protes Naira dengan napas yang mulai pendek-pendek. “Kamu itu sebenarnya peduli sama karierku atau cuma terobsesi sama tubuhku saja, Ky? Kamu cuma nafsu… kamu anggap aku ini apa sebenarnya?”

Rizky berhenti sejenak, menatap Naira dengan tatapan lapar yang sangat dalam. Alih-alih menjawab dengan kata-kata manis, ia justru melanjutkan membuka kancing seragam wanita itu satu per satu dengan gerakan yang sangat lambat dan sensual, seolah sedang membuka kado yang sangat berharga.

“Jangan bilang begitu, Teh. Aku justru sangat menghargai Teteh,” bisik Rizky, suaranya kini makin serak. “Aku nggak mau seragam ini kusut. Kasihan kalau Teteh balik ke kantor dengan baju berantakan, nanti orang-orang curiga. Biar aku buka aja ya, aku lipet di meja ya?”

Alasan klise itu sebenarnya cuma cara licik Rizky untuk melucuti pertahanan Naira sepenuhnya. Saat kain seragam itu akhirnya terlepas dan tersampir di kursi, menyisakan Naira yang hanya mengenakan Bra dan CD tipis, Rizky mulai menjelajahi area sensitif di balik kain tersebut.

“Aku memang nafsu, Teh. Aku nggak bisa boong. Aku ketagihan banget sama Teteh… apalagi sama punya Teteh yang satu ini,” bisik Rizky jujur. Telapak tangannya menekan dengan mantap area kewanitaan Naira yang kini hanya dibatasi selembar kain tipis. Jemarinya mulai menekan dan memutar pelan di titik paling sensitif, membuat tubuh Naira menegang.

“Ahhh… Rizky…” Naira mendesah panjang, kepalanya terdongak ke belakang. Ucapan vulgar Rizky yang biasanya ia anggap lancang, kini justru menjadi stimulan yang membakar gairahnya hingga ke ubun-ubun.

Rizky dengan lihai meraba kaitan bra di punggung Naira. Hanya dengan satu jentikan jari—sebuah skill yang membuat Naira diam-diam kagum—kaitan itu terlepas seketika. Bra itu jatuh ke lantai, menampakkan keindahan yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat di balik seragam PNS yang kaku.

Naira sudah tidak bisa lagi berpura-pura jaim. Tangannya yang gemetar mulai merayap turun ke arah celana Rizky. Ia menyelinapkan jemarinya ke balik kain, menyentuh kejantanan Rizky yang sudah mengeras sempurna. Dengan gemas, ia mencubit ringan ujungnya, merasakan denyut gairah di sana.

“Nakaaal…” bisik Naira dengan nada manja yang sangat kontras dengan citra salehahnya. Matanya kini sayu, basah oleh hasrat yang tumpah ruah. “Kamu memang nakal banget… pengennya ini terus yang dimanja, kan?”

Naira menatap Rizky dengan tatapan menantang namun penuh gairah yang mematikan. “Mau nggak… di-SP?” tanyanya dengan suara lirih yang nyaris hilang di antara deru napas mereka.

Rizky cuma bisa mengangguk cepat, napasnya sudah menderu nggak karuan. Namun, Naira yang memang sangat perfeksionis dan penggila kebersihan tiba-tiba mendorong pelan dada Rizky.

“Sana ke kamar mandi dulu. Cuci yang bersih,” perintah Naira sambil menunjuk ke arah pintu kamar mandi dengan dagunya. “Aku mau semuanya bersih sebelum aku ‘makan’ punya kamu.”

Rizky tertawa kecil, merasa menang telak karena berhasil memancing keluar sisi binal Naira yang paling dalam. Ia pun segera melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, meninggalkan Naira yang kini terduduk di tepi ranjang dengan tubuh yang hampir polos, mengatur napas sambil melirik ke arah memo Bapenda di atas meja—sebuah harga yang menurutnya sangat sepadan untuk kegilaan sore ini.

Begitu pintu kamar mandi terbuka, Rizky keluar dengan tubuh yang hanya terlilit handuk di pinggang, menampakkan otot perutnya yang kencang dan basah. Pandangannya langsung terkunci pada Naira yang sedang duduk bersandar di tumpukan bantal dengan pose yang sangat menantang. Kedua kakinya ditekuk sedikit terbuka, menonjolkan lekuk pinggulnya yang kini hanya terhalang cd.

“Lama banget sih,” bisik Naira serak, matanya yang sayu menatap tajam ke arah tonjolan di balik handuk Rizky. “Sini…”

Rizky mendekat, dan tanpa membuang waktu, ia langsung menyambar bibir Naira. Ciuman itu tidak lagi lembut; Naira menyambutnya dengan ganas, lidahnya beradu dominan seolah ingin menghisap seluruh napas Rizky. Sambil berciuman, jemari Naira yang lentur merayap turun, masuk ke balik handuk dan langsung menggenggam kejantanan Rizky yang sudah menegang sempurna, panas dan berdenyut.

“Sesuai janji ya? Biar Teteh yang manjain,” gumam Naira di depan bibir Rizky.

Naira berlutut di atas ranjang. Dengan gerakan yang sangat profesional, ia mulai memainkan ujung lidahnya di kepala penis Rizky, memutar dengan lihai di area paling sensitif itu. Ia menunjukkan jam terbangnya yang tinggi; kulumannya sangat lembut tanpa sedikit pun gesekan gigi, namun sedotannya kuat bak vakum, menciptakan tekanan yang membuat Rizky mendongak sambil mencengkeram sprei. Sesekali, Naira melakukan deepthroat dengan berani, membiarkan pangkal tenggorokannya memijat seluruh batang milik Rizky hingga pemuda itu hampir kehilangan kendali dan nyaris ejakulasi.

“Gila, Teh… Teteh beneran ‘suhu’…” rintih Rizky dengan napas menderu.

Tak ingin membiarkan Rizky menyerah terlalu cepat, Rizky menarik lembut bahu Naira dan merebahkannya di kasur yang empuk. Rizky memposisikan dirinya di atas tubuh Naira, menggesekkan miliknya yang tegak berdiri ke arah vagina Naira. Meski masih terhalang celana dalam, kain tipis itu sudah lembab oleh cairan kenikmatan yang merembes.

Rizky menciumi bibir Naira dengan lembut, namun Naira terus membalasnya dengan liar, seolah tak mau ada jeda.Rizky memulainya dengan ciuman lembut di bibir, yang langsung disambut liar oleh Naira. Namun, Rizky sengaja menarik diri. Ia ingin menyiksa Naira dengan kenikmatan yang perlahan. Rizky kemudian melepaskan cumbuan di bibir, beralih mengecup basah rahang Naira, turun ke leher, dan menghisap keras pundaknya hingga meninggalkan tanda kemerahan yang kontras dengan kulit putih Naira.

Sambil meremas lembut dada Naira, Rizky mulai memilin puting wanita itu dengan jemarinya, sementara mulutnya sibuk menjilat dan menyedot puting yang satunya lagi. Naira menggeliat hebat, tubuhnya melengkung setiap kali lidah Rizky memberikan sensasi basah di dadanya.

Puas di sana, bibir Rizky turun ke arah perut, lalu ke pinggul yang kini bergerak-gerak gelisah. Dengan gerakan menggoda, Rizky menggunakan giginya untuk menarik pinggiran celana dalam Naira, melucutinya perlahan hingga lepas dari kaki. Ia tidak langsung ke menu utama; Rizky justru mengecup basah tumit Naira, naik ke betis, lutut, hingga ke paha dalam yang sangat sensitif, sementara tangannya meremas pantat Naira dengan gemas.

Hingga akhirnya, Rizky memposisikan kepalanya di antara kedua paha Naira yang sudah terbuka lebar. Ia memulai dengan memainkan lidahnya di tepi bibir vagina Naira yang sudah merekah kemerahan. Perlahan, lidah Rizky menyibak lipatan itu, menyentuh bagian terdalam yang memiliki rasa gurih dan aroma khas yang membangkitkan gairah.

“Ahhh… Rizky… di situ…” desah Naira kencang.

Naira semakin menggelinjang hebat saat lidah Rizky akhirnya mendarat tepat di klitorisnya yang sudah menegang dan sangat basah. Permainan lidah Rizky yang telaten di titik itu membuat kesadaran Naira hampir hilang, hanya ada sensasi panas yang meledak-ledak di bagian bawah perutnya.

Naira sudah benar-benar kehilangan kontrol. Tubuhnya melengkung setiap kali lidah Rizky menyapu klitorisnya, sementara jemarinya mencengkeram sprei hingga buku-buku jarinya memutih. “Rizky… udah, Ky… masukin sekarang. Teteh udah nggak kuat,” rintihnya dengan suara yang pecah.

Rizky mendongak, wajahnya basah oleh cairan kenikmatan Naira. Ia menyeringai tipis, lalu perlahan naik ke atas tubuh Naira, memposisikan kepalanya di samping telinga wanita itu. Ia memegang miliknya yang sudah tegang maksimal, lalu menggesekkan ujungnya perlahan di bibir vagina Naira yang sudah sangat becek.

“Tadi katanya cuma khilaf, Teh? Kok sekarang malah minta duluan?” bisik Rizky dengan nada mengejek yang seksi.

Rizky mulai mendorong perlahan, namun tepat saat kepala penisnya mulai tenggelam ke dalam kehangatan Naira, ia tiba-tiba menariknya kembali hingga lepas sepenuhnya.

“Rizky! Kamu apa-apaan sih!” seru Naira frustrasi. Pinggulnya refleks menyentak ke atas, mencari kembali benda tumpul yang baru saja memberinya harapan surga itu.

“Teteh bilang apa dulu? Aku mau dengar Teteh ngaku kalau Teteh emang butuh kontol ku,” pancing Rizky sambil terus menggesekkan ujungnya tanpa benar-benar masuk.

“Iya! Teteh butuh… Teteh pengen punya kamu, Ky! Cepetan!”

Rizky tertawa rendah. “Sabar, Teh. Katanya kan harus profesional. Kita bahas memo Bapenda dulu gimana?”

“Bodo amat …! Masukin sekarang atau pulang!” ancam Naira yang sudah terbakar nafsu hingga ke ubun-ubun.

Melihat Naira yang sudah sampai di titik didih, Rizky akhirnya memberikan tekanan kuat. Plesed. Penetrasi itu terjadi sekaligus, mengisi setiap sudut rahim Naira yang sudah mendambakannya sejak tadi.

“Ahhhh! Gila… gede banget, Ky…” desah Naira sambil memejamkan mata rapat-rapat, menikmati rasa penuh yang menyesakkan namun sangat nikmat itu.

“Gimana, Teh? Masih mau bilang ini khilaf?” tanya Rizky sambil mulai menghentak pelan. “Lihat deh, punya Teteh jepit aku kenceng banget. Kelihatan banget kalau Teteh emang udah nungguin ini dari kantor tadi.”

Naira tidak lagi peduli dengan harga dirinya. Ia justru melingkarkan kakinya kuat-kuat di pinggang Rizky, mengunci pria itu agar tidak bisa lepas. “Diem kamu! Berisik! Gerakin aja terus, jangan berhenti!”

Keadaan berbalik. Naira yang tadinya jaim kini berubah beringas. Ia mencengkeram bahu Rizky dan dengan satu sentakan kuat, ia membalikkan posisi hingga kini ia berada di atas. Rambutnya yang tergerai jatuh menutupi wajahnya, menambah kesan liar.

Naira mulai bergerak sendiri, mengambil alih kendali dengan tempo yang cepat dan bertenaga. Ia menggunakan pinggulnya untuk memutar, memberikan sensasi jepitan yang membuat Rizky mendesah kencang.

“Ternyata Teteh lebih binal dari yang aku bayangin,” gumam Rizky sambil memegang pinggul Naira yang sedang naik turun dengan gila di atasnya.

“Kamu yang mulai, Rizky… jadi jangan komplain kalau sekarang Teteh nggak mau lepasin kamu,” balas Naira sambil menunduk, mencium bibir Rizky dengan kasar sementara bagian bawahnya terus bekerja memberikan kenikmatan yang luar biasa bagi mereka berdua.

Rizky tidak membiarkan Naira memegang kendali terlalu lama. Dengan satu gerakan kuat, ia memutar tubuh Naira hingga wanita itu tersungkur di atas kasur dengan posisi merangkak. Tanpa memberikan waktu untuk bernapas, Rizky menarik pinggul Naira ke atas, memposisikannya dalam posisi doggy style yang sangat menantang.

“Teteh pikir bisa menang dari aku?” bisik Rizky serak, tepat di telinga Naira yang sudah merah padam.

Rizky memegang pinggul Naira dengan kedua tangannya, lalu dengan satu sentakan brutal, ia menghantamkan miliknya masuk kembali ke dalam kehangatan Naira hingga mentok ke pangkal.

Plok! Plok! Plok!

Suara hantaman kulit yang bertemu kulit bergema di kamar hotel yang sunyi itu. Rizky mulai memacu temponya seperti binatang yang sedang kelaparan, menghantam Naira tanpa ampun. Setiap kali penis Rizky masuk sepenuhnya, terdengar suara becek yang nyaring—suara cairan kenikmatan Naira yang sudah meluap, membasahi sprei di bawah mereka.

“Ahhh! Rizky… pelan-pelan… ahh! Dalem banget, Ky!” rintih Naira. Kepalanya terbenam ke bantal, bokongnya bergoyang mengikuti irama hantaman Rizky yang sangat dominan.

Naira tidak bisa lagi menahan diri. Suaranya yang biasanya lembut dan berwibawa kini berubah menjadi desahan-desahan parau yang memalukan. Tangannya mencengkeram erat ujung ranjang, sementara tubuhnya bergetar hebat setiap kali Rizky menghujam titik paling sensitif di dalam rahimnya.

“Enak, Teh? Ini kan yang Teteh mau? Bilang kalau kontol aku lebih enak daripada punya suami teteh atau siapa pun!” tantang Rizky sambil sesekali menarik rambut Naira ke belakang, memaksa wanita itu mendongak dan mendesah lebih keras.

“Iya… ahhh! Berisik kamu …, Ky! Diem kamu ah… nikmatin aja jangan banyak omong!” Naira membalas dengan dirty talk yang tak kalah binal, harga dirinya sudah hanyut bersama keringat yang membanjiri tubuh mereka.

Rizky semakin beringas. Ia meremas pantat Naira hingga meninggalkan bekas kemerahan, sementara gerakannya makin cepat dan liar. Cairan pelumas alami Naira terus muncrat keluar setiap kali hantaman itu mendarat, menciptakan bunyi squish yang sangat erotis di antara sela paha mereka.

Naira sudah di ambang batas. Matanya memutar ke atas, kakinya lemas tak bertenaga, hanya pinggulnya yang masih setia menyambut setiap serangan Rizky.

Naira sudah benar-benar kehilangan pegangan pada realita. Kesadarannya hanya tertuju pada hantaman keras Rizky yang terus menghujam titik terdalamnya tanpa jeda. Ia mencengkeram sprei hingga hampir robek, kepalanya menggeleng-geleng ke kiri dan ke kanan dengan rambut yang berantakan menutupi wajah.

“Ahhh! Rizky… Rizky… aku mau keluar! Ahhh, jangan berhenti!” teriak Naira pecah, tidak peduli lagi jika suaranya terdengar sampai keluar kamar.

Rizky justru semakin beringas. Sambil terus menggenjot dengan tempo brutal, ia menarik tubuh Naira ke belakang dan meremas kasar kedua dadanya, membuat puting Naira yang mengeras terjepit di antara jemarinya. Setiap hantaman Rizky terasa makin panas, menciptakan bunyi becek yang semakin nyaring karena cairan Naira yang sudah banjir.

Tiba-tiba, tubuh Naira menegang kaku. Otot-otot di dalam vaginanya mulai menjepit dan berdenyut hebat, memberikan kontraksi bertubi-tubi yang sangat kencang pada penis Rizky. Naira memekik panjang, tubuhnya bergetar hebat saat aliran listrik kenikmatan meledak dari pusat tubuhnya, menyebar ke seluruh syaraf. Ia mengalami orgasme yang begitu dahsyat hingga matanya memutar ke atas dan tubuhnya lemas tersungkur ke bantal.

Rizky yang juga sudah berada di titik nadir, menahan napasnya yang menderu. Ia memacu beberapa sentakan terakhir yang sangat dalam, lalu membisikkan pertanyaan dengan suara yang sangat rendah dan penuh kemenangan di telinga Naira yang masih tersengal.

“Teh… aku udah di ujung banget ini. Teteh mau aku buang di mana? Di dalem atau…boleh ga di muka cantik Teteh?”

Naira yang masih dalam keadaan fly pasca orgasme, hanya bisa mendesah pasrah. Ia menoleh sedikit, menatap Rizky dengan pandangan sayu yang penuh nafsu.

Naira menoleh ke belakang dengan sisa-sisa tenaga, wajahnya terlihat sangat berantakan namun cantik karena keringat dan gairah. Ia mengecup singkat bibir Rizky yang masih mendekapnya erat dari belakang, memberikan tatapan yang benar-benar tunduk.

“Terserah kamu, Ky… mau keluar di mana aja tersaerah,” bisik Naira serak. Ia kemudian mengelus pipi Rizky dengan jemarinya yang masih bergetar. “Atau… mau keluarin pakai mulut biar kamu makin puas?”

Sambil tetap mempertahankan penis Rizky yang masih tertanam dalam di vaginanya, Naira perlahan membalikkan tubuhnya hingga menjadi terlentang. Ia bergerak dengan sangat hati-hati namun sensual, memastikan milik Rizky tidak terlepas sedikit pun dari kehangatan rahimnya. Setelah posisi mereka berhadapan, Rizky kembali berada di atas, melakukan genjotan-genjotan lembut yang dalam, menikmati sisa-sisa denyutan dinding vagina Naira yang masih memanjakan batangnya.

“Teh… aku udah nggak tahan… aduh!” rintih Rizky, wajahnya menegang.

Rizky berniat memenuhi permintaan Naira. Ia tiba-tiba mencabut paksa miliknya dari dalam, menimbulkan suara pop yang basah. Namun, baru saja ia hendak mengarahkan kejantanannya ke mulut Naira, lahar panas itu sudah tidak bisa lagi dibendung.

Crot! Crot!

Cairan putih kental itu muncrat dengan tekanan kuat tepat saat Rizky baru sampai di atas dada Naira yang montok. Semprotan pertama menghantam belahan dadanya, namun semprotan berikutnya yang lebih deras meluncur naik, membanjiri wajah Naira mulai dari dagu, bibir, hingga mengenai kelopak matanya.

Naira tidak menghindar. Ia justru tersenyum binal melihat wajahnya dikotori oleh benih pemuda itu. Dengan gerakan spontan, ia menarik tangan Rizky dan menjepit penis pria itu di antara kedua payudaranya yang besar. Naira mengocok batang yang masih berkedut itu menggunakan “lembah” dadanya, memberikan sensasi hangat dan licin yang membuat Rizky hampir pingsan karena nikmat.

Setelah denyutan di penis Rizky benar-benar berhenti, Naira menariknya keluar dari jepitan dadanya. Ia menatap batang yang kini mulai melemas itu dengan penuh pemujaan. Tanpa rasa jijik sedikit pun, Naira mulai menjilati penis Rizky dari pangkal hingga ke ujung, membersihkan setiap tetes sisa lendir dan cairan putih yang masih tertinggal dengan lidahnya yang lihai.

Rizky ambruk di samping Naira, napasnya perlahan mulai teratur namun matanya masih menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Ia merasa benar-benar telah menaklukkan sang “Guru”.

“Gimana, Rizky? Puas?” tanya Naira sambil mengusap cairan di matanya dengan punggung tangan, lalu merangkak mendekat untuk menyandarkan kepalanya di dada Rizky.

“Puas banget, Teh. Memo mutasi Teteh… aku jamin besok aku serahin langsung ke Kepala BKD Kota,” jawab Rizky sambil mengecup kening Naira yang masih basah oleh keringat dan sisa pergulatan mereka.

Rizky perlahan menarik dirinya, mengambil beberapa lembar tisu, lalu berbaring di samping Naira. Dengan telaten, ia membersihkan sisa-sisa cairannya yang mengotori wajah dan tubuh mulus wanita di hadapannya itu. Gerakannya begitu hati-hati, seolah sedang merawat porselen mahal yang baru saja ia pakai dengan kasar.

Setelah beberapa saat, Rizky bangkit, meraih map biru berisi memo BKD Provinsi yang tadi tergeletak di meja. Ia meletakkannya tepat di samping bantal Naira. “Besok pagi jam delapan, sebelum aku balik ke Bandung, aku sendiri yang akan menghadap Kepala BKD Kota Bogor untuk menyerahkan ini. Teteh tinggal tunggu panggilan saja,” ucapnya sambil mengecup kening Naira lembut, kembali menjadi pria sopan seolah kegilaan binal tadi hanyalah mimpi.

“Mana? Coba aku lihat,” ujar Naira sambil berusaha duduk, menarik selimut untuk menutupi dadanya meski ia tahu tak ada lagi yang perlu disembunyikan.

Rizky terkekeh, membuka map itu dan memperlihatkan selembar kertas ber-kop resmi. Mata Naira berbinar menatapnya. “Beneran ya? Kalau sampai bohong, aku cari kamu ke Bandung!”

“Iya, Teteh Sayang. Tapi harganya mahal lho ini,” goda Rizky sambil mencolek hidung Naira.

“Mahal apa? Tadi kan sudah dibayar lunas sampai aku lemas gini!” sahut Naira ketus, namun bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang manis.

Rizky tidak membiarkan suasana mendingin. Ia mendekat kembali, mulai menciumi bahu Naira yang masih lembap oleh keringat. “Kayaknya ada bunganya deh, Teh. Kan urusannya ke Bapenda, tempat ‘basah’. Jadi harus dibayar dengan yang ‘basah’ juga.”

“Rizky! Kamu ini nggak ada habisnya ya? Kamu sangean banget sih?” tawa Naira pecah. Ia mencoba mendorong Rizky, tapi tangannya malah berakhir mengelus dada bidang pemuda itu.

“Habisnya Teteh sih, kalau abis main wajahnya jadi tambah cantik. Ilang galaknya,” canda Rizky sambil menggelitik pinggang Naira, membuat wanita berwibawa itu menggeliat kegirangan seperti remaja. “Aduh! Hahaha! Rizky, geli! Stop! Aku ini senior kamu lho kalau di kantor!”

“Di sini nggak ada senior, yang ada cuma Naira yang binal,” balas Rizky sambil menangkap kedua tangan Naira dan menguncinya di atas kepala. Tatapan jenakanya berubah intens. Ia mulai menciumi leher Naira dengan mesra, sambil tangannya meremas dada Naira dengan kelembutan yang berbeda dari sebelumnya—kali ini penuh perasaan.

“Teh, jujur ya… permainan Teteh tadi luar biasa. Aku punya pacar seumuran aku, tapi rasanya beda jauh. Teteh itu jauh lebih memuaskan, lebih tahu cara bikin aku gila,” bisik Rizky di telinga Naira.

Naira mendengus, ada rasa cemburu yang tiba-tiba menyengat. “Oh, jadi kamu bandingin aku sama pacar kamu? Wajar sih kamu punya pacar, tapi nggak perlu disebut juga kali.”

“Ya wajar dong aku punya pacar, Teh. Teteh juga punya suami, kan? Bahkan aku yakin, di luar sana masih ada pemuda lain yang beruntung bisa tidur sama Teteh,” ucap Rizky santai.

Naira menyentak tangannya seolah ingin lepas dari kuncian Rizky, meski tenaganya tak sebanding. Matanya yang tadi sayu kini berkilat tajam, menatap Rizky dengan amarah yang tidak lagi disembunyikan.

“Bangsat ya kamu, Ky!” desis Naira dengan nada rendah namun penuh penekanan. “Bisa-bisanya kamu ngomong sesantai gitu kaya ini cuma hobi sampingan buat kamu. Kamu punya pacar, tapi malah sibuk ngentotin Bini orang. Terus sekarang kamu enteng banget ngomog aku bakal tidur sama cowo lain?”

Naira tertawa sinis, napasnya memburu. “Kamu pikir aku ini apa? Lonte? Piala bergilir yang bisa kamu banding-bandingin sama pacar bocahmu itu? Kalau kamu memang ngerasa dia kurang muasin, ya itu urusan kamu, tapi nggak usah bawa-bawa dia ke ranjang ini. Brengsek banget cara main kamu, tahu nggak!”

Rizky segera mengecup bibir Naira untuk meredam kekesalannya. “Bukan gitu. Maksudku, Teteh itu istimewa. Teteh sudah punya anak dua, sudah dua kali nikah, tapi badan Teteh… kualitas Teteh di ranjang itu jauh melewati gadis-gadis yang usianya jauh di bawah Teteh. Aku beneran ketagihan.”

Naira tersanjung meski masih sedikit kesal. Ia menarik tengkuk Rizky agar wajah mereka sejajar. “Kamu juga… nggak mungkin selihai ini kalau cuma tidur sama pacar kamu yang bocah itu. Pasti jam terbang kamu sama ‘tante-tante’ lain juga tinggi, kan?”

Rizky hanya tersenyum penuh arti. Ia mulai mengecup kening dan jidat Naira, turun ke hidung, lalu ke sudut bibirnya dengan sangat pelan. Tangannya merangkak turun, meremas payudara Naira yang bulat dengan kelembutan yang membuat Naira memejamkan mata, menikmati setiap sentuhan kasih itu. Rizky menjilati cuping telinga Naira, memberikan bisikan-bisikan pujian tentang betapa indahnya lekuk tubuh Naira.

Rizky kemudian memposisikan dirinya di antara kaki Naira yang mengangkang lebar. Ia tidak langsung menghantam, melainkan hanya menggesekkan penisnya yang sudah kembali menegang ke selangkangan Naira yang sudah sangat sensitif. Slurrp sluurrrp….

“Sekali lagi ya? Pelan-pelan saja sambil nunggu ujan reda,” bisik Rizky.

Intercourse ronde kedua dimulai dengan posisi missionary yang sangat mesra. Rizky masuk dengan perlahan, menikmati setiap jepitan hangat dinding vagina Naira. Sret… sret… Suara gesekan kulit mereka terdengar ritmis di tengah suara hujan yang mengetuk jendela hotel.

Naira mendesah halus, “Ngggh… Rizky… enak banget…”

Rizky kemudian mengubah posisi menjadi spooning, mereka berdua menyamping dengan Naira membelakangi Rizky. Rizky merapatkan tubuhnya ke punggung Naira, masuk dari belakang dengan gerakan yang kalem namun dalam. Tangannya meremas payudara Naira dari depan, sementara mulutnya tak henti mengecup telinga dan leher belakang Naira.

Naira belingsatan, pinggulnya bergerak mundur dengan lembut namun mantap, menyambut setiap dorongan Rizky. “Ahhh… pelan… ahh, enak banget kalau sayang-sayangan gini…”
Naira menengok ke belakang, berusaha menggapai bibir Rizky untuk berciuman sambil terus mendesah parau. Gerakan pinggulnya semakin sinkron dengan Rizky, menciptakan harmoni gerakan yang penuh gairah. Suara plak-plak yang pelan dan slurp dari cairan yang kembali banjir memenuhi ruangan.

Penyatuan itu terasa jauh lebih dalam daripada sekadar pemuasan jasmani. Di posisi miring yang sangat intim itu, Naira merasa seolah-olah seluruh dunianya hanya terpusat pada sentuhan Rizky. Setiap dorongan lembut Rizky dari belakang terasa seperti ungkapan pemujaan, bukan lagi sekadar nafsu binatang seperti ronde pertama tadi.

Naira memejamkan matanya erat-rapat, menikmati bagaimana jemari kuat Rizky meremas payudaranya dengan penuh perasaan, sementara bibir pria itu tidak berhenti memberikan kecupan-kecupan basah di sepanjang garis leher dan pundaknya.

“Kamu cantik banget, Teh… bener-bener sempurna,” bisik Rizky dengan suara parau yang terdengar sangat jujur di telinga Naira.

Pujian itu, dipadukan dengan ritme pinggul mereka yang saling mengunci, membuat pertahanan emosional Naira runtuh. Ia merasa sangat dihargai. Sebagai wanita yang selama ini harus selalu tampil sempurna, kuat, dan berwibawa di depan publik, merasa “kecil” dan dipuja seperti ini oleh pemuda setampan Rizky adalah kemewahan yang tak ternilai.

“Ahh… Rizky… aku… aku udah mau keluar lagi…”

Naira mendesah kencang, suaranya pecah saat ia merasakan gelombang panas mulai menjalar dari pusat tubuhnya. Tubuhnya bergetar hebat. Gerakan pinggulnya yang tadi lembut kini menjadi lebih cepat dan tidak beraturan. Ia mencengkeram lengan Rizky yang melingkar di perutnya, kuku-kukunya sedikit menekan kulit pria itu

Hingga akhirnya, gerakan mereka semakin intens. Nafas mereka beradu, pendek dan panas. Rizky memeluk erat tubuh Naira dari belakang, melakukan beberapa hentakan terakhir yang penuh perasaan.

“Teh… bareng ya… ahhh!”

“Iya, Ky… di dalem aja ga papa… ahhhh!”

Mereka berdua mengejang bersamaan. Rizky membanjiri rahim Naira dengan cairan hangatnya, sementara Naira merasakan ledakan orgasme yang lebih tenang namun bertahan lama. Mereka terengah-engah dalam posisi berpelukan erat, benar-benar seperti dua kekasih yang sedang dimabuk asmara di bawah rintik hujan Kota Bogor.
Hening seketika menyergap kamar hotel itu, hanya menyisakan suara detak jantung yang berpacu kencang dan deru napas yang perlahan mulai teratur. Rizky tidak langsung menjauh. Ia tetap dalam posisinya, memeluk Naira dari belakang dengan erat, menyandarkan dagunya di pundak wanita itu sambil sesekali mencium pipinya yang masih basah oleh air mata kenikmatan.

“Makasih, Teh… ini luar biasa,” gumam Rizky lembut.

Naira tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengelus tangan Rizky yang masih mendekap dadanya, merasa sangat tenang dan terlindungi. Di atas meja, map biru berisi memo Bapenda itu masih tergeletak, namun bagi Naira, momen di pelukan Rizky saat ini terasa jauh lebih berharga daripada sekadar urusan mutasi jabatan. Ia merasa benar-benar menjadi wanita seutuhnya di tangan sang ajudan muda.

Napas mereka perlahan mulai teratur, menyisakan suara rintik hujan yang masih setia mengetuk kaca jendela. Rizky masih mendekap Naira dari belakang dalam posisi miring, tangannya masih betah mengelus perut rata Naira yang terasa hangat.

Naira menghela napas panjang, lalu terkekeh geli sambil mengusap keringat di dahinya. “Gila ya… bener-bener takluk aku hari ini sama kamu, Ky. Cowok bajingan yang modal nekat,” gumamnya dengan nada yang jauh lebih santai.

Ia memutar tubuhnya perlahan hingga kini mereka berhadapan. Naira menatap mata Rizky, lalu mencubit pelan hidung pria itu. “Tadi aku beneran pasrah lho kamu keluarin di dalem gitu aja. Padahal kamu bukan siapa-siapa, pacar bukan apalagi suami. Kok aku bisa-bisanya ya?”

Rizky menyeringai puas, ia menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua yang masih polos. “Ya karena Teteh emang ketagihan, ngaku aja. Lagian kan aku udah janji bakal tanggung jawab soal karier Teteh.”

“Ketagihan juga ada batasnya kali!” sahut Naira sambil mencibir, tapi tangannya tetap bermain di dada Rizky. “Eh, kamu sadar nggak sih? Bulan ini aja kita udah berapa kali ketemu? Lima kali ada ya? Dan tiap ketemu, kamu nggak pernah kasih aku napas. Minimal dua ronde, kadang tiga, malah pernah empat kan waktu itu di Bandung?”

Naira terdiam sejenak, menghitung sesuatu di kepalanya lalu tertawa miris. “Edan… kalau dipikir-pikir, bulan ini aku jauh lebih sering ditiduri sama kamu daripada sama suamiku sendiri. Dia mah boro-boro, baru sekali aja udah capek. Kamu mah kayak nggak ada habisnya, sangean terus!”

Rizky tertawa kencang mendengarnya. “Ya itu tandanya servis aku memuaskan, Teh. Buktinya Teteh nggak pernah nolak kalau aku ajak ‘rapat’ mendadak begini kan? Malah tadi di mobil udah basah duluan.”

“Ih! Mulutnya!” Naira menoyor kepala Rizky lagi, kali ini dengan sisa tenaga yang lemas. “Tapi emang dasar aku-nya juga yang lagi sange kayaknya. Lagian kamu sih, pinter banget nyari sela. Tahu aja kapan harus sopan, kapan harus jadi bangsat kayak tadi.”

Naira mendengus, teringat sesuatu yang membuatnya geleng-geleng kepala. “Tapi yang paling gila tuh ya pas pertama kali kita ‘eksekusi’. Inget nggak? Kamu beneran nekat banget waktu itu.”

“Nekat kenapa?” Rizky pura-pura lupa, meski senyum tipis tersungging di bibirnya.

“Halah, nggak usah amnesia deh! Aku kan udah bilang kalau aku lagi dapet, lagi deres-deresnya malah hari kedua. Tapi kamu malah bilang ‘nggak apa-apa, kan bisa mandi bareng nanti’. Edan tau nggak!” Naira tertawa, tawa yang bercampur antara heran dan geli.

“Aku beneran ngeri bayanginnya waktu itu, takut berantakan ke mana-mana. Tapi kamunya malah makin jadi. Mana itu pertama kalinya buat kita, eh malah langsung ‘berdarah-darah’ beneran. Kamu emang nggak ada otaknya kalau udah sange,” sambung Naira sambil menyandarkan kepalanya di bahu Rizky, menatap langit-langit kamar dengan tatapan menerawang.

“Oh, jadi sekarang mau nyalahin aku doang nih?” bisik Rizky tepat di telinga Naira, membuat bulu kuduk wanita itu meremang. “Inget ya, Sayang… waktu itu aku emang nekat, tapi kamunya juga binal banget. Jangan pura-pura lupa.”

Naira baru saja mau protes, tapi Rizky langsung memotong dengan seringai nakalnya.

“Iya, awalnya aja kamu sok-sokan nolak, bilang ‘jangan Ky, lagi kotor, nanti amis’. Tapi pas aku buka dikit dan mulai main di bawah, kamunya udah basah duluan kan? Dan begitu punya aku masuk… beuh, kamu bukannya dorong malah narik leher aku kenceng banget.”

Rizky menghentikan jemarinya di lekuk pinggul Naira, menekannya pelan.

“Kamu mendesah parah banget waktu itu, Teh. Padahal kita tahu lagi banjir-banjirnya, tapi kamu malah ikut goyangin pinggul, minta lebih dalem lagi. Mana sambil cium bibir aku panas banget seolah nggak mau lepas. Kamu tuh sebenernya nikmatin banget sensasi ‘berdarah’ itu kan? Ngaku deh, teteh jauh lebih liar pas lagi dapet dibanding hari biasa.”

Naira menyandarkan kepalanya di bahu Rizky, merasa sangat nyaman meski ia tahu hubungan ini sangat berisiko. “Pokoknya besok itu memo harus beres ya. Awas aja kalau aku nggak jadi ke Bapenda, aku potong ‘punya’ kamu yang itu,” ancamnya sambil melirik ke arah bawah selimut.

“Siap, Teteh Sayang. Habis subuh aku langsung gas. Sekarang mending kita istirahat dulu sebentar, atau… mau ronde ketiga buat penutup?” goda Rizky sambil mulai merayap lagi.

“Rizky! Udah! Ampun! Aku mau mandi, nanti dicariin orang rumah!” teriak Naira manja sambil berusaha menghindar dari pelukan Rizky yang kembali mengerat.

Naira melirik jam di pergelangan tangannya dan langsung terlonjak kaget. “Astagfirullah, Rizky! Udah jam segini! Aku harus balik ke kantor buat absen sore, bisa mati aku kalau telat pulang!”

Dengan gerakan serba cepat, Naira melompat dari kasur, membiarkan tubuh polosnya terekspos tanpa rasa malu lagi di depan Rizky. Ia menyambar handuk dan lari ke kamar mandi untuk membasuh tubuhnya yang masih lengket oleh sisa-sisa pergulatan mereka. Hanya dalam hitungan menit, ia keluar dengan rambut yang masih agak lembap namun sudah mengenakan pakaian dalam.

“Ky, bantuin! Susah ini kaitan belakangnya, tangan aku gemeter,” pinta Naira sambil memunggungi Rizky, menyodorkan bra tipisnya yang tadi dilepas paksa oleh pria itu.

Rizky bangkit dari ranjang dengan santai, masih telanjang dada. Ia mendekat, tapi bukannya langsung mengaitkan, jemarinya malah sengaja mengelus punggung mulus Naira dan meremas dadanya. “Buru-buru banget sih, Teh. Padahal masih pengen meluk,” godanya sambil memberikan kecupan basah di tengkuk Naira.

“Rizky! Please, jangan mancing lagi! Nanti kebablasan!” seru Naira gemas, meski ia sedikit memundurkan bokongnya hingga menempel pada kejantanan Rizky yang terasa mulai bangun lagi.

Rizky terkekeh, akhirnya mengaitkan bra itu dengan sekali jentik, lalu membantu Naira mengenakan seragam PDH-nya. Saat Naira sedang mengancingkan bajunya, tangan Rizky masuk dari celah bawah rok, meraba paha dalam Naira yang masih terasa sensitif. “Inget ya, jangan dipake lagi korset sama celana pendek dalemannya, kalu perlu jangan pake CD sekalian. Biar besok-besok aku gampang ‘akses’-nya,” bisik Rizky nakal.

“Dasar mesum! Udah ah, ayo cepet!” Naira merapikan hijabnya seadanya di depan cermin, memastikan tidak ada tanda kemerahan yang terlihat di leher, meski ia tahu ada satu cupang kecil yang tersembunyi di balik kerah seragamnya.

Mereka keluar kamar dengan langkah terburu-buru, namun tetap berusaha terlihat normal saat berpapasan dengan tamu lain di lorong. Di dalam lift menuju basement, suasana kembali memanas. Rizky memojokkan Naira di sudut lift yang sepi, mencium bibirnya dengan lumatan pendek yang menuntut.

“Nanti kalau udah di Bapenda, jangan lupain aku ya,” ucap Rizky saat mereka sampai di mobil.

“Mana bisa aku lupa sama orang yang udah bikin aku lemes berkali-kali dalam sebulan ini,” sahut Naira sambil masuk ke dalam mobil Rizky.

Mobil meluncur cepat membelah jalanan Bogor yang masih menyisakan genangan hujan. Sepanjang jalan, tangan kiri Rizky tidak tinggal diam di kemudi; ia terus mengelus paha Naira di balik rok seragamnya, memberikan remasan-remasan kecil yang membuat Naira berkali-kali harus mengatur napas agar tidak mendesah di dalam mobil.

Begitu sampai di parkiran kantor, Naira langsung bersiap turun. “Besok kabarin ya soal memo itu. Makasih buat hari ini… dan buat ‘servis’ gila kamu,” bisik Naira sambil memberikan kecupan kilat di pipi Rizky.

“Siap, Teteh Sayang. Sampai ketemu di ronde berikutnya!” balas Rizky dengan kedipan mata yang nakal.

Naira keluar dari mobil dengan langkah yang sedikit kaku—efek hantaman brutal Rizky tadi masih terasa di selangkangannya—namun wajahnya memancarkan kepuasan yang luar biasa. Ia berjalan menuju mesin absen, siap kembali ke rutinitasnya sebagai PNS yang terlihat berwibawa, padahal di balik seragam rapinya itu, tubuhnya masih menyimpan aroma tubuh pria yang baru saja menaklukkannya

66

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *