Jejak Rahasia Naira – Part 4

Pagi itu, Naira bangun lebih cepat dari biasanya. Mata masih berat, kepala sedikit pusing, karena semalam ia tak benar-benar bisa tidur nyenyak. Hatinya masih menyimpan rasa kesal yang menempel seperti bayangan.

Sambil menyiapkan sarapan sederhana untuk anaknya, ia beberapa kali melirik HP di meja dapur. Layarnya tetap sunyi. Tidak ada nama “Rizal” muncul di notifikasi.

“Gila, dia bener-bener nggak ngehubungin…,” batinnya mendidih.
Ada gengsi yang membuatnya menekan bibir rapat-rapat. Ia tahu, kalau dia yang mulai duluan, maka semua harga dirinya runtuh.

Anaknya merengek kecil, meminta roti. Naira menuruti dengan senyum, meski dalam hati masih kalut. Di sela kesibukan pagi, pikirannya tetap kembali ke Rizal. Justru karena Rizal diam, rasa penasaran makin tumbuh.

“Apa dia sengaja ngetest aku? Atau emang sibuk beneran? Tapi masa iya nggak sempet ngetik satu chat?,” gumamnya dalam hati.

Setelah mengantar anak ke sekolah, Naira pulang sebentar untuk bersiap ke kantor. Di depan cermin, ia mengenakan blouse rapi dengan rok span lagi. Saat merapikan hijab, ia menatap bayangannya sendiri cukup lama.

Ada rasa aneh—seperti ingin terlihat makin menarik, makin tak terlupakan, meski ia tahu tidak ada janji pertemuan hari ini.
“Biarin aja. Kalau dia lihat aku lagi, biar dia nyesel udah ninggalin kemarin,” ucapnya pada bayangan dirinya sendiri.

HP di meja bergetar. Sekejap dadanya berdebar, tapi ternyata hanya pesan dari grup kantor. Senyum tipisnya langsung hilang. Ia meraih HP, tapi tetap tak membuka chat dengan Rizal. Gengsinya terlalu tinggi.

Namun di lubuk hatinya, Naira menunggu. Menunggu apakah Rizal akhirnya luluh dan menghubungi lebih dulu.

Siang itu akhirnya Rizal muncul di chat.
“Sorry banget kemarin… sumpah aku dipanggil dadakan sama owner, nggak bisa nolak. Aku tau kamu pasti kesel.”

Naira langsung membalas ketus.
“Halah… kalau aku yang sibuk kemarin nggak ada masalah. Tapi giliran kamu batalin, aku jadi salah terus?”

Rizal membalas dengan emoji senyum miring.
“Hahaha, iya soalnya kamu sok jual mahal. Susah banget diajak ketemu. Pas udah siap malah ngambek gara-gara pacarnya nggak jadi datang.”

Naira mendengus di depan layar, jarinya mengetik cepat.
“Enak aja! Kemarin aku juga ada acara kantor, jangan sok tahu. Lagian aku nggak ngambek, cuma… ya sebel aja.”

Rizal mengetik agak lama, lalu masuk chat panjang.
“Tau nggak, waktu kamu batalin pertemuan dulu, aku kecewa setengah mati. Tapi aku tetep tahan, karena harapan aku sama kamu jauh lebih besar. Aku serius banget pengen bisa deket sama kamu. Jadi jangan bandingin ya.”

Ucapan itu membuat hati Naira melembut. Ada perasaan tersanjung, seolah Rizal memang benar-benar menginginkannya. Dengan agak malu, ia membalas:
“Hmm… yaudah. Aku akui aja, gara-gara batal kemarin aku langsung pulang. Sempet mampir ke salon juga, luluran sama waxing.”

Rizal langsung membalas dengan emoji mata melotot dan api.
“Waxing? Serius? Aduh Teh… jangan gitu, imajinasi aku langsung kacau nih.”

Naira tersenyum nakal, lalu iseng mengirim foto yang tadi malam ia ambil setelah waxing. Pose menggoda di depan cermin, dengan caption:
“Siap menyambut misua pulang dinas luar.”

Beberapa detik kemudian, chat Rizal masuk cepat sekali.
“GILAAA… ini beneran?? Astaga Teh… aku panas dingin lihatnya.”

Naira buru-buru mengetik dengan nada seolah ketus.
“Eh! Itu buat suami aku. Kamu jangan GR. Salah kirim aja, kebetulan lagi chat sama dia juga.”

Rizal menjawab dengan kalimat yang bergetar.
“Aku ngerti itu buat dia… tapi sumpah, Teh. Aku pengen banget. Bayangan aku sekarang cuma pengen buka paha kamu lebar-lebar, jilatin sampe kamu nggak tahan…”

Naira menggigit bibir, tapi buru-buru membalas.
“Mimpi aja, Zal. Itu cuma buat suami aku. Kamu boleh lihat di hp aja, tapi jangan pernah berharap bisa lihat langsung. Apalagi nyentuh.”

Rizal mengirim video pendek. Tangannya tampak mengusap batangnya yang sudah keras, napasnya berat. Dalam bisikan serak, ia berkata:
“Aku nggak kuat, Teh… ini semua gara-gara foto kamu.”

Beberapa detik kemudian ia menegang, suara desahan tertahan terdengar, lalu cairan putihnya muncrat ke tangannya. Video berhenti tepat setelah itu, dikirim ke Naira.

Naira menatap layar lekat-lekat, jantungnya berpacu. Bulu kuduknya meremang antara kaget, geli, dan… terangsang. Ia buru-buru menutup layar hp, namun senyum tipis tetap muncul di bibirnya.

Naira menatap layar hp, wajahnya panas. Video yang baru saja Rizal kirim masih terputar di kepalanya. Napasnya memburu, tapi ia buru-buru mengetik cepat.

Naira:
“Kurang ajar kamu, Zal! Nggak sopan banget sama aku. Aku ini istri orang, ngerti nggak??”

Rizal langsung balas, terkesan panik.
Rizal:
“Teh… maaf banget. Aku kebablasan. Sumpah bukan maksud nggak sopan. Aku cuma nggak bisa nahan aja, gara-gara foto kamu itu…”

Naira mendengus, jari-jarinya mengetik dengan nada ketus, meski hatinya berdebar.
Naira:
“Yaudah, tetep aja. Kamu nggak boleh kayak gitu. Aku bisa repot kalau kebawa suasana. Kamu pikir enak apa kalau aku jadi terangsang sendirian di rumah?!”

Rizal terdiam sejenak sebelum membalas.
Rizal:
“Di rumah? Sendirian? Maksudnya suami kamu belum pulang kan?

Naira menggertakkan giginya, mengetik lagi dengan nada seolah marah, padahal tubuhnya sendiri sudah mulai panas.
Naira:
“Iya, dia lagi dinas, baru besok pulangnya. Jadi jangan bikin aku tambah ribet! Aku bisa susah tidur kalau kamu bikin otak aku kemana-mana kayak gini.”

Rizal menekan, suaranya terasa bergetar walau lewat chat.
Rizal:
“Teh… sumpah bayangin kamu di rumah sendirian itu bikin aku makin gila. Aku pengen ada di situ, nemenin kamu. Aku rela apa aja.”

Naira terdiam sejenak. Dalam hatinya, ia tahu dirinya pura-pura marah hanya untuk menjaga gengsi. Padahal kakinya sudah gelisah, tangannya tak tenang. Ia lalu membalas, masih dengan nada marah-marah manja:
Naira:
“Udah, Zal. Jangan macem-macem. Kamu kira gampang jadi aku? Ditinggal suami, sendirian, terus ada bujangan bawel kayak kamu yang bikin aku panas kepala sekaligus panas badan!”

Notifikasi hp Naira terus berbunyi. Rizal makin berani, seolah terbakar gairah sendiri.

Rizal:
“Teh, sumpah ya… aku tuh nggak cuma pengen liat foto kamu. Aku bener-bener pengen ngerasain. Aku pengen banget jilat punya kamu sampe kamu nggak kuat lagi nahan suara.”

Naira langsung mengetik cepat, pura-pura marah.
Naira:
“Zal! Kamu tuh ngomongnya nggak tau malu banget! Aku ini istri orang, ngerti nggak??”

Tapi Rizal nggak berhenti.
Rizal:
“Teh… aku pengen buktiin. Aku yakin bisa bikin kamu lebih puas. Aku pengen coba gaya doggy sama kamu, kayak di video waktu itu… cuma aku janji, aku nggak akan kayak suami kamu yang keburu keluar duluan.”

Jari Naira berhenti di atas layar. Wajahnya merah padam, bukan cuma karena marah, tapi juga karena bayangan itu langsung membanjiri pikirannya. Degup jantungnya makin keras.

Naira:
“Zal, jangan bawa-bawa itu! Kamu udah kelewatan banget.”

Rizal:
“Aku serius, Teh. Aku bisa bikin kamu multi orgasme, aku bisa bikin kamu keluar berkali-kali sebelum aku keluar. Aku nggak bakal ngecewain kamu. Aku mau kamu ngerasain bedanya.”

Naira menggigit bibir, lalu menuliskan balasan ketus:
Naira:
“Kamu tuh ya, sombong banget. Baru liat foto aku aja udah nggak bisa nahan, sekarang sok-sokan janji bisa bikin aku berkali-kali. Jangan mimpi lah, Zal. Itu bagian aku cuma buat suami aku!”

Rizal:
“Yaudah, kalau gitu biarin aku buktiin suatu hari nanti. Kamu boleh ngomel, boleh marah, tapi aku tau dari cara kamu jawab aja kalau kamu penasaran.”

Naira meletakkan hp di meja, menarik napas panjang. Matanya terpejam, tubuhnya bergetar halus. Ia masih berusaha meyakinkan dirinya sendiri kalau semua balasan ketusnya itu hanya karena gengsi—padahal dalam diam, pikirannya sudah berantakan oleh kata-kata Rizal.

Naira mengetik lama sebelum akhirnya mengirimkan balasan.

Naira:
“Zal, kamu ngomong aja gampang. Baru kemarin videocall aja udah nggak bisa nahan, cepet keluar. Apalagi kalau bener-bener ketemu? Jangan mimpi bisa lama.”

Rizal langsung balas, cepat sekali.
Rizal:
“Itu karena aku terlalu kebawa suasana, Teh. Kalau sama kamu langsung, aku bakal tahan. Aku pengen buktiin.”

Naira tersenyum miring, matanya setengah menyipit menatap layar. Jemarinya mengetik dengan nada menantang.

Naira:
“Kamu terlalu pede. Kamu kira gampang bikin aku puas? Vagina aku ini bisa bikin laki-laki manapun nyerah dalam waktu kurang dari 3 menit. Selama ini belum ada yang bisa tahan lebih lama tanpa bantuan obat kuat.”

Balasan Rizal muncul cepat.
Rizal:
“Justru itu tantangan buat aku, Teh. Aku yakin bisa. Aku nggak cuma mau tahan, aku mau bikin kamu takluk. Aku mau buktiin aku beda dari mereka.”

Naira membaca kalimat itu pelan-pelan, dadanya berdegup. Ada rasa puas karena gengsinya tetap terjaga, tapi ada juga gelombang penasaran yang makin menguasai pikirannya. Ia mengetik lagi, kali ini dengan nada seolah meremehkan:

Naira:
“Hm, omongan doang. Semua cowok juga ngomongnya gitu. Kenyataannya? Baru masuk sebentar aja udah kalah.”

Rizal:
“Teh, aku janji… aku bakal bikin kamu keluar duluan. Berkali-kali. Aku pengen liat kamu nggak bisa nahan, pengen denger suara kamu waktu klimaks. Aku nggak akan nyerah sebelum itu kejadian.”

Naira meletakkan hp, menutup wajah dengan bantal. Tubuhnya sendiri sudah panas, pikirannya berantakan, tapi gengsi tetap membuatnya membalas dengan nada ketus.

Naira:
“Ya udah, ngomong aja terus. Biar waktu aja yang buktiin. Aku sih nggak yakin kamu bisa lebih dari 3 menit kalau beneran.”

Rizal tiba-tiba mengetik panjang, nadanya setengah meledek:

Rizal:
“Teh… jujur aja deh. Kamu tuh udah sering banget dimasukin ya? Berapa sih sebenernya cowok yang pernah beruntung bisa ngerasain kamu, selain suami kamu?”

Naira spontan mengangkat alis, senyum tipis muncul di sudut bibir. Ia baca ulang pesan itu pelan-pelan, lalu membalas dengan gaya jaim tapi penuh sindiran.

Naira:
“Kamu tuh kalau ngomong suka ngawur, Zal. Iya, aku pernah jadi janda, aku juga pernah jatuh hati sama beberapa orang… dan kalaupun ada yang sampai ‘merasakan’, itu cuma masa lalu. Faktanya, semuanya ketagihan. Sampai sekarang aja, ada yang masih coba-coba cari aku lagi meskipun aku udah nikah.”

Rizal langsung menimpali cepat.
Rizal:
“Pantesan aku makin penasaran sama kamu. Aku kebayang betapa nagihnya. Teh… sumpah aku pengen jadi salah satu yang beruntung.”

Naira mendengus, pura-pura marah.
Naira:
“Eits, jangan mimpi! Fantasi boleh, ngomong boleh… tapi kenyataan nggak akan pernah. Sekarang aku udah bersuami. Dan cuma suami aku yang berhak masuk ke dalam sana.”

Rizal tak menyerah.
Rizal:
“Ya ampun Teh… kamu bikin aku makin panas aja. Aku yakin aku bisa bikin kamu multi orgasme, bikin kamu keluar berkali-kali sebelum aku keluar. Beri kesempatan buat aku buktiin.”

Naira mengetik lambat, kali ini nadanya seperti menusuk tapi sekaligus menggoda:

Naira:
“Kamu boleh sesumbar apa aja. Mau bilang bisa tahan lama, mau bilang bisa bikin aku berkali-kali keluar… silakan. Tapi percuma. Kamu nggak akan pernah bisa buktiin. Dan kalau pun suatu saat entah gimana caranya kamu dapet kesempatan itu… aku ragu kamu bakal tahan.”

Ia berhenti sebentar, lalu mengetik lagi, dengan senyum sinis di wajahnya:

Naira:
“Kamu tau kenapa? Karena selama ini semua yang masuk ke aku, pasti jebol. Vaginaku tuh bisa mpot-mpot, Zal… dan nggak ada satupun yang bisa bertahan lebih dari 3 menit tanpa obat kuat. Jadi jangan terlalu kepedean.”

Rizal membaca, matanya panas, tubuhnya merinding. Tapi justru kalimat itu membuatnya makin bernafsu.

Rizal:
“Teh… sumpah ya, aku makin gila denger kamu ngomong gitu. Aku pengen jadi yang pertama bisa bikin kamu nyerah, bukan aku yang jebol duluan.”

Naira menutup hp, dadanya bergemuruh. Di balik gengsi dan marah-marahnya, ia sadar satu hal: kata-kata Rizal sudah terlanjur menyalakan bara di dalam dirinya.


Malam itu Naira berbaring di ranjang. Lampu kamar redup, anaknya sudah terlelap. Tapi matanya sendiri tak bisa terpejam. Kata-kata Rizal siang tadi berputar terus di kepalanya.

Ia akhirnya membuka chat lagi, gengsi setengah mati, tapi jemarinya menulis juga.

Naira:
“Kamu katanya pede bisa tahan lama. Buktinya mana? Baru VC aja kemarin udah kalah cepet.”

Butuh beberapa menit, lalu balasan Rizal muncul.

Rizal:
“Kamu masih ngetes aku ya? Oke, kalau gitu aku kasih bukti. Liatin baik-baik.”

Tak lama, notifikasi video masuk. Naira menahan napas, lalu menekannya. Layar hp menampilkan Rizal, setengah telanjang, duduk di kursinya. Tangannya bergerak teratur, ritmenya jelas dilambatkan, menahan. Sesekali Rizal mendesis, menatap ke arah kamera seolah-olah Naira ada di depannya.

Rizal (di video):
“Na… bayangin ini buat kamu. Aku bisa kontrol, aku bisa tahan. Liat ya, aku nggak buru-buru keluar.”

Gerakannya makin cepat, nafasnya berat, hingga akhirnya tubuhnya menegang. Muncratan sperma keluar deras, berulang kali, sampai belepotan di perutnya sendiri.

Video terputus.

Naira menutup mulut dengan tangan, jantungnya berdegup tak karuan. Rasanya antara shock, geli, dan… terangsang. Ia buru-buru mengetik balasan, pura-pura marah:

Naira:
“Gila kamu, Zal! Kurang ajar banget kirim beginian ke aku! Inget aku istri orang bukan siap siapa kamu!”

Rizal balas cepat.
Rizal:
“Aku cuma mau buktiin, Teh. Kamu liat sendiri kan? Aku bisa tahan, bisa ngatur. Dan liat keluarnya… itu semua gara-gara bayangin kamu.”

Naira menggertakkan gigi, menulis dengan nada seolah jengkel:

Naira:
“Dasar bujangan gatel. Kalau aku beneran di depan kamu, aku yakin juga kamu nggak bakal tahan.”

Rizal:
“Jangan remehin aku, Teh. Justru aku pengen buktiin. Aku pengen bikin kamu keluar duluan, berkali-kali. Aku nggak akan nyerah sebelum kamu benar-benar puas.”

Setelah lama diam, akhirnya Naira mengetik lagi. Jemarinya ragu sejenak, tapi gengsi membuat kalimat itu mengalir deras.

Naira:
“Udah ah, Zal. Jangan GR. Aku cuma godain kamu lewat hp doang. Itu pun karena kamu bawel banget nggak ada habisnya. Tapi ingat, semua ini cuma permainan chat. Di dunia nyata, kalau pun kita ketemu, jangan harap bisa nyentuh aku. Aku ini istri orang, dan aku tau batasnya.”

Pesan itu terkirim. Naira menatap layar lama, lalu meletakkan HPnya di meja samping ranjang. Ia menarik selimut, menutup tubuhnya rapat-rapat.

Tapi di balik kalimat tegas yang ia kirim, dadanya masih berdebar keras. Ada bara yang sudah terlanjur menyala—dan hanya dirinya sendiri yang tahu seberapa besar api itu sebenarnya membakar.

Pagi itu keesokan harinya, setelah rutinitas kantor mulai agak longgar, hp Naira bergetar. Nama Rizal muncul lagi.

Rizal:
“Teh, aku nggak bisa diem terus begini. Aku mau ketemu. Biar aku aja yang deketin kamu. Kamu nggak usah jauh-jauh. Bilang aja kapan ada waktu bentar.”

Naira tersenyum miring, pura-pura malas menanggapi.
Naira:
“Zal, kamu tuh ngeyel banget. Aku kan udah bilang, jangan kebanyakan GR. Jangan gampang mikir aku bisa ketemu gitu aja.”

Rizal:
“Aku serius, Teteh. Aku yang datengin. Kamu nggak usah repot. Aku tau kamu sibuk, tapi pasti ada waktu sebentar kan? Aku cuma pengen liat kamu langsung, ngobrol sebentar. Nggak lebih.”

Naira menatap layar lama, lalu mengetik.
Naira:
“Hm… kalo cuma ngobrol sih gampang ngomongnya. Tapi aku tau ujung-ujungnya kamu pasti ngelunjak.”

Rizal buru-buru membalas.
Rizal:
“Teh, sumpah aku nurut. Kamu tentuin tempatnya. Aman buat kamu, aman buat aku. Aku cuma pengen ketemu beneran. Mau kamu jaim, mau kamu ngomel, aku siap.”

Naira menggigit bibir, lalu akhirnya mengetik dengan nada menantang.
Naira:
“Yaudah, kalau kamu maksa banget, aku yang pilih tempat. Jangan protes.”

Rizal:
“Deal. Dimana, Teh?”

Naira menarik napas panjang, lalu menulis.
Naira:
“Ada family karaoke sebelah mall deket sini. Tempatnya nggak terlalu rame siang gini. Kita ketemu di situ aja. Tapi inget ya, Zal… ini cuma ngobrol. Jangan harap lebih.”

Rizal langsung membalas dengan emotikon api dan senyum nakal.
Rizal:
“Ngobrol di karaoke… aduh, Teh. Tau aja kamu cara bikin aku makin panas. Tapi aku janji, aku manut. Kamu atur, aku ikut.”

Naira tersenyum kecil, lalu mengetik lagi dengan nada jaim.
Naira:
“Udah, jangan banyak gaya. Family karaoke, Aku kasih waktu sebentar doang. Kalo kamu macem-macem, aku tinggal pulang. Titik.”

Di balik ketegasan kalimatnya, jantung Naira berdegup kencang. Ia tahu, keputusan itu akan membuka babak baru. Dan kali ini, gengsi dan jaimnya tak bisa sepenuhnya menyembunyikan rasa penasaran yang sudah membuncah.

Sambil chat dengan Rizal, Naira menuliskan syarat-syaratnya:

Naira:
“Pokoknya kamu harus rapi ya. Jangan norak, baju elegan, wangi. Terus kamu duluan yang booking room karaoke, pastikan sepi, aman, nggak rame sama pengunjung. Jangan bikin aku malu.”

Rizal:
“Siap, bosss… aku dandan kinclong kok. Jadi kaya mau ketemu mertua ya? 😂

Naira:
“Yaudah pokoknya jangan bikin ulah. Ingat ya, nggak boleh sentuh aku, apalagi peluk atau cium. Kita cuma ngobrol.”

Rizal:
“Wkwk… ketat banget aturannya. Ini mau ketemu pejabat tinggi apa istri orang sih? Eh, emang istri orang sih ya 🤭.”

Naira:
“Jangan macam-macam! Aku serius.”

Rizal:
“Terus jam berapa nih? Aku kan harus nyesuaikan sama ‘agenda’ ratu besar.”

Naira:
“Around jam 9 an. Aku bisa kondisikan kantor, suamiku juga pasti lagi sibuk di kantornya. Tapi sebelum dhuhur udah selesai. Jangan molor.”

Rizal membaca pesan itu sambil ngakak, lalu iseng menambahkan ledekan:
Rizal:
“Selain dandan rapi sama wangi, syaratnya apa lagi? Aku harus pake CD model tertentu nggak? Warna merah gitu? Atau kamu ada favorit merk kondom tertentu? 🤔😂

Naira:
“Gila kamu! Aku nggak pernah pake kondom, ga suka. Lagi pula buat apa juga, kan kita cuma ngobrol! Jangan GR!”

Rizal:
“Hahaha… siapa tau kan? Eh tapi beneran, kamu jaim banget. Padahal di chat suka godain aku setengah mati.”

Naira:
“Ya itu di HP. Dunia nyata beda. Jangan harap lebih ya.”

Nada Naira memang seperti marah, tapi Rizal bisa merasakan ada senyum terselip di balik ketikan itu. Bagi Naira, ini bukan sekadar rencana pertemuan—ini juga permainan tarik ulur yang bikin dia tetap merasa berkuasa.

 

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *